Kaki Megan terus mengayuh bersama Ann hingga sampai pada sebuah desa terakhir. Mereka berhenti setelah Anna mengatakan bahwa rute mereka akan terjal dan sulit dilalui oleh sepeda. Oleh karena itu, keduanya menitipkan sepeda mereka kepada salah satu pedagang yang masih rekan bisnis Rudo.
Sebelum Megan dan Ann meninggalkan rumah pedagang tersebut. Keduanya diberi penutup kepala pada bagian dahi yang kononnya sebagai pelindung dari serangan hewan buas. Meski Megan tidak terlalu mempercayainya, namun ia tetap memakainya sebagai rasa hormat dan terima kasih.
"Matahari sebentar lagi akan tenggelam … dan di depan hanyalah hutan belantara," ujar Ann menoleh memandang Megan yang tampak mengerjapkan matanya sambil menarik napas dalam.
Megan memakai sebuah tas di belakang punggungnya, sama seperti Ann. Tas yang terbuat dari kain yang dirajut berisi jubah penghalau dinginnya malam atau sewaktu-waktu hujan, makanan dan minuman serta korek api untuk menghangatkan tubuh setelah memungut ranting serta senter yang memiliki baterai terbatas.
Megan dan Ann berdiri pada sebuah ujung jembatan yang terbuat dari kayu. Sebuah sungai kecil yang menjadi tanda terakhir kawasan.
"Ayo kita pergi menjemput Rudo," ujar Megan menggenggam tangan Ann berjalan di atas jembatan. Ia tahu bahwa keduanya tidak tahu apa yang akan mereka hadapi, tetapi dirinya juga sadar bahwa tidak ada gunanya meminta bantuan.
Jerman baru saja kalah dari sekutu. Para pasukan keamanan sibuk dengan revolusi yang sebentar lagi terjadi dan saat ini Megan harus membantu Ann menemukan Rudo.
Megan mencoba menanamkan dalam pikirannya bahwa perjalanannya kali ini adalah petualangan yang sedikit lebih berat dan menantang dari kegiatan pramuka yang dulu dilakukannya bersama sahabat Thomas yang seorang tentara.
Ini bukan pertama kalinya Megan menelusuri hutan belantara, tetapi pada waktu itu ia banyak bergantung pada Thomas dan beberapa peralatan yang sudah tentu canggih. Sebuah GPS agar dirinya bisa ditemukan kala mencari ranting kayu untuk api unggun, walkie talkie untuk saling berkomunikasi ketika sahabat Thomas menangkap ikan di sungai dan kamera analog untuk mengabadikan momen.
Namun Megan sadar bahwa semua itu tidak dapat dilakukannya saat ini. Ia bahkan hanya berharap bahwa sore tidak akan segera berganti dengan malam.
"Sudah sejauh mana kita?" tanya Megan melirik Ann yang membaca peta manual. Jika ia berada di tahun 2010 sekarang, maka dirinya tanpa ragu akan membuka google maps, namun sekali lagi keadaannya berbeda.
Ann berhenti melangkah, membuat Megan melakukan hal yang sama. "Kurasa kita sudah berada di sini," ujarnya menunjuk salah satu bagian peta dan memperlihatkannya kepada Megan. Ia memang bisa membaca peta, sebab Rudo sering mengajarinya dan mempraktekknya bersama ketika Rudo membawanya pergi berdagang ke tempat lain.
Jalanan yang dilalui semakin kasar dan penuh bebatuan dan ketika petang mulai menyingsing, Anna menyarankan Megan untuk berhenti dan beristirahat.
"Kita hanya perlu terus menelusuri jalan dan tidak sampai masuk ke hutan," ujar Ann duduk pada sebuah batu.
Jalan yang dimaksud Ann adalah sebuah kawasan memanjang yang sempit tanpa ditumbuhi pepohonan. Biasa akan dilalui kereta kuda yang membawa barang atau pedagang lain yang berjalan kaki dan bersepeda.
Megan mengangguk pelan dan mulai mengumpulkan kayu kecil dan ranting untuk membakar api unggun. Ia mematikan senter untuk menghemat baterainya.
"Bulan purnama," gumam Megan merasa bersyukur dengan sinar rembulan yang ditemani oleh bintang berkerlap-kerlip.
Jika pandangan mata Megan menatap kekaguman langit yang seolah tamoak terang, maka Ann malah menunjukkan raut wajah ketakutan bercampur sedih.
"Bulan purnama adalah waktu di mana serigala akan keluar untuk berburu," ujar Ann menatap bulan yang tampak begitu dekat dengan bumi.
"Jangan khawatir. Kita akan menemukan Rudo," ujar Megan memegang tangan Ann. "Aku dulu pernah begitu kebingungan dan takut ketika kehilangan komunikasi dengan Ayahku yang pergi ke medan peperangan melawan pemberontak. Rasanya … harus menyiapkan hati untuk kehilangannya, tapi dia kembali dengan senyuman lebar."
Ucapan Megan membuat Ann tersenyum dan berusaha kuat.
"Kau merindukan rumah dan Ayahmu?" tanya Ann menatap lekat Megan.
"Selalu."
Setelah beristirahat satu jam, keduanya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dengan memakai jubah untuk menghalau masuknya angin malam yang akan menusuk kulit mereka dengan rasa dingin yang tajam.
Jalanan yang terjal membuat sebelah sisi berupa tebing, sedangkan sisi lainnya pepohonan yang mencoba menutupi celah jurang yang bisa membinasakan Megan dan Ann jika salah langkah.
Namun ketika akan sampai di sebuah dataran tinggi, pada ujung jalan setapak terdapat seekor serigala besar yang tampak jelas pada mata Megan dan Ann, karena bantuan cahaya bulan.
Kedua perempuan itu terpaku di tempat melihat serigala besar yang bahkan Ann belum pernah melihat ukuran sebesar itu. Sedangkan Megan mengingat bentuk serigala tersebut sama saat dirinya mengunjungi hutan jazmore.
◇◇◇
Pada tempat yang lain seorang laki-laki berdiri dengan tegap dan bertelanjang d**a. Rahangnya yang keras, ditumbuhi oleh beberapa cambang yang melebat, begitupula bagian d**a dan punggung yang ditumbuhi beberapa bulu, meksi tidak lebat. Bagian telinganya sedikit runcing dengan sorot mata tajam yang memerah kala menatap bulan purnama. Ketika laki-laki itu menyeringai, taringnya terlihat begitu tajam seperti cakarnya. Meski kuku yang bercakar itu tidak lebih panjang dari jari tangannya. Perubahan yang lumrah bagi seorang Werewolf, ketika bulan purnama terjadi.
"Tuan, mereka sudah berada dekat Movaro," ujar Perol memberi hormat kepada Eden yang berdiri di ujung tebing yang menjulang tinggi.
Eden mengulum senyum tipis. "Mereka cukup baik tidak tersesat." Ia membelakangi Sang Beta yang memang datang bersamanya untuk melihat tamu dari Yagur tersebut.
"Jadi apa yang akan dilakukan selanjutnya?" tanya Perol yang juga bertelanjang d**a menunggu perintah. "Ozo … dia berkeliaran di sekitar kedua perempuan itu."
Eden berbalik badan dengan kening berkerut nyaris tak terlihat oleh alisnya yang lebat. "Ozo?" Ia menyerukan nama serigala penjaganya yang besar. Seekor direwolf yang hanya bisa dimiliki oleh seorang Alpha, sedangkan Werewolf lainnya hanya serigala biasa.
"Ayo kita melihat lebih dekat," ujar Eden dengan gerakan gesit yang nyaris mustahil dilihat oleh mata manusia.
Werewolf yang terkenal akan kecepatannya berpindah tempat, terutama kepiawaiannya melompat sana-sini, meskipun itu sebuah pohon tinggi yang menjulang. Seperti yang dilakukan Eden dan Perol saat ini.
Mata Eden yang dapat melihat jelas dalam kegelapan seperti Werewolf lainnya, kini sedang berdiri di atas batang pohon yang besar sambil menunduk. Memandang kedua perempuan yang terlihat kebingungan, sekaligus ketakutan ketika Ozo Sang Direwolf semakin mendekati keduanya.
Namun mata Eden kemudian berfokus pada salah satu perempuan yang membuat indera penciumannya meningkat drastis. Entah mengapa ia bisa menghirup aroma cendana bercampur melati yang belum pernah ditemuinya ketika bertemu dengan manusia.
"Tuan," suara bergetar Perol kemudian memaksa Eden menoleh.
"Ada apa?" tanya Eden datar.
Bukan jawaban suara atau kalimat. Jari petunjuk tangan Perol menunjuk bagian dahi Sang Alpha. "Tanda emas!" serunya girang.
Eden tercengang beberapa saat. Ia kemudian beralih menatap kedua perempuan yang kini mencoba mengusir Ozo dengan lemparan batu. Ia pun teringat bahwa tanda sinar emas pada dahi bagian tengah Werewolf akan terlihat ketika berada didekat Mate-nya. Namun dirinya tidak dapat memastikan dari kedua perempuan itu, karena tertutupi oleh secarik kain atau mungkin Sang Luna--pasangan seorang Alpha adalah perempuan lain yang juga berada di sekitarnya.
Mata Eden menyipit kala memperhatikan secara saksama salah satu perempuan yang membuatnya teringat akan ingatan ketika mengunjungi hutan Jazmore bersama Ozo beberapa minggu yang lalu. Saat itu hujan dan seorang perempuan bertudung mendekati sebuah sumur, di mana Ozo sering bermain di sana.
"Ternyata dia," gumam Eden membuat Perol yang kini mengernyitkan dahi.
"Tuan Eden?"
Dalam satu siulan panjang, Eden berhasil membuat Ozo mundur dan meninggalkan kedua perempuan itu.
Namun ingatan Megan yang tajam, kembali mengingat siulan yang dulu juga pernah didengarnya di hutan Jazmore. Ia kemudian mendongak ke atas, namun karena pohon yang terlalu lebat dan tinggi menjulang, membuat penglihatannya tidak jelas.
Megan yang melihat sosok serigala besar sudah tidak ada, berinisiatif menarik tangan Ann lalu berlari melanjutkan perjalanan mereka.
Tanpa sadar bahwa sepasang mata yang merah terus mengawasi setiap gerakan Megan. Di mana perempuan itu bisa mendengar seolah semilir angin menerobos ranting dan dedaunan, alih-alih berpikir bahwa seseorang lah yang melompat ke sana- ke mari tanpa takut terjatuh.
Sampailah kepada Megan dan Anna pada bagian atas tebing, mereka kemudian melihat ke bawah dari balik tebing. Sebuah cahaya api yang berkobar dari obor-obor yang dinyalakan. Tanda sebuah kehidupan pemukiman yang setahu Ann tidak ada pada daerah itu. Namun untuk turun, keduanya melewati jalanan yang terjal lagi.
Baik Megan maupun Ann menoleh satu sama lain dan dengan keteguhan serta keberanian hati untuk menolong Rudo, keduanya kembali melangkah maju.
Eden menahan napasnya sejenak ketika punggung Megan semakin hilang dalam langkah perempuan itu untuk turun ke daerah Movaro. Matanya lalu melirik ke arah bulan, kilatan merah jelas terlihat dengan sinar emas pada dahinya mulai redup. Tanda bahwa Sang Luna mulai berjalan jauh darinya dan dirinya tidak bisa sembarangan memasuki daerah Movaro, karena aromanya yang dapat diendus oleh kawanan pack dari Yagur.
♡♡♡