Pertemuan itu ibarat malam dan siang
Yang dipersatukan oleh senja di sore hari
Perbedaan gelap dan terang
Menjadikan semburat indah bila dipahami
Dan menjadikan keduanya lebih berarti
***
Untuk kesekian kalinya pria itu terbangun dari pejaman mata sesaat. Sudah beberapa hari belakangan ia menjadi susah tidur. Mimpinya selalu sama, menjadi bunga tidur yang menyadarkannya pada satu hal. Bahwa janji tetaplah janji. Ia memang tidak sempat mengatakan langsung pada mendiang Seno untuk mengikuti wasiat yang ditinggalkan. Namun, ia telah berujar di samping pembaringan terakhir Seno dengan sungguh-sungguh. Herannya, dalam dua hari terakhir ia dilanda kebimbangan. Teringat perbincangan terakhir kali dengan Leon, teman karibnya.
"Lo yakin mau nikahin cewek yang sama sekali belum lo tahu mukanya? Karakternya? Bahkan umurnya? Gimana kalau tuh cewek masih lima belas tahun. Apa nggak takut lo dipidana gara-gara nikahin bocil? Atau misal aja nih ya, tuh cewek mukanya biasa banget, buluk, jorok, dan kemungkinan terburuk lainnya deh. Mending lo mantepin lagi tuh hati. Memang sih wasiat itu amanah yang wajib dijalankan. Tapi, ini kan juga masalah hidup lo ke depannya."
"Maksud lo apaan nyirem bensin di saat pikiran gue udah mulai tenang? Lo malah bikin gue ragu lagi tahu. Harusnya lo support temen lo ini. Bukan malah bikin makin galau!" keluh Gavindra kesal.
"Nah itu, sesuatu yang dimulai dengan keraguan itu ujungnya bisa jadi kurang baik."
"Jangan cuma ngomporin lo. Ada solusi nggak?"
"Mending lo cari tahu dulu. Minimal mukanya, umur, sama riwayat kesehatan. Jangan sampai lo nyesel nantinya. Nikah tuh bukan urusan sehari dua hari. Tapi kalau bisa ya buat selamanya. Syulur-syukur bisa sekali seumur hidup." Leon masih berlagak sok menasihati.
Setelah menimbang beberapa saat, memang ada benarnya juga saran Leon. Ia harus mencari tahu seperti apa sosok calon istrinya.
"Gue justru punya rencana lain."
"Apaan?" Leon meneguk air mineralnya sampai habis. Lalu diam menunggu jawaban kawannya.
"Gimana kalau gue tetep jalanin wasiat itu. Tapi gue juga bikin kontrak pernikahan buat jaga-jaga. Biar nggak rugi-rugi banget gue nikah."
Leon tertawa lepas. Kepalanya menggeleng heran. "Lo kira nikah itu mainan monopoli apa? Yang bisa lo perjual belikan, masuk keluar penjara segampang ambil kartu, cuma dengan guliran dadu? Bro, seyakinnya gue nih, nikah tuh nggak bikin rugi. Tapi, lo bakal rugi kalau lo salah pilih pasangan. Simple aja. Intinya sih, kenalin aja dulu calon pasangan lo itu. Cocok apa nggak ya pikirin baik-baik. Anak orang jangan lo buat main-main. Kita nggak tahu berapa banyak cowok di luar sana nunggu dan ngarepin dia juga. Jangan bikin kesempatan dia buat nemuin cinta sejati musnah, hanya karena keegoisan lo sendiri."
Panjang lebar Leon menasihati. Memang paling pintar pria satu ini merangkai kata dan persepsi. Walau dirinya sendiri belum berpengalaman dalam hal rumah tangga, setidaknya ia banyak belajar dari kakak-kakanya yang sudah menikah.
Dan sampai seminggu berlalu tanpa terasa, Gavin pun menguatkan tekad pada keputusan akhirnya. Ia duduk di kursi samping sembari menikmati pemandangan di sisi jalan. Membiarkan Leon menjadi supir pribadinya. Jangan heran bila Gavin selalu mempekerjakan teman-teman terdekat di sampingnya. Ia sulit percaya pada orang baru. Dan tak suka supirnya adalah orang yang usianya jauh di atas dirinya. Dan alasannya adalah, Gavin tidak mau dirinya terkesan menyuruh-nyuruh orang tua. Baginya, yang muda haruslah menghormati yang lebih tua. Kecuali, orang tua itu bukan orang yang baik atau layak untuk mendapat penghormatan.
***
Satu minggu kemudian...
Pagi hari sekitaran pukul tujuh, Anisa baru selesai mandi. Ia harus segera berangkat kerja sebelum terlambat. Untung saja semalam sempat masak, menyiapkan sarapan untuk dirinya dan ayahnya. Jadi, paginya tinggal memanaskan saja.
Selesai ganti pakaian dan bersiap diri, sayup-sayup dari arah dapur terdengar suara berisik. Anisa pikir mungkin ayahnya kesulitan mengambil piring di rak. Ia pun segera menuju ke dapur untuk mengecek.
"Heru!" pekiknya menyadari siapa yang berada di sana. Ternyata bukan ayahnya, melainkan adiknya yang selama ini kabur entah ke mana.
"Biasa aja dong, Mbak lihatnya. Matanya kayak mau copot gitu."
Tanpa pikir panjang, Anisa langsung mengambil baskom di rak dekatnya berdiri dan melemparnya ke arah Heru tanpa rasa kasihan. Gara-gara kelakuan gila adiknya yang doyan berjudi dan kecanduan game online, ia yang harus menanggung semua hutang-hutang milik adiknya itu. Anisa marah bukan main. Ia memukuli sang adik tanpa ampun walau tak terlalu keras.
Heru berusaha melawan dan mendorong kakaknya sampai tersungkur ke lantai.
"Apaan sih?! Adeknya pulang tuh disambut! Aku laper tahu! Mau makan aja diganggu!" serunya tak tahu diri.
Anisa bangkit dari lantai. Ia berdiri dengan pandangan berkilat-kilat bak petir menyambar. "Kamu itu ngapain pulang segala! Nggak usah balik kalau cuma nambahin beban keluarga! Hutangmu kamu telantarin gitu saja, terus sekarang aku yang harus nanggung! Otakmu kamu taruh di mana sih, Her?! Apa nggak kasihan kamu sama bapakmu dan mbakmu ini?!" racaunya menahan tangis.
"Aduh! Berisik banget sih, Mbak! Aku ini masih jadi tanggunganmu, Mbak! Wajar kalau kebutuhanku kamu yang mencukupi!"
"Memang dasar anak nggak tahu diri kamu!" Anisa hampir kembali melempar sesuatu ke arah Heru, sangking kesalnya menghadapi adik bungsunya itu.
Suara gedoran pintu terdengar nyaring. Perasaan Anisa tak enak. Itu pasti Pak Rudi bersama orang-orang suruhannya yang datang lagi untuk menagih hutang. Benar saja tak lama kemudian, suara Pak Rudi melengking memanggil-manggil nama Anisa dengan lantang.
"Hei! Anisa! Ke luar kamu! Mana janjimu?! Katanya mau membayar hutangmu! Cepat ke luar! Katamu hanya satu minggu! Mana janjimu?!" Teriakannya semakin lantang terdengar.
Mengetahui Pak Rudi yang datang, lantas Heru langsung pergi lewat pintu belakang. Anisa berusaha mengejar dan mencegah tapi tak berhasil. Mau tak mau harus dirinya lagi yang menghadapi rentenir di luar sana.
Gadis yang mengikat rambutnya ke samping itu segera membuka pintu dan menyapa Pak Rudi. Pria paruh baya bertopi tersebut malah hampir menamparnya. Puntung rokok ia buang ke sembarang arah. Lalu menyalakan rokok lainnya dari saku jaketnya. Anisa merinding tiap kali orang-orang ini datang. Ia tahu, tak ada lagi alasan untuk berkelit. Namun, uangnya pun belum terkumpul banyak.
"Mana angsuranmu?!" tagih Pak Rudi dengan suara berat yang menakutkan.
"Iya, Pak, sebentar." Anisa masuk ke kamar untuk mengambil amplop berisi uang yang ia simpan di dalam tas.
Betapa terkejut dirinya, mengetahui amplop tersebut sudah tak ada lagi di tempatnya semula. Anisa panik bukan main, ia langsung mencari ke sana ke mari. Membuka laci, lemari, bahkan sampai mengintip ke kolong tempat tidur. Nihil. Ia tak menemukan ampol atau isinya sama sekali.
"Pasti Heru!" gumamnya penuh amarah. Adiknya hanya akan pulang saat memerlukan uang, dan ini sudah bukan sekali dua kali Heru menjadi pencuri di rumahnya sendiri.
Anisa menerka, sang adik mengambil amplop mungkin ketika dirinya tengah mandi tadi. Geram bukan main ia memikirkannya. Susah payah mengumpulkan uang, mencari pinjaman ke sana-sini, dan sekarang harus dihadapkan pada kenyataan pahit. Rasanya, ingin sekali Anisa lari dari semua masalah pelik hidupnya, dan terbebas dari segala tuntutan yang harusnya bukan menjadi tanggungannya. Tapi, ia tak mampu meninggalkan ayahnya seorang diri.
Gadis itu terduduk lemas di tepi ranjang. Menahan air mata yang ingin tumpah. Dadanya sesak seketika. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Jika tak membayar angsuran yang sudah terlambat beberapa bulan, rumahnya akan disita oleh Pak Rudi. Lalu, harus tinggal di mana dirinya dan ayahnya nanti? Semua pikiran penuh bercampur mengisi kepalanya yang kian terasa pusing. Anisa seperti tak berdaya untuk ke luar menemui Pak Rudi lagi sekarang. Gadis itu terisak tanpa suara.
"Lama banget sih! Anisa! Mana uangnya?! Saya nggak punya banyak waktu cuma buat nunggu di sini!" serunya lantang sampai terdengar ke kamar Anisa.
Gadis itu berusaha menguatkan batin. Menghapus lelehan tangis, dan berdiri. Lalu berjalan ke luar, memberanikan diri menemui Pak Rudi.
"Alasan apalagi yang mau kamu pakai?! Saya udah nggak percaya lagi! Besok kamu tinggalkan rumah ini. Angkat kaki dari sini. Saya sudah berbaik hati kasih kamu kelonggaran berulang kali. Tapi, kamu malah menyepelekan! Rumah ini saya sita! Titik!" kata Pak Rudi kemudian.
Anisa hanya bisa terdiam. Lidahnya kelu untuk melontarkan alasan dan fakta sebenarnya. Bukan ia tak mau membayar, hanya saja, uangnya telah dibawa kabur oleh adiknya. Anisa enggan mengatakan, karena ia tahu akan percuma memberi alasan. Pak Rudi tak akan mempercayai perkataannya. Itu sebabnya, gadis itu hanya bisa membungkam bibir sembari menghapus air matanya. Ia ingin memohon agar rumahnya tak disita, tapi kakinya terlalu lemas, dan lidahnya seperti kaku.
Sebuah mobil Fortuner berwarna abu metalik memasuki halaman rumah Anisa. Seorang pria turun bersama temannya yang menyusul turun setelahnya. Ia melepaskan kacamata hitam yang dipakai dan mengamati sekeliling dengan heran. Pohon mangga, rambutan, jambu kristal, bahkan sirsak masih tumbuh subur di pinggiran pagar kayu. Di kota tempatnya tinggal, semua itu sudah menjadi tanaman langka. Paling buahnya hanya bisa didapat dari tukang rujak keliling. Atau di supermarket yang pasti harganya akan jauh lebih mahal dari seharusnya.
"Ingat! Saya nggak mau lihat kamu lagi mulai besok! Kamu saya kasih kesempatan untuk membereskan pakaian hari ini juga! Titik!"
Suara menggelegar Pak Rudi bisa didengar sampai ke rumah tetangga. Beberapa orang ke luar hanya menjadi penonton. Malah ada yang terang-terangan mendekat ke sisi pagar rumah supaya lebih jelas dan leluasa mendengar serta memandangi orang lain yang kesusahan. Seakan mereka tak peduli dan malah mencibir mengatai Anisa.
Tatapan mata semua orang kini telah beralih pada sosok berpostur tinggi, wajah yang tampan rupawan, dengan kulit bersih dan cerah. Pakaiannya terlihat rapi seperti artis di televisi yang sering mereka saksikan. Kasak-kusuk mulai terdengar. Beberapa ibu-ibu menyebutnya mirip Aldebaran, tokoh utama pria dalam drama Ikatan Cinta. Sebagian muda-mudi menyebutnya mirip Jang Ki Yong, aktor mempesona yang tengah melejit lewat drama Korea bersama Song Hye Kyo.
"Tuh, paling mau nagih hutang juga ya?!"
"Iya. Kebanyakan hutang sih Anisa itu. Apalagi adeknya yang demen judi! Emaknya selingkuh sama laki-laki lain! Bapaknya kena stroke! Ngenes amat ya jadi dia! Kasihan si Anisa jadi perawan tua tuh nanti! Siapa yang mau coba sama dia kan?!"
Ocehan mereka simpang siur mulai terdengar.
"Permisi? Benar ini rumah Anisa Restiani?" sapa Gavin bersama temannya, Aditya.
Pak Rudi menoleh ke arah mereka, diikuti dua orang tangan kanannya yang setia ke mana pun menemani.
"Siapa kamu? Kalau mau nagih hutang juga, antri dulu. Saya masih belum selesai," ujarnya seraya melebarkan mata.
Kepulan asap dari rokok yang dihisap Pak Rudi benar-benar mengganggu Gavin dan Aditya. Keduanya memang bukan perokok, dan benci dengan asap rokok juga.
"Saya Anisa." Gadis yang dicari menyahut lirih. Ia mengusap air mata dan berusaha kembali tegar.
"Bisa bicara dengan kamu?" tanya Gavin hati-hati.
"Dibilangin orang tua kok ngeyel! Kamu itu anak muda harusnya tahu sopan santun. Jangan mendahului yang lebih tua. Lagian, kalau kamu mau nagih hutang, ini orang nggak akan bisa bayar. Rumahnya aja barusan saya sita. Mereka harus segera pindah secepatnya!"
Gavin terkejut mendengar hal tersebut. Ia ingat kalau Seno pernah bercerita tentang rumahnya di kampung. Sahabatnya itu ingin sekali merenovasi rumah supaya lebih bagus dan tidak jadi bahan gunjingan tetangga lagi. Atap rumah beberapa rusak, jadi kalau hujan pasti airnya menetes ke dalam. Walau terlihat sangat sederhana, tapi rumah itu punya banyak kenangan berharga, katanya demikian.
"Maaf, kalau boleh saya tahu. Berapa hutang Anisa, Pak?"
"Kenapa? Mau kamu bayarin?"
"InsyAllah saya yang akan ganti."
"Wah, punya uang kamu rupanya. Sini, totalnya lima belas juta, bunganya tiga juta lima ratus. Jadi semua delapan belas juta lima ratus." Pak Rudi merinci dengan suara yang sengaja ditinggikan. Seakan berharap semua orang bisa mendengarnya. Memang dasar sombong, mau diapakan pun akan tetap sombong.
Gavin berbisik pada Aditya. Meminta temannya untuk mengurus masalah ini, sementara ia bicara dengan Anisa.
Aditya meminta nomor rekening Pak Rudi, ia juga terdengar menghubungi kenalannya yang merupakan seorang pengacara. Entah apa tujuannya Pak Rudi belum tahu pasti.
Sementara itu, Anisa mempersilakan Gavin masuk dan duduk di kursi sofa yang sudah terlihat bolong-bolong di beberapa bagian. Ia memandang sekeliling. Di dinding terdapat beberapa foto keluarga. Ada foto Seno juga di sana memakai pakaian olahraga dan menginjak bola sepak di kakinya. Seperti yang ia tahu, salah satu hobi Seno adalah bermain footsal.
"Mas ini siapa? Ada perlu apa mencari saya?"
"Begini, perkenalkan nama saya Gavindra. Panggil saja Gavin. Saya teman dekat Seno, kakak kamu."
"Mas Seno? Masnya kenal sama kakak saya? Di mana beliau sekarang?!" Seperti dapat angin segar, Anisa mulai mendapat cahaya terang. Ia senang mendengar kabar tentang kakaknya lagi.
"Ehm... saya mau kasih kabar duka untuk kamu. Seno mengalami kecelakaan beberapa waktu lalu. Dan, dia..."
"Kenapa? Apa yang terjadi sama Mas Seno?" Anisa mulai panik dan cemas.
"Seno nggak bisa diselamatkan..."
"Astaghfirullah... innalillahi... Mas Seno..." Gadis itu membekap bibirnya sendiri. Baru saja ia merasa bahagia agaknya sudah dibuat jatuh lagi ke jurang. Jantung Anisa seperti tengah dipermainkan oleh kenyataan sekarang.
"Maaf kalau saya harus kasih kabar nggak menyenangkan. Tapi, ada satu hal lagi yang Seno amanatkan ke saya."
Masih sembari menahan tangis, Anisa berusaha menguatkan diri. "Apa itu, Mas?" Ia masih bingung harus percaya atau tidak, bahwa kakaknya kini tak lagi ada di dunia ini.
"Seno meminta saya untuk menikahi adik perempuannya, yang bernama Anisa Restiani. Itu kamu kan?"
"Apa?! Menikahi saya?! Saya nggak percaya!"
Tubuh Anisa terlonjak seketika. Dadanya kembang kempis tak karuan. Ia mulai ragu dengan semua berita yang dibawa oleh Gavin. Seperti dugaan Gavin sebelumnya, tak akan mudah membuat orang lain yang baru dikenal mempercayai kata-kata orang asing sepertinya.
Alhasil, Gavin pun menunjukkan video dan foto-foto kebersamaan dirinya dengan Seno, sahabatnya. Tak lupa ia juga menunjukkan satu video yang memperlihatkan Seno dalam keadaan kristis tetap memaksa untuk bicara dan meminta direkam. Di situ ia berpesan agar bila terjadi hal buruk dengannya, Gavin bersedia menjaga keluarga Seno. Dan di situ juga terdengar Seno meminta Gavin menikahi Anisa.
Gadis itu kelu tak bisa berkata-kata lagi. Ia bingung harus menghadapi semua ini dengan cara apa? Namun, ia juga merasa kehadiran Gavin bisa jadi adalah sebuah jawaban atas doa-doanya selama ini. Buktinya, pria itu berniat melunasi semua hutang Heru dan menyelamatkan rumah yang akan disita Pak Rudi.
"Saya jauh-jauh datang ke sini bukan bermaksud jahat sama kamu. Kamu boleh percaya atau nggak. Itu hakmu. Yang jelas, saya sudah sampaikan semua yang perlu disampaikan."
Gavin lupa akan satu hal. Ia belum menjelaskan perihal penyebab kepergian Seno untuk selamanya. Bahwa Seno menyelamatkan Gavin dan malah mengorbankan dirinya sendiri. Ia tak cukup berani mengatakan kejujuran itu pada Anisa.
Entah akan seperti apa tanggapan gadis itu nantinya. Sekarang, Gavin hanya butuh jawaban iya serta ketersediaan Anisa untuk menjadi istrinya. Bukan sekadar demi melunasi hutang budi pada sahabatnya, akan tetapi juga demi dirinya sendiri.
Anisa masih tertegun bingung. Pikirannya kacau balau. Ia sama sekali tak mengenal siapa Gavin, dari mana asalnya, dan seperti apa perangainya? Mana mungkin dengan mudah menyetujui amanat dari mendiang kakaknya begitu saja?
"Kamu bisa pikirkan baik-baik. Saya akan menunggu keputusan kamu seperti apa."
"Bagaimana saya bisa mengambil keputusan, Mas? Saya bahkan baru tahu nama Anda. Sisanya semua masih penuh teka-teki. Saya butuh waktu untuk mencerna kenyataan ini. Saya..." lagi-lagi suara Anisa tertahan kelu.
Gavin menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. "Saya pun merasa demikian. Tapi, kita bisa apa?" imbuhnya lugas. "Saya akan tunggu jawaban kamu," katanya kemudian.
"Jawaban tentang?" Pikiran Anisa masih kacau balau. Sampai lupa apa saja yang diucapkan pria di hadapannya barusan.
"Bersediakan kamu menjalankan wasiat terakhir kakakmu?"
Hening. Anisa kembali bungkam. Batinnya bergejolak ragu. Bimbang menyelimutinya. Bagaimana ia bisa menerima pinangan orang asing yang bahkan belum ia tahu seluk beluk serta asal usulnya? Anisa meragu. Dua kali ia patah hati dan kecewa karena pria. Tak mau sampai ada yang ketiga kali.
"Izinkan saya memikirkannya dulu, Mas..." lirihnya.
==&&==