Hardy membawa mobilnya dengan suasana hati terbaik yang pernah ia miliki. Sesekali melirik Bening hanya untuk memastikan ini semua bukanlah sebuah mimpi.
Ari duduk di belakang Bening, melihat sikap Hardy yang sudah seperti seorang laki – laki kepada wanita. Tapi itu sesuatu yang wajar, mengingat baru beberapa saat yang lalu Hardy mengungkapkan fakta bahwa ia adalah kakak Bening.
Ia jadi berpikir apakah mungkin awalnya Hardy memiliki perasaan khusus kepada Bening versi Mentari?
Membayangkannya saja membuat Ari ingin tertawa terpingkal – pingkal. Duh, pasti kisah mereka sama seperti novel picisan, pikirnya.
Tak butuh waktu lama untuk mendaratkan mobil ke parkiran restoran. Jarak restoran dengan tempat tinggal Hardy hanya lima menit mengendarai mobil. Restoran letaknya tak jauh dari jalan menuju rumahnya.
Jika pada siang hari suasana saung yang ada di pojokan adalah spot terbaik, maka berbeda saat malam hari. Duduk di saung paling depan adalah pilihan sempurna karena terdapat lampu – lampu menggantung yang ditata sedemikian rupa, sehingga memberi kesan yang sangat romantis dan terang karena pencahayaan yang sangat baik.
“Kita duduk disana!” ajak Hardy sambil menunjuk saung paling depan.
“Aku ingin di saung yang tadi siang,” pinta Bening sambil melangkah menuju saung itu.
Hardy hanya bisa meringis sambil garuk – garuk kepala. Bersama Bening artinya ia harus kembali sering mengalah. Ia hanya bisa menepuk pundak Ari yang sudah mengekor di belakang Bening sejak gadis itu mulai melangkah.
“Disitu gelap, Bening. Enakan di depan sana,” ujar Hardy berusaha memberikan tempat terbaik bagi adiknya.
Tapi masalahnya Bening ingin mengulang kejadian tadi siang. Siapa tahu saja ternyata laki – laki itu masih ada di belakang sana. Meskipun hal itu kemungkinannya sangat kecil.
Jalanan menuju saung berupa jalan setapak berupa bebatuan yang ditata sedemikian rupa sehingga memberi kesan alami. Saat siang hari, jalanan ini tampak indah, seakan sedang berjalan di pegunungan, tetapi pada malam hari jalanan itu jadi tampak lebih gelap.
Lampu – lampu tidak sebanyak yang ada di depan. Karena konsepnya memang dibuat se alami mungkin. Penerangan ada hanya berfungsi untuk membantu para pelayan yang membawa makanan atau piring gelas kotor menuju area belakang.
Bening tampak sangat bersemangat membuat Hardy geleng – geleng kepala. Melihat Bening yang sikapnya sama persis saat masih kecil.
“Ayo cepat masuk, Bening. Katanya lapar,” ajak Hardy saat melihat Bening celingukan seakan mencari sesuatu.
“Oh iya,” ujar Bening. Gadis itu masuk dengan cara lebih lambat, seakan berat sekali harus segera masuk ke saung.
Bening duduk dengan tidak nyaman. Benar – benar seperti orang yang sedang mencari sesuatu.
“Kamu kenapa, Bening?” Ari juga melihat gerak – gerik Bening yang tampak tidak tenang.
“Aku mau ke toilet bentar,” ujar Bening, kembali berdiri lalu keluar saung saat seorang pelayan datang menghampiri.
“Kita pesan makanan dulu, Bening,” pinta Hardy.
“Duh, terserah Kakak menunya, yang penting ada ayam bakar,” ujar Bening sambil lalu, berjalan cepat menuju toilet.
“Duh, lucu banget dia,” celetuk Ari membuat Hardy merengut.
Hardy hanya bisa melihat ke arah toilet dan bayangan Bening yang semakin lama semakin menghilang.
***
Alih – alih ke toilet, Bening berkeliling restoran untuk menemukan lelaki itu. Tanpa petunjuk apapun, membuatnya sulit untuk bertanya kepada para pelayan tentang pria itu.
“Duh andai tadi aku tidak terbawa emosi,” keluhnya sambil terus mencari keberadaan pria itu.
Ia juga terlalu naif dengan percaya bahwa mungkin bisa menemukannya lagi di tempat yang sama. Sementara mereka bertemu di jam dua tadi siang, tentu saja pria itu sudah pergi beberapa saat yang lalu.
Setelah beberapa lama dan sudah berkeliling di setiap sudut restoran, akhirnya Bening memilih kembali ke saung dimana Ari dan Hardy sedang menunggunya.
“Lama sekali kamu, ayamnya udah dingin ini. Ayo cepat makan,” seru Hardy sambil memotek paha ayam bakar.
“Namanya juga cewek, Kak,” kata Bening sambil duduk di sebelah Ari.
“Kamu nih masak nggak tahu cewek sih, Har,” ledek Ari sukses membuat Hardy meliriknya tajam.
Bening yang sebenarnya kecewa karena tak bertemu dengan Arjuna pun tak menggubris sikap Hardy. Ia memilih mengambil nasi dan ayam bakar di bagian paha.
Ari juga melakukan hal yang sama. Keduanya sama – sama mengambil paha ayam bakar yang tinggal satu.
Hardy melihat sikap keduanya. Sudah seperti sebuah adegan dalam film romantis.
“Ambil aja, Bening.” Ari menyerahkan sepotong paha ayam ke piring Bening.
Bening tersenyum, membuat hati Ari serasa meleleh setelah melihat senyum manisnya. Tak rugi memaksakan diri untuk ikut makan, kalau hadiahnya seindah ini.
***
Mata Yanto dan Rudi melebar setelah tahu kalau Mentari tahu jati dirinya. Bahwa ia adalah Bening, adik Hardy yang sudah terpisah selama bertahun – tahun.
Bening dan Hardy menghadap ke dua orang yang sudah merawat Bening sejak kecelakaan terjadi. Mereka sengaja ingin membicarakan masalah ini secepatnya agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
“Bagaimana bisa dia mengetahuinya?” tanya Yanto dengan suara bergetar.
“Dia mimpi buruk tentang ayah kami. Saya tidak bisa membiarkannya bermimpi buruk terus – terusan. Setidaknya, jika bening tahu saya kakaknya, mungkin itu bisa membuatnya tenang,” terang Hardy.
Hardy tak mengira kalau Bening yang sedang kehilangan ingatan pun dihantui dengan lelaki yang seharusnya memberi mereka berdua cinta dan kasih sayang. Ia tahu kalau Sardi pasti sudah sangat menyakiti Bening sampai kejadian - kejadian itu tertanam di alam bawah sadarnya.
Mata Hardy berkaca - kaca saat memandang Bening yang kini tampak sangat tenang dan bahagia. Ia berharap kondisi Bening akan terus bahagia seperti sekarang.
“Bagaimana kamu bisa sangat yakin, anak muda? Apa kalian sudah melakukan tes DNA?” tanya Rudi masih tak bisa mempercayai ucapan Hardy.
“Apa itu perlu, Kek?” tanya Bening membuat Rudi segera meliriknya.
“Bahkan meskipun buktinya kuat. Tetap saja harus ada tes DNA untuk bukti yang benar – benar tidak bisa diganggu,” ucap Yanto.
Hardy merasa itu tidak perlu dilakukan karena buktinya sudah sangat jelas. Tes DNA itu mahal dan melakukan tes semacam itu dengan bukti yang sudah tidak bisa dibantah, sama dengan membuang uang.
Hardy tak bisa mengiyakan permintaan Rudi dan memilih diam saja.
“Besok kalian ke rumah sakit untuk tes DNA. Soal biaya, aku yang akan menanggungnya,” ungkap Rudi membuat Hardy mendongak.
“Saya akan membayarnya sendiri, Kek. Besok kami akan ke rumah sakit,” ujar Hardy. Harga dirinya serasa diinjak karena Rudi yang dengan mudah menggelontorkan uang.
Meskipun artinya ia harus merogoh kantong sedikit lebih dalam, tapi untuk membuat keluarga Rudi senang, Hardy tidak mempermasalahkan hal itu.
“Jangan. Kakek punya banyak tabungan. Yanto, transfer saja uangnya ke Hardy. Berapa sih bayar tes DNA?” tanya Rudi.
“Tidak banyak, Pak. Saya akan mentransfer uangnya ke dia. Anda tidak perlu khawatir,” kata Yanto.
Hardy terdiam dan melihat kedua orang itu bergantian. Ia masih tidak percaya sudah bertemu lagi dengan dua orang yang luar biasa. Sama seperti saat dulu bertemu dengan Bimo. Mereka adalah orang – orang yang membuat orang yang mengalami kesulitan sepertinya merasa bersyukur karena masih ada orang baik di dunia ini.