Hardy dan Rudi duduk di teras belakang rumah Rudi, dua cangkir kopi ada di meja yang memisahkan kursi keduanya. Hardy mengangkat cangkirnya, menyesap rasa pahit dan manis kopi special buatan pria yang seharusnya seusia kakeknya.
Rudi memandang Hardy saksama, memperkirakan usia pria itu mungkin pertengahan tiga puluhan atau justru bisa jadi lebih muda lagi. Kulit pria itu gelap karena sengatan matahari, entah apa saja yang dikerjakan diluar sana hingga warna kulit Hardy bisa segelap itu.
“Aku tidak pernah menyangka, memancing bisa sangat menyenangkan.” Hardy meletakkan cangkirnya ke atas meja, ia memandang kebun pisang yang ada di balik pagar rumah ini.
Rudi tersenyum, senang menemukan orang yang juga bisa menikmati memancing. Sebuah kegiatan yang bisa membuatnya melatih kesabaran sekaligus membuat kepalanya yang penat menjadi lebih rileks. Rudi mengambil cangkir berisi kopi jahe favoritnya, menyesapnya perlahan lalu mengembalikannya ke atas meja.
“Lain kali, kuajak memancing di tempat favoritku.” Untuk saat ini Rudi menikmati kedekatannya dengan Hardy. Toh, Hardy belum menunjukkan tanda-tanda negative kepada Mentari, jadi untuk saat ini Rudi berpikir masih aman.
“Ide bagus.” Hardy tersenyum, sementara Rudi tertawa terbahak-bahak.
“Kalau aku boleh tahu, apa pekerjaanmu?” Rudi belum begitu mengenal sosok Hardy, sekalipun ia sudah tinggal di tempat ini sekitar tiga bulan yang lalu.
Saat itu ia sibuk dengan fisioterapi yang masih harus dilakukan Mentari hingga perempuan itu akhirnya bisa berjalan dan fungsi geraknya sudah benar-benar kembali sekitar sebulan lalu. Ia juga disibukkan dengan pembukaan café baru. Sementara Yanto sibuk mengurus usaha pemancingan yang baru saja mereka dirikan di daerah Sidoarjo. Tidak hanya itu, ia baru saja membeli tambak dan harus mengajari Yanto cara mengurusnya. Kesibukan itu membuatnya jarang berbincang dengan para tetangganya.
Tetapi sekarang Mentari sudah bisa dibilang telah sembuh meskipun masih mudah lelah. Mengingat Mentari membuat mata Rudi berkaca-kaca. Ia tidak menyangka di usianya yang mulai renta, ia memiliki kehidupan baru yang ingin dijalaninya. Mentari merubah kisah hidupnya yang begitu melelahkan. Mentari memberinya napas kehidupan baru sebagai pria baik. Ah, Rudi bahkan sudah lupa, kapan ia menjadi pria baik.
“Memikirkan apa, Pak?” Hardy membuat perhatian Rudi kembali, membangunkan pria itu dari pikirannya.
Rudi menggeleng, ia mempersilahkan Hardy menikmati kopi sementara ia harus menghapus apapun yang baru saja ia pikirkan. Rudi bersyukur ia mendapatkan semacam hidayah di saat nyawa bisa kapan saja diambil oleh Sang Pemilik Kehidupan. Jika bukan karena Mentari dan kesendirian yang selama ini ia rasakan. Mungkin hingga sekarang ia masih menjadi sosok bos yang ditakuti siapa saja, bahkan oleh para penegak hokum di negeri ini.
“Kamu asli mana, Har?” Rudi memulai pembicaraan yang lebih personal.
“Saya … Mojokerto. Tapi sudah lama saya di Surabaya dan baru enam bulan ini di Solo.” Hardy tersenyum, entah kapan terakhir kali ia ke Mojokerto, tempat dimana Bimo dan keluarga angkatnya tinggal. Sudah lama juga ia tidak menghubungi Ari sejak kejadian yang membuat orangtua angkatnya cemas.
***
Beberapa bulan yang lalu
Melihat kondisinya yang amat mengenaskan seperti seekor anak kucing yang baru saja tercebur ke dalam got. Ari memutuskan untuk tinggal di rumah Hardy, setidaknya sampai luka-lukanya hilang.
Di sebuah rumah sakit, Ari memanggil gojek yang akan mengantarkannya ke rumah Hardy. Sambil menunggu gojek datang, Ari duduk di lobi rumah sakit sambil sesekali meringis kesakitan. Inikah jalan hidup yang ia pilih? Bahkan ia tidak pernah sekalipun terluka saat masih aktif di kepolisian, tetapi sekarang baru mendapat satu kasus saja, ia sudah babak belur seperti ini.
“Sialan” Entah untuk ke berapa kalinya ia mengumpat. Ia tidak akan melepaskan jaringan sialan penjual perempuan itu.
Tidak lama bagi Ari untuk menunggu gojek datang, pria yang memakai seragam berupa jaket hijau itu masuk sambil memainkan ponselnya.
“Disini.” Ari mengangkat tangannya, ia tidak perlu berpikir dua kali untuk sadar bahwa pria itu hendak menjemputnya.
Pria berperawakan tinggi kurus itu segera tersenyum sambil membantu Ari berdiri. Melihat perban menghiasi wajah serta tangan pria itu. Sang sopir gojek berpikir Ari mungkin baru saja terlibat kecelakaan dan didorong oleh perasaannya, ia ingin membantu memapah pria itu.
Ari menepis sambil memasang wajah seolah siap menerkam pria itu hidup-hidup. Ia merasa sangat baik-baik saja, ia tidak perlu bantuan siapa pun karena ia yakin bisa lari lebih cepat daripada pria itu. Ia baru saja melewatkan hari yang luar biasa melelahkan. Ia baru saja duel dengan entah berapa orang. Ia lelah dan … sensitif, seperti seorang wanita yang akan mendapatkan tamu bulanannya.
Sopir gojek itu hanya bisa meringis sambil menggaruk kepala belakangnya. Tadinya ia pikir sebuah pelayanan penuh perhatian bisa membuat pelanggannya senang, tetapi sepertinya tidak semua orang mau diperlakukan seperti itu.
Setelah membayar gojek, Ari bergegas masuk ke rumah Hardy. Membuka pintu pagar, ia memandang sebuah sedan tua terparkir bersebelahan dengan van hitam besar milik Hardy. Sial!
Ari memutar badan, berpikir untuk mencari tempat lain selama orangtuanya ada di tempat ini. Salahnya sendiri tidak menghubungi Hardy terlebih dahulu, sehingga ia tidak tahu jika orangtuanya justru berkunjung di rumah adik angkatnya.
“Mau kemana, Ari?” Bimo tersenyum tipis, mungkin ini yang disebut intuisi. Ia hanya keluar rumah karena dorongan hati, tidak tahunya ia menemukan sosok pria yang sudah membuat istrinya tidak tidur semalam suntuk.
Ari mengembuskan napas berat, ia benar-benar membodohi dirinya sendiri. Ia ingin lari, tetapi saat ini tentu saja ia tidak bisa melakukannya. Perlahan ia memutar badan, sambil berharap ayahnya tidak terkejut dengan kondisinya. “Ayah….” Ari hanya bisa meringis sambil menuruti kode ayahnya untuk mendekat.
Menatap kepala anaknya yang diperban, Bimo benar-benar terkejut. “Bagaimana kamu bisa terluka seperti ini? Ayo masuk!” Bimo merangkul bahu putranya, tetapi saat mengetahui Ari meringis. Ia melepaskan anaknya dan meminta pria itu melangkah terlebih dahulu.
Arini terkejut melihat putranya pulang dalam kondisi yang sangat mengenaskan. Dengan tangan gemetar, ia menyentuh pelipis Ari yang dibalut perban. “Bagaimana kamu bisa terluka seperti ini?” tanyanya penuh kekhawatiran.
“Aku baru … ditabrak motor. Ma, aku tidak apa-apa.” Ari menepis tangan Arini, ia segera mendaratkan dirinya di atas sofa.
Jeda dalam kalimat yang baru saja diucapkan Ari membuat Bimo sadar, anaknya baru saja berbohong. Hanya saja ia tidak ingin istrinya lebih cemas dengan dugaan yang baru saja melintas di kepalanya. Bimo berdehem, meminta Hardy membicarakan hal yang tadi sudah mereka sepakati bersama.
Bimo mengajak istrinya pulang, membiarkan Ari dan Hardy membicarakan masalah tanpa mereka adalah hal yang menurutnya lebih baik. Sebelum ia keluar, Bimo kembali memandang Ari. Harus ada yang menghentikan kegilaan Ari dan ia yakin Hardy yang bisa melakukannya.
Sepeninggal Arini dan Bimo, Hardy menepuk pundak Ari hingga pria itu meringis kesakitan. Hardy duduk sofa kecil yang berseberangan dengan sofa panjang yang kini dikuasai Ari.
“Hentikan pencarian yang kamu lakukan! Aku memecatmu.” Dingin dan dominan, benar-benar ciri kepemimpinan Hardy.
Ari pernah mendengar desas desus itu, namun mendengarnya sendiri sekarang. Seandainya bukan Bening adik Hardy, ia pun akan menyumpahi Hardy dengan sumpah serapah yang sama. Semoga Hardy tidak menemukan adiknya, itulah sumpah yang sering diucap oleh mantan detektif yang disewa Hardy. Tetapi tentu saja Ari tidak akan melakukannya.
“Tunggu sebentar lagi! Aku sudah menemukan petunjuknya.” Ari terdengar seperti memohon, tetapi ia memang sedang melakukannya. Besok ia akan kembali mencari Bening dengan bantuan petunjuk yang sudah ia temukan.
Hardy tahu, Hardy pun ingin mempertahankan Ari, tetapi ia tidak bisa. Bimo memohon agar Ari dikeluarkan dari pencarian Bening setelah tahu bahwa Ari baru saja keluar dari sekapan jaringan mafia yang sangat ditakuti di kota ini, dalam keadaan hidup adalah sebuah keajaiban.
“Aku tidak peduli. Aku menyesal membuatmu mengalami hal semacam ini. Sekarang, aku sendiri yang akan mencarinya.” Meskipun dalam hal ini, Hardy sadar kemampuannya jauh dibandingkan dengan kemampuan Ari.
Hardy bahkan tidak tahu apa yang harus dilakukannya dalam mencari Bening. Gadis itu bisa ada dimana saja, bahkan jika benar bahwa Bening ada di sebuah sindikat perdagangan manusia, maka gadis itu bisa jadi ada di belahan bumi lain. Tetapi ia masih yakin Tuhan akan memberinya jalan, asalkan ia mau terus berusaha.
***
“Jangan bengong! Masih muda kok suka melamun.” Ejekan Rudi membuat Hardy kembali dari lamunannya.
Yanto datang dengan membawa ikan bakar yang masih mengeluarkan asap serta sebakul nasi. Ia meletakkannya di atas meja. Rudi melihat ke arah pintu, berpikir mungkin Mentari akan membawa makanan lainnya, namun setelah tahu tidak ada siapapun yang keluar, ia memandang Yanto. “Tari mana?” tanyanya.
“Masih mengambil piring,” jawab Yanto singkat.
Yanto menarik napas dalam, hal yang sedang ia takuti sepertinya akan menjadi kenyataan. Beberapa lama ia memandang Rudi dengan tatapan yang sulit dijelaskan selain khawatir jika kisah indah yang baru mereka buat, akan berakhir.
“Saya rasa, waktunya tidak akan lama. Ingatannya mulai kembali,” ucap Yanto dengan suara lemah.
Rudi mengusap wajahnya, ia menghela napas panjang, “harusnya aku tidak mengajaknya memancing,” sesalnya.
“Bukan salah anda, dokter sudah mengatakan kalau ingatan itu bisa bersifat sementara.” Tubuh Yanto menggigil, entah apa yang akan terjadi setelah Mentari mengetahui siapa dirinya dan apa saja yang telah dilalui perempuan itu.
Hardy tidak begitu memahami pembicaraan antara ayah dengan anaknya ini kecuali bahwa kedua pria itu sedang mengkhawatirkan kondisi Mentari kecuali bahwa ia baru saja mengetahui bahwa Mentari mengalami amnesia. Tetapi ia sendiri belum mengetahui alasannya.
“Kalau ingatan Mentari kembali. Bukankah itu kabar baik?” Hardy menyela, membuat perhatian dua pria itu beralih kepadanya.
Seandainya kondisinya berbeda, kembalinya ingatan Mentari adalah hal yang baik. Tetapi dengan banyaknya sandiwara yang sudah mereka buat, baik Yanto maupun Rudi tidak yakin jika Mentari akan menerima kenyataan hidupnya serta kebahagiaan
Rudi dan Yanto hanya menghela napas, keduanya sama-sama sedang dalam kebimbangan.
“Kalau terjadi … terjadilah.” Rudi pasrah dengan apapun yang akan terjadi. Memangnya apalagi yang bisa ia lakukan selain itu.
Yanto pun hanya bisa menghela napas panjang sambil menunggu apapun yang akan terjadi. Ia bangkit, setidaknya ia ingin menikmati siang ini dengan makan makanan yang enak. Yanto kembali ke dapur, ia mengambil piring dari rak piring yang diletakkan di ujung dapur.
“AARRGGHH…” Jerit histeris Mentari membuat Yanto terkejut, piring yang ada di tangannya jatuh dan tanpa menunggu lagi, ia berlari ke kamar Mentari dan tanpa sengaja kakinya menginjak pecahan piring hingga kakinya berdarah.
Mentari, kuatkan hatimu, Nak. Ayahmu disini.