Merasa Berkencan

1303 Kata
Mentari selalu diperhatikan kakek dan ayahnya, tapi mendapatkan perhatian dari cowok sekeren Hardy itu perkara lain. Wajahnya bersemu merah saat memperhatikannya yang sedang berbicara serius dengan dokter. “Kita lihat perkembangannya saja ya, Pak,” ujar dokter yang seluruh rambutnya berwarna putih karena uban. Hardy hanya bisa mengangguk sebagai akhir dari pemeriksaan dan konsultasi dengan dokter syaraf yang menangani Mentari. Seorang suster mengambil buku status pasien dari tangan sang dokter. Sementara itu, Hardy membawa secarik kertas berisi resep dokter yang harus ditebus. Berjalan pelan di samping Hardy, mata Mentari tak bisa beralih dari lelaki yang berada di sebelahnya. Hardy bahkan mencekal lengannya, seperti seorang bocah yang tidak boleh terpisah dari ibunya. Mentari tersenyum sendiri sambil memandang beberapa orang yang memandang mereka secara terang – terangan. Mereka pasti tidak pernah melihat cowok ganteng dan cewek cantik berjalan bersama, ujarnya dalam hati. “Tari, kamu duduk dulu. Aku akan menyerahkan resep ini ke apoteker!” kata Hardy sambil membimbing Mentari untuk duduk di sebuah bangku yang ada di ruang tunggu. Mentari tak berkata apapun, hanya memandang Hardy yang menuju apotek untuk menyerahkan kertas resep itu. Hardy mendekati Mentari setelah menyerahkan resep. Mereka harus menunggu apoteker mempersiapkan obatnya. “Tari, nanti ikut aku ke bengkel sebentar ya!” pinta Hardy sambil duduk di sebelah Mentari. “Bengkelnya Kak Hardy deket sini?” tanya Mentari tanpa bisa menahan senyumnya yang manis. “Lumayan. Nanti kita makan siang di restoran langgananku,” ajak Hardy membuat Mentari semakin cerah. Kemana pun perginya, asal dengan Hardy … Mentari rela. Bahkan meskipun diajak ke bengkel yang terkenal kotor dan panas. “Nona Mentari!” seru seorang petugas. Hardy segera mendekati apotek untuk mengambil obat yang sudah ia tebus sebelumnya. Mentari berdiri lalu mendekati Hardy. Ia segera memasukkan obat – obatan itu ke dalam tasnya. Saling bertukar senyum dengan Hardy saat mata mereka berserobok. Berjalan menyusuri koridor rumah sakit. Ingatan masa lalu membuat Mentari menghentikan langkah sambil mencengkeram lengan Hardy. “Ada apa, Tari?” tanya Hardy penuh rasa khawatir. “Tidak apa – apa, Kak. Aku hanya … agak pusing,” ujar Mentari sedikit berbohong. Ia meringis merasa tak enak sudah membuat Hardy khawatir. “Apa kita pulang saja?” ajak Hardy membuat Mentari menggeleng keras. “Kamu yakin, nggak papa?” lanjutnya sambil meneliti wajah Mentari yang agak memucat. Ingatan masa lalu yang semakin lama semakin menyiksanya memang sebuah kabar baik. Namun karena setiap kepingnya lebih banyak duka, hal itu membuat hati Mentari menjadi sedih. Ia sangat penasaran keseluruhan masa lalu yang munculnya sepotong – sepotong. “Aku nggak papa. Suwer,” seru Mentari sambil memamerkan dua jari yang membentuk huruf V. “Kalau sakit, kamu bilang saja.” “Siap, Bos.” Mentari menghormat ala tentara, membuat Hardy tertawa dan hendak mengacak – acak rambut Mentari. Hanya saja mengingat Sebagian kepala Mentari tidak tertutup tulang tengkorak, ia mengurungkan niat itu. *** Mentari terpana dengan bengkel yang baru saja ia masuki. Awalnya ia berpikir kalau bengkel milik Hardy sama seperti bengkel pada umumnya. Namun kenyataannya, bengkel milik Hardy adalah sebuah bengkel yang besar dan rapi. Terdapat sebuah meja kasir di bagian depan. Serta sebuah mini café di sisi kiri. Di dekat mini café terdapat sebuah pintu yang menghubungkannya dengan bengkel yang sangat rapi serta sebuah ruangan milik Hardy. “Ayo kita ke ruanganku,” ajak Hardy sambil menarik lengan Mentari. Suasana bengkel cukup ramai. Beberapa orang sedang melakukan transaksi setelah mobil mereka diperbaiki. Mentari hanya mengekor di belakang Hardy sambil memandang ke sekeliling. Terdapat sebuah tangga kecil yang menghubungkannya ke lantai dua, lantai dimana ia bekerja bersama beberapa karyawan. Mentari hanya mengangguk saat beberapa karyawan memandangnya. Sebuah senyum tipis nan tulus membuat orang – orang ikut tersenyum kepadanya. Hardy mempersilakan Mentari masuk ke ruangan kaca. Dari ruangan itu, Hardy bisa melihat seluruh karyawannya bekerja. Begitu juga para karyawan yang bisa melihat sang bos tengahh memperhatikan mereka. Mentari suka dengan ruangan Hardy yang sederhana. Hanya terdapat sebuah sofa dan meja, serta satu set sofa hitam berada di dekat pintu. Terdapat sebuah foto keluarga yang menempel di dinding. Foto yang serupa dengan miliknya bersama kakek dan omnya. “Kakak dua saudara?” tanya Mentari sambil memandang foto keluarga yang tampak sangat harmonis itu. “Oh, itu keluarga angkatku,” jawab Yudistira singkat. Mentari mengangguk mengerti dengan ucapan Hardy. Ia segera duduk di sofa hitam panjang saat Hardy duduk di kursinya yang juga berwarna hitam. Tak berselang lama, seorang wanita datang dengan membawa setumpuk dokumen. “Ini tolong di tanda tangani, Pak,” ucap wanita itu sambil menyerahkan beberapa map dokumen. Hardy menerima dan segera membukanya. “OK, oh ya tolong reservasi di Restoran Ramayana untuk dua jam lagi. Di ruangan seperti biasanya,” ujar Hardy kepada sekretarisnya. “Baik, Pak. Permisi!” Sang sekretaris segera undur diri. Saat hendak keluar, matanya bersitatap dengan Mentari lalu mengulas senyum kepada wanita itu. Hardy segera disibukkan dengan pekerjaannya. Dengan serius membuka dan membaca dokumen sebelum menandatanganinya. Setelah mengurus beberapa dokumen, ia baru sadar kalau Mentari masih ada dalam ruangannya. Gadis itu tertidur di atas sofa panjang berwarna hitam. Wajahnya begitu damai hingga Hardy tak tega membangunkannya. Ia mendekati lemari untuk mengambil selimut. Menyelimuti adiknya yang sejak kecil berwajah manis sekali. Ia meninggalkan ruangan untuk melanjutkan pekerjaannya, membiarkan Mentari terus beristirahat dan jika memang diperlukan, ia akan membatalkan reservasi. *** Mentari menguap lebar sambil menegakkan badan. Selimut biru army yang menutupi Sebagian tubuhnya jatuh ke lantai. Sejak Hardy sibuk dengan pekerjaannya, ia menjadi sangat bosan sekali. Meski sudah membunuh waktu dengan bermain game di gawainya, namun hanya dalam waktu singkat kepalanya jadi pusing hingga akhirnya ia memutuskan untuk memejamkan mata sejenak. Saat terbangun, ia baru sadar kalau sudah tidur selama dua jam. Mengedarkan pandangan, tidak ada Hardy dalam ruangannya. Ia bangkit lalu mengencangkan tubuhnya yang terasa kaku. Saat melihat selimut yang teronggok di lantai, senyumnya merekah dan hatinya menjadi berbunga – bunga. Hardy begitu perhatian. Sampai memakaikannya selimut saat tertidur. Padahal hal itu tak perlu dilakukan, toh ruangan Hardy tidak terlalu dingin. Mentari mengambil selimut itu lalu melipatnya. Setelah selesai, pintu tiba – tiba terbuka dan Hardy masuk sambil mengulas senyum kepadanya. “Kamu sudah bangun, Tari?” tanya lelaki itu sambil kembali duduk di kursi kerjanya. “Aku baru bangun. Maaf ya, Kak. Aku ketiduran. Habisnya bosen banget sih,” ujar Mentari sambil mengerucutkan bibir. “Bukan masalah. Ayo kita makan siang!” ajak Hardy setelah menumpuk sebuah dokumen di atas tumpukan dokumen lain. Ia segera berdiri lalu mendekati Mentari dan merangkul pundaknya. Mengajak gadis yang mukanya memerah itu keluar menuju restoran yang letaknya tak jauh dari bengkel Hardy. Hardy berharap dengan mengajak Mentari atau Bening ke restoran itu akan membantunya mengingat semuanya. Tak perlu waktu lama bagi keduanya untuk sampai ke restoran yang berasitektur khas Bali tersebut. Suasana restoran sudah lengang karena jam makan siang sudah selesai satu jam yang lalu. Hanya ada beberapa karyawan yang berkumpul di dekat kasir dan Sebagian lagi sibuk membersihkan meja. Saat melihat Bening, dua karyawan yang melihatnya saling berbisik dan menatap Bening saksama. Mereka seakan tahu Bening tapi tidak yakin seratus persen. Membuat mereka hanya berani memandang Bening sampai gadis itu masuk saung. Hardy selalu reservasi tempat yang berupa saung yang ada di sudut ruangan. Tempat itu memang sedikit terpencil dengan ruangan lain, tapi dari saung itu semua pemandangan restoran tampak. Kolam ikan yang ada di tengah restoran bahkan dapur pun tampak dari tempat itu. Mentari segera masuk ke saung itu dan menekuk pinggangnya untuk menikmati ikan – ikan yang ada di kolam. Suasana hatinya yang sangat baik membuatnya tak bisa melepas senyum yang sedari tadi menghiasi wajahnya. *** Arjuna sedang sibuk membuat bumbu sambal saat tanpa sengaja ia mengangkat kepala untuk melihat ke arah kolam dan saung yang ada di seberang dapurnya. Saat melihat gadis yang sedang tersenyum sambil melihat ikan – ikan, jantungnya seakan berhenti dan ulekan yang digenggamnya terlepas begitu saja. “Bening,” gumamnya.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN