Bab. 5 - Kebimbangan

1648 Kata
Sedetik lalu aku tahu sosokmu Sedetik kemudian aku tahu manisnya senyummu Dan sedetik berikutnya, aku mencemaskan tentangmu... - Gavindra - *** "Kamu bisa pikirkan baik-baik. Saya akan menunggu keputusan kamu seperti apa." "Bagaimana saya bisa mengambil keputusan, Mas? Saya bahkan baru tahu nama Anda. Sisanya semua masih penuh teka-teki. Saya butuh waktu untuk mencerna kenyataan ini. Saya..." lagi-lagi suara Anisa tertahan kelu. Gavin menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. "Saya pun merasa demikian. Tapi, kita bisa apa?" imbuhnya lugas. "Saya akan tunggu jawaban kamu," katanya kemudian. "Jawaban tentang?" Pikiran Anisa masih kacau balau. Sampai lupa apa saja yang diucapkan pria di hadapannya barusan. "Bersediakan kamu menjalankan wasiat terakhir kakakmu?" Hening. Anisa kembali bungkam. Batinnya bergejolak ragu. Bimbang menyelimutinya. Bagaimana ia bisa menerima pinangan orang asing yang bahkan belum ia tahu seluk beluk serta asal usulnya? Anisa meragu. Dua kali ia patah hati dan kecewa karena pria. Tak mau sampai ada yang ketiga kali. "Izinkan saya memikirkannya dulu, Mas..." lirihnya bimbang. Beberapa saat berlalu dalam keheningan. Suara gelas peceh mendadak memecah kesunyian di antara keduanya. Anisa teringat ayahnya. Ia langsung berdiri dan berlarian menuju kamar orang tuanya. Terlihat Pak Sukarjo kesulitan berpindah dari kasur ke kursi rodanya. Puingan gelas kaca berserakan di lantai akibat ketidaksengajaan tangan Pak Sukarjo menyenggol benda kaca tersebut. Dengan telaten dan sabar Anisa membantu ayahnya. Air mata ia tahan sekuat mungkin di pelupuk mata. Kondisi Pak Sukarjo semakin memprihatinkan. Biasanya beliau masih bisa pindah sendiri, belakangan sudah mulai kesusahan. Obat yang biasanya diminum pun sudah habis ta bersisa. Dan Anisa belum bisa membeli lagi. Gadis itu hanya bisa tertegun menanggung pedih batinnya. Berada di antara keluarga yang broken home, ditambah kisah asmara yang begitu hancur lebur, dan ditimbun tumpukkan hutang, entah sekuat apa hati Anisa sekarang. Ia bahkan tak lagi sempat mengurus diri sendiri. Jangankan untuk beli peralatan make up, untuk makan sehari-hari saja sulitnya minta ampun. Paling banter ia hanya bisa beli bedak Marcks, lipstik Hanasui, dan pensil alis Implora. Itu saja ia hemat semaksimal mungkin. Setidaknya saat bekerja tampangnya tidak terlalu kusut dan lusuh. Sudah cukup dirinya dihina oleh para tetangga, jangan sampai teman-temannya pun melakukan hal sama. Dalam lamunan, Anis memikirkan kata-kata Gavin tadi. Kecamuk jiwanya makin mencekam gundah. Seolah tak ada pilihan selain menerima. Mungkin saja kelak hidupnya akan berubah lebih baik. Namun, itu artinya ia harus siap mengorbankan perasaan pribdainya dan siap dengan segala konsekuensi selanjutnya. Gadis itu tengah berusaha menguatkan diri. Sayangnya, lagi-lagi ia terdampar pada ketidakyakinan hati. Di luar Aditya baru saja menyelesaikan urusan dengan Pak Rudi. Besok mereka masih harus bertemu dan membicarakan sisa persolan utang piutang bersama pengacara yang ditunjuk Aditya. Agar tidak adalagi masalah ke depannya. Harus tuntas dan ada bukti hitam di atas putih. Ia menghampiri kawannya dan ikut duduk di kursi plastik dekat pintu. Baru saja mendudukkan diri, bagian kaki kanan kursi malah patah dan hampir membuat Aditya jatuh. Untung ia refleks langsung bangkit. Gavin melihatnya sembari geleng-geleng kepala. "Parah. Perasaan gajinya Seno lumayan. Kenapa nggak dipake buat permak nih rumah sama perabotannya ya?" Aditya terheran-heran. "Lhah, kan gajinya Seno masih ada sama gue." "Maksud lo?" "Selama ini dia ambil gaji cuma buat keperluan sehari-hari. Sisa lebihnya dititipin ke gue buat benerin nih rumah." "Serius?" Gavin mengangguk. "Kalau dikirim tiap bulan terus cepet habis katanya sih gitu. Makanya mending dikumpulin dulu." Aditya hanya mengangguk-angguk paham. Ia pindah duduk di dekat Gavin. Menekan-nekan kursi yang busanya sudah ke mana-mana. Rasa iba menggelayuti pikiran keduanya. Teringat begitu sederhananya Seno semasa hidup. Bahkan rela hanya makan tempe tahu setiap hari, demi memiliki tabungan untuk renovasi rumah. Sayang, takdir berkata lain. Ia dipanggil pulang bahkan sebelum harapannya menjadi kenyataan. "Hutang lo banyak ke Seno, Bro," tegur Aditya mengingatkan. "Iya, gue tahu." Beberapa menit berlalu, Anisa muncul kembali membawa nampan dengan dua gelas berisi teh hangat. "Maaf ya, Mas. Seadanya saja," katanya sembari mempersilahkan minum. Kedua pria itu lekas meraih gelas belimbing dan menyeruputnya perlahan. Hampir saja mereka menyemburkan air yang baru terasa dilidah. Namun ditahan lagi karena sungkan. Mau tak mau tetap menelan walau pahit rasanya. "Kenapa, Mas?" Anisa bingung melihat gelagat aneh Gavin dan Aditya. "Ini pa-" "Oh bukan apa-apa. Tehnya enak," balas Aditya memotong kalimat Gavin, sembari sepatunga menendang ujung sepatu milik temannya. Mengisyaratkan untuk tidak terlalu jujur. Ia berpikir mungkin Anisa kehabisa gula atau bahkan tidak sanggup beli gula karena kondisi ekonomi yang mencekik. Faktanya, sangking banyak pikiran, gadis itu sampai lupa memasukkan gula ke dalam jamuan. "Gini, Anisa?" "Iya, saya Anisa." "Saya Aditya, driver sekaligus teman Gavin." Mereka bersalaman sebagai tanda perkenalan singkat. "Seno sering cerita tentang kamu," lanjut Aditya. Anisa hanya mengulum senyum kecut. Apa yang mau dibanggakan dari gadis sepertinya? Begitu benaknya berpikir. "Soal hutang dengan Pak Rudi, kamu nggak perlu khawatir. Kami sudah urus. Dan rumah ini tetap milik kamu." "Serius, Mas?" Gavin dan Aditya mengangguk bersamaan. "Alhamdulillah. InsyAllah nanti setiap bulan akan saya cicil untuk ganti uangnya, Mas. Semoga nggak keberatan." "Nggak perlu. Uang Seno masih lebih dari cukup buat lunasin hutang kalian," timpal Gavin. Lagi-lagi Anisa lesu. Mendengar nama kakaknya, rindunya semakin menjadi. Tapi apa mau dikata, Seno telah tiada. "Saya boleh ke makam mas Seno?" pinta Anisa. "Boleh banget. Tapi kamu harus ikut kami ke kota." "Ke Jakarta?" "Iya." "Bapak saya gimana?" Gavin dan Aditya saling pandang sebentar. Lalu keduanya memutuskan untuk menyewa perawat yang sementara waktu akan menjaga Pak Sukarjo. Mulanya Anisa menolak karena tak mau terlalu banyak merepotkan. Akan tetapi, berkat bujukkan Aditya ia pun akhirnya setuju. "Saya nggak tahu lagi harus balas budi baik kalian dengan cara apa. Yang jelas, saya sangat berterimakasih sekali atas bantuannya." "Kami berdua hanya perantara," jawab Aditya. Hari ini Gavin terlihat lebih banyak diam. Pikirannya melantur ke mana-mana. Dalam hati ada sedikit kelegaan, melihat Anisa yang umurnya tak beda jauh dengannya. Ditambah paras cantik yang terlihat sederhana, dan juga kesopanannya. Sepertinya sosok Anisa akan menjadi jembatan penghubung antara dirinya dengan sang kakek. Ia akan memikirkan segala cara demi bisa membuat gadis itu mengatakan iya atas pertanyaannya tentang wasiat Seno. "Kalau kamu kerja gini, siapa yang jagain Bapak?" Gavin mendadak penasaran. "Biasanya ada Mbok Nem, tetangga belakang rumah. Kalau ada apa-apa beliau yang bantu saya jaga Bapak." "Yasudah kalau gitu, kami mau balik ke hotel tempat menginap. Nanti kabarin lagi ya gimana jadinya." "Saya harus izin cuti dulu, Mas. Kalau misal di acc saya akan langsung kabarin. Jadi bisa ikut berangkat besok." "Oke." "Jangan lupa pikirkan juga pertanyaan saya." Gavin mengingatkan. Hanya anggukan kepala yang Anisa berikan. "Kamu mau sekalian kami antar berangkat kerja? Biar barengan," tawar Aditya. Mengingat uang gaji Anisa ludes tak bersisa, Anisa pun menerima tumpangan tersebut. Lumayan bisa menghemat ongkos ojek. Di dalam mobil, Anisa duduk di bangku belakang. Beberapa kali Gavin mengintip dari kaca di atas dashboard mobil. Curi-curi pandang entah karena apa. Sampai deheman Aditya membuyarkan kegiatan tersebut. "Ngelirik sih  ngelirik, tapi nggak gitu juga kali," sindirnya. "Cuma memastikan." "Alibi." "Sirik amat lo." Gavin kesal. Anisa sibuk memandangi layar ponsel. Mimik mukanya sendu dan lesu. Bima masih saja memberikan perhatian melalui pesan-pesan singkat. Padahal sudah diperingatkan berkali-kali. Hingga akhirnya Anisa menguatkan tekad. Ia pun langsung memblokir nomor mantan kekasihnya dan menutup ponselnya. Mengalihkan pandangan ke jalanan melalui jendela kaca. Merelakan kenangan akan cinta tulusnya berlalu pergi menjadi sisa memori. Gavin dan Anisa terdiam di sudut masing-masing. Anisa yang menatap jalanan, dan Gavin yang terus menatap Anisa dari kaca. "Ohya, kamu punya pacar, Nis?" tanya Aditya mendadak sekali. "Nggak, Mas. Baru putus." "Oh, baru jadi jomblo dong ceritanya?" "Iya gitulah." "Ngomong-ngomong, panggil Adit aja atau Aditya. Nggak usah pakai mas. Aku nggak semahal itu kok," celetuk pria berjaket hitam yang mengemudikan stir di depan. Aditya memang pandai mencairkan suasana. "Iya, Adit." "Nah kan lebih enak dengernya. Nggak berasa tua gitu." Gavin melirik tampang temannya dengan pandangan mencibir. Seolah mengatakan kalau Aditya harus sadar diri. "Btw, putus kenapa?" "Ehm... orang tuanya nggak setuju anaknya pacaran sama saya. Jadinya dia dijodohin sama orang lain." "Wow, masih jaman ya kayak Siti Nurbaya gitu?" "Ya gitulah." "Kamu nggak perjuangin?" "Buat apa? Kalau dua orang berjuang bersama baru itu namanya hubungan. Tapi, kalau berjuang sendirian, itu namanya pengorbanan. Saya nggak mau cuma jadi korban." "Pemikiran yang bagus," timpal Gavin spontan. Membuat Aditya heran. "Terus, udah ada pengganti belum?" lanjut Aditya. "Belum, masih fokus mengobati diri sendiri." Aditya terkekeh mendengar perumpamaan Anisa yang terlalu jujur. "Kamu cocok sama Gavin. Klop kalian." "Kenapa gue dibawa-bawa?" "Ya sama-sama butuh pengobatan. Yang satu putus cinta, yang satunya belum pernah jalin cinta. Pas tuh." "Bercandaan lo nggak lucu." "Gue serius." Gavin diam. Anisa hanya memaksa seulas senyum. Ia teringat kembali dengan wasiat yang disebutkan oleh Gavin tentang permintaan sang kakak. "Saya boleh tanya?" "Ya, silahkan?" "Kenapa mas Seno minta Mas Gavin menikahi saya? Pasti ada alasannya kan?" Pertanyaan spontan tersebut berhasil mendatangkan kebingungan di benak Gavin. Aditya sendiri tak berani ikut campur dan hanya memilih diam. Pura-pura menerima telepon entah dari siapa. "Alasannya apa?" Anisa mengulangi pertanyaan. "Kenapa tanya itu?" ganti Gavin yang melempar tanya. "Supaya saya tahu apa yang harus saya lakukan. Mengiyakan atau menolak." "Kalau semua hal harus dilakukan berdasarkan sebuah alasan, coba kamu terka sendiri kenapa bentuk bumi bulat?" "Maksudnya?" "Nggak semua hal ada jawabannya, Anisa. Nggak semua hal butuh alasan. Saya pun juga nggak tahu kenapa Seno meminta hal seperti itu." Gadis itu pun terdiam kelu usai mendengar jawaban membingungkan dari Gavin. 'Apa yang harus kulakukan sekarang? Pria ini datang tiba-tiba. Secara kriteria dia benar-benar idaman. Tapi, aku bahkan belum kenal lebih dalam. Gimana kalau dia cuma penipu? Atau dia playboy gadungan? Atau ini cuma prank dadakan? Argh! Kenapa pikiranku jadi melantur nggak karuan?!' Anisa bermonolog dalam batin. "Aduh! s**t!" pekik Gavin tiba-tiba, membuyarkan kediaman mereka bertiga. "Kenapa lo?" "Bibir gue kegigit sampai berdarah nih!" "Wah ada yang ngomongin lo tuh, atau bisa jadi ada yang mikirin lo banget-banget," kata Aditya teringat cerita neneknya dulu. Seketika Anisa langsung memalingkan muka kembali ke jalanan luar sana. Pura-pura tak merasa. Padaha dirinya yang menjerit-jerit dalam hati menggalaukan Gavin barusan. ==& Suamiku Miliarder &==
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN