Rumah Hardy

1029 Kata
Meskipun sebenarnya Mentari merasa masa lalu tidaklah penting, tetapi ucapan Arjuna beberapa waktu lalu membuatnya penasaran. Mengapa ia bekerja di tempat itu, sementara kakeknya adalah seorang pengusaha dan ayahnya juga memiliki usaha. Meskipun usaha kedua orang itu tidak terlalu besar, tapi tetap saja ia tak habis pikir mengapa ia memilih kerja di tempat itu ketimbang kerja di tempat kakek atau ayahnya. Apalagi sebuah restoran. Mentari menepuk kepalanya sendiri karena tadi terlalu emosi sampai ia kehilangan kesempatan untuk bertanya lebih jauh tentang siapa dan mengapa ia bekerja di tempat itu. Perjalanan menuju rumahnya terhambat karena kemacetan lalu lintas yang sangat padat. Mentari duduk di sebelah kemudi. Duduk sambil menikmati penyesalan karena ia sudah bertindak terlalu gegabah. “Kak, kapan – kapan kita makan di tempat itu lagi, yuk.” Mentari ingin bertemu dengan Arjuna lagi. “Aku tadi ketemu cowok aneh banget deh, Kak. Dia tuh manggil aku Sinta. Katanya aku dulu kerja di tempat itu,” ujar Mentari membuat Hardy menoleh sesaat kepadanya. “Oh ya. Siapa dia?” tanya Hardy penasaran. “Aku juga tidak tahu. Sepertinya kalau aku kesana, aku bertemu lagi dengannya,” ujar Mentari, merasa sedikit yakin kalau ucapannya benar. Satu sudut bibir Hardy terangkat. Merasa senang karena tindakannya mengajak Mentari ke tempat itu ternyata berhasil. Yanto pernah bercerita kalau Bening pernah bekerja disana sebagai penyanyi. Sebenarnya Hardy sedih dan sekaligus menyesal karena Bening harus bekerja sebagai penyanyi disana. Bukannya profesi penyanyi itu buruk, hanya saja seharusnya Bening tidak bekerja andai mereka tidak terpisah. Hardy meremas kemudi untuk melampiaskan kekesalannya. Rahangnya mengeras dan gigi geliginya bergemelutuk. Meskipun sadar kalau waktu tak bisa diputar, tapi tetap saja ia merasa kesal. Mobil masuk ke sebuah perumahan yang letaknya tak jauh dari bengkel Hardy. Membuat Mentari menoleh kepada lelaki itu untuk mempertanyakan alasannya. “Ada sesuatu yang harus kulakukan di rumah. Kamu nggak masalah kan kuajak ke rumahku?” tanya Hardy, namun nada suaranya menunjukkan kalau ia tidak memberikan pilihan. “OK.” Mentari tak masalah dengan hal itu. Justru merasa senang karena bisa melihat rumah Hardy. Rumah Hardy berada di sebuah komplek perumahan yang cukup elit di Surabaya. Rumah dua lantai dengan teras yang cukup luas. Terdapat taman dengan tanaman yang indah. Beberapa jenis aglonema, mawar dan beberapa jenis tanaman lain dirangkai indah memutari sebuah kolam kecil dengan beberapa koi yang warna – warni. Hardy masuk teras dan segera membuka pintu rumahnya. Mentari berjalan perlahan naik teras seakan teras itu terbuat dari kaca yang akan retak jika salah melangkahan kaki. Berdiri di daun pintu, Mentari melihat rumah Hardy yang didominasi warna putih, hijau dan abu – abu. Sofa abu – abu, beberapa jenis tanaman dalam pot berada di setiap sudut ruangan. Tembok berwarna putih, salah satu sudutnya berwarna hijau yang cerah. “Mentari, ayo masuk! Buat dirimu nyaman seperti di rumah,” ajak Hardy membuat Mentari akhirya melangkah masuk rumah dan duduk di sofa abu – abu. Mengedarkan pandangan sambil duduk di tepi sofa, ia melihat ke sekeliling ruangan dengan sangat canggung. Duduknya tak nyaman tapi bagaimana bisa nyaman di tempat orang yang ia sukai? “Maafkan aku, tapi aku harus membiarkanmu sendirian disini. Aku harus melakukan pekerjaan yang tidak bisa diganggu.” “Tidak apa – apa, Kak. Kerja aja. Aku akan menunggumu disini.” “Beneran?” “Santai aja, Kakak. Aku bisa main HP sambil nunggu kakak selesai kerja.” Sesaat Hardy terdiam seakan berat meninggalkan Mentari, tapi pekerjaan yang harus dikerjakan tidak bisa diganti oleh orang lain. Setelah beberapa lama, akhirnya Hardy naik tangga dan membiarkan Mentari duduk seorang diri. Mentari mengembuskan napas berat. Degup jantungnya yang berdegup kencang membuatnya merasa sulit bernapas. Ia menyandarkan punggungnya di sofa agar terasa lebih rileks. Baru kali ini detak jantungnya sulit dikendalikan. Ia masih mengatur napas yang tidak teratur seakan baru saja melakukan olahraga berat. Setelah bermain gawai beberapa saat, Mentari mulai bosan. Ia melihat ke sekliling rumah. Ada sebuah lukisan yang berada di dinding sebelah kiri. Lukisan anak perempuan yang cantik sekali yang membuatnya merasa cemburu. Hardy pasti sangat mencintai gadis itu sampai memajang fotonya. Ia menggeleng sendiri, berusaha mengenyahkan pikiran yang mulai kemana – mana. Hardy cukup lama meninggalkannya. Jantung yang tadinya serasa hendak meledak, perlahan mulai tenang. Tapi lukisan anak perempuan itu mengganggu sekali. Beberapa kali Mentari melirik lukisan itu karena kesal bercampur penasaran. Siapa anak perempuan itu. Mentari akhirnya bangkit dan mulai berkeliling sambil mengamati seisi rumah Hardy. Rumah Hardy begitu rapi dan minim furniture. Hanya ada dua sofa yang berfungsi sebagai sofa ruang tamu dan sofa ruang tengah. Tidak ada meja makan, tetapi terdapat dapur yang bersih. Setelah berkeliling, Mentari berakhir di ujung tangga yang memisahkannya dengan Hardy. Ia sangat penasaran seperti apa lantai dua, tetapi ada perasaan takut karena itu pasti hal yang tak sopan. Ia pun memilih kembali ke sofa. Kembali bermain gawai, tak lama kemudian kepalanya jadi pusing karena terlalu lama memandang layar. Ia selonjoran di atas kursi panjang hingga matanya perlahan menutup. Hardy akhirnya menyelesaikan pekerjaannya. Di lantai dua terdapat sebuah ruangan yang ia gunakan sebagai bengkel pribadi. Beberapa pekerjaan harus dibawa ke rumah karena peralatan itu ada di rumahnya. Menuruni anak tangga, ia terkejut melihat Mentari meringkuk di atas sofa. Tanpa membuang waktu, ia segera membopongnya lalu membawanya ke kamar. Hardy senang akhirnya sang pemilik kamar datang. Kamar bernuansa merah muda iu tampak hidup sejak hadirnya Mentari di tempat ini. Hardy segera menutup pintu kamar agar Mentari bisa tidur dengan nyenyak. Sementara ia memilih ke bawah untuk membuat kopi dan menikmati hari yang sangat menyenangkan. Ia baru saja sampai lantai bawah saat tiba – tiba pintu rumahnya terbuka. Ari dan segera menuju mesin kopi. Hardy hanya geleng – geleng dan menunggu Ari selesai membuatnya. “Ternyata mencari Bening itu tidak mudah,” ucap Ari membuat Hardy hanya mencemooh. Hardy duduk di tepi meja makan sambil mendengarkan Ari yang menceritakan perkembangan mencari Bening. Ia tidak mengiyakan juga tidak membenarkan ucapannya. “Aku mau pesan grab food, kamu mau pesan juga?” tanya Ari yang dijawab dengan anggukan kepala keras. Ari segera duduk dan menghubungi gojeg yang bisa membantunya. Sambil menunggu pesanannya datang. Suara teriakan perempuan yang begitu kencang membuat Ari dan Hardy segera berlari ke kamar Mentari. Ke sumber suara yang membuat dua pria itu bersigegas mendatanginya.    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN