Buah Simalakama

1277 Kata
Yanto meremas rambutnya sendiri saat Hardy sudah pulang dan Bening sudah masuk kamarnya. Perasaannya jadi campur aduk setelah pembicaraan beberapa saat yang lalu. “Saya yakin mereka berdua saudara kandung,” ujar Yanto kepada Rudi yang masih duduk dengan tenang. Rudi dan Yanto ada di ruang kerja Rudi. Pria berambut putih keperakan itu duduk di kursi kerja berwarna coklat dua. Satu kakinya menindih kaki lainnya. Kedua tangannya berada di atas meja, saling meremas dan tatapannya menerawang. Pria itu tak menyangka kalau akhirnya Bening menemukan keluarga selain Sardi. Pada awalnya ia berpikir bahwa kehidupannya akan benar – benar terasa normal. Memiliki seorang kepercayaan yang kini dianggap anak serta cucu yang ia dapatkan dari wasiat putri kandungnya. Siapa sangka kalau akan ada masa seperti ini. Dua bulan awal setelah bertemu dengan Bening, ia mengira Tuhan berlaku baik padanya. Setelah memutuskan pension dari dunia hitam, ia ingin menjalani masa tuanya dengan bahagia bersama anak angkat dan cucu angkatnya. Ia sudah melepaskan semuanya. Bahkan kekayaannya pun ia serahkan kepada menantunya. Ia keluar hanya dengan membawa uang yang tak seberapa. Hanya cukup untuk menjadi modal café dan tempat makan sederhana yang ia kelola bersama Tulus alias Yanto. Andai dulu ia tidak mengikuti pria itu, mungkin sekarang ia hanya menjadi pria tua yang kesepian. Meski Bowo adalah menantunya, tapi pria itu terlalu sibuk dengan kehidupannya sendiri. Sementara itu, hanya Yanto yang merupakan anak buah kepercayaannya. “Bos, apa mereka perlu tes DNA segala?” tanya Yanto kepada bosnya. “Panggil aku Papa, Ayah atau Papi. Kita sudah sepakat!” protesnya kepada pria yang sejak tadi mondar – mandir sambil menjambaki rambutnya sendiri. Yanto hanya bisa memandang bosnya sambil menghela napas berat. Ia tampak begitu frustasi hingga tidak bisa duduk tenang. “Maafkan saya, Pa,” lirihnya. “Duduklah, tenangkan dirimu!” perintah Rudi. Yanto akhirnya duduk di hadapan Rudi dengan kepala tertunduk. Kekhawatiran berlebih itu membuatnya begitu gusar. Rudi sendiri masih tak percaya kalau ia mengalami hubungan sentimental dengan dua orang yang tidak berhubungan darah dengannya. “Kita pikirkan langkah selanjutnya. Sambil jalani kehidupan seperti tidak terjadi apa – apa,” ucapan Rudi membuat Yanto mengangkat kepala dengan mata melotot. “Kamu tidak perlu khawatir. Kita bertiga harus tetap bersama selamanya.” Rudi begitu meyakinkan hingga Yanto bisa bernapas lega. *** Hardy ingin hidup bersama Bening. Sebenarnya ia kecewa karena kedua orang itu membiarkannya pergi, padahal ia ingin tetap bersama Bening dan menjaganya hingga kelak adiknya berumah tangga. Tetapi Bening sudah bersama mereka selama enam bulan. Mereka juga memperlakukan Bening dengan begitu baik. Ia tak sampai hati mengambil adiknya sendiri begitu saja. Tapi ia juga tak bisa membiarkan adiknya disana selamanya. Bermain perasaan selalu membuat semua hal jadi runyam. Bahkan tadi ia tidak bisa memberi alasan yang pas agar bisa tinggal bersama mereka. “Mungkin itu ide yang sangat bagus,” gumamnya. Keesokan harinya, setelah bekerja seharian, Hardy segera mendatangi rumah Rudi untuk melihat kondisi Bening. Ia datang dengan membawa sekeranjang buah – buahan. Disambut hangat Bening namun entah mengapa Rudi tiba – tiba menjadi pria yang begitu dingin.  Yanto sendiri tampak lebih pendiam dari biasanya. Semuanya tiba  - tiba menjadi canggung dan tidak nyaman. “Kamu sudah makan?” tanya Yanto tiba – tiba membuat Hardy terdiam sesaat untuk menimbang jawaban apa yang akan ia berikan. “Belum, Om. Ehm, apa Om dan Kakek sudah makan?” tanya Hardy membuat Yanto memandang Rudi. “Kami belum makan,” jawab Rudi masih dengan nada suara yang tidak seperti biasanya. Bening keluar dari kamarnya dengan memakai T shirt merah muda dan celana panjang berwarna putih. Rambutnya masih pendek setelah dibotaki untuk keperluan operasi enam bulan yang lalu. “Ayah tidak masak hari ini. Kakek bilang ingin makan malam diluar,” kata Bening yang membuat Yanto mendelik kepada putrinya. “Kalau begitu ayo makan diluar,” ajak Hardy secara spontan. Rudi mengangguk – angguk lalu bangkit dan masuk ke kamarnya. Sementara Yanto masih sibuk melirik Hardy sambil bertanya – tanya apakah ada sesuatu di balik ajakan Hardy. Bisa saja ini hanyalah tipu daya Hardy sebelum merebut Mentari atau Bening darinya. “Kamu mau makan dimana, Bening?” tanya Hardy kepada sang adik yang memilih duduk di sebelah Yanto. “Restoran Ramayana, Kak.” Jawaban Bening membuat Yanto segera menoleh ke anaknya. “Kesana lagi? Restoran lain sajalah,” pinta Hardy yang sudah agak bosan dengan tempat itu. Meskipun makanan disana enak, tapi kalau sering makan, lama – lama bosan juga. Lagipula ada banyak restoran yang rasanya tak kalah enak dari Restoran Ramayana. “Aku ingin makan ikan bakar dan cah kangkungnya,” jawab Bening membuat Hardy hanya bisa menghela napas. “Apa kalian pernah makan disana?” tanya Yanto masih mode penuh selidik. “Kemarin aku dua kali makan disana, Yah. Aku suka sekali dengan makanan disana. Rasanya enak,” seru Bening membuat Yanto menahan napas. Yanto takut jika karyawan disana masih ingat dengan Bening lalu mengatakan sesuatu. Ia belum siap mental menghadapi respon dari Bening kalau tahu pernah bekerja disana. Ia juga belum menyiapkan jawaban yang pas untuk menjawab pertanyaan – pertanyaan seputar tempat itu. Tanpa sadar, Yanto memijit kepalanya sendiri yang tiba – tiba jadi pusing karena memikirkan banyak hal. Rudi keluar dari kamarnya, memandang Yanto yang masih duduk diam di tempat yang sama. “Yan, kamu ganti baju tidak? Kita harus cepat ke restoran, aku dan Bening sudah lapar,” serunya. Yanto terkejut hingga menoleh ke belakang. Melihat Rudi yang sudah bajunya dengan kaos polo putih dan celana putih. “Saya ganti baju dulu,” kata Yanto sambil bangkit lalu masuk ke kamarnya. “Kita naik mobilmu kan, Har?” tanya Rudi, lebih kepada sebuah permintaan. “Tentu saja, Kek,” jawab Hardy dengan penuh semangat. Apapun yang diinginkan Rudi dan Yanto, selama itu tidak merusak hubungannya dengan Bening, ia akan menuruti semuanya. Hardy hanya khawatir jika kedua orang itu justru memiliki pikiran untuk membawa Bening pergi menjauh darinya.  Meskipun ia sendiri merasa pikirannya terlalu berlebihan. Namun lebih baik berjaga - jaga daripada menyesal di kemudian hari. *** Sepanjang perjalanan Yanto adalah orang yang paling canggung diantara semuanya. Beruntung ia memilih duduk di sebelah Bening, sehingga tidak perlu repot – repot mencari topik pembicaraan. Saat ini ia sangat sensitif sekali. Belum lagi kepalanya dipenuhi perkiraan – perkiraan yang akan terjadi saat makan di restoran itu. Rudi dan Hardy berbincang ringan, tapi lebih banyak diam satu sama lain. Bening sendiri sibuk berharap kalau bisa bertemu dengan Arjuna. Bening memang sangat naif karena mengharapkan sesuatu yang dianggap sangat mustahil. Ia tidak tahu siapa lelaki itu, apakah ia bekerja di tempat itu atau hanya pengunjung seperti dirinya. Tapi sampai sekarang perasaannya masih yakin kalau ia bisa bertemu dengan lelaki itu disana. Kalau tidak sekarang, maka besok ia akan meminta Hardy, ayah bahkan kakeknya untuk makan bersama. Jika mereka tidak mau, dia akan datang sendiri demi menemukan pria itu. Setelah melakukan perjalanan yang cukup menghabiskan waktu, akhirnya mereka tiba di Restoran Ramayana yang kebetulan sangat ramai. “Apa kita harus makan disitu? Kita bisa makan di tempat lain,” kata Hardy saat melihat parkiran penuh. “Itu ide yang sangat bagus,” sahut Yanto. “Kita harus makan disini, Ayah, Kakak.” Bening bersikeras. “Kita parkir disana!” sahut Rudi sambil menunjuk parkir kosong karena mobil putih yang menempatinya kini perlahan mundur lalu meninggalkan restoran. *** Setelah mobil diparkir, Bening segera turun dari mobil dan bergegas masuk. Meninggalkan tiga lelaki yang baru saja turun dari mobil. Bening tak ingin membuang waktu. Ia ingin segera bertemu dengan pria itu. Tetapi Yanto juga menyadari satu hal. Ada sesuatu yang sedang dicari Bening. Ia harus bertindak lebih dulu sebelum Bening mengetahui satu fakta yang mungkin akan membuat hatinya sakit. Yanto takut kalau Bening jadi sedih dengan hal itu.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN