Takdir Telah Berkata

1713 Kata
Hardy mengusap dahinya setelah melihat pendapatan bengkelnya menurun setelah dipegang oleh Ari sementara waktu. Entah apa saja yang dilakukan saudaranya hingga hal itu bisa terjadi. Selama beberapa bulan, bengkelnya tetap ramai namun pemasukan justru lebih sedikit ketimbang pengeluaran. Pasti ada salah satu anak buahnya yang berbuat curang. “Ari, cari orangnya! Ini pekerjaanmu, kan?” Hardy memandang Ari yang duduk sambil ikut mengusap dahinya. Salahnya sendiri begitu percaya kepada semua pegawai bengkel ini hingga ia justru memilih sibuk mencari Bening ketimbang mengawasi bengkel yang sudah dipasrahkan kepadanya. Sial! Kupastikan dia membusuk di penjara. Ari mencengkeram pegangan kursi. Sesaat ia ingin memukul siapapun pelakunya, tetapi yang sekarang harus Ari lakukan adalah mencari siapa pelakunya. Hardy tidak terlalu peduli soal berapa jumlah kerugian yang harus ditanggungnya. Ia hanya kesal dengan pelaku penyelewengan dana miliknya. “Jika sudah ketemu. Laporkan polisi! Buat dia mendapatkan hukuman paling berat!” Hardy kembali memasrahkan pekerjaan ini kepada Ari. Hardy bangkit, ia mendekati kursi Ari kemudian membungkuk di belakang pria itu. Mulut Hardy hampir menempel di telinga Ari. “Aku bisa memercayaimu kan?” Ari menjadi kesal dengan sikap Hardy yang menjadi dingin seperti sekarang. “Kupastikan kamu tidak menyesal memiliki aku.” Ari melirik Hardy, sialan bocah ini. Bagaimana bisa ia dipermalukan dengan cara ini. “Sebenarnya, aku sudah menyesal.” Seringai jahat menghiasi bibir Hardy sebelum ia bangkit. Seringai yang masuk dalam lapang pandang Ari, membuatnya merasa semakin buruk di depan Hardy. Hardy meninggalkan Ari sendiri di kantornya, berjalan keluar menuju meja Mayya, sekretaris yang selalu berjaga di depan kantornya. “Laporkan semua yang terjadi disini! Mayya, aku mengandalkanmu.” Hardy menepuk pelan pundak Mayya. Wanita itu tiba-tiba memucat kala memandang senyum Hardy, senyum itu justru membuat tampang Hardy semakin terlihat menyeramkan. Mayya menggigil bahkan sebelum pria itu berlalu. Hardy berkeliling bengkel, mengawasi setiap pegawainya satu persatu. Salah satu dari mereka adalah pelakunya. Bisa saja dari mekanik, kasir bahkan manager pun bisa. Sekretarisnya pun punya peluang sebagai pelaku. Meski karena Ari bengkelnya bermasalah. Tetapi Hardy yakin, Ari sendiri yang akan menyelesaikannya. Hardy meninggalkan bengkel, ia keluar menuju mobil yang ia parkir tak jauh dari bengkelnya. Hari ini ia akan kembali ke Solo, ia merasa harus bertemu Yanto untuk menanyakan beberapa hal. Hardy kurang tanggap saat kemarin ia bertemu Yanto dan Mentari di mall. Tetapi sekarang, ia ingin semuanya jelas dan ia tidak akan membuang waktu. Hardy telah membawa tas jinjing, ia meninggalkan mobil untuk menuju Solo dengan naik bis antar provinsi. Ia tidak ingin membuat keluarga Yanto terkejut, seorang pria yang tinggal di sebuah gubuk, ternyata memiliki sebuah mobil yang cukup mewah. Hardy teringat beberapa waktu lalu saat ia tanpa sengaja melihat Mentari memandanginya yang sedang memangku laptop. Gadis itu jelas terkejut, matanya menunjukkan bahwa gadis itu tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Semoga pikirannya benar bahwa Mentari adalah Bening yang ia cari. Harapan itu ada, sekalipun prosentasenya setengah-setengah, setengah iya, setengah tidak. Tetapi ia memang harus menkonfirmasinya. Bis yang membawa Hardy, melaju dengan kecepatan tinggi. Lima jam Hardy habiskan di dalam bis sambil membayangkan semua hal kemungkinan yang bisa terjadi. Satu hal yang pasti, Hardy harus menyiapkan diri jika ternyata Mentari bukanlah Bening yang ia cari. Ketakutan itu pun muncul dan memenuhi pikirannya, membuat hatinya seketika menciut saat membayangkan bahwa dugaannya ternyata salah. Bis perlahan masuk ke terminal, perlahan pula bis akhirnya berhenti. Semua penumpang, termasuk Hardy berjalan keluar dari bis. Saat Hardy telah turun, sesaat ia menyapu seluruh terminal dengan pandangannya. Di ruang tunggu yang ada di sisi kirinya, Hardy melihat sosok perempuan kurus, berkulit putih, berambut panjang, memakai topi merah muda, kaos merah muda dan memakai rok berwarna putih, sedang duduk sambil mengamati terminal. Entah apa yang sedang dilakukan perempuan itu, tetapi Hardy ingin segera mendekatinya. Ia berjalan lebar-lebar hingga tidak perlu waktu lama, ia telah sampai di depan perempuan itu. “Bening!” Tanpa sadar, Hardy menyebut nama adiknya. Hardy terkejut dengan hal itu, tetapi lebih terkejut lagi saat Mentari ternyata menanggapi panggilannya, seolah nama gadis itu memang … Bening. Mentari tanpa sadar mendongak, seolah nama Bening memang namanya. Sekilas ia melihat sosok yang ia cari, membuat air mata yang telah luruh, kini semakin tumpah. “Kak Hardy, Kakak.” Mentari bangkit, ia segera memeluk pria itu. Membuat Hardy terkejut dengan sikap Mentari, ia masih terbengong-bengong, tidak percaya dengan apa yang terjadi. “Bening. Aku Hardy, Kakakmu.” Hardy senang bukan kepalang, rasanya dunia seindah surga. Apa yang ia cari selama ini, akhirnya benar-benar ia temukan. Mentari terkejut … oh, oh. Sepertinya ia melakukan kesalahan. Namanya Mentari, bukan Bening. Entah setan mana yang merasukinya hingga tanpa sadar ia mendongak saat dipanggil dengan nama Bening. “Kakak, aku Mentari. Bukan Bening.” Mentari melepas pelukan Hardy. Ini juga sebuah kesalahan, bagaimana bisa ia main peluk orang lain, apalagi seorang pria. Kali ini Hardy kembali terkejut, ia mengerutkan kening dengan dua jarinya. Permainan apa ini? Bening, Mentari, Bening, Mentari. Sesaat Hardy gelisah, apakah ia harus kembali menelan pil pahit? Tuhan, kabulkanlah doaku! Pertemukan aku, dengan adikku. “Maafkan aku, Tari. Kupikir kamu … adikku.” Hardy berusaha menguasai dirinya. “Tidak apa-apa.” Mentari kembali duduk, ia kembali memfokuskan mata pada sekeliling terminal. Apakah dia Kak Hardy, apakah dia Kak Hardy? Mentari memantau orang-orang yang sedang lalu lalang satu persatu. Hardy ikut duduk di sebelah Mentari, ia ikut memandangi terminal sambil bertanya-tanya, siapa yang sedang Mentari tunggu? “Kamu mencari siapa, Tari?” Hardy menoleh, memandang Mentari yang masih asyik mencari seseorang. “Aku menunggu kakakku. Dia memintaku menunggunya disini. Aku sudah memintanya untuk tidak pergi. Tapi kakakku memaksa dan aku … aku tidak tahu apa yang terjadi setelahnya.” Jawaban Mentari membuat jantung Hardy melonjak drastis. Bukankah hal yang sama dulu pernah ia lakukan terhadap Bening? Hardy menggali ingatannya sendiri, mencari sesuatu yang bisa ia pertanyakan kepada Mentari. “Tari, apakah kakakmu pergi naik bis yang sudah mulai jalan?” tanya Hardy. Kedua alis Mentari bertaut, ia memandang Hardy dengan menelengkan kepala. “Kok, Kakak tahu?” Mentari tidak menduga apapun, apalagi menduga bahwa Hardy adalah Hardy yang sama yang sedang ia cari. Apakah Hardy boleh tertawa sekarang? Harapan itu sekarang sudah menjadi tujuh puluh persen. Ingatan Mentari yang hilang membuat semuanya menjadi sulit, tetapi sekarang yang harus ia lakukan adalah bertanya kepada Yanto, tentang jati diri Mentari sebenarnya. “Tari, ayo pulang! Hari sudah sore, pasti ayahmu khawatir.” Hardy tidak ingin membuang waktu, ia segera bangkit. Hari memang sudah sore dan benar kata Hardy, ayahnya pasti mengkhawatirkannya. Mentari pun ikut bangkit, mereka berdua berjalan beriringan keluar terminal menuju tempat tinggal mereka. “Bening.” Hardy sengaja memanggil Mentari dengan nama adiknya, seperti dugaannya, Mentari kembali menoleh saat ia memanggil dengan sebutan Bening. Seolah nama itulah nama yang sebenarnya. Mentari tersenyum, sekali lagi tanpa sadar ia menoleh saat dipanggil Bening. Ia menelengkan kepala, berpikir mengapa ia selalu menoleh saat dipanggil Bening. Siapa Bening? Apakah itu pacar Hardy? Sebelum menemukan jawaban, langkah mereka sudah sampai pada sebuah gubuk yang selama ini ditinggali Hardy. Gubuk yang memberi sebuah kenangan indah pada sepasang kakak beradik. Mentari kembali memandang gubuk yang entah mengapa cukup familiar, seolah ia pernah tinggal di tempat seperti itu. “Ada apa, Tari?” Apakah kamu mengingat sesuatu? Hardy menautkan dua alisnya. Mentari menggeleng, ia kembali melangkah menuju tempat tinggalnya, bersama Hardy yang mengekor di belakangnya. “Tari, akhirnya kamu pulang. Ayah hampir saja menjemputmu … oh, Hardy. Kamu juga sudah balik?” Yanto terdengar sangat mencemaskan Mentari, namun ia lega karena Mentari kembali bersama Hardy. “Pak Yanto, bisa kita bicara … berdua saja?” Hardy memandang lekat Yanto, membuat pria itu terkejut namun tidak lama kemudian ia mempersilahkan Hardy masuk. “Tari, tolong jaga café sebentar! Kakekmu masih mandi.” Yanto tidak menunggu jawaban Mentari. Yanto mengajak Hardy duduk di ruang tamunya. Yanto bertanya-tanya, ada hal penting apa yang membuat Hardy begitu ingin bicara berdua dengannya. Apakah pria itu mau melamar Mentari? Yanto memandang Hardy sambil menyipitkan kedua mata, meskipun Hardy sudah berbuat baik, tetapi untuk melamar Mentari, tidak semudah itu. Hardy tidak peduli apa yang ada di kepala Yanto. Ia merogoh saku celananya, mengambil dompet dari dalamnya. Ia mengeluarkan selembar foto usang yang segera ia berikan kepada Yanto. “Itu foto keluarga saya. Anak perempuan itu bernama Bening, adik saya.” Hardy membiarkan Yanto menatap fotonya beberapa saat, terlihat jelas bahwa pria itu cukup terkejut, entah karena fotonya atau karena Bening. Yanto memandang foto lama itu. Seorang pria yang sudah jelas siapa dia, seorang wanita cantik, seorang anak laki-laki dan Bening atau sekarang ia sering menyebutnya … Mentari. “Ini….” Yanto tidak percaya, apakah itu artinya anak lelaki di foto itu, adalah Hardy. Kakak lelaki Mentari yang telah menghilang? “Saya Hardy, Kakak Bening. Lima belas tahun lalu….” Hardy menceritakan kisah masa lalunya, menggali setiap kerikil yang telah ia pijak bersama Bening serta kisah bagaimana keduanya terpisah. Yanto mendengarkan dengan kedua mata berkaca-kaca, ia bersumpah akan membunuh Sardi jika suatu saat bertemu dengan pria itu. “Itulah kenapa, saya pikir. Mentari adalah … Bening, adik saya.” Hardy menyudahi ceritanya, sesaat keduanya terdiam, tidak tahu harus bicara apa. Yanto masih memandang foto usang itu, masih tidak percaya. Tuhan sedang mempermainkannya? Tetapi ia tidak boleh mengatakannya. Ia sudah berjanji akan menjadi umat Tuhan yang baik. Tapi itu berarti … Yanto kembali memandang Hardy. “Aku bertemu Mentari, maksudku Bening. Sekitar dua belas tahun yang lalu….” Kini Yanto menceritakan bagaimana ia bisa bertemu dengan Bening. Semua kisah pilu Bening, ia ceritakan kepada Hardy. Kedua tangan Hardy mengepal dan urat-uratnya mencuat saat mendengar cerita pilu Bening bersama ayahnya. “Syukurlah. Sekarang, Bening sudah bertemu denganmu. Hardy, kumohon jaga adikmu dengan baik! Aku tidak mau Bening menderita lagi. Aku….” Yanto terkekeh sambil mengusap air matanya. Bukankah ini sangat lucu, meminta kakak kandung dari Bening yang sudah mencari kemana-kemana, untuk menjaga Bening. Anak perempuan yang sangat ia sayangi. “Tentu saja. Pak, saya ucapkan terima kasih banyak karena sudah menjaga adik saya. Saya tahu, saya tidak akan bisa membalas kebaikan Bapak.” Hardy mendekati Yanto, tanpa malu maupun risih, Hardy berlutut di depan Yanto dan mencium tangan pria itu, seolah pria itu adalah … ayahnya. Yanto hanya bisa terharu dengan kejadian ini. Ia merasa lega, kini ada saudara laki-laki Bening yang akan ada saat proses kembalinya ingatan masa lalu Bening yang tak ada ubahnya dengan sebuah mimpi paling buruk yang pernah ada.            
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN