Seberapa besar pun hatinya untuk memahami dan menyesuaikan diri, nyatanya Megan masih terpaku akan apa yang terjadi padanya. Hari- harinya tak ubahnya hanya mencoba menjadi gadis seperti Ann yang melakukan pekerjaan rumah, sambil sesekali mengunjungi perkebunan atau pelabuhan. Ia merindukan pagi hari di mana hal yang dilakukannya pertama kali adalah mengecek timeline pada setiap akun media sosial yang ia miliki.
Satu-satunya hal mencolok yang diperhatikan Megan adalah kegelisahan Rudo setiap pulang ke rumah. Biasanya pria itu hanya akan membaca beberapa buku yang dipinjam oleh Ann dari perpustakaan setempat sambil menikmati seduhan kopi tanpa gula. Namun kali ini ia bisa melihat Rudo yang seolah duduk termenung dengan pandangan menunduk.
Megan mencoba mendekati pria tersebut. Bagaimanapun ia berrutang budi banyak kepada Rudo dan Ann yang siap menampungnya. Ia tidak membayangkan jika berada di tempat lain, tidak pasti akan sebaik ia berada pada rumah Rudo.
Bokong Megan ikut duduk pada bangku kayu di ruang tamu, di mana Rudo berada saat ini. Kebetulan ia baru saja disuruh Ann menunggu di luar dapur, setelah membuat panekuk perempuan itu menjadi gosong.
‘’Apakah ada masalah dengan pengiriman barang?’’ Megan memulai dengan membahas tentang usaha Rudo.
Menyadari kedatangan Megan membuat Rudo menoleh sekilas memandang perempuan itu.
‘’Tidak,’’ sanggah Rudo cepat. ‘’Aku mendengar bahwa pihak Jerman telah menyerah pada sekutu.’’
Megan terlonjak dari tempat duduknya. Ia menunjukkan raut wajah bahagia, padahal seharusnya tidak pelu, karena hal itu memang telah diketahuinya enam puluh lima tahun di mana dirinya berada.
‘’Lihatlah apa yang kubilang!’’ megan tidak menyangka bahwa sekarang sudah memasuki bulan Mei.
Rudo sedikit mendongak menatap Megan yang maish berdiri sambil tersenyum lebar. ‘’Berarti kau … benar-benar berasal dari masa depan?’’
Megan melipat tangan di depan d**a. ‘’Wah jadi selama ini kau meragukan setiap ucapanku,’’ ucapnya mencibir.
Rudo mengangguk pelan. ‘’Bagaimanapun itu tidak masuk akal bagiku … lalu apa setelahnya?’’
Suara desisan keluar dari bibir Megan. Ia kembali duduk smabil berpikir dan mengingat kembali sejarah. ‘’Setelah kekalahan Jerman, perang dunia kedua berakhir, lalu berlanjut perang dingin kalau tidak salah.’’
‘’Perang dingin?’’ Suara Rudo nyaris tidak terdengar. Seolah itu merupakan periode masa menderita yang selanjutnya.
Megan tertawa pelan. ‘’Bukan lagi perang seperti perang dunia, tetapi lebih kepada beberapa negara berlomba-lomba memperkuat pertahanan dan kekuatan militer mereka. Semacam gencatan senjata, yang sangat dipengaruhi oleh aspek politik.’’
‘’Dan setelah itu dunia mulai memasuki kemajuan?’’
Megan menjentikkan jari, membenarkan ucapan Rudo. ‘’Ya, setidaknya mulai tahun 2000, dunia benar-benar mengalami kemajuan besar. Terutama di bidang teknologi.’’
Pertanyaan demi pertanyaan mulai digulirkan oleh Rudo yang semkain tertarik akan cerita Megan, hingga Ann memanggil keduanya untuk makan malam.
Hari berlanjut dengan musim semi sudah hampir mencapai akhir masanya tahun ini, dan akan berganti dengan musim panas. Jika kemarin Rudo di mata Megan cukup gelisah, namun saat ini ia benar-benar bisa melihat bagaimana rasa gugup, gelisah bahkan takut pada mata Rudo.
Pria itu bahkan tidak berselera makan, meski wajahnya lelah setelah bekerja seharian. Ketika Megan mencoba mengorek informasi dari Ann, anak Rudo tersebut juga tidak tahu. Namun satu hal yang menjadi petunjuk kecil bagi Megan adalah Rudo sering mengatakan kepadanya dan Ann agar tidak keluar pada malam hari. Terutama ketika bulan purnama bersinar terang.
Dahi Megan mengernyit pada suatu pagi. Matanya masih terpejam, namun suara tangisan membuat tubuhnya tersentak, hingga terbangun. Ia lalu keluar drai kamar dan mendapati Ann berada di ruang tamu sambil menangis.
‘’Ada apa Ann?’’ tanya Megan terkejut.
Ann tidak menjawab dengan suara, melainkan menyororkan Megan sebuah kertas.
Tangan Megan meraih kertas tersebut. Ia bisa melihat tulisan tangan yang cukup indah di sana, namun isinya benar-benar mengejutkan. Secara singkat ia bisa menyimpulkan bahwa Rudo saat ini disekap oleh seseorang dan tidak ada yang boleh tahu selain dirinya dan Ann.
‘’Movaro?’’ baca Megan tentang nama tempat yang ditunjukkan dalam surat tersebut.
‘’Itu adalah daerah terpencil yang berada pada perbatasan Norwegia,’’ ucap Ann menjelaskan.
‘’Apakah itu jauh dari sini?’’ tanya Megan dengan pikiran mulai kacau. Ia belum mengenal daerah Dasfor secara baik dan Rudo sekarang dalam bahaya!
Ann menimang-nimang jarak dan waktu yang dibutuhkan untuk sampai di Movaro. ‘’Sekitar enam jam dari sini dengan bersepeda.’’
Megan menarik napas panjang. ‘’Aku mengerti. Ayo kita bersiap ke sana. Bukankah yang mengirimnya meminta kita langsung ke sana?’’
Ann menatap ragu Megan. Namun ia mencoba menguatkan dirinya, mengingat ayahnya kini mungkin dalam bahaya. ‘’Baiklah, kita harus sampai sebelum matahari tenggelam, karena akan melewati hutan yang akan sangat gelap ketika malam hari.’’
Megan mengangguk patuh. Ia sebelumnya sudah pernah diajak Thomas berkemah, namun hal yang akan dilaluinya akan sangat berbeda. Hutan pada tahun 1945, mana lagi yang lebih menyeramkan?
*
Pada sebuah menara kastil yang menjulang tinggi, tampak seorang pria berdiri dengan perkasa memandang matahari yang mulai kembali ke peraduan. Matanya memancarkan aura dingin yang bisa seolah membuat orang yang ditatapnya akan membeku. Wajahnya bagai terpahat layaknya patung, memancarkan keindahan, keanggunan dan ketampanan yang bisa menyihir setiap wanita yang melihatnya.
Suara derap sepatu dengan alas yang keras terdengar, membuat pria yang menatap keluar itu berbalik badan.
‘’Tuan, sepertinya Yagur memiliki tawanan,’’ ujar laki-laki yang menaiki puluhan anak tangga untuk sampai pada puncak menara kastil. Ia menunduk sekilas memberi hormat kepada pria di depannya.
Pria yang menunjukkan aura kebangsawanan itu menyeringai kecil. ‘’Untuk dijadikan santapan malam ini?’’ Ia berjalan mendekati pria di depannya. ‘’Kau pergi terlalu jauh, Herol.’’
Herol mengulum senyum kala pria yang dipanggilnya tuan itu menepuk bahunya.
‘’Bukan santapan. Kurasa dia mencoba memancing orang lain melalui tawanannya itu,’’ jawab Herol dengan hasil pantauannya. ‘’Salah satu Gamma dari pack yang dipimpin Yagur tampak memasuki daerah Dasfor untuk mengantar sebuah surat.’’
‘’Yagur selalu merasa dirinya seorang Alpha,’’ cecar pria yang posisiya sebagai Alpha sudah diragukan lagi.
Herol ikut tersenyum miring. Bagaimanapun ia sebagai Gamma--kedudukan ketiga dalam Werewolf dari pack yang dipimpin pria di hadapannya kini sangat tahu sejarah hubungan tuannya itu dengan Yagur.
‘’Lalu apa yang akan kita lakukan, Tuan Eden?’’ tanyak Herol menyebut nama tuannya yang bernama Eden. Pemimpin yang menguasai hampir seluruh kawasan hutan bagian utara di Norwegia, terutama pada bagian hutan Jazmore.
Eden menarik napas sejenak. ‘’Kita tidak berhak mencampuri urusan dari pack yang lainnya, tetapi … jika kelakuannya mengusik manusia yang bisa mengungkap jati diri kaum kita, maka kita harus bertindak.’’ Ia sangat paham posisinya sebagai seorang Alpha yang harus sebisa mungkin menjaga rahasia kaumnya yang merupakan Werewolf agar tetap kasat mata dari jangkauan manusia.
‘’Lagipula kenapa Yagur sampai menawan orang tersebut?’’ tanya Eden merasa penasaran. Ia selama ini hanya mendengar tawanan hanya sesama dari Bangsa Werewolf, entah itu karena terkait kekuasaan wilayah atau pasangan biasa disebut Mate.
Herol ragu mengatakannya, tetapi sorot mata Eden yang terus mendesak membuatnya lalu berkata, ‘’Aku mendengar Guards berbicara bahwa Yagur telah menemukan penyihir yang bisa meramalkan masa depan.’’ Guards adalah pejaga bagi anggota kerajaan dan bangsawan dari Bangsa Werewolf.
‘’Penyihir? Bukankah semua penyihir telah lenyap,’’ balas Eden sangat mengetahui bahwa selain kaumnya, wilayah Skandinavia bahkan Eropa juga memiliki Werewolf dan penyihir.
Sejarah antara kedua kaum tersebut cukup kelam satu sama lain. Di mana Werewolf biasanya akan memakan bagian organ hati penyihir untuk memperoleh kekuatan tertentu dan mempersembahkan organ jantung kepada Moon Goddness agar keturunan Sang Werewolf memiliki kemasyuran abadi. Sejak ratusan bahkan ribuan tahun perburuan akan penyihir selalu terjadi, hingga saat ini keberadaan penyihir mulai tergerus drastis. Penyihir adalah manusia yang diberkati kekuatan sihir sejak lahir dan sifatnya acak.
‘’Penyihir tersebut bisa meramalkan masa depan. Tawanan tersebut bercerita kepada rekannya, lalu terdengar ke telinga Yagur, di mana tawanan tersebut bertemu dengan wanita yang dua bulan lalu mengatakan bahwa Jerman akan kalah dan itu terbukti.’’
Mata Eden kini menyipit. Ia mungkin sering mendengar penyihir bisa meramalkan masa depan seseorang, namun itu sebatas kehidupan pribadi seseorang dan memerlukan ritual khusus. Namun baru kali ini ia mendengar tentang ramalan sebuah perang dunia.
‘’Penyihir wanita?’’
Herol mengangguk membenarkan. ‘’Oh satu lagi.’’ Ia lalu mengingat hal lainnya. ‘’Tawanan tersebut bercerita bahwa sebenarnya wanita itu berasal dari daerah di Eropa.’’
‘’Menurutmu wanita itu menuju Movaro?’’ Eden kini lebih tertarik tentang penyihir wanita tersebut.
Senyum tersungging pada bibir Herol. ‘’Aku telah mengirim para Delta untuk mengawasi jalan menuju Movaro.’’ Delta adalah sebutan Bangsa Werewolf dengan tingkatan paling bawah.
‘’Bagus. Aku akan ke sana bersama Perol,’’ balas Eden menyebut Perol yang seorang Beta, kakak dari Herol. Ia lalu berjalan menuruni tangga dengan kecepatan tinggi.
Kening Herol berkerut. Ia masih berdiam diri di tempatnya. Heran dengan sikap antusias Eden yang jarang pria itu tunjukkan. Terlebih lagi ini tentang wanita. Eden yang terkenal akan kekuasaan dan kekuatannya pada seantero pack yang berada di daerah Skandanavia juga terkenal sebagai Apha paling kesepian, karena belum bertemu dengan Sang Luna.
Padahal Moon Goddness selalu memberi setiap Alpha petunjuk tentang keberadaan pasangan abadi pemimpin pack Werewolf tersebut pada masa remaja Sang Alpha. Petunjuk itu berupa tanda pada dahi setiap Werewolf yang akan bersinar apabila berada di dekat Mate-nya. Hanya berlaku pada tingkatan Gamma dengan warna biru, Beta dengan warna hijau dan Alpha dengan warna emas. Begitu pula Sang Mate akan memancarkan sinar serupa.
Belum menemukan Sang Luna sebagai Mate-nya membuat Eden selalu dalam ancaman Alpha lainnya, demi merebut kekuasaan Eden dan menyatakan kekuatan absolut apabila berhasil mengalahkan Eden. Salah satunya adalah Yagur, Alpha yang wilayahnya paling dekat dengan Eden.
***