Setelah mengetahui kalau Hardy adalah kakaknya, perasaan Bening menjadi lega sekaligus kecewa. Lega karena akhirnya bertemu dengan keluarga tapi kecewa karena lelaki yang mencuri hatinya adalah kakaknya sendiri.
Padahal awalnya ia begitu percaya diri kalau hatinya tertambat padanya. Anehnya, ia tidak merasakan patah hati yang begitu parah. Hanya sedikit kekecewaan tapi itu juga bukan persoalan yang berat.
Bening memandang pintu seakan Hardy ada disana. Wajah pria itu menari - nari di kepalanya. Wajah pria berantakan seperti tidak terurus. Ia terkekeh sendiri, semuanya masih terasa seperti mimpi.
Ia mengusap wajahnya lalu menarik napas dalam - dalam. Pantas saja kalau selama ini Hardy begitu perhatian kepadanya. Awalnya ia berpikir kalau Hardy memiliki perasaan khusus kepadanya, ternyata karena ia adalah adik yang selama ini dicarinya.
Bening jadi penasaran mengapa mereka terpisah? Berapa lama dan apa yang ia lakukan dulu hingga memiliki mimpi – mimpi yang buruk seperti itu.
Duduk di ranjang kamarnya, banyak sekali pertanyaan yang harus ia jawab. Masa lalu yang awalnya tidak penting, kini menjadi sesuatu yang ingin ia ketahui kebenarannya.
Mendongak sambil menarik napas dalam – dalam, Bening mengingat lelaki yang memanggilnya Sinta. Bagaimana ia dipanggil Sinta dan bukannya Bening juga membuatnya bingung, apa penyebabnya.
“Aduh kok jadi gini sih,” keluhnya.
***
Melihat Ari yang senyum – senyum sendiri membuat Hardy jengah. Otak temannya pasti sudah konslet sampai jadi begitu.
“Tidak ada honor karena kamu tidak menemukannya,” ujar Hardy dengan nada dingin.
“Yang penting adikmu sudah ketemu. Tidak dapat honor darimu, bukan masalah. Toh aku dapat klien baru tadi,” ungkap Ari membuat Hardy meliriknya tajam.
“Berani sekali kamu ambil kerjaan lain, padahal tugas mencari Bening belum selesai,” ketus Hardy membuat Ari terkekeh sambil garuk – garuk kepalanya yang tak gatal.
“Kan dia sudah ada disini,” ungkapnya membuat Hardy mendecih.
“Aku menemukannya sendiri. Andai tahu begini, aku tak perlu memintamu mencarinya.” Hardy semakin sengit membuat Ari sengaja mengembuskan napas berat, seakan ikut menyesalinya.
“Lain kali, jangan ambil tugas lain kalau tugas sebelumnya belum selesai,” ujar Hardy sambil menepuk kepala belakang Ari.
Mereka berdua duduk di sofa ruang tengah. Menikmati hari yang sudah mulai sore. Sementara Bening berada di kamarnya untuk beristirahat.
“Sampai kapan Bening tidur?” tanya Ari sambil melihat ke arah tangga. Berharap Bening turun dan ikut duduk bercengkerama bersama mereka.
“Memangnya kenapa?” tanya Hardy kepada Ari sambil memicingkan mata.
Ari lagi – lagi hanya bisa terkekeh lalu memilih meninggalkannya. Menuju ruang makan untuk meneguk segelas air, menghilangkan dahaga yang tiba – tiba menyiksa tenggorokannya.
ia melirik Hardy yang masih duduk santai sambil menonton televisi. Kebahagiaan Nampak jelas di wajahnya. Ari sadar kalau harus membuat strategi agar tujuannya tercapai dengan sempurna.
Takutnya kalau Hardy justru menentang hubungannya dengan Bening.
Ia tertawa sendiri seperti orang gi la. Bagaimana bisa seyakin itu, sementara Bening tidak suka padanya. Saat ini bisa saja berdalih apapun karena Bening kehilangan ingatan, tapi nanti saat ia ingat semuanya … ia bahkan tak berani membayangkannya.
***
Hardy menghubungi Bimo sambil tersenyum sendiri. Rasa bahagia itu tak bisa dipendam seorang diri. Bimo adalah orang yang selama ini membantu dan mendukungnya, menjadikannya sebagai anak angkat dan memperlakukannya sama seperti perlakuannya kepada Ari.
Bimo : Assalamualaikum.
Hardy : Waalaikumsalam.
Bimo : Bagaimana kabarmu, Hardy?
Hardy : Pa, aku sudah menemukan Bening. Dia ada bersamaku. (Ia terlalu bahagia sampai tidak mengindahkan pertanyaan Bimo.)
Bimo : Syukurlah. Apakah Ari yang menemukannya?
Hardy : Ceritanya panjang, Pa. Kapan – kapan akan saya ceritakan.
Bimo : Syukurlah Bening ditemukan. Mamamu pasti senang karena anak kesayangannya akhirnya pulang.
Hardy : Saya ingin papa dan mama kesini. Saya ingin merayakan pertemuan kami dengan pesta meriah bersama kalian.
Bimo : Saya akan memberitahu mamamu. Mungkin besok atau lusa kami akan kesana.
Hardy : Hanya saja… (Hardy menggantung ucapannya.)
Bimo : Ada apa, Har? Katakan saja. Kalau ada sesuatu, kami siap membantu.
Hardy : Bening hilang ingatan.
Bimo : Bagaimana bisa?
Hardy : Dia pernah kecelakaan parah yang mengakibatkan luka berat di kepalanya.
Bimo : Astaga. Bagaimana kondisinya?
Hardy : Alhamdulillah, selain hilang ingatan, kondisinya cukup baik. Hanya saja, ia harus operasi kepala lagi untuk menutup sebagian tempurung kepalanya.
Bimo : Apa maksudmu?
Hardy : Pendarahan kepala hebat, Pa. Dokter membuka sebagian tulang kepalanya untuk mengambil darah dari sana.
Bimo : Jadi begitu. Yang terpenting sekarang, kalian sudah bertemu. Soal kepalanya, kita serahkan kepada dokter dan berdoa semoga Bening kembali mengingat semuanya dan sehat seperti sedia kala.
Hardy : Aamiin. Saya merasa seperti mimpi, Pa.
Bimo : Papa bisa mengerti, Nak. Papa dan mama turut senang dengan kebahagiaan kalian.
Hardy : Terimakasih, Pa. Sudah dulu, Pa. Salam untuk mama.
Bimo : Jaga dirimu, Ari dan jaga Bening, Nak.
Hardy : Pasti, Pa. Assalamualaikum.
Bimo : Waalaikumsalam.
Hardy melihat Bening turun tangga dengan langkah pelan. Sambil tersenyum, Bening mendekati kakaknya. Berdiri di depan lelaki yang selama ini sering muncul dalam mimpinya, tentu saja saat Hardy masih kecil.
“Sudah mau malam nih, Bening. Kita harus keluar untuk cari makan,”ujar Hardy sambil memandang jam yang menempel di dinding.
Sesaat Bening terdiam, masih belum terbiasa dengan sebutan Bening kepadanya. Tapi ia tak ingin membuat Hardy sedih hanya karena nama. Sampai detik ini, Bening merasa dirinya adalah Mentari. Gadis ceria dan bahagia seperti yang digambarkan Yanto, ayah angkatnya.
“Iya, Kak. Aku sudah lapar ini.” Bening mengelus perutnya sendiri.
Hardy kembali merasa seperti dulu saat mereka masih kecil. Saat itu, Bening sering sekali merajuk soal makan kepadanya, persis sama seperti sekarang.
“Kamu mau makan apa, Bening?” tanya Hardy sambil duduk bersandar pada sofa.
“Kita ke Ramayana lagi aja, Kak. Aku ingin makan ayam bakarnya lagi,” ucap Bening dengan tatapan melayang, seakan membayangkan sesuatu yang lezat.
Bening tidak ingin menunggu lagi. Ia hanya ingin bertemu dengan lelaki yang tadi siang sudah membuatnya merasa tak nyaman. Meski sebenarnya enggan, tapi ia yakin laki – laki itu mengetahui sesuatu.
Karena itulah ia ingin datang ke tempat itu lagi sambil berharap bisa bertemu dengannya. Bahkan meskipun kemungkinannya sangat kecil.
Ia kembali menyesal mengapa tadi terburu terbawa emosi hingga tidak bertanya satu hal pun tentang siapa Sinta.
Hardy mengangguk – angguk beberapa kali, “OK. Kita kesana sekarang!” ajaknya.
Mendengar ajakan itu, Ari segera mendekati Hardy dan Bening. Tidak mau ketinggalan acara makan malam mereka berdua.
“Kamu kenapa?” tanya Hardy yang sebenarnya tahu apa yang ingin dilakukan Ari.
“Ya ikut makanlah. Masak ikut cuci piring,” jawab Ari sekenanya, namun hal itu membuat Bening menahan tawa.
Ari baru pertama kali melihat senyum Bening yang begitu bening. Sungguh sebuah pemandangan yang sangat indah. Pantas saja Hardy sampai melakukan banyak hal untuk menemukannya kembali.
Ari mengakui kalau ia sudah berlebihan. Bahkan jika Bening jelek pun, Hardy pasti tetap akan mencarinya.
Melihat Hardy sudah melangkah lebih dulu dan Bening mengekor di belakangnya. Ari pun tak mau ketinggalan. Ia melangkahkan kakinya tepat di sebelah Bening.