Rangkaian Puzzle Ingatan

1585 Kata
Mentari duduk sambil mengerjap beberapa kali. Ia mengusap keringat yang membanjiri wajahnya. Mimpi itu masih terus terngiang-ngiang, benar-benar bukan seperti mimpi biasa. “Tari, kamu kenapa? Apa masih sakit? Sebaiknya kita cepat pulang!” Kali ini Rudi tidak main-main. Ia akan sangat marah jika Mentari menolak untuk pulang. Mentari masih berusaha menenangkan dirinya sendiri, ia harus membuang mimpi yang baru saja menghiasi tidurnya. Dasar mimpi, jangan-jangan mimpi ini datang karena ia tidur di tempat sembarangan. Mentari tidak terlalu yakin, akan tetapi ia pernah mendengar dari beberapa orang yang pernah menceritakan soal mimpi aneh saat mereka berkunjung di suatu tempat yang tidak seharusnya digunakan untuk tidur. Bisa jadi ia mengalami pengalaman yang serupa. “Tari, kamu dengar Kakek?” Rudi masih memandang Mentari dengan wajah diliputi kecemasan. Ia menyesal mengapa ia mengajaknya memancing bersamanya. Lain kali, lebih baik ia tidak mengajaknya kemanapun, setidaknya sampai dokter menyatakan Mentari telah benar-benar sembuh. “Aku tidak apa-apa, Kakek. Aku hanya … mimpi buruk. Itu saja.” Mentari kembali mengusap peluh, ia bangkit dibantu Rudi yang masih saja khawatir. Setelah berdiri, Mentari menepis tangan Rudi. Ia mendengus kesal, Rudi membuatnya malu di hadapan Hardy. Ia memandang Hardy yang kini sibuk memasukkan peralatan memancing ke kotak pancing biru milik kakeknya. Bagus sekali, penyakitnya membuat semua orang khawatir dan kini Hardy akan ikut terkena wabah penyakit khawatir Mentari. Seandainya saja ia tidak mengalami kejadian naas itu, ia pasti tetap menjadi Mentari seperti dulu. Seperti … ia bahkan sudah lupa dulu ia seperti apa. “Kita belum makan siang, Kakek.” Mentari melirik kakeknya, ia masih bersikeras untuk tidak pulang. Belum saatnya untuk kembali, lagipula ia baik-baik saja. Setidaknya ia sudah tidak merasa pusing sama sekali. “Kamu sakit, Tari. Kita bisa makan di rumah. Piknik di halaman belakang juga menyenangkan. Ayahmu bisa membuatkan kita ikan bakar. Iya kan, Hardy?” Rudi menoleh, memandang Hardy untuk meminta persetujuan dari pria itu. Hardy tersenyum, ia tentu saja menyetujui apapun usulan Rudi. “Aku setuju,” ucapnya. Mentari melongo, Hardy ternyata tidak sekeren yang ia duga. Pria itu tidak tahu betapa sulitnya ia bisa keluar dari rumah itu. Untuk bisa ke tempat ini saja, ia harus merengek macam bocah dan Hardy dengan mudah menyetujui usulan kakeknya untuk pulang. “Ih, Kak Hardy.” Mentari kesal, ia menghentakkan kaki kiri lalu berjalan melewati Hardy begitu saja. Hardy dan Rudi bersitatap lalu sama-sama mengedikkan bahu. Mentari tidak mengerti bahwa mereka berdua sangat mengkhawatirkan kesehatannya. Perempuan itu mudah mengambek seperti bocah. Astaga, tentu saja masih bocah. Hardy masih meyakini bahwa usia Mentari masih empat belas atau bisa jadi lima belas tahunan. Rudi dan Hardy berjalan beriringan, beberapa langkah di depan mereka, Bening berjalan dengan hentakan keras di setiap langkahnya. Kedua pria itu menggeleng berbarengan, keduanya kompak berpikir bahwa tingkah Mentari sangat lucu dan menggemaskan. “Kalau boleh tahu, sebenarnya Mentari sakit apa?” Hardy memandang Rudi. Pria itu mengembuskan napas berat lalu memandang langit yang begitu biru. “Beberapa bulan yang lalu. Tari mengalami kecelakaan, cukup parah. Dokter bahkan menyatakan prosentase kesembuhan Mentari cukup kecil. Tapi lihatlah sekarang! Dia terlihat baik-baik saja. Hanya saja, kami harus hati-hati menjaganya. Dia masih mudah pusing dan kadang sampai muntah jika ia terlalu banyak berpikir atau kelelahan.” Rudi memandang Mentari dengan tatapan berkaca-kaca. Terlihat jelas bagaimana Rudi sangat menyayangi Mentari. Hardy bisa merasakan kecemasan Rudi, tentu saja karena ia juga pasti akan mencemaskan Bening jika gadis itu mengalami kejadian seperti itu. Hardy memandang Mentari, gadis itu berjalan cepat dan tanpa menoleh. Hentakan keras setiap langkah Mentari membuat Hardy tersenyum, gadis itu lucu sekali. “Tari, pelan-pelan! Kamu tidak boleh terjatuh, apa kamu ingat?” Rudi untuk ke sekian kalinya mengingatkan cucunya. Mentari menghentikan langkah, ia memutar badan dengan muka ditekuk dan dua alis bertaut. Peduli amat dengan jaga image, ia yakin Hardy pasti tidak peduli apakah ia anggun atau tidak. Lagipula, apa yang ia harapkan dari Hardy? Pria itu pastilah menyukai wanita dewasa yang mungkin seumuran dengannya. Mentari berpikir mungkin usia Hardy sudah melebihi angka tiga puluh tahun mengingat kerut-kerut di wajah pria itu cukup jelas dan jangan lupakan soal bulu yang memenuhi wajahnya seolah hutan lindung dirawat disana. Tidak ada yang special dari sosok Hardy, tapi tetap saja pria itu sedap dipandang. Huft, menyebalkan. Rudi menatap Mentari dengan satu alis diangkat, ia juga memandang Hardy yang sedang memandang Mentari. Apakah percikan cinta mulai muncul disini? Ia tahu siapa Hardy dan apa pekerjaannya, tetapi tidak semudah itu mengambil Mentari dari kehidupannya. Rudi berpikir sebaiknya ia mulai menyusun siasat dan menyiapkan beberapa tes yang harus dilalui siapapun yang ingin dekat dengan Mentari. Siapapun lelaki itu, tidak akan mudah menikahi cucunya. *** Sampai rumah, Mentari segera masuk ke kamarnya. Hari ini cukup melelahkan. Kondisi fisiknya ternyata masih terlalu lemah untuk diajak berkegiatan bahkan jika hanya beberapa jam saja. Mentari frustasi, sampai kapan ia harus merasakan kelemahan ini? Yanto masuk ke kamar Mentari, ia memandang anak perempuannya yang sedang berbaring dengan wajah ditekuk karena kesal. Pria itu tersenyum, mendekati anaknya lalu duduk di sebelah perempuan itu. “Bagaimana acara memancingnya?” tanya Yanto. Mentari memandang ayahnya, ia mendengus kemudian duduk. Perempuan itu menghela napas berat, ia hanya merasa senang pada awalnya tetapi kemudian ia jadi kesal gara-gara ingatan aneh yang muncul dari kepalanya. Tapi apakah itu ingatan? Atau hanya sebuah halusinasi tak berdasar? Tetapi jika itu halusinasi, apakah itu artinya ia gila? Mentari geleng-geleng, ia tidak mau kembali pusing berat gara-gara memikirkan masalah itu. “Mau bantu Ayah?” Yanto menawarkan kegiatan yang pasti sangat disukai Mentari. Toh apa yang tidak disukai perempuan itu? Mentari bahkan senang saat dimintai tolong membersihkan rumah, mencuci pakaian atau apapun yang membuat perempuan itu merasa berguna. Mentari menelengkan kepala, kedua alisnya kembali bertaut. “Bantu apa, Yah?” tanyanya. “Kakek dan Hardy mendapatkan banyak ikan. Kakek minta ikan bakar untuk makan siang kita.” “Jadi Kak Hardy mau makan disini?” Apakah ini kabar baik atau justru jadi kabar buruk lainnya? Mentari jadi merasa takut tetapi sekaligus merasa senang. Takut jika dirinya kembali melakukan hal-hal yang kekanak-kanakan seperti ngambek misalnya, tetapi sekaligus merasa senang bila Hardy ada disini. Pria itu memang benar-benar menyebalkan dengan cara yang sangat menyenangkan. Mentari mengekor ayahnya menuju dapur. Dapur Yanto memiliki sebuah jendela yang cukup besar yang menghadap ke halaman belakang rumah, membuat Mentari bisa melihat kakek dan Hardy sedang asyik duduk di teras belakang. Kedua pria itu terlihat cukup akrab, membuat Mentari mencibir kedua pria yang sedang tertawa terbahak-bahak entah apa yang membuat mereka tertawa seperti itu. “Tari, tolong ambilkan pisau di dapur!” Yanto membuat perhatiannya beralih. Mentari kembali mengamati setiap hal yang dilakukan dua orang itu. Mentari merasa hubungan antara kakek dan Hardy akan terjalin cukup baik. Tanpa sadar, Mentari tersenyum. Ia akan sangat senang bila ada tambahan keluarga dalam rumah ini. Oh, tidak! Mengapa Mentari berpikir mengenai tambahan keluarga? Apakah maksudnya ia dan Hardy akan cocok sebagai sepasang kekasih atau lebih dekat lagi, sebagai suami istri? Mentari menggeleng, ia merasa pikirannya sudah terlalu jauh. “Tari, kamu bisa membuat sayur asem? Ayah pikir pasti segar jika kita makan sayur asem siang ini.” Tiba-tiba saja Yanto teringat akan kesegaran sayur asem yang dulu sering dibuat Mentari. Meskipun ia tidak yakin, tetapi siapa tahu Mentari masih bisa mengolah sayuran itu. Sejenak Mentari berpikir, sayur asem ya? Ia menatap bahan sayur yang diletakkan di atas tampah. Hanya ada kacang panjang, kecambah kedelai, kangkung dan kubis. Mentari segera menyiangi sayuran itu sambil terus berpikir bumbu apa yang harus ia pakai untuk membuat sayur asem. Ia membayangkan kesegaran sayur asem yang dibuat ayahnya. Ia bisa mengingat tentang bawang merah dan bawang putih yang diiris tipis, lengkuas yang digeprek dan tentu saja asam jawa sebagai bumbu utamanya. Mentari tersenyum, merasa ia memiliki bakat untuk menjadi tukang masak. Siapa tahu saja ia bisa menghidangkan makanan lezat untuk Hardy. Lagi-lagi Hardy mengisi seluruh pikirannya. Mentari telah selesai menyiangi seluruh sayuran yang diperlukan. Ia mengambil bawang merah dan bawang putih yang disimpan di sebuah wadah dan diletakkan tidak jauh darinya. Ia pun mulai mengupas lalu mengirisnya. Mentari terkejut sekali saat menyadari kemampuan mengirisnya yang sudah seperti seorang koki terkenal. Matanya membulat, dalam sekejap mata saja bawang merah dan bawang putih sudah selesai diirisnya. “Sepertinya aku harus mengiris bawang merah dan putih lagi,” gumamnya. Seolah menemukan permainan yang menyenangkan, Mentari terus saja mengiris bawang merah dan bawang putih hingga hampir memenuhi talenan. Yanto yang melihat kejadian itu cukup terkejut, “dengan bawang sebanyak itu, kamu mau membuat apa, Tari?” tanyanya. Kaget dengan suara Yanto, tanpa sengaja Tari mengiris jemarinya sendiri. Darah mengucur dari ujung jari tengah tangan seblah kirinya. Rasa sakit itu menjalar hingga ke kepalanya hingga ia bercucuran air mata. Yanto hanya bisa geleng-geleng, anaknya masih saja ceroboh. Ia segera menarik tangan Mentari lalu menyalakan kran air dan menyiram jari itu dengan aliran air. “Makanya kamu harus hati-hati, Tari!” pesannya. Mentari menarik tangannya dari air namun darah masih saja menetes ke pergelangan tangannya. Sebuah kilasan kembali muncul, membuat Mentari terkejut akan bayangan menyedihkan yang baru saja melintas di pikirannya Mentari menarik tangannya, ia memilih mengambil piring kosong lalu ke halaman belakang, bergabung dengan kakek dan Hardy. Tanpa bicara, ia mengambil secentong nasi dan mengambil satu ikan bakar yang berukuran cukup besar, tidak lupa ia mengambil sesendok sambal tomat yang untungnya memang dibuat tidak terlalu pedas. Sekali lagi sebuah kisah berputar di ingatan Mentari, gadis itu kesal dengan apapun yang sedang menari-nari di kepalanya. Alih-alih marah tak jelas, Mentari menjejali mulutnya dengan nasi yang telah dicocolkan ke sambal. Sebenarnya ada apa ini? Kenapa aku mengingat hal-hal aneh? #Penasaran? Besok ya….
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN