Catatan Hati Anisa

359 Kata
Kata orang, sabar itu lebih luas dari samudra. Kata orang, sabar itu tidak ada batasnya. Kata orang, sabar itu memang sulit, tapi mampu menguatkan.  Dan kataku, sabar itu sungguh sangat menyesakkan. Sangat menyakitkan. Dan sangat menyengsarakan. Karena setiap kali aku berusaha bersabar, hatiku menjerit histeris. Jiwaku meronta tanpa henti. Dan batinku bergejolak menanggung sakit yang mendalam.  Apa benar aku sekuat itu? Sampai sabarku harus diuji berulang kali. Atau aku terlalu lemah? Dan DIA ingin mengajarkanku untuk selalu kuat? Apa benar semua kesabaran gak akan sia-sia? Apa benar kesabaran akan berakhir dengan indah? Sampai kapan aku menunggu hal itu terjadi? Ketika sabarku berbuah begitu manis hingga aku lupa lagi sedalam apa lukaku akan polemik hidupku.  Bukan aku tidak bersyukur. Bukan. Aku hanya ingin merasakan ketenangan juga... Masalah. Lagi. Dan lagi. Selalu itu yang harus kuhadapi untuk kesekian kali. Hidup di antara remuknya keluarga rasanya sungguh sangat menyesakkan. Jika saja bisa kupilih harus di mana aku dilahirkan. Mungkin, tidak dalam keluarga ini. YA, AKU LELAH. Aku ingin marah. Menanggung malu sudah menjadi kebiasaanku. Sampai rasanya malu ini tak lagi terasa dan menyatu dalam diriku. Ibuku pergi entah ke mana. Memilih bersama pria lain, yang bisa memenuhi kebutuha  dompet dan dirinya. Bapak ku sakit, dan jujur aku pun bingung harus bagaimana. Aku gak ingin jadi anak durhaka. Tapi, aku juga ingin menikmati hidupku seperti gadis seusiaku pada umumnya. Bukan hanya berkutat dengan mengurus bapak saja. Ditambah hutang-hutang yang melilit kami. Semua kegilaan adik ku ditimpakkan padaku. Dan aku terpaksa menanggung semua sendirian. Kisah cintaku pun harus pupus di tengah jalan. Pria yang kusayangi dan satu-satunya alasan aku masih semangat menghadapi semua masalah ini pun ujungnya meninggalkanku juga. Dan sekarang, harus kutrima fakta baru, bahwa kakak satu-satunya yang kusayangi... telah tiada di dunia ini. Kenapa terlalu banyak kehilangan harus kuhadapi? Kenapa...     Apa aku memang tidak ayak bahagia? Apa aku ditakdirkan hanya untuk sengsara? Sampai kapan? Sampai kapan aku menanggung derita yang hampir membuat diriku gila! Tolong. Tolong wahai Sang Kuasa. Beri aku jalan agar bisa terbebas dari rasa sakit ini. Beri aku sandaran terbaik untuk bisa kuat menjalani cobaam dari-Mu. Beri aku penyemangat biar kuyakin semua akan baik-baik saja... ==& Suamiku Milliarder &==   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN