Kasih Sayang Bisa Datang Ke Siapa Saja

1675 Kata
Mentari memutuskan untuk menceritakan semua yang dialaminya termasuk soal hilang ingatan dan kenyataan bahwa Yanto bukanlah ayah kandungnya kepada Hardy. Air mata tak kuasa dibendung, sesekali ia sesenggukan dan harus kembali mengatur napas sebelum melanjutkan ceritanya. Ia begitu menggebu - gebu dan bersemangat. Mimik wajahnya berubah - uubah tergantung cerita seperti apa yang keluar dari mulutnya. Sesekali ia menerawang, membayangkan seperti apa kejadian yang pernah terjadi.  Hardy mendengarkan dengan saksama, tanpa sekalipun memotong ucapan Mentari hingga perempuan itu selesai menceritakan semua yang menjadi kegundahannya. Bagi Hardy, Mentari tetap saja beruntung karena sudah mengenal Yanto dan Rudi. Ia tahu kasih sayang yang dicurahkan Yanto dan Rudi kepada Mentari, sangat tulus adanya. “Tari, kamu beruntung bisa bertemu Pak Yanto dan Pak Rudi. Mereka sangat baik.” Hardy memandang Mentari, wajahnya tegas dan tidak ada senyum yang tampak. Keseriusan khas Hardy. “Tapi, Kak. Tetap saja mereka bukan keluargaku.” Mentari menarik napas dalam, ia sangat menyayangkan kenyataan ini. Mentari menundukkan kepala lalu merapikan anak rambutnya ke belakang telinga. menarik napas dalam - dalam lalu mengembuskannya secara perlahan. Air mata sudah siap menetes, tapi saat ini Mentari tak ingin menangis. Tak ingin terlihat menyedihkan di mata Hardy. Bagaimanapun juga, Hardy adalah orang lain. Walaupun ada perasaan nyaman setiap kali ada dirinya.  “Apakah hanya karena kamu bukan darah daging Pak Yanto. Lalu kamu menganggapnya bukan keluarga? Ayolah Tari, keluarga adalah orang yang menyayangimu dengan ikhlas. Lebih baik kamu bersama seseorang seperti Pak Yanto, ketimbang punya ayah kandung tapi suka menyiksamu, misalnya.” Penjelasan Hardy membuat mata Mentari terbelalak. Hardy benar, lebih baik memiliki Yanto ketimbang punya ayah kandung yang tidak bertanggung jawab. Tapi siapa yang tahu? Bisa jadi dulu ia dan kakaknya adalah anak nakal yang melarikan diri dari rumah, lalu kakaknya justru meninggalkannya di jalan. Ah, Mentari tidak boleh berpikiran buruk kepada kakak yang entah dimana rimbanya. Mentari menunduk, sesaat ia emosi hingga tanpa sadar sudah melukai hati Yanto. Ia kembali mengingat semua kejadian yang ia alami sejak bangun di rumah sakit, hingga sekarang. Yanto dan Rudi tidak ubahnya seperti ayah dan kakek kandung baginya. Ia tahu mereka berdua sangat menyayanginya, tetapi ia tidak tahu mengapa bisa terjadi kecuali … mereka tahu semua yang terjadi kepada dirinya sebelum kecelakaan itu terjadi. “Ayah tidak kenal Kak Hardy,” desahnya. Mengapa ayahnya tidak mengenal Hardy, kakaknya? Apakah itu artinya Hardy sudah lama pergi meninggalkannya. Setidaknya, enam bulan ini ia tidak berjumpa dengan kakaknya. Mentari mendongak sambil mengembuskan napas. Ia benar-benar tidak tahu bagaimana caranya menemukan Hardy. Ia tidak memiliki foto kakaknya, tidak ada informasi apapun mengenainya. Ini benar-benar sulit. Untuk ke sekian kalinya, Mentari hanya bisa mendesah pasrah. “Tari, aku ingin kamu tahu. Sekarang kamu tidak hanya punya ayah dan kakek. Kamu juga punya aku … kakakmu.” Hardy menawarkan persaudaraan kepada Mentari sekaligus menunjukkan posisinya agar Mentari tidak menyalah artikan kebaikannya. Mentari memandang Hardy di depannya, sekali lagi ia menilai ciri fisik yang dimiliki pria itu. Tinggi dan besar, sangat jauh berbeda dengan Hardy yang ia kenal. Tinggi dan kurus, kulitnya kuning langsat dan ia yakin wajah kakaknya pasti setampan artis di televisi. Melihat bagaimana Mentari memandangnya, Hardy tersenyum tipis. Entah apa yang sedang ada di pikiran gadis itu, tidak mungkin jika gadis itu kecewa karena ia menganggapnya adik kan? Oh tidak, ini bukan saatnya berpikir yang bukan-bukan. “Sebenarnya, beberapa hari ini aku ingat