Deru napas Megan semakin terdengar. Matanya menyorot ke depan, sebuah cahaya menyeruak di antara pohon-pohon yang berdempetan. Tangannya terus menggenggam tangan Ann dalam dinginnya malam.
"Apa yang kau ketahui tentang tempat ini?" tanya Megan dengan mata terus bersiaga.
Ann ikut melihat cahaya di depan. "Setahuku ini hanya jalur perdagangan yang tidak dihuni oleh orang-orang. Berada dekat perbatasan Swedia."
Megan lalu beralih menengadah memandang langit. "Sudah beberapa hari ini bulan purnama."
Ann mengulas senyum tipis. "Aku pernah mendengar orang-orang yang mengatakan bahwa sudah waktunya bulan akan meneteskan darah."
Megan menjadi terkesiap mendengarnya. "Apa?" Ia merasa sedikit lucu bahwa bulan akan meneteskan darah.
"Rudo juga pernah berkata bahwa pada saat itu monster akan keluar mencari mangsa, sehingga dahulu orang-orang sering hilang dan … hanya meninggalkan bekas tetesan darah," ucap Ann dengan nada pelan, tetapi terdengar serius.
Megan kemudian beralih setelah mendengar suara patahan ranting dan mencoba berpikir positif bahwa bisa saja cahaya yang di depan itu adalah sorot lampu atau obor yang dinyalakan pedagang ketika istirahat. Ia sendiri sering melihat bagaimana Rudo pulang pada larut malam dengan menenteng obor pada gerobak yang ditarik oleh kuda pria itu.
Namun entah mengapa Megan selalu merasa bahwa ada seseorang mengawasinya. Terlebih lagi suara gemersik dedaunan yang seolah bergesekan dengan embusan angin yang tersapu oleh sesuatu. Ia mencoba menengadah beberapa kali, tetapi gelapnya malam yang tidak tertolong oleh cahaya bulan purnama, membuatnya kembali menatap ke depan.
Secepat kilat, Megan terasa sesuatu menarik tubuhnya ke atas bersamaan dengan teriakan Ann yang seolah terkejut. Kakinya yang tadi menginjak tanah bercampur bebatuan, kini seolah melayang. Namun ia tahu bahwa dirinya tidak sedang linglung atau berhalusinasi, ketika sesuatu berlubang yang tajam menghimpit tubuhnya seperti sebuah jaring. Belum sempat ia berpikir lebih lanjut tiba-tiba dirinya merasakan tubuh jatuh ke bawah dengan keras dan semuanya menjadi gelap.
Sebuah sosok kemudian muncul di depan dua bungkusan jaring yang telah membelit Megan dan Ann. Sosok itu ialah Yahur dengan mata tajam menyorot, gigi bertaring dengan kuku yang panjang. Ia kemudian melirik Werewolf yang lain untuk memberi aba-aba agar memindahkan tubuh kedua perempuan yang telah dipantau oleh anggota kawanannya sejak merasakan hawa yang begitu kuat.
Yagur memerintahkan tubuh Megan dan Ann di bawah ke sebuah gua, di mana terdapat rantai yang biasa digunakan untuk manusia lain yang telah mengetahui rahasia dari Werewolf.
Kehidupan Werewolf tak ubahnya seperti manusia sejak memasuki abad ke tujuh belas. Manusia yang mulai berpikir modern dan melakukan ekspansi besar-besaran ke kawasan yang belum terjamah sebelumnya, seperti hutan belantara yang menyelimuti Norwegia. Mau tidak mau Kaum Werewolf yang dipimpin oleh Alpha masing-masing mulai menyesuaikan diri dengan hidup di tengah masyarakat pada umumnya.
Tidak cukup sulit bagi Werewolf untuk terjun ke dunia manusia, mereka bahkan melakukan kegiatan ekonomi untuk memperoleh penghasilan agar bisa berhubungan dengan baik dengan manusia. Bahkan turut diam-diam dengan cara berbaur dalam kegiatan sosial jika ada manusia yang membutuhkan bantuan tenaga Werewolf yang tiga kali lebih besar dan kuat dari manusia pada umumnya.
Meskipun begitu Werewolf tetap memisahkan diri dari tempat tinggalnya. Semacam ada perisai yang membuat mata manusia awam sulit melihat kediaman Kaum Werewolf, kecuali sedang bulan purnama.
Yang menjadi perbedaan utama adalah pada saat bulan purnama, maka Werewolf akan berubah secara fisik dengan insting liar yang menggebu. Hasrat menyantap daging segar kemudian membuat mata Werewolf akan menyala merah ketika melihat daging yang empuk dan masih teraliri oleh darah.
"Aku telah menemukan putrimu?" ujar Yagur kepada Rudo yang telah dirantai di sebuah tebing dengan kedua tangan direntangkan, begitu pula kedua kaki pria itu.
Rudo yang dipakaikan penutup mata hanya bisa menangis. "Kumohon lepaskan dia," melasnya dengan pilu.
Yagur menampar kecil wajah Rudo. "Aku … juga mendapatkan penyihir itu."
"Apa? Dia bukanlah seperti itu!"
Yagur mendengus pelan. "Kau heboh menceritakan tentang Jerman yang menyerah kepada pedagang lainnya dan menurutmu itu telah dikatakan oleh seorang wanita. Lalu kau ingin menyangkalnya?"
"Dia berasal dari masa depan."
Yagur tertawa keras. "Apa? Kau mencoba menipuku?" Ia kemudian meninju bagian perut Rudo, hingga pria itu hampir terjatuh.
"Tanyakan lah langsung padanya, tapi jangan menyakiti putriku," ringis Rudo memohon. "Bahkan pertama kali aku bertemu dengannya, dia tidak memakai bahasa Norwegia."
Ucapan Rudo membuat Yagur terdiam sesaat. Ia kemudian meminta Eslor--Beta dalam kawanan yang dipimpinnya untuk mengawasi Rudo. Sedangkan Yagur berjalan menuju gua di mana Megan dan Ann kini dirantai.
Begitu sampai di sana, Werewolf yang memegang obor langsung mendekat dan membeei hormat kepada Yagur. Mereka lalu mengikuti Yagur untuk masuk ke dalam gua, di mana Megan dan Ann masih sebelum sadarkan diri.
"Bawalah penyihir itu ke tempatku," ujar Yagur menunjuk Megan. Sejak awal melihat kedua perempuan itu, ia langsung bisa melihat perbedaan penampilan yang biasanya dilihatnya pada wanita di Norwegia dan Megan menunjukkan gaya yang berbeda.
Salah seorang Werewolf kemudian menggendong Megan yang lemas tak berdaya seperti karung besar dan mengikuti Yagur yang memasuki sebuah kastil.
Werewolf yang membawa Megan kemudian sedikit terkejut, menyadari bahwa Yagur berjalan menuju kamar tidur, bukan ruangan santap yang biasanya diperintahkan oleh Werewolf bawahannya untuk membawa sang mangsa.
Tepat setelah Werewolf berada di depan pintu, Yagur mengambil alih tubuh Megan. "Buang jauh tubuh pria pedagang tersebut beserta putrinya ke atas perahu." Ia masih menggendong tubuh Megan, tanpa sadar adanya sepasang mata yang menatap Sang Alpha dati sudut ruangan.
"Apakah aku harus membunuh mereka?"
Yagur terdiam sesaat. "Tidak, cukup patahkan salah satu kaki pria itu agar putrinya tidak akan sibuk mencari wanita ini," perintahnya dengan nada santai, seolah mematahkan kaki seseorang sama halnya dengan mematahkan ranting kayu.
"Baiklah Tuan."
Yagur mulai berbalik badan dan merebahkan tubuh Megan di atas tempat tidurnya yang terlihat kukuh dan memiliki ukuran yang besar. Ia melepas penutup dahi Megan dengan cukup kasar, namun tidak sampai bisa membangunkan perempuan itu.
"Apa maksudmu membawa penyihir itu ke sini?" tanya pemilik sepasang mata yang keluar dari tirai.
Yagur melirik seorang wanita yang berjalan mendekatinya. Wanita itu selayaknya manusia biasa, tetapi telah ditakdirkan menjadi Sang Luna untuknya. Setidaknya ia masih mempercayai dan menginginkan Mate-nya hingga beberapa bulan yang lalu.
"Kenapa? Kau keberatan?" tanya Yagur menatap tajam Meera--Sang Luna.
Meera menggeram. "Ini kamar kita yang hanya boleh dimasuki oleh aku dan kau."
Yagur beralih memandang Megan. Ia tidak meragukan wajah cantik perempuan itu, tetapi bukan itu yang membuatnya membawa perempuan itu ke sana.
"Dia adalah penyihir yang mungkin menjadi solusi atas permasalahanku." Yagur menyeringai kepada Meera dengan tatapan menghina.
"Apa?"
"Ini adalah kutukan bagimu yang tidak bisa melahirkan keturunan dan aku harus menanggungnya bersamamu," balas Yagur dingin.
"Lalu apa yang akan kau lakukan dengan wanita itu?" tanya Meera waswas sambil menatap Megan. Ia sangat tahu konsekuensi jika dirinya tidak lagi menjadi Mate dari Sang Alpha, maka dirinya akan dibunuh, karena telah mengetahui rahasia Kaum Werewolf.
"Mengambil bagian terpenting dari tubuhnya. Ketika bulan meneteskan darah."
◇◇◇
Megan menggeliat dalam pejamnya. Ketika kesadarannya sudah pulih sepenuhnya, ia segera membuka kedua matanya.
Megan terkejut begitu mendapati tubuhnya berada di atas tempat tidur dan melihat menoleh ke sekitar ia menyadari bahwa itu sebuah kamar. Namun siluet tubuh di balik jendela membuat matanya menyipit.
"Kau tertidur dengan nyaman," suara berat laki-laki menyadarkan Megan yang membuat perempuan itu mengubah posisi menjadi terduduk.
"Siapa kau?" tanya Megan mulai cemas. "Di mana Ann?"
"Dia sudah pergi bersama pedagang pria itu," jawab Yagur membalik tubuhnya sehingga Megan kini bisa melihatnya. Melihat wujud Yagur layaknya manusia.
"Lalu kenapa aku bisa di sini?"
Yagur tidak langsung menjawab pertanyaan Megan. Ia lalu mendekat tempat tidur yang membuat Megan memundurkan tubuhnya secara spontan.
"Karena kau seorang penyihir. Meramalkan masa depan … tentang perang dunia kedua yang berakhir," jawab Yagur dengan tersenyum miring.
"Aku tidak meramalkannya."
"Lalu kau akan bilang seperti pedagang pria itu bahwa kau berasal dari masa depan? Kau pikir aku sebodoh itu?" Yagur mendekati Megan dengan perlahan. Menuntut jawaban dan penjelasan.
Megan terdiam. Ia mengakui bahwa ucapan seperti itu terdengar tidak masuk akal. "Lalu apa yang kau inginkan?"
Yagur yang seolah mengendus Megan, menjadikan perempuan itu mulai ketakutan bahkan bergidik ngeri. Megan bisa melihat sorot mata pria itu seolah ingin menerkamnya saat ini.
Air mata Megan mulai keluar kala telapak tangan pria itu diletakkan di d**a kirinya. Namun ia seolah mematung, karena terlalu takut dan terkejut.
Yagur pun bisa merasakan detak jantung Megan yang cepat. Ia tersenyum menyeringai, menikmati raut wajah ketakutan perempuan itu, namun sesuatu membuatnya penasaran adalah aroma dari Megan yang seolah menyihirnya.
"Apakah semua penyihir memakai mantra yang membuat aroma tubuhnya menjadi candu?" Yagur yang awalnya ingin mencakar wajah Megan malah membelai wajah perempuan itu.
"Aku bukan penyihir," seru Megan lemah dengan air mata yang terus mengalir.
"Kita akan lihat ketika bulan meneteskan darah, jantung seorang penyihir berwarna biru ketika dadanya dibelah," balas Yagur lalu tertawa keras.
Megan pun mulai tahu apa yang diinginkan pria di depannya itu. Bahwa pria itu menginginkan jantungnya. Ia pun mulai berpikir keras bahwa dirinya mungkin seperti tumbal untuk ritual sekte tertentu. Tanpa mengetahui kebenaran yang sebenarnya.
♡♡♡