Hardy tak mampu meredam rasa bahagia. Ia masuk rumah yang sudah cukup lama ditinggal. Rumah yang dibangun khusus untuk tinggal bersama Bening, hanya saja untuk sementara Ari lah yang tinggal bersamanya.
Rasanya ingin sekali menari seperti dalam sebuah film – film yang dulu ia lihat di TV tetangga. Sebagai gantinya, ia hanya mengepalkan kedua tangan lalu mengangkatnya tinggi – tinggi sambil berteriak tanpa suara.
“Tinggal tunggu waktu, sampai dia mengingatku,” ujar Hardy lalu ia bersiul menuju kamar mandi.
Ari baru saja keluar kamar sambil menyipitkan mata saat melihat sahabatnya tersenyum sendiri seperti orang gila.
“Kamu ngapain?” tanyanya sambil menjatuhkan pantatnya di sofa putih yang ada di ruang tengah.
Hardy melirik sahabat yang selama ini tidak bisa menemukan adiknya. Kalau saja bukan sahabat dan saudara angkat, pasti saat ini ia sudah mendampratnya habis – habisan.
“Bagaimana perkembangan penyelidikanmu?” tanya Hardy, berpura – pura.
“Aku tadi ke rumah sakit. Aku mendapatkan fakta baru yang sangat mencengangkan,” ujar Ari sambil mengeluarkan gawai dari saku celananya.
Hardy duduk di sebelah Ari lalu memandang layar gawai yang sedang memutar rekaman dimana Bening sedang dibawa ke ruang ICU dalam kondisi yang mengenaskan.
“Ada dua orang yang merawat Bening. Bahkan membawanya keluar. Aku sudah mendapatkan profil mereka,” ujar Ari penuh semangat. Ia mengeluarkan sebuah map berisi dua lembar profil pria.
“Pria ini yang menabrak Bening dan pria ini, dia sebut saja pengawal Bening. Pria ini yang selalu mengawasi Bening selama berada di sindikat itu,” ujar Ari.
Hardy menerima dua lembar kertas itu lalu membacanya dengan saksama. Rudi dengan profil yang sama persis dengan yang ia ketahui selama ini dan … Tulus alias Yanto.
Hardy penasaran, apakah pria itu setulus namanya kepada Bening.
***
Mentari merasa kecewa setelah mendengar nama Bening keluar dari bibir lelaki itu. Hardy, nama yang sama seperti nama kakaknya, sudah memenuhi seluruh perasaan seperti sebuah taman bunga yang indah.
Ia merasa ini adalah sebuah perasaan khusus yang dirasakan seorang wanita kepada seorang pria.
Meskipun Hardy orang yang sangat cuek dengan penampilan. Gayanya kuno dan rambutnya sedikit gondrong dan berantakan, tapi hatinya sangat baik. Siapapun yang belum mengenalnya mungkin tak akan menyangka kalau lelaki itu memiliki hati yang hangat.
Tidur di atas ranjang dengan seprai polos berwarna hijau tosca. Mentari memandangi langit – langit kamarnya yang di cat biru dan putih yang membentuk motif awan. Seakan itu adalah langit yang sangat cerah.
Gadis itu menepuk pipinya saat membayangkan bagaimana kalau mereka berdua adalah kekasih.
“Tapi namanya sama dengan Kak Hardy. Bagaimana kalau ternyata dia Kak Hardy, kakakku,” gumamnya membuat kedua alisnya bertaut dan bibirnya mengerucut.
Pintu diketuk tiga kali, tanpa menunggu lama Mentari melompat turun dari ranjang lalu membuka pintu.
Yanto berdiri dengan membawa segelas s**u yang masih hangat. Menyerahkannya kepada Mentari dan menunggu gadis itu sampai menghabiskan susunya.
“Kamu cepat tidur! Besok kita harus ke rumah sakit,” ujar Yanto yang membuat Mentari mengerucutkan bibir.
“Bersabarlah! Nanti kalau kamu sudah sembuh. Kamu akan merindukan masa sekarang,” ujar Yanto seakan rumah sakit adalah tempat yang bisa dirindukan seseorang.
“Mana ada orang rindu rumah sakit, Ayah!” seru Mentari sambil menggembungkan pipi.
Yanto tertawa terbahak – bahak karena merasa konyol setelah mengingat ucapannya sendiri. “Ya sudah, yang penting kamu cepat tidur!”
Mentari menyerahkan gelas yang sudah kosong kepada Yanto, mencium pipi kanan pria itu lalu menutup pintu kamar.
Matanya tiba – tiba saja mengantuk setelah minum s**u hangat tadi. Hari ini memang sangat melelahkan baginya. Padahal ia merasa jauh lebih kuat dari sebelumnya, tapi tetap saja pergi jalan ke mall menghabiskan seluruh tenaganya.
***
Mentari berjalan dengan mata terpejam. Rambutnya masih berantakan, khas orang baru bangun tidur. Mukanya masih bengkak bahkan ada bekas air liur di ujung bibirnya. Sambil mengucek mata, ia menguap lebar saat berjalan menuju ruang makan. Masih merasa malas meskipun sudah tidur hampir sepuluh jam.
“Pagi Mentari,” sapa Hardy yang membuat mata Mentari seketika membuka.
Kak Hardy! Serunya dalam hati.
Ia memutuskan memutar badan lalu berlari menuju kamarnya sambil menyesali kekonyolan yang sudah ia buat.
“Mentari, jalan pelan!” seru Yanto saat melihat anak angkatnya masuk kamar dengan tergesa – gesa.
Rudi hanya bisa geleng – geleng kepala melihat tingkahnya.
Sepuluh menit kemudian, Mentari keluar kamar dengan penampilan seratus delapan puluh derajat berbeda. Sekarang ia tampil cantik dengan kaos merah muda dan celana pendek berwarna putih. Rambutnya sudah rapi, wajahnya sudah tampak segar dengan bedak dan lipstick merah muda cerah yang semakin mencerahkan wajahnya.
“Kamu mau kemana cantik begitu?” tanya Rudi.
Tiga pria dewasa yang tadi sedang menikmati sarapan saat melihat Mentari keluar kamar, kini sedang menikmati pagi di ruang tengah sambil berbincang dan meneguk kopi hitam yang masih panas.
Wajah Mentari memerah saat melewati ruang tengah dimana ruang keluarga dan ruang makan menjadi satu area.
Mentari menikmati sarapannya sambil mengamati Hardy yang sedang bercengkerama dengan ayah dan kakeknya. Sesekali tersenyum saat melihat Hardy tersenyum atau saat tanpa sengaja mata mereka berserobok.
“Tari, kalau sudah makan jangan lupa minum obatmu. Ayah sudah membuat janji dengan dokter, satu jam lagi kita berangkat,” ujar Yanto tiba – tiba.
Mentari mengangguk tanpa suara. Dengan lahap ia menikmati sepiring nasi goreng istimewa yang rasanya menjadi dua kali lebih mantap berkat kehadiran Hardy hari ini.
Mentari menghabiskan nasi goreng dan segera meneguk segelas air putih. Sarapan hari ini sama seperti sarapan kemarin, diselesaikan dengan enam butir obat yang harus masuk lambungnya.
Mentari menyandarkan punggungnya. Perutnya sudah penuh sekali, apalagi ia butuh dua gelas air untuk mendorong makanan dan obat ke dalam perutnya. Karena itulah perutnya menjadi begah.
“Nak Hardy yang akan mengantarmu control hari ini. Kamu nggak apa – apa kan?” tanya Yanto.
Mentari melirik Yanto dan Hardy lalu menegakkan punggung. Semangatnya menggebu – gebu dan jadi tidak sabar ingin cepat segera berangkat.
Euphoria itu membuat kepalanya pusing hingga ia merapatkan kedua matanya.
Santai Mentari! serunya dalam hati. Menenangkan dirinya agar kepalanya tidak pusing agar bisa tetap pergi berdua saja dengan Hardy.
“Ada apa, Tari?” tanya Rudi, heran dengan sikap Mentari yang tidak seperti biasanya.
“Nggak papa, Kek. Aku mau ke kamar dulu. Mau siap – siap,” ujar Mentari.
Mentari menarik napas dalam – dalam lalu mengembuskannya ke udara. Berusaha untuk tidak terlalu bahagia, karena apapun yang berlebihan akan mempengaruhi Kesehatan kepalanya.