3. Direwolf and Folklore

1413 Kata
Megan yang telah melewati kehidupannya di Norwegia selama tiga hari hanya bisa menarik napas panjang. Itu tidak akan masalah jika dirinya pada tahun 2010, tetapi nyatanya dirinya malah terjebak pada tahun 1945. Kini Megan benar-benar paham bahwa dirinya tidak lah sedang bermimpi atau berhalusinasi, melainkan kehidupannya benar-benar terlempar ke masa lalu. Selama masa menerima kenyataan tersebut, ia lebih memilih menghabiskan waktu di rumah Ann. Namun hari ini berbeda, Megan memutuskan berangkat bersama dengan Ann dan Rudo menuju salah satu pasar yang menjual berbagai kebutuhan pangan.  Pasar tersebut sebagian besar menjual gandum, hasil tangkapan laut dan buah-buahan. Kebetulan musim semi membuat kebun yang berada pada daratan tinggi menjadi subur. Megan bahkan meminjam gaun milik Ann yang panjangnya berada di bawah lutut. Namun ketika dirinya memakainya, ukuran pinggang gaun tersebut cukup sempit. Ia biasanya melihat gaun seperti itu hanya pada film Little Women atau Jane Eyre. Sangat klasik, namun juga anggun. Ann bahkan menata rambut Megan dan mengikatnya dengan sebuah pita, membuat Megan seketika seperti gadis yang benar-benar hidup pada tahun 1945. Megan tidak terlalu banyak bicara ketika berada di pasar, karena Ann sangat andal dalam urusan berbelanja. Namun matanya menangkap sekumpulan anak laki-laki yang tampak menatap ke arahnya. "Siapa mereka?" tanya Megan membuat Ann mengikuti arah pandangnya. Anna segera menarik tangan Megan menuju tempat lain, yaitu bagian yang menjual makanan yang terlihat ramai. "Mereka adalah anak pejabat di daerah ini dan suka berbuat seenaknya," ujar Ann dalam Bahasa Norsk. Ia tentu memahami bahwa keberadaan Megan yang terlihat asing di daerah tersebut.  Bagaimanapun Dasford bukanlah wilayah yang luas dan padat penduduk, sehingga beberapa mata yang jeli mungkin menangkap sosok Megan yang terlihat janggal berada di sana. Megan menyipitkan matanya kala tangan Ann terus menggenggamnya menjauh dari pasar. "Bahkan zaman ini yang berkuasa akan selalu kemungkinan menyalahgunakan kekuasaannya," gumamnya pelan. "Penjajahan membuat orang berusaha bertahan sendiri. Salah satu pemimpin yang biasa kami kenal bijaksana dan bertanggung jawab, nyatanya menyerah ketika keluarganya dimasukkan ke dalam penjara," ujar Ann menceritakan sekelumit kisah akan penjajahan yang terjadi di wilayah Dasford yang masih merupakan daerah Negara Norwegia. Megan menyimak dengan baik. Ia selama ini hanya mengetahui kisah penjajahan suatu bangsa kepada bangsa lain melalui buku, film dokumenter atau cerita Thomas. "Penjara, itu tidaklah semengerikan bagaimana genosida yang terjadi di tempat lain," balas Megan sambil menghela napas panjang. Ia mengingat tentang peristiwa Holokaus yang terkenal dan menewaskan jutaan orang. "Genosida?" ulang Ann yang tampaknya tidak paham atau belum familier dengan istilah tersebut. Megan yang menyadarinya, terkekeh kecil. "Bisa dikatakan pembunuhan massal." Ann menganggukkan kepalanya mengerti. Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, ia menanyakan banyak hal kepada Megan. Utamanya yang terjadi pada masa depan. Megan menyadari satu hal, bahwa selama ia berada di rumah Ann, dirinya merasa bahwa hari berlalu dengan cepat. Apa lagi kalau bukan kegiatan Ann yang selalu menarik perhatiannya, mulai dari cara memasak dengan mengumpulkan kayu bakar, peralatan makan yang didominasi dari bahan kayu atau porselen serta seperti sore hari sekarang. Di mana Ann sibuk menanam biji sayur dan buah di pekarangan belakang rumahnya. Hal-hal seperti itu tidak akan pernah ditemukan atau dilihat Megan jika berada pada tahun 2010 di London. Ia hidup dalam kehidupan modern dengan segala permasalahan metropolitan yang ada. Telah tinggal selama beberapa minggu membuat Megan perlahan mengingat jalan-jalan yang dilaluinya di Dasford. Apalagi daerah itu memang tidak terlalu luas, hanya saja pepohonan yang rimbun ditambah tebing curam membuat Megan harus ekstra hati-hati ketika berjalan sendirian. Segala hal yang ada di Dasford tahun 1945 selalu membuat Megan takjub, kecuali pada saat malam hari. Ia selalu mendengar lolongan serigala dan entah mengapa pada jendela kamar Ann yang besar, dirinya seolah merasakan bahwa ada yang diam-diam memperhatikannya. ◇◇◇ Hari ini Megan memutuskan kembali ke tempat di mana ia awalnya tersadar. Kebetulan Ann sedang pergi menemani Rudo untuk mengambil barang-barang di pelabuhan. Rudo yang bekerja sebagai pedagang membuat pria itu selalu berkeliling di wilayah Norwegia. Megan memutuskan memakai mantel bulu berwarna cokelat yang memiliki tudung, apalagi melihat langit sedang mendung. Ia berjalan dengan pelan menelusuri jalanan yang sama sekali belum diaspal, