Semua Semakin Jelas

1642 Kata
Mentari melihat sosok pria berkulit sawo matang, berkumis tipis dan bermuka sadis hingga tubuhnya bergetar hebat. Siapakah pria itu? “Kalau bunuh diri, lakukan dengan benar!” Ia tidak tahu apa yang sedang dibahas pria itu hingga ia menangkap pergelangan tangannya yang tersayat dan sedang mengalirkan darah yang cukup deras. Terkejut dengan apa yang terjadi, Mentari meneteskan air mata. Ini percobaan bunuh diri atau justru ia sedang dibunuh oleh pria itu? Mentari tidak tahu apa yang terjadi, mengapa ini semua terjadi dan siapa pria itu? Mentari kembali memandang pria bengis itu namun gambaran itu menghilang begitu saja. Mentari tiba-tiba berada di sebuah tempat yang asing baginya. Duduk berlutut di depan seorang anak lelaki yang sedang dipukuli oleh … pria itu. Seorang wanita menangis histeris, menahan tangan pria itu agar menghentikan siksaan terhadap anak lelaki itu. “Hentikan! Jangan sakiti Hardy, dia tidak bersalah,” ucap wanita itu. Lelaki itu memandang wanita yang masih menangis tersedu-sedu, pria itu tiba-tiba memutar badan dan kini sedang memandangnya. Lagi-lagi hati Mentari bergetar, rasa takut tiba-tiba menyeruak memenuhi rongga hatinya. “Tidak. Tidak. Jangan. Jangan!” Mentari spontan mundur, sementara pria itu terus maju. Pria itu sangat menakutkan, bahkan sekalipun saat tersenyum. Ketakutan itu semakin menguat dan membuat tubuhnya tiba-tiba membeku sementara pria itu terus mendekat dan terus mendekat. “AARRGGHH….” Mentari terbangun dengan napas terengah-engah, keringat membasahi tubuhnya dan jantungnya masih berdetak kencang. “Mimpi.” Meski hanya sebuah mimpi namun membuat hati Mentari dilanda ketakutan. “Tari.” Yanto muncul di pintu saat Mentari mengusap wajahnya. Perempuan itu segera memandang Yanto, mendekatinya lalu memeluk pria itu. Yanto terkejut saat mendengar suara jeritan Mentari, tanpa peduli apapun lagi, ia bergegas mendekati kamar perempuan itu. Mentari masih menggigil ketakutan, ia memeluk erat Yanto untuk mendapatkan ketenangan. Entah mengapa mimpi itu masih terngiang-ngiang dalam pikirannya, ini sungguh bukan hal yang biasanya. “Kamu tidak apa-apa, Tari?” Yanto menangkup wajah Mentari, memandang wajahnya lekat. Yanto kembali memeluk Mentari, menepuk pelan pundaknya untuk memberi ketenangan. “Tenanglah, Nak. Ada Ayah disini. Ayah akan menjagamu,” hiburnya. “Ayah, aku mimpi buruk. Aku … hanya mimpi buruk. Maafkan aku!” Menyadari hal ini, Mentari melepas pelukannya dari Yanto. Ia sadar sudah membuat hal konyol hanya karena sebuah mimpi. Namun Yanto masih saja khawatir, apakah mimpi yang baru saja datang adalah salah satu kenangan buruk Mentari? “Ceritakan kepada Ayah, apa mimpimu!” Yanto tidak ingin Mentari mengalami hari buruk selama proses kembalinya ingatannya. “Tidak apa-apa, Yah. Cuma mimpi.” Mentari tidak ingin terlihat semakin konyol hanya karena mimpi bodoh yang membuatnya ketakutan itu. “Mungkin aku lupa berdoa, jadi mimpi itu muncul,” lanjutnya. Yanto tetap memaksa, pria itu menarik tangan Mentari hingga keduanya duduk di tepi ranjang. Melihat wajah Yanto diliputi kekhawatiran, Mentari menggenggam kedua tangan pria itu seolah mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Yanto tentu saja merasa khawatir, anak perempuan angkatnya akan mengingat semua yang pernah ia alami. Semoga saja tidak ada yang terjadi setelah ingatan itu kembali. Semoga Mentari tidak mengalami shock berat setelah tahu apa yang terjadi di sepanjang hidupnya. “Tari, apapun yang terjadi. Ingatlah satu hal! Ayah menyayangimu, anakku. Mentari gadis kuat. Mimpi buruk itu mungkin kembali lagi. Tapi Ayah dan Kakek selalu ada di dekatmu. Kami akan menjagamu, Tari.” Yanto meneteskan air mata, ia yakin Mentari akan melewati masa-masa sulit … lagi. Tapi kali ini, ada dirinya dan Rudi. “Ayah, kenapa Ayah berkata begitu? Bukankah lebih baik kalau aku bisa ingat semuanya?” Mentari menelengkan kepala, ia merasa terharu dengan sikap Yanto yang masih saja ia anggap berlebihan. Yanto mengusap air mata, ia tersenyum sambil menepuk punggung tangan Mentari. Perempuan itu belum tahu apapun yang sudah dialaminya. Oh Tuhan, seandainya ia boleh memilih, ia ingin ingatan Mentari hilang untuk selamanya. Ia tidak ingin Mentari kembali mengingat masa-masa yang menyedihkan dahulu. *** Mendengar jeritan Mentari, Hardy dan Rudi pun terkejut. Keduanya melompat dan berlari ke kamar perempuan itu. Yanto sudah ada disana bersama Mentari, ayah dan anak itu berpelukan saat mereka datang. Melihat pemandangan yang begitu indah, membuat hati Hardy menghangat. Seperti itulah seharusnnya hubungan ayah dan anak yang seharusnya. Ia menunduk, memandang lantai berjejak darah yang berakhir di kaki Yanto. Tidak ada yang bisa ia ucapkan selain, Mentari sangat beruntung memiliki ayah sebaik Yanto. “Ada apa, Tari?” Rudi ikut khawatir dengan Mentari. Mentari melihat Rudi, ia merasa tidak enak hati karena sudah membuat dua … bukan, tapi tiga pria itu berlari ke kamarnya. “Tidak apa-apa, Kek. Aku hanya mimpi buruk. Itu saja.” Mentari terkekeh, sadar akan kekonyolannya sendiri. Rudi mengernyit, Mentari ada-ada saja, entah mimpi apa sampai bisa membuat perempuan itu sehisteris tadi. “Makanya, berdoa dulu kalau mau tidur!” Rudi memutuskan keluar dan mengajak Hardy serta. “Pak Yanto terluka,” ucap Hardy. Ia berusaha memberi tahu Rudi, namun pria itu hanya menanggapinya dengan sebuah senyuman. Rudi membersihkan kekacauan yang ada di dapur, Hardy pun membantu pria itu. Ia mengambil plastic untuk memasukkan pecahan piring sementara Hardy mengambil sapu untuk menyatukan pecahan yang lebih kecil. Rudi suka menertawai sikap Yanto yang terlalu berlebihan. Tiba-tiba ia tertawa terbahak-bahak, ia sendiri pun melakukan hal yang sama seperti Yanto. Terhadap Mentari, mereka berdua benar-benar sudah bisa merasakan bagaimana menyayangi seorang anak. Bukankah ini bagus? “Sudah selesai. Ayo kita makan!” Rudi menepuk pundak Hardy, mengajak pria itu mengambil piring dari rak piring dan tak lupa menyentok sambal tomat yang masih ada di atas meja dapur. Keduanya menikmati santap siang tanpa Yanto dan Mentari namun hanya beberapa saat, karena kedua orang tersebut akhirnya bergabung bersama mereka. *** Yanto mengajak Mentari untuk makan siang bersama kakek serta tamu mereka. Duduk di teras belakang, menikmati makan siang istimewa, ikan bakar serta sambal tomat buatan Yanto adalah hari yang sangat sempurna. Yanto memandang Mentari dengan saksama, ia harus segera mengajak perempuan itu ke dokternya untuk memeriksakan kondisinya. Walau enggan, tapi sudah saatnya Mentari kembali ke Surabaya. Toh tidak akan ada yang terjadi disana kecuali mendapat penjelasan dari dokter tentang kondisinya sekarang. Ingatan sialan itu mengapa harus datang sekarang? Di saat Mentari akan dijadwalkan untuk melakukan operasi kedua sekitar sebulan yang akan datang. “Ada apa dengannya?” Rudi melirik Mentari saat ia memandang Yanto. Tetapi Yanto memandang Hardy, saat ini ia tidak ingin membicarakan mengenai kesehatan Mentari. Tidak di depan Hardy, tetangga mereka. Yanto memilih diam sambil memadang Hardy lalu memandang Mentari. Sebuah kode yang bisa dibaca Rudi, membuat pria itu kembali menunda pertanyaannya. Mentari memandang piringnya yang penuh nasi serta satu ikan bakar dan sesendok sambal tomat yang tidak terlalu pedas. Sekali lagi sebuah kilasan datang, membuatnya mengernyit sementara bayangan itu masih menari-nari dalam ingatannya. Tiba-tiba saja, ia kembali mengingat seorang anak lelaki yang sedang menikmati makanannya. Sepiring nasi dengan lauk ikan bakar dan sambal tomat. Anak lelaki itu makan dengan lahap. “Kakak, kenapa kamu makan ikannya dua?” tanya Mentari kepada anak lelaki itu. “Karena aku yang mencari ikannya, Bening,” jawab anak lelaki itu. Mentari menyipitkan mata, berpikir siapa itu Bening? “Ayah, ayo ke Surabaya besok.” Yanto memandang Rudi dengan sangat serius. Iya memang harus mengajak Rudi serta. “Kenapa sangat mendadak? Apa tidak bisa kita tunda sampai bulan depan?” Toh bulan depan mereka akan ke rumah sakit untuk membuat jadwal operasi kedua bagi Mentari. Yanto mendesah, tidak ada yang bisa ia lakukan selain kembali ke dokter yang merawat Mentari. Ia tidak tahu apakah kembalinya ingatan Mentari berpengaruh pada kesehatan gadis itu. Ia pun berpikir mungkin dokter bisa meresepkan obat … penenang misalnya. Karena ia yakin tidak mudah menghadapi kembalinya ingatan jika sebagian besar ingatannya adalah serangkaian hal buruk yang dulu sering terjadi. Rudi mengangguk, meski tidak tahu alasannya, namun ia sangat yakin jika masalah ini sangat serius. “Apa kamu sakit, Tari?” Rudi memandang Mentari, melihatnya hanya memandang piring membuat Rudi berpikir memang ada masalah. “Tari, apa kepalamu sakit?” Rudi merubah pertanyaannya. Mentari terkejut, bayangan itu menghilang. Ia memandang Rudi lalu menggeleng, walaupun sebenarnya ia tidak tahu pertanyaan apa yang sedang diajukan. “Tari, kalau sakit. Katakan kepada kami! Jangan membuat kami khawatir!” Ucapan Rudi sontak membuat Mentari semakin sedih, air mata meleleh begitu saja. Betapa ia beruntung memiliki ayah dan kakek seperti mereka. “Maafkan aku, Kakek. Aku tidak bermaksud membuat kalian khawatir. Aku….” Mentari menangis tersedu-sedu. “Yanto. Kita harus bicara! … Har, tolong jaga cucuku!” Kali ini Rudi sudah tidak dapat menunggu lebih lama, ia harus tahu duduk perkaranya sehingga ia bisa menentukan keputusan. Rudi dan Yanto bangkit, keduanya meninggalkan Mentari bersama Hardy sementara mereka akan membahas masalah yang penting. Rasa sayang yang begitu besar kepada Mentari, membuat mereka merasa bertanggung jawab atas kesehatan perempuan itu. Sepeninggal Rudi dan Yanto, Hardy merasa tidak enak karena ada di tengah masalah keluarga ini. Tetapi ia pun merasa penasaran, sakit apa gerangan Mentari hingga ayah dan kakeknya jadi begitu resah. Hardy memandang Mentari yang kembali menatap piringnya, sementara pikiran gadis itu entah kemana. *** Hari yang cerah, Mentari telah mengepak semua perbekalannya di dalam sebuah tas jinjing berwarna merah muda. Hari ini Rudi dan Yanto memutuskan akan membawa Mentari kembali ke Surabaya untuk konsultasi ke dokter bedah saraf yang menangani operasi Mentari. Mentari sendiri sebenarnya enggan kecuali satu hal, akhirnya ia akan melakukan perjalanan jauh setelah tiga bulan ia mendekam di rumah dan total keseluruhannya adalah enam bulan mendekam kecuali saat melakukan perjalanan dari Surabaya ke Solo tiga bulan lalu. Yanto, Rudi dan Mentari telah siap berangkat ke terminal yang akan membawa mereka pergi. Yanto menjinjing dua tas miliknya dan Mentari sementara Rudi memanggul tas ransel. Mentari mengunci pintu kemudian mereka bertiga berjalan bersama menuju terminal terdekat. Sesampainya di terminal, sebuah kilasan kembali hadir dalam ingatan Mentari. Seorang anak lelaki memintanya menunggu disini sampai anak itu pulang. “Tunggu aku disini sampai aku pulang!” Anak lelaki itu … anak lelaki itu…. “Kakak,” ucap Mentari sambil berderai airmata. #Bagaimana kelanjutannya? Besok ya….
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN