Sebuah Kenyataan

1128 Kata
Sardi menyeretnya menuju seorang pria berperut buncit yang tertawa terbahak – bahak. Ia sendiri mengenakan pakaian ketat dan minim. Berada di sebelah panggung orkes dangdut dengan musik mengalun. Seakan itu sebuah backsound yang mengiringi kesedihannya. “Ayo Bening. Layani Tuan itu dengan baik,” ucap Sardi sambil mendorongnya ke pria itu. “TIDAK! ARGH!” Mentari berteriak sekuat tenaga. Dalam mimpinya ia diperlakukan tidak hormat oleh pria berperut gendut itu. Bulir - bulir keringat menghiasi keningnya. Matanya terpejam erat sementara bibirnya terus meracau. "Jangan, Ayah. Kumohon, ampuni aku!" ibanya sambil terus berurai air mata. Hardy dan Ari berlari menuju kamar Mentari. Melihat Mentari yang masih terlelap sambil terus berteriak membuat Hardy segera membangunkan gadis itu. “Tari! Bangun! Kamu mimpi buruk. Ayo bangun!” Hardy mengguncang pundaknya agar segera membuka mata. “Tidak. Jangan. Jangan!” Mentari masih terus mengigau. Dalam mimpinya ia berlari menjauhi Sardi dan pria itu. “Tari. Bangun!” Hardy menepuk pelan pipi gadis itu hingga akhirnya kedua mata Mentari terbuka. Saat membuka mata, secara spontan Mentari menjauh dari Hardy. Ia bahkan melompat menuruni ranjang lalu berdiri dengan tegap. “Tari. Kamu kenapa?” Hardy terkejut dengan respon adiknya. Tak menyangka kalau mimpi Mentari begitu mengganggu. “Kak Hardy … Kak Hardy.” Tangis Mentari pecah. Ia menutup wajah dengan kedua tangan. Tubuhnya bergetar hebat. Mimpi itu seakan benar - benar terjadi hingga ia kesulitan membedakan apakah itu mimpi ataukah nyata. Mimpi buruk itu selalu menghantuinya. Memberi rasa takut yang luar biasa karena mimpi itu terasa sangat nyata. Hardy mendekati Mentari dan memeluknya erat. Menenangkan adiknya yang masih menangis tersedu – sedu. “Itu hanya mimpi, Bening,” ucap Hardy yang tanpa sadar memanggil Mentari dengan sebutan Bening. Mendengar nama Bening membuat Mentari melepaskan diri dari pelukan Hardy. “Siapa Bening? Kenapa Kakak manggil aku dengan nama itu. Bagaimana kamu tahu … nama itu?” Ia memeluk dirinya sendiri karena tiba – tiba menjadi merinding. Mundur beberapa langkah. Mentari masih meneteskan air mata. Saat melihat seorang pria berdiri di dekat pintu. Ia berpikir kalau Hardy memiliki rencana buruk. “Siapa dia?” tanyanya sambil menunjuk Ari. “Dia Ari. Temanku. Dia juga tinggal disini,” terang Hardy berusaha membuat Mentari tenang. “Tari. Itu hanya mimpi. Aku akan selalu ada untukmu. Kamu jangan pernah khawatir,” ucap Hardy tanpa bergerak sedikit pun. Takut jika bergerak sedikit saja akan menakuti Mentari. Beberapa lama Mentari terdiam. Hanya air mata yang terus meleleh namun perlahan perasaannya menjadi tenang. “Dalam mimpiku, dia ayahku. Dia sering sekali muncul dalam mimpiku. Aku … takut dengannya.” Da da Mentari menjadi sesak setiap kali mengingat lelaki itu. “Ayahmu Yanto. Dia pria yang baik, Tari,” ujar Hardy. “Katakan padaku, kenapa kamu memanggilku Bening?” tanyanya heran sekaligus penasaran. Hardy terdiam, tampak gelisah dan tak tahu harus bicara apa. “Apa namaku Bening?” tebak Mentari membuat Hardy seketika menatapnya dengan terkejut. Membuat Mentari sadar bahwa namanya memang Bening. Kepala Mentari jadi pusing. Berjalan dengan hati – hati mendekati ranjang lalu duduk di tepinya. Tubuhnya masih gemetar. Mimpi itu masih terasa sangat nyata hingga ia merasa tidak bisa membedakan mana dunia mimpi dan mana dunia nyata. “Aku tak yakin kamu menyadarinya atau tidak. Tapi … Kamu Bening, adikku,” ucapan Hardy membuat Mentari mendongak, melihat Hardy yang perlahan duduk di sampingnya. “Maafkan aku karena sudah meninggalkanmu selama ini, Bening. Bukan