Dear diary, Gavindra... Satu nama yang mendadak muncul dalam hidupku, lalu terpatri di hatiku tanpa bisa kuhapus segera. Dan kubiarkan saja menetap sebagai penghuni dalam relungku. Kurelakan rasaku menjadi miliknya. Tidak apa, aku mencintainya. Toh, dia adalah suamiku. Lalu, di mana harus kusalahkan diriku? Apa aku tidak boleh memiliki perasaan pada pria ini? Kenpa? Beri aku alasan agar aku bisa menimbang kembali, jika sekiranya jiwaku tak pantas mengukuri asmara dengan namanya. Namun, bila memang Sang Kuasa telah berkehendak penuh dan memberiku izin seutuhnya, kuharap hatiku tak lagi tergores karena luka atau kecewa. Ayolah, Anisa... apa yang sedang kamu pikirkan sebenarnya? Lihatlah, kamu bahkan mengagumi sosoknya bahkan saat priamu lelap dalam tidurnya. Hanya memandangnya saja hati

