Hari ini Mentari akan pergi bersama Hardy, dengan kakek dan ayahnya tentu saja. Mereka berempat ingin menikmati hari libur dengan berwisata bersama.
Semalam Mentari tidak bisa tidur karena memikirkan hari ini. Ia bahkan sudah mempersiapkan pakaian yang akan ia kenakan seharian ini.
Sebenarnya ia menyayangkan isi lemarinya hanya ada beberapa blus, T shirt, celana pendek dan celana panjang, serta beberapa cardigan. Tapia pa boleh buat, karena acara dibuat mendadak, mau tak mau ia hanya bisa memilih pakaian itu – itu saja.
Ia mengambil bando putih dan memakainya, mengamatinya beberapa lama di standing mirror yang ada di samping lemari. Tapi akhirnya ia menggeleng sendiri sambil mengerucutkan bibir. Merasa terlalu kekanak – kanakan jika memakai aksesori di rambutnya.
Ia mendecak sebal. Merasa bukan wanita seutuhnya karena memiliki rambut yang pendek. Padahal ia ingin tampil cantik dengan rambut panjang.
Menata rambutnya yang masih sangat pendek, setelah digunduli untuk keperluan operasi enam bulan yang lalu. Ia sadar kalau pertumbuhan rambutnya cukup lambat, karena sampai saat ini rambutnya bahkan masih mirip potongan rambut khas pria.
“Ish, apa aku pakai wig aja ya?”gumamnya. Ia harus tampil sempurna di hadapan Hardy.
Jam masih menunjuk angka enam pagi, masih ada waktu bagi Bening untuk mempersiapkan diri. Ia dan Hardy sudah janjian akan pergi jam delapan nanti. Ayahnya akan menyuruhnya makan jam tujuh nanti sebelum meminum obat seperti biasanya.
Mentari mendekati meja rias dimana terdapat tiga kepala manekin dengan tiga model rambut yang berbeda. Satu manekin mengenakan rambut panjang berwarna coklat gelap, satu manekin mengenakan rambut potongan bob berwarna hitam, satu manekin lagi mengenakan rambut bergelombang dengan dua warna rambut yang berbeda, coklat tua dan coklat muda.
Agar tidak terlihat norak, ia memilih mengambil rambut bob berwarna hitam. Setelah mengenakan penutup kepala berbentuk jaring, ia mengenakan rambut itu di kepalanya. Menatanya dengan sedemikian rupa agar tampak seperti rambut alami.
Setelah menghabiskan waktu hampir lima belas menit, Mentari merasa tampilannya sangat tidak menarik. Hardy tahu rambut aslinya, jadi untuk apa repot – repot mengenakan wig itu. Lagipula, mereka akan pergi memancing.
Tempat itu pasti sangat gerah dan ia takkan sanggup berlama – lama mengenakan rambut palsu.
Dengan kesal, ia menarik rambut palsu itu dan melemparnya di atas ranjang.
Menghembuskan napas berat ke udara, ia segera mengambil punch berisi make upnya yang tak seberapa. Sang ayah tidak suka ia mengenakan make up tebal dan beraneka rupa. Ia hanya memiliki satu palet kosmetik kecil yang isinya hanya warna – warna alami.
“Andai aku punya eye shadow biru, hijau dan semacamnya.” Ia berpikir dengan memiliki banyak warna, ia bisa menyesuaikan make up dengan pakaian yang dikenakan.
“Ish, Ayah pelit sih. Pakai alasan aku sudah cantik dari sananya, padahal sebenarnya tidak mau membelikannya,” keluhnya sambil duduk di tepi ranjang.
Meski kesal, tapi ia tetap memoles wajahnya dengan make up seadanya. Sambil menggerutu, sambil sesekali berhenti saat tidak puas karena lagi – lagi soal koleksi yang tidak banyak.
“Nanti, kalau aku punya uang dan bisa pergi sendiri, aku akan beli semua koleksi warna eye shadow, blush on, pensil alis dan semua – semuanya,” katanya untuk menenangkan dirinya sendiri.
***
Setelah merasa riasan wajahnya sudah sempurna, ia merasa kalau pakaian yang ia kenakan tidak pantas dengan riasan seindah itu.
“Masak pakai T shirt gini sih,” ujarnya sambil memandangi dirinya di depan standing mirror.
Untuk ke sekian kalinya, ia membuka lemari dan mulai mencari pakaian yang layak ia kenakan bersama Hardy.
Meskipun Hardy cuek dengan penampilan, tapi Mentari yakin kalau lelaki itu tetap menyukai gadis yang berpenampilan rapi dan menarik.
Andai ia memiliki dress indah, ia rela mengenakan pakaian itu meskipun hanya sekedar untuk memancing. Toh di tempat pemancingan, ia akan duduk sambil menikmati suasana. Duduk di samping Hardy yang sedang mengadu keberuntungan dengan kail dan umpan.
Setidaknya dengan mengenakan dress indah, ia bisa menjadi penghiburan bagi Hardy bukan.
Ia membayangkan bagaimana ia duduk dengan begitu cantik. Hardy yang awalnya konsentrasi memancing pun tak bisa menolak pesonanya.
Awalnya Hardy mencuri – curi pandang padanya, tapi lama kelamaan akan meninggalkan jorannya. Meninggalkan alat pancing untuk mulai bercakap – cakap dengannya.
Berbicara tanpa henti. Menatapnya tanpa henti dan membiarkan ikan mencuri pancingnya.
Astaga, membayangkannya saja sudah membuatnya histeris. Ia berdiri lalu melompat – lompat ringan hingga kepalanya sakit.
Mentari akhirnya duduk sambil menahan teriakan bahagia.
“Apa setelah memancing nanti dia akan menembakku?” tanyanya penasaran.
Tiba – tiba pintu terbuka dan Yanto memandang isi kamar anak gadis yang berantakan seperti kapal pecah.
“Apa yang kamu lakukan sampai kamarmu seperti ini, Tari?” tanyanya sembari masuk dan mulai mengambil baju – baju yang berserakan di lantai.
“Tidak ada apa – apa, Ayah. Aku hanya iseng tadi,” jawabnya sambil mengigit bibir bawah untuk menahan senyum.
“Makanan sudah siap. Sebaiknya kamu cepat sarapan dan minum obat,” kata Yanto.
Lelaki itu dengan telaten melipat T shirt dan menatanya dengan rapi. Mengembalikannya ke lemari sambil mendesah panjang.
Kadang – kadang Mentari seperti ini. Biasanya gadis itu membongkar lemari untuk berswa foto atau membuat video tidak jelas.
Padahal ia ingin cepat berangkat memancing dan menghabiskan waktu dengan menikmati hobinya. Memancing dan mendapatkan ikan besar lalu menyombongkannya pada Rudi dan Hardy adalah harapannya hari ini.
“Belum – belum aku sudah lelah,” ujarnya setelah membuat kamar Mentari kembali rapi seperti sedia kala.
“Kalau pakai baju, balikkan ke tempatnya lagi, Tari. Jangan berantakan seperti ini. Kamu kan anak gadis,” keluhnya.
Mentari menunduk sambil lagi – lagi menyembunyikan senyum. “Maaf, Ayah. Habisnya aku sedang senang sekali,” ujarnya sambil memeluk lengan Yanto.
Yanto hanya bisa memandang Mentari sambil menarik napas panjang. Anak gadisnya memang sangat pandai memenangkan hatinya. Meski berwajah garang, tetapi hatinya selembut marshmellow, makanan manis kesukaan Mentari.
“Ya sudah, ayo kita makan. Ayah akan menyiapkan bekal makan siang selagi kamu sarapan,” ujarnya.
Mentari mengangguk dan segera keluar kamar, diikuti Yanto yang menutup pintu kamar dan entah mengapa melihat kamar Mentari, membuatnya sangat sentimentil.
Kamar Mentari memang dibuat berdasarkan kamar milik anaknya dulu. Membuatnya merasa seperti kembali ke masa lalu saat anaknya masih hidup. Perasaan itu pula yang ia rasakan untuk Mentari. Mentari adalah anak gadisnya, apapun yang terjadi.
Sampai di meja makan, Mentari bertepuk tangan saat melihat makanan favoritnya dihidangkan. Ayam bakar madu yang manis dan lembut, serta tumis kangkung istimewa buatan ayahnya.
Ia segera duduk dan membalik piringnya. Menyendok dua centong nasi yang masih mengepulkan asap serta mengambil sepotong ayam bakar madu dan sesendok tumis kangkung.
“Makanan Ayah memang tiada duanya,” ujarnya saat menikmati satu suapan.
Yanto senang sekali setelah mendapatkan pujian itu.
Gawai yang ia letakkan di atas meja tiba – tiba bergetar. Nama Hardy tertera disana.
Hardy : Assalamualaikum.
Yanto : Waalaikumsalam.
Hardy : Om, sebelumnya saya minta maaf sekali. Tapi saya ada susulan dari mama saya. Hari ini saya harus segera ke Solo. Mama saya sakit. Saya tidak bisa ikut mancing, padahal saya sangat ingin ikut.
Yanto : Oh, tidak apa – apa, Har. Mamamu lebih penting. Kapan – kapan kita bisa mancing bersama.
Hardy : Maaf ya, Om. Sudah dulu ya, Om. Sampaikan maaf saya ke Kakek Rudi dan Mentari. Assalamualaikum.
Yanto : Waalaikumsalam.
“Siapa, Yah?” tanya Mentari setelah Yanto menyudahi teleponnya.
“Hardy tidak bisa ikut memancing. Mamanya sakit, dia harus ke Solo,” ucapan Yanto seketika membuat Mentari sangat kecewa.