Arjuna yakin kalau gadis yang ia lihat adalah Bening. Gadis yang sudah membuat hatinya berdebar – debar lalu menghilang secara tiba – tiba. Saat itu ia yakin kalau Bening meninggalkan pekerjaannya untuk pergi jauh dengan Andra.
Tapi kenapa Sinta sekarang datang bersama Hardy, pemilik bengkel di sebelah restorannya.
Apapun alasannya, ia tak peduli. Ia melepaskan apron dan melemparnya begitu saja. Berjalan cepat mendekati saung yang ada di seberang dapurnya. Ingin melihat dengan jelas dan dengan mata kepala sendiri.
Ia sangat berharap kalau gadis itu adalah Sinta. Sudah berbulan – bulan tidak bertatap muka, namun wajahnya masih teringat jelas. Pertanda kalau gadis itu memiliki kesan tersendiri dalam hatinya.
Sampai di dekat saung, lelaki itu hanya melewatinya saja sambil memperhatikan pria yang sedang duduk sendirian. Membuatnya bertanya – tanya dimana Bening.
“Pak Arjuna!” sapa Hardy membuat Arjuna mau tak mau menghentikan langkah.
“Pak Hardy. Sama siapa?” tanyanya sambil celingukan, lagi – lagi untuk mencari tahu dimana Sinta sekarang.
“Sama adik saya. Dia sedang ke toilet,” jawab Hardy sambil tersenyum ramah.
Arjuna menggosok kedua tangannya sambil meringis, mulai tak yakin dengan penglihatannya sendiri. Memandang ke arah kiri dimana toiletnya berada, ia mengangguk – anggukkan kepala sambil tertawa sendiri. Menyadari kekonyolan yang ia buat beberapa saat yang lalu.
“Ramai restorannya, Pak?” tanya Hardy membuat Arjuna mengangkat kepala dan menaikkan alisnya.
“Restorannya hari ini ramai ta?” tanya Hardy sekali lagi.
“Seperti biasanya, Pak. Apa anda sudah memesan makanannya?” tanyanya sekedar berbasa – basi.
“Saya sudah memesan makanan.”
“OK. Saya akan memeriksa pesanan anda. Maaf, saya masih ada kerjaan. Permisi.” Tanpa menunggu jawaban Hardy, Arjuna segera melangkah menjauh.
Langkah lelaki itu menuju toilet hanya untuk membuat kesan seakan ia tadi memang hendak ke toilet. Sekali lagi ia tertawa sendiri menyadari kenaifannya. Enam bulan bukan waktu yang cepat. Seharusnya ia bisa melupakan Sinta yang datang sekitar dua bulan lalu menghilang tanpa kabar.
Saat membelok ke toilet, langkahnya tiba – tiba terhenti saat tanpa sengaja hendak menubruk seseorang. Salahnya sendiri karena berjalan sambil menunduk hingga tidak menyadari ada seseorang yang ada di depannya.
“Maaf,” ujarnya sambil mengangkat kepala. Hingga matanya bersitatap dengan wanita yang sangat ia rindukan.
“Bening,” gumamnya membuat sang perempuan yang masih berdiri di hadapannya membelalakkan mata.
“Maaf,” ujar gadis itu lalu hendak melewatinya.
Secara spontan Arjuna mencekal tangan Mentari untuk menghentikan langkahnya. Membuat gadis itu terkejut hingga menarik tangan sambil memutar badan ke arahnya.
“Apa yang anda lakukan?” berang Mentari karena Arjuna bersikap sangat tidak sopan.
“Sinta. Apa kamu sudah melupakan aku?” Arjuna terkejut karena Sinta tidak mengingatnya. Padahal ia tidak bisa melupakan semua hal tentangnya.
“Nama saya Mentari. Bukan Bening. Maaf, anda salah orang.” Mentari segera berjalan cepat meninggalkan Arjuna yang sudah membuatnya tak nyaman.
***
“Dia pasti gila,” gumam Mentari sambil melangkah menuju saung dimana Hardy sudah menunggunya.
Wajah kesal tampak jelas membuat Hardy heran dengan air mukanya. “Kamu kenapa, Tari?” tanya Hardy membuat Mentari duduk sambil mengerucutkan bibir.
“Ada orang gila yang mencekal tanganku di toilet, Kak,” adunya sambil melirik ke arah toilet.
“Apa maksudmu?” Hardy secara spontan menoleh ke arah toilet.
“Dia sudah berani memegang tanganku dan mengira aku orang lain. Maksudnya apa coba?” Mentari bersungut – sungut.
Hardy masih tidak mengerti apa yang dibicarakan Bening. Tidak ada pegawai yang tak sopan di tempat ini. Ia sangat mengenal betul karena sudah menjadi pelanggan sejak bertahun – tahun lamanya.
“Siapa yang kamu maksud?” Jika ada yang sudah bertindak tidak sopan pada Mentari, ia pasti tidak akan tinggal diam.
“Ah sudahlah, males meladeni dia. Duh, pesanannya kok belum datang – datang sih.”
Rengekan Mentari entah mengapa membuat Hardy merasa seperti kembali ke masa lalu. Adiknya masih sangat manja dan sangat tidak sabaran. Dulu ia sempat jengkel setiap kali Bening merengek. Tapi sekarang rengekannya membuatnya merasa seperti berada di rumah.
“Sabar dulu. Bentar lagi pesanannya juga sampai,” ujar Hardy membuat wajah Mentari memerah.
Malu sendiri karena sifat manja itu muncul begitu saja. Suasana hatinya memang sempat jelek gara – gara lelaki tak jelas tadi. Membuatnya tak bisa menjaga image di depan Hardy.
Hardy memperhatikannya sambil tersenyum, membuatnya jadi salah tingkah bahkan tiba – tiba merasa canggung.
“Ayahmu pernah cerita kamu pernah kerja disini. Apa kamu ingat?” tany Hardy membuat Mentari terkejut.
Apakah karena itu makanya lelaki tadi menghadang jalannya. Tapi kenapa lelaki tadi menyebut namanya Sinta. Siapa Sinta? Apakah disini ia dipanggil Sinta. Padahal namanya Mentari Cahyani, bahkan nama panjangnya tidak mengandung kata Sinta.
Terlalu banyak berpikir tiba – tiba kepalanya jadi pusing. Mentari tak ingin membuang waktu untuk memikirkan yang tidak – tidak. Bahkan kalau ia adalah Sinta atau siapalah, itu semua tidak ada artinya.
Ia ingin tahu masa lalunya, tetapi entah mengapa kondisi sekarang jauh lebih nyaman jadi tidak ingat masa lalu tidak jadi masalah sendiri baginya.
“Permisi, ini pesanan Bapak.” Tiba – tiba seorang pegawai yang mengenakan seragam kaos berkrah berwarna oranye datang dengan membawa nampan besar.
Lelaki itu meletakkan dua piring kosong, satu bakul kecil nasi, satu piring besar berisi ikan bakar, sepiring tahu tempe, sepiring kecil sambal, sepiring besar seafood berisi kepiting, lobster, kerang dara, kerang ijo, kerang bamboo, kerang tahu, cumi – cumi, udang dan jagung yang dimasak dengan bumbu saus padang, seporsi tumis kangkung, setengah ekor ayam bakar dan dua gelas es jeruk.
Mata Mentari melebar karena meja menjadi penuh makanan. Ia tak yakin bisa menghabiskan makanan itu, bahkan ia ragu kalau Hardy bisa memakannya.
“Ini terlalu banyak, Kak.” Mentari mencolek saus padang lalu memasukkannya ke mulut. Rasanya sangat nikmat sekali, membuatnya segera meraih piring kosong dan menyendok nasi dari bakul.
“Makan pelan – pelan saja. Nanti juga habis sendiri,” kata Hardy sambil meraih piring kosong dan mengisinya dengan nasi.
Mentari sudah memindahkan lobster yang berukuran cukup besar. Tanpa buang waktu mengambil daging lobster itu dan memakannya. Cara makan yang begitu lahap adalah bukti kalau makanan itu sangat lezat.
Hardy tersenyum senang sambil mengambil tahu goreng dan memindahkannya ke piring.
“Makan yang banyak, Tari. Biar badanmu semakin sehat dan kuat,” ujar Hardy membuat Mentari kembali merasa malu sendiri.
“Makanannya enak sekali, Kak. Aku suka banget apalagi seafoodnya. Duh jadi ingat masa lalu,” ucapan Mentari membuat Hardy bahkan dirinya sendiri juga terkejut dengan apa yang baru saja diungkapkannya.
“Apa kamu mengingat sesuatu, Tari?” tanya Hardy penuh selidik.
“Ehm, entahlah. Tapi sepertinya dulu aku sering makan bersama kakakku, Kak,” ucapan Mentari kali ini membuat mata Hardy berkaca – kaca.
Satu kenangan terungkap. Ini sebuah pertanda yang sangat baik dan Hardy yakin cepat atau lambat Mentari akan mengingat semuanya.