maksudku meninggalkanmu selama itu. Aku sudah bersalah. Karena aku, kamu mengalami banyak kesulitan.” Kali ini tangis Hardy pecah. Mentari tak tahu harus bagaimana. Bahkan meskipun kini ia tahu namanya Bening, tetap saja ia lupa dengan masa lalunya. Apakah itu artinya ia harus ingat semuanya untuk mengetahui apa yang terjadi selama ini, sebelum ia kehilangan ingatan? Namun dengan mimpi – mimpi buruk itu, ia takut kalau lebih baik lupa dengan masa lalunya. Tapi tanpa mengetahui semuanya, ia sendiri seperti seorang musafir yang tersesat dan tak tahu jalan pulang. “Kamu jangan mengkhawatirkan apapun selain kesehatanmu, Bening … maksudku, Tari. Kita lalui semuanya selangkah demi selangkah.” Hardy merangkul pundak Bening dan menepuknya perlahan.  “Apa Kakak yakin aku Bening, adikmu?” tanya Bening, masih tak percaya soal itu. “Aku yakin … sangat yakin. Aku sudah mencari tahu kebenarannya dari ayahmu.” “Apa ayahku tahu siapa aku?” “Dia sudah merawatmu selama bertahun – tahun.” “Kalau dia ayah yang merawatku selama bertahun – tahun. Lalu siapa ayah yang ada dalam mimpiku?” Hardy kembali terdiam. Mengingat pria itu saja sudah menyakiti hatinya, tapi Bening harus tahu kenyataan  pahit itu. “Dia … ayah kita,” gumamnya. *** Ari merasa kehadirannya hanya akan membuat Bening semakin gusar. Ia pun memutuskan untuk meninggalkan gadis itu bersama Hardy. Ari terkejut karena Bening yang pernah ia temui berbulan – bulan yang lalu ternyata ada di rumah ini dan tidur di kamar yang memang disiapkan untuknya. Untuk adiknya Hardy yang hilang bertahun – tahun yang lalu. Ari jadi penasaran bagaimana Hardy menemukannya. Ia merasa seperti sedang dipermainkan saudara angkatnya yang memilih diam padahal sudah menemukan gadis itu. Ari mengingat bagaimana kejadian singkat waktu itu mencuri hatinya. Meski sudah berbulan – bulan tapi rasanya baru saja kemarin. Andai ia sadar kalau Bening saat itu adalah Bening yang dicari Hardy, sudah pasti saat itu ia sudah mengamankannya. Bening mengalami banyak hal di tempat yang sangat buruk. Tapi meski demikian, Ari siap menyerahkan seluruh jiwa raganya untuk Bening. Hatinya sudah mendarat pada gadis itu. Ia siap menerima Bening apa adanya. Ari terkekeh, duduk di sofa yang ada di ruang tengah. Menyandarkan punggungnya sambil menyugar rambut. Seharusnya mendapatkan Bening akan sangat mudah karena Bening adalah adik Hardy. Belum apa – apa ia sudah tertawa sendiri seperti orang gila. Membayangkan ia menjadi adik ipar Hardy yang selama ini sudah dianggap sebagai saudara sendiri. Dunia benar – benar sempit, pikirnya. “Kamu tertawa sendiri seperti orang gila. Apa yang ada di pikiranmu,” seru Hardy yang membuat Ari segera duduk tegak. Tatapannya tertuju pada gadis ringkih yang ada di belakang punggung Hardy. “Bening. Apa kamu ingat aku? Kita pernah bertemu di rumah sakit, enam bulan yang lalu,” ucapnya. Bening memandang Hardy karena tak tahu harus menjawab apa. Kehilangan ingatan membuatnya lupa siapa pun yang ada di masa lalunya, termasuk Ari. “Aku tidak ingat, maafkan aku,” lirih Bening. “Sebenarnya, Bening pernah kecelakaan dan membuatnya hilang ingatan,” terang Hardy. Ari terkejut dengan kenyataan itu. Pantas saja kalau Bening lupa dengannya. Meskipun pertemuannya saat itu begitu singkat, namun menurutnya pertemuan mereka memiliki kesan yang cukup mendalam. “Maafkan aku, Kak. Semoga hubungan kita dulu baik,” ujar Bening merasa tak enak dengan Ari. Sudut bibir Ari terangkat lalu senyumnya mengembang. Mata Hardy menyipit saat melihat senyum lelaki itu. “Tidak apa – apa. Kita bisa memulai lagi hubungan kita,” ujarnya.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN