Aku tidak tahu ke mana kakiku akan melangkah besok
Aku juga ingin lupa ke mana diriku berjalan kemarin
Karena kamu tetap sulit untuk kutinggalkan sepenuhnya
Tetap menjadi beban dalam pikiran dan hatiku
Sampai aku lelah berusaha menghapus kenanganmu...
- Anisa -
***
Gadis itu duduk di kursi penumpang, tepat di sebelah jendela pesawat. Menatap ke luar sana dengan pandangan kosong. Sepasang headset menyumpal di telinga. Lagu epik berjudul Epiphany yang merdu dinyanyikan oleh Kim Seok Jin, salah satu member BTS kesukaannya, menjadi teman dalam lamunan semunya.
Liriknya seolah tengah berusaha menguatkan jiwa Anisa. Mengingatkan bahwa ia sangat berharga untuk dirinya sendiri. Seperti apa pun beban hidup yang menyelimuti kesedihan Anisa, ia tak bisa membenci diri sendiri, hanya karena kesulitan yang datang bertubi. Namun, ia juga termenung sendu mengingat semua polemik kisah hidupnya yang rumit.
Meski masalah piutang telah berhasil terselesaikan. Belum juga usai patah hatinya yang masih berdarah-darah. Ia berharap bisa segera melupakan mantan kekasihnya. Merelakan semua tentang mereka menjadi masa lalu sekilas. Dan menjalani masa sekarang tanpa membawa cintanya yang telah pergi.
Di sampingnya, seorang pria yang masih terasa asing duduk menatap padanya. Gadis itu belum sadar dipandangi oleh seorang Gavin. Pria yang belum mengenal percintaan dengan benar. Seumur hidupnya dihabiskan entah untuk apa. Meski begitu banyak teman di sekeliling. Belum juga ada yang berhasil memasuki hatinya. Bahkan sampai rumor buruk tentangnya menyebar luas. Mengatakan kalau ia tak normal. Padahal, Gavin hanya merasa belum waktunya ia jatuh cinta. Pernah sekali dua kali ia hampir menyukai, dan semua berlalu begitu saja entah karena apa. Ia sendiri tak tahu jawabannya.
Dan sekarang, ada rasa iba menyenilap di hatinya. Melihat kerapuhan seorang gadis yang baru dikenalnya beberapa waktu. Rasanya seolah ada yang menggugah batinnya. Ia teringat percakapannya dengan Seno semasa hidup.
"Lo bakalan jatuh cinta sama adek gue. Pasti."
"Kenapa lo seyakin itu?"
"Karena dia beda."
"Ada jutaan cewek di muka bumi. Dan semua beda-beda, Bro. Kalau sama semua berabe."
"Gue serius, Bos. Lo bakalan suka sama Anisa."
"Iya kenapa bisa gitu? Lo kan tahu gue susah suka sama cewek. Gue sendiri bingung kenapa bisa gini. Padahal gue merasa normal-normal aja."
"Mungkin lo cuma belum ketemu sama yang tepat kali, Bos. Dan gue berharap Anisa bisa jadi seseorang yang tepat buat lo."
Gavin hanya tertawa aneh sambil geleng kepala. Tak paham dengan jalan pikiran sahabatnya. "Aneh lo. Mau jodohin apa maksa?"
"Gue cuma bisa jadi perantara. Gue percaya lo bisa jagain dia. Gue juga yakin, lo bakalan sayang sama dia lebih dari gue sayang ke adek gue sendiri."
"Seserius itu?"
"Hidup ini nggak ada yang tahu arah pastinya. Jodoh juga. Kadang apa yang kita anggap nggak mungkin, ternyata malah jadi sebuah kemungkinan yang paling besar."
"Maksudnya?"
"Anisa itu dari kecil udah nggak enak hidupnya. Gue sebagai kakak juga belum bisa nyenengin dia, apalagi ortu kita. Beban yang dia pikul terlalu berat. Dan gue sering ngerasa bersalah, karena belum bisa jadi kakak yang bener-bener baik. Belum bisa jadi kebanggaan keluarga juga. Padahal dia adek perempuan yang harusnya gue jaga. Tapi faktanya, gue masih belum seberhasil itu."
"Lo cuma lagi insecure sama diri sendiri itu."
Seno hanya tersenyum simpul. Dan kenangan itu memudar bersama sang waktu. Sekarang, Gavin telah kembali pada kenyataan. Bahwa sahabatnya sudah tidak ada di dunia. Dan mungkin, begitulah cara Seno menitipkan Anisa padanya. Berharap Gavin bisa menggantikan sosoknya lebih baik lagi.
Penasaran dengan lagu yang didengarkan Anisa. Tiba-tiba Gavin menarik salah satu kabel headset di telinga gadis itu. Sontak membuat Anisa terkejut. Dan menoleh pada Gavin kilat.
Pria itu ikut mendengarkan lagu dan mulai memejamkan mata. Dalam kediaman keduanya tergugu dengan pikiran masing-masing. Larut dalam suara merdu Kim Seok Jin.
"Anisa..." panggil Gavin lirih, masih dengan mata terpejam.
"Ya?" Anisa menjawab, juga masih dengan pandangan ke arah jendela.
"Apa 3 mimpi terbesarmu dalam hidup yang belum bisa kamu wujudkan?"
Tanpa berpikir panjang, Anisa hanya mengembuskan napas pelan. Kemudian menjawab lugas, "Melunasi semua hutang sudah diselesaikan oleh almarhum mas Seno."
"Selain itu?"
"Ehm... melihat bapak sembuh. Beliau satu-satunya keluarga saya sekarang."
"Adikmu gimana?"
"Bagi saya dia sudah bukan bagian dari keluarga kami lagi."
"Baiklah bisa dimaklumi. Lalu, apalagi?"
"Saya pengen ketemu Kim Seok Jin BTS. Dan saya mau bilang terimakasih ke dia."
"What?"
Spontan Gavin membuka mata dan menegakkan duduknya yang semula bersadar. Seolah tak percaya dengan apa yang barusan di dengar. Walau tak begitu paham dengan dunia keartisan, tapi ia tahu siapa yang dimaksud Anisa barusan. Pasalnya, kedua sahabatnya adalah penggemar BTS juga. Hampir tiap hari Aditya memutar musik dan vudeo mereka di mobil. Bahkan kadang menceritakan nama mereka dan kisah mereka meski tak diminta oleh Gavin.
"Kenapa? Ada yang salah? Saya rasa, saya hanyalah salah satu dari jutaan kaum hawa yang punya keinginan seperti ini. Wajar kan?"
Gavin mengurut kening. "Apa sih bagusnya dia?"
"Setiap orang punya kesukaan masing-masing. Mungkin orang lain melihat biasa saja, tapi ada pula yang memandang dengan kagum dan takjub. Bagi saya, dia itu penyemangat. Saya cuma bisa dengar suara indahnya lewat lagu. Hanya bisa lihat tingkah konyolnya lewat video. Tapi, semua itu bikin saya bahagia. Buat saya, dia salah satu sosok yang berharga."
"Kalau kamu ketemu dia, apa yang mau kamu bilang? Cuma makasih aja?"
Anisa menggeleng kilat. "Ada lagi. Saya mau bilang, kalau suatu saat saya berhenti menyukainya, artinya saya sudah menemukan seseorang yang lebih nyata di hidup saya. Dan saya ingin dia merelakan saya sebagai fansnya."
Seketika Gavin langsung tepuk jidat. Dunia pemikiran perempuan memang luar biasa unik menurutnya. Ia yang hanya pandai dengan persoalan bisnis, kini seakan terjebak dengan ribuan tanda tanya tanpa jawaban pasti. Terheran kenapa bisa menemukan salah satu dari sekian ribu manusia di bumi yang seperti Anisa. Bicara sepolos itu seolah benar-benar akan bertemu idolanya. Walau demikian, tanpa sadar Gavin malah tersenyum sendiri entah karena apa.
"Kamu terlalu halu, An," celetuk Gavin mendadak.
Benar saja, Anisa langsung memberengut muka. Ia menarik headsetnya dengan wajah sebal. "Kenapa memangnya?! Saya nggak pantas ya suka sama dia?!" kesalnya.
"BUKAN itu masalahnya. Khayalanmu itu loh yang agak kurang masuk akal."
"Ya nggak apa-apa. Minimal saya punya keinginan jelas. Lhah kamu sendiri gimana? Punya mimpi? Saya tebak, orang seperti kamu itu pasti sudah lupa dengan mimpinya sendiri."
Perkataan tanpa terduga itu terlontar cepat. Menyadarkan Gavin pada kenyataan yang ada. Apa yang diucapkan gadis ini tak ada yang salah. Gavin tersadar akan satu hal. Ia lupa apa yang ia inginkan selama ini dalam hidup untuk dirinya sendiri.
"Kenapa kamu bisa bilang gitu?"
"Karena saya pikir kamu sudah memiliki segalanya."
"Darimana kamu tahu? Kita baru kenal kan?"
"Terlihat dari gaya berpakaianmu, dari caramu bicara, bahkan dari sikapmu juga."
"Apa yang kamu lihat?"
"Ehm... sosok pria kaya yang cenderung mendominasi dan juga sosok seorang pria yang kurang bertujuan."
"Tunggu. Poin pertama mungkin benar. Tapi, poin kedua. Dari mana kamu bisa mengasumsikan hal tersebut?" Gavin penasaran.
"Pandangan mata kamu selalu datar."
"Maksudnya?"
Anisa menghela napas sebentar. "Sekali lihat saya sudah bisa menerka. Karena kamu dan saya punya sedikit kemiripan. Saya bisa lihat ada kesepian di mata kamu."
Keduanya terdiam bersamaan. Anisa kembali memasangkan headset ke telingan Gavin. Kemudian keduanya kembali duduk bersandar dan memejamkan mata. Larut dengan pikiran masing-masing.
'Cerita seperti apa selanjutnya dalam hidupku?' bisik hati Anisa.
'Sejauh mana hubungan kami akan berjalan nantinya? Berhasilkah? Atau...' gumam Gavin membatin.
"Oh ya, apa pendapatmu tentang amanat Seno?" tanya Gavin dengan mata masih terpejam.
"Membingungkan."
"Sama. Saya juga bingung. Kakakmu itu orang yang paling aneh menurut saya. Susah ditebak jalan pikirannya."
"Apa yang harus kita lakukan?"
"Ehm..." Gavin membuka mata. Melihat Anisa yang menatapnya dengan heran bercampur bimbang. Sepasang headset mereka lepaskan bersamaan. "Gimana kalau gini aja, kita menikah. Tapi, kamu bebas."
"Maksudnya bebas gimana?"
"Saya tahu kamu nggak suka sama saya. Kita menikah di atas kertas saja. Sisanya kita berdua nggak berhak saling mengatur atau menuntut satu sama lain."
"Hah? Pernikahan kontrak maksudnya? Kamu pikir kita hidup di dunia novel? Film? Atau komik?" Anisa geleng kepala, tak habis pikir dengan ide absurd Gavin barusan.
"Bukan begitu. Maksud saya, kita menikah tapi kita harus bisa menjaga kehidupan pribadi dan perasaan masing-masing. Nggak memaksa satu sama lain gitu."
Sejujurnya Gavin bingung menjelaskan maksud hatinya. Ia mengurut kening sejenak, memandang Anisa dengan harapan gadis itu bisa paham tanpa harus diulangi lagi kata-katanya.
"Oh ya, saya minta tolong satu hal sama kamu, bisa?"
"Minta tolong apa?"
"Nanti, setiba di rumah, kamu saya kenalkan sama keluarga, terutama kakek. Tolong bersikaplah seolah kamu pacar saya. Dan kita selama ini ldr-an."
"Permintaan tolong yang aneh sekali."
"Saya serius, Anisa. Bisa kan bantu saya?"
Gadis itu terpekur sebentar. Tidak ada salahnya ia membantu pria ini. Lagipula, Gavin sudah menolongnya juga lepas dari jeratan hutang yang menggunung. Walau itu semua uang milik kakaknya, tetap saja Gavin dan Aditya adalah perantaranya.
"Baiklah. Saya akan bantu."
"Kalau gitu kamu harus tahu apa saja yang mungkin ditanyakan kakek dan keluarga saya nanti. Supaya kamu punya kisi-kisi untuk menjawab dengan benar."
"Ini sebetulnya saya mau bantu kamu apa mau ikut ujian sih?" protes Anisa.
"Ya daripada kita nggak punya bekal untuk ngadepin mereka semua. Lebih baik sedia jawaban sebelum ujian kan."
"Ya ya, terserah kamu. Saya ikut saja."
"Fleksibel sekali ya kamu."
"Mau gimana lagi, prinsip saya, jika ada orang baik ke saya. Maka saya harus bisa setidaknya membalas kebaikan itu walau dengan hal sekecil apapun. Selagi itu baik dan tidak merugikan siapa pun."
"Menurut kamu rencana kebohongan ini baik?"
"Nggak juga sih. Tapi, saya rasa kamu pasti punya alasan kenapa sampai berlaku demikian."
Agaknya, Gavin benar-benar telah menemukan partner yang tepat tanpa perlu bersusah payah melakukan seleksi sana-sini.
Siapa yang tahu bila semua ternyata menjadi sebuah kelanjutan yang mungkin tak mereka duga sebelumnya..
==& Suamiku Miliarder &==