sesuatu.” Mentari sedikit maju hingga badannya menempel pada meja, seolah ia sedang membicarakan sesuatu yang sangat rahasia. “Aku punya kakak. Kakak tahu siapa namanya? … Hardy. Kakakku bernama Hardy. Jadi, sekarang aku punya dua Kakak Hardy.” Mentari sudah kembali ceria, semua berkat Hardy. Mendengar namanya disebut, Hardy terkejut. Jadi kakaknya bernama Hardy? Sama dengan dirinya. Apakah boleh ia membayangkan bahwa Mentari adalah Bening yang ia cari? “Mentari. Apa benar yang kamu katakan?” Hardy mencari kejelasan, kini ia benar-benar berharap bahwa Mentari adalah Bening. Seandainya benar, maka selesai sudah pencarian yang ia lakukan. “Kakak ingat waktu kita mancing? Disitu aku ingat tentang kakakku. Dia … tampan seperti artis.” Mentari mulai tidak fokus, keceriaan itu sudah kembali. Gadis itu menangkup kedua tangannya sambil tersenyum, membayangkan Hardy setampan artis ibukota. Hardy memicingkan mata, mungkin ia salah. Sayang sekali. “Kakak. Terima kasih sudah jadi tempat curhatku. Tolong rahasiakan dari ayah dan kakekku ya!” Mentari tidak ingin dua orang itu kembali merasa khawatir kepadanya. “Tentu saja. Tari, sudah malam. Sebaiknya kuantar pulang sekarang.” Hardy bangkit, ia tidak mau Yanto dan Rudi khawatir dengan keadaan Mentari. Mentari mengerti, tidak peduli apakah darahnya berbeda dengan darah Yanto dan Rudi, namun benar kata Hardy. Sekarang ia sudah memiliki ayah dan kakek, seharusnya ia beruntung karena memiliki mereka berdua. Kini setelah tahu satu fakta, Mentari siap mencari fakta-fakta lain dari masa lalunya. Yanto dan Rudi pasti tahu seperti apa dirinya dahulu. *** Sepanjang perjalanan pulang, Mentari kembali bisa tersenyum dan bisa bernapas lega. Hardy membuka hatinya dan ia merasa senang karena bisa mengenal Hardy. Senyum kakaknya dulu kini berkelebat, anak lelaki yang suka marah-marah tapi sekaligus suka tertawa bersamanya. Mentari sudah berjanji kepada dirinya untuk mulai mencari kakaknya, bagaimanapun caranya. Hardy melirik Mentari yang sedang asyik dengan pikirannya, “kamu kenapa, Tari? Senyum-senyum sendiri,” tanyanya. “Aku teringat kakakku. Dia cowok nyebelin, suka banget marah-marah. Tapi saat tertawa, ia sangat tampan. Aku tidak sabar ingin cepat bertemu dengannya.” Mentari memandang jalanan yang sudah mulai lengang. Ia tidak sabar kembali ke Solo dan mulai menunggu kakaknya di terminal, seperti janjinya. Mentari berpikir mungkin ia mengalami kecelakaan karena kakaknya memaksa pergi menjauh darinya, mungkin ia berlari mengejar bis dan tidak tahunya justru mengalami kecelakaan disana. Mentari baru sadar satu hal, Yanto dan Rudi tidak pernah membahas detil kecelakaan itu. Dimana dan bagaimana ia mengalami kecelakaan, Yanto dan Rudi benar-benar tidak pernah membahasnya. Taksi yang ditumpangi Hardy dan Mentari membelok ke arah Sedati, daerah dekat dengan laut dimana tambak-tambak berjajar disana. Rumah-rumah perkampungan berjajar dengan bentuk dan ukuran berbeda namun memiliki pagar yang serupa. Sejak naik taksi, Mentari terus berceloteh tentang kakaknya. Meski demikian, Hardy tidak merasa risih sama sekali. Hardy justru menjadi sangat nyaman, seolah Mentari benar-benar Bening dan ia berjanji ketika ia sudah kembali berjumpa dengan Bening, ia akan membiarkan adiknya bercerita banyak hal bahkan untuk selamanya. “Kak Hardy, kenapa diam? Apakah Kakak tidak suka aku banyak bicara?” Hardy menoleh, memandang wajah innocent Mentari. Ia hanya ingin mendengar suara Mentari dan tidak ingin mengganggu dengan mengeluarkan suaranya sendiri. “Tidak. Ehm, kita sudah sampai.” Beruntung taksi telah berhenti di depan sebuah rumah dengan halaman yang cukup luas dimana Yanto telah berlari menyambutnya. Hardy keluar terlebih dahulu, sementara Mentari baru saja membuka pintu dan keluar dari arah berseberangan dengan Hardy. Melihat ayahnya, Mentari tersenyum dan segera berjalan cepat sambil merentangkan kedua tangannya. Yanto, bagai seorang musafir bertemu oase di tengah padang pasir. Ia segera merentangkan kedua tangan untuk menangkap Mentari, masuk ke dalam pelukannya. “Ayah, maafkan aku. Ayah, aku menyayangimu.” Mentari memeluk erat Yanto, seolah keduanya tidak bertemu dalam waktu yang lama. “Mentari, Ayah menyayangimu. Maafkan Ayah.” Yanto mencium kening Mentari, ciuman penuh kasih sayang itu memberi dampak kehangatan bagi kedua insan yang kini tengah berbagi kasih. Mentari masih ada di dalam pelukan Yanto saat melihat Hardy tersenyum kepadanya. Ia bersyukur bisa bertemu Hardy, terbersit keinginan bahwa Hardy yang ada di depannya kini adalah Hardy, kakaknya. Tetapi Mentari masih berpikir, Hardy adalah sosok anak lelaki yang sama seperti yang muncul dalam ingatannya. Ia belum menyadari, waktu mengubah ciri fisik Hardy. Mentari lupa, ia dan Hardy terpisahkan lima belas tahun lamanya. “Terima kasih, Har. Ehm, mampirlah sebentar. Aku buatkan kopi … kamu bisa menginap disini. Besok pagi, kita mancing di tambak kakeknya, Tari.” Yanto bersyukur Hardy bisa meruntuhkan segala permasalahan yang baru saja terjadi. “Lain kali saja, sudah malam, Pak. Saya permisi dulu.” Hardy tidak ingin merusak urusan keluarga Yanto. Ia yakin malam ini akan menjadi malam panjang dan penuh kenangan baik bagi Yanto, Rudi dan Mentari. “Har, kalau kamu perlu bantuan. Jangan sungkan-sungkan. Katakan padaku! Aku pasti akan membantumu.” Yanto menepuk d**a, ia tidak akan melupakan budi baik Hardy kepadanya. Hardy tersenyum, Yanto adalah pria yang baik. Ia pantas memiliki anak selucu Mentari. Tuhan Maha Pengasih, Ia menyatukan dua orang, dalam satu ikatan yang begitu indah. Sepertinya dengan keluarga Bimo, serta Mentari dengan keluarga Yanto. Sepeninggal Hardy, Yanto membimbing Mentari masuk ke rumah mereka. Rudi sudah menunggu dengan tidak sabar, melihat Mentari masuk, pria itu segera memeluk Mentari serta mencium puncak kepala cucu angkatnya. “Kakek, maafkan aku. Kakek, aku menyayangimu.” Mentari memandang kakeknya. Wajah pria itu semakin mengerut saat tertawa. “Tari, cucu Kakek. Jangan pergi meninggalkan Kakek. Kakek menyayangimu.” Sekali lagi Rudi memeluk erat Mentari. Melihatnya Yanto kembali berkaca-kaca, ia baru sadar bahwa menjadi orang baik itu sangat menyenangkan. *** Di suatu terminal di kota Solo, Mentari duduk sendiri di ruang tunggu sambil menunggu seseorang yang sangat ingin dijumpainya. Perempuan itu memerhatikan semua orang yang melintas di hadapannya, berharap ada sosok Hardy seperti yang ada di dalam ingatannya. Berjam-jam Mentari sabar menunggu, tidak ada satu orang pun yang mendatanginya. Ah, tentu saja seharusnya ia tahu berapa lama ia dan kakaknya tidak berjumpa. Mentari terlalu naïf, tidak berpikir berapa tahun ia terpisah dari Hardy. Tidak pernah terbersit dalam pikirannya bahwa anak lelaki itu sudah bertumbuh, seperti dirinya yang kini sudah menjadi dewasa. Kakak, aku akan menunggumu, sampai kamu datang menjemputku. Kak Hardy, maafkan aku sudah sempat melupakanmu. Kakak, aku merindukanmu. “Bening.” Merasa dipanggil, Mentari spontan mendongak. Memandang seorang pria yang kini berdiri di hadapannya. “Kakak. Kak Hardy.” Ia mungkin salah dengar, karena itu ia tak mengindahkan nama panggilan yang sebenarnya memang nama aslinya. Mentari menunduk, hatinya sakit mengetahui kenyataan bahwa mungkin saja ia tidak akan pernah bertemu sang kakak. Tanpa mengetahui seperti apa kakaknya sekarang, mustahil bila ia bisa menemukan Hardy sang kakak. Pria itu mendekat, menyentuh pundak Mentari untuk menenangkan perempuan itu. Air matanya ikut meleleh namun secepat mungkin ia menghapus dengan punggung tangannya. #Apakah akhirnya keduanya menyadari bahwa mereka adalah sepasang saudara yang terpisah? Besok ya…. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN