Kilasan Apa Ini?

1572 Kata
Kakak, aku mau ikan itu Bayangan aneh itu tiba-tiba memenuhi kepalanya, ia seolah melihat sosok seorang anak laki-laki yang sedang menceburkan dirinya di tepi sungai, walau bayangan itu terlihat samar tetapi terasa nyata. Apakah ini? Mentari menelengkan kepala, dua alisnya bertaut. Ia sedang berpikir mengapa bayangan semacam itu muncul di kepalanya? Kak Hardy, sudah jelas nama itu ia dengar keluar dari pikirannya seolah nama itu tidak asing baginya. Tetapi siapa Hardy? Apakah Hardy yang masih menari-nari di dalam kepalanya adalah Hardy yang sama yang ada di dekatnya? Mentari memandang Hardy, tidak mungkin Hardy ada di dalam kenangan masa lalunya. Ia hidup bersama Ayah dan Kakeknya sejak kecil. Ataukah ada Hardy lain yang tidak diceritakan Ayahnya? Tiba-tiba rasa penat menusuk kepalanya, menimbulkan rasa pusing dan berdenyut-denyut. “Tari, kamu tidak apa-apa?” Melihat Mentari yang tiba-tiba terlihat pucat membuat Rudi khawatir. Sepertinya acara memancing belum bisa dilakukan Mentari. “Tidak apa-apa, Kek. Aku hanya … kepanasan.” Mentari memandang langit dengan cahaya matahari yang sangat menyilaukan. Ia harus berhati-hati, atau Rudi akan menyudahi acara memancingnya hanya karena terlalu mengkhawatirkannya. Mentari tidak ingin pulang secepat itu. “Kamu sangat pucat. Sebaiknya kita pulang sekarang!” Rudi hendak berdiri namun Mentari menahan lengannya. Pria itu mengernyit namun kembali duduk. “Tidak apa-apa, Kek. Aku hanya sedikit … pusing. Tapi tidak apa-apa, pusing sedikit sering sekali datang tiba-tiba, tapi nanti hilang-hilang sendiri.” Mentari berbohong, sebenarnya ia jarang sekali pusing. Sakit di kepalanya memang menyebalkan, ia menjadi tidak bisa berpikir terlalu keras dan selama ini ia jarang sekali berpikir sekeras sekarang. “Sungguh?” Rudi masih tidak mampu mempercayai Mentari. Bagaimana jika Mentari pusing lalu muntah-muntah dan pingsan? Ini bukan kejadian yang ia inginkan. “Sungguh, Kek. Ehm, aku hanya lelah. Sedikit.” Mentari menyatukan jempol dan telunjuknya, menunjukkan bahwa ia memang tidak apa-apa. “Tari. Jangan berbohong sama Kakek!” Rudi mengusap puncak kepala cucunya, begitu lembut dan penuh kasih sayang. “Kakek tidak mau kamu sakit. Kakek tidak mau melihatmu sakit … tidak lagi.” Ada getar kesedihan yang mencuat dari nada suara Rudi dan air mata memang sudah memupuk di pelupuk matanya. Melihat cucu perempuannya mengerang kesakitan untuk waktu yang cukup lama adalah penderitaan baginya. “Ish, Kakek. Kakek tetap harus melihatku sakit lagi. Ingat, Kek! Aku harus menjalani operasi lagi.” Sebenarnya Mentari hanya ingin bercanda, namun candanya justru membuat Rudi menarik napas dalam. Mentari melingkarkan lengannya di lengan sang kakek, ia merebahkan kepalanya di pundak Rudi. “Maafkan aku ya, Kek. Aku sudah membuat Kakek dan Ayah khawatir. Kakek … aku menyayangimu.” Rudi tersenyum, ia mengecup puncak kepala Mentari. Memiliki Mentari, adalah sebuah hidup baru baginya. Mentari laksana sinar matahari yang menghangatkan seluruh hatinya. Ia tidak pernah menyangka akan memiliki kehidupan seberuntung ini. “Aku juga menyayangimu, Tari.” Melihat kemesraan yang ditunjukkan oleh kakek dan cucunya membuat Hardy tersenyum. Perasaan mereka memberi kehangatan tersendiri untuknya. Hardy sangat suka menikmati panorama yang disuguhkan tempat ini, bukan panorama secara harfiah namun Rudi dan Mentari membuat hatinya bagai disentuh aliran air yang manis. Mentari, Rudi dan Yanto adalah keluarga yang begitu ia mimpikan seperti keluarga Bimo, Arini dan Ari yang selama ini terkadang membuatnya iri. Seandainya ia dan Bening juga berada dalam situasi sehangat itu? “Oh, Kak Hardy. Umpanmu dimakan!” Teriakan Mentari membuat Hardy segera tersadar dari lamunannya. Ia segera menarik joran dan menggulung tali pancingnya. Seekor ikan mujair berukuran cukup besar, berhasil ia tangkap. Mentari bangkit, ia ikut bersuka cita atas keberhasilan Hardy. Ia berjalan mendekati pria itu, ikut memandang Hardy yang kini sedang melepas kail dari mulut ikan. “Wah, pasti enak kalau digoreng,” ucap Mentari. Rasanya pasti enak kalau nanti ia makan nasi panas dengan ikan mujair goreng. Hardy memegang ikan mujair tangkapannya. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari tempat untuk menyimpan ikannya. Hal itu membuat Mentari ikut menoleh ke kanan dan ke kiri sebelum kembali menatap Hardy. “Kakak mencari apa?” tanyanya heran. Sepasang mata Hardy membulat, mengapa sikap Mentari bisa sama persis dengan adiknya? Cara gadis itu mengernyit, hentakan kaki saat sebal, cara mencebik bahkan nada bicaranya pun hampir sama. Hardy sempat melupakan tanda-tanda kecil itu, namun ia kembali ingat setelah bertemu dengan Mentari. Hardy menggeleng, kemiripan seseorang bukanlah hal aneh. Seharusnya ia menyadari bahwa seseorang bisa saja mirip dengan orang lain, ia bahkan pernah mendengar bahwa ada tujuh orang yang serupa yang tersebar di seluruh dunia. Mentari mengerjap beberapa kali, dipandangi secara intens oleh Hardy tidak membuatnya merona malu namun justru penasaran apa yang sedang pria itu pikirkan tentangnya. Ia melambaikan tangannya di depan wajah Hardy, membuat pria itu berkedip beberapa kali sebelum membuang muka sambil tersenyum. Mentari terkekeh, ia tidak tahu jika sekarang ia bisa dekat dengan pria yang beberapa hari lalu ia pikir sebagai anggota teroris. Tetapi sekarang ia sama sekali tidak berpikir bahwa Hardy mungkin saja teroris. Pria itu ternyata baik, sekalipun tidak terlalu banyak bicara dan yang jelas, ia merasa nyaman jika di dekat Hardy. “Kakak, apa kamu lapar?” Begitu nyamannya hingga Mentari ingin makan bersama Hardy. Hardy tidak menjawab, ia justru bangkit untuk menarik sebuah ilalang yang tumbuh tidak jauh darinya. Ia memasukkan ilalang ke dalam mulut mujair lalu dikeluarkan melalui insangnya. Mulut ikan itu masih bergerak membuka menutup sekalipun sudah menggantung di ilalang. Mentari bangkit, ia memandang Hardy yang sedang memamerkan ikan mujair yang diikat dengan seutas ilalang. Ia menelengkan kepala sambil mengernyit, sesaat ia teringat akan sosok anak laki-laki yang sedang memamerkan ikan mujair dengan ilalang, persis sama yang sedang dilakukan Hardy sekarang. Mentari menjadi pusing dengan kilasan-kilasan yang beberapa kali datang. Ia membuka alas di atas batu lalu merebahkan dirinya. Ia ingin tidur sejenak, berharap rasa itu hilang setelah bangun nanti. Ia tidak bisa menunggu lebih lama atau pusing justru kian menjadi. Hardy menghela napas dalam-dalam, memandang bagaimana Mentari begitu pucat namun masih bersikeras tidak mau pulang, gadis itu mengeluarkan sesuatu dari saku roknya dan segera menelannya sebelum kemudian ia merebahkan diri. Hardy yakin benda yang ditelan Mentari adalah sebutir obat untuk menghilangkan sakitnya. Perasaan khawatir tiba-tiba merasuk ke dalam pikirannya. Tadi ia sempat mendengar bahwa gadis itu akan menjalani operasi lagi, itu artinya gadis itu pernah operasi sebelumnya. Operasi apa? Sakit apa sebenarnya gadis ini? Mentari sudah tidak sanggup lagi menahan rasa pusing, namun ia tetap pada pendiriannya untuk tetap disini bersama Kakek dan Hardy. Ia yakin rasa pusing itu akan menghilang dengan sendirinya setelah minum obat lalu tidur barang sejenak. Dengan menggunakan satu lengan sebagai bantalan, Mentari merebahkan dirinya. Ia memandang punggung Rudi sejenak kemudian ia memejamkan kedua matanya. Sebuah kilasan-kilasan berkelebat, membuat kedua alisnya berkerut namun untuk memaksanya bangun, ia tidak mampu. Seolah ada sesuatu yang mematri dirinya di tempat yang belum pernah ia datangi. Mentari melihat dirinya dalam versi lebih kecil mengingat kini semua yang ia lihat, tampak cukup besar. Rumah-rumah terlihat sangat besar dan ia melihat pantulan dirinya sendiri dari kaca jendela hitam rumah seseorang. Ia menelengkan kepala, ia yakin ada sesuatu yang salah, tapi apa? Seorang anak lelaki namun entah mengapa wajah anak lelaki itu tidak terlalu terlihat. Suara tawa anak lelaki itu begitu renyah, berlari-lari kecil seolah sedang menggodanya. “Ayo, tangkap aku!” teriak anak lelaki itu, disertai colekan di dagunya kemudian mengacak-acak rambutnya sebelum kemudian berlari kencang. “Hei!” Mentari kesal, tanpa menunggu lagi, ia segera berlari mengejar anak lelaki itu. Mentari tertawa senang, berlari mengejar anak lelaki itu. Setelah menepuk punggung anak lelaki itu, gilirannya untuk dikejar anak lelaki itu. Mentari tertawa terbahak-bahak, rasa senang sekaligus was-was bila ia ditepuk anak lelaki itu, yang artinya ia sudah tertangkap dan harus berganti mengejar anak lelaki itu Derai tawa keluar dari bibir-bibir mungil sedikit membiru karena kedinginan. Bermain hujan-hujan membuat segala masalah seperti lenyap walau sementara. Anak lelaki itu tersenyum kecil, memandang kangkung menutupi sebagian sisi sungai. Mentari ikut berhenti di sebelah anak lelaki itu, ia memandangnya lalu memandang kangkung yang terbentang menutupi sebagian besar permukaan sungai. Apa yang sedang dipikirkan anak lelaki itu? Mentari bertanya-tanya dalam hati. “Kamu mau makan sayur kangkung kan?” Tatapan anak lelaki itu tidak beralih dari kangkung. Seekor ikan mujair yang berukuran cukup besar terlihat oleh Mentari. Ikan itu bersembunyi di balik rimbunan kangkung. Tiba-tiba saja ia membayangkan kenikmatan ikan mujair goreng yang dimakan dengan nasi hangat. “Aku mau ikan itu, Kak.” Mentari menunjuk ikan mujair tersebut. Air liur segera menggenang di dalam mulutnya, bayangan betapa enak ikan mujair itu jika digoreng dan dimakan dengan sepiring nasi hangat. Mentari dan anak lelaki itu saling bersitatap, senyum lebar menghiasi wajah mereka. Tanpa membuang waktu, keduanya menceburkan diri ke sungai. Anak lelaki itu mencari ikan, sementara Mentari memetik kangkung. Anak lelaki itu mengendap-endap, memandang seekor ikan mujair dengan ukuran sebesar telapak tangannya. Perlahan ia mendekatkan tangan, dengan sigap anak lelaki itu mampu menangkapnya. “Ini lauk untukmu.” Anak lelaki itu mengangkat ikan tinggi-tinggi. Senyumnya lebar, puas setelah berhasil menangkap ikan. Mentari ikut mengangkat segenggam kangkung yang ia dapat. “Ini sayur untukmu, Kak.” Tawa riang kembali keluar dari bibir-bibir sedikit membiru karena kedinginan. Anak lelaki itu mencabut setangkai ilalang, memasukkannya ke mulut ikan dan mengeluarkannya melalui insang. Satu ikan belum cukup untuk mengenyangkan perut tiga orang sehingga anak lelaki itu kembali berburu. Dengan serius, ia memandang sungai keruh untuk mencari ikan lagi. Mimpi itu terlalu nyata, seolah Mentari pernah mengalami kejadian itu bertahun-tahun yang lalu. Mata perempuan itu masih terpejam, dua alisnya bertaut dan keringat membanjiri dahinya. “Kakak … Kakak … Kak Hardy,” gumamnya. Bagaimana kisah selanjutnya? Besok ya
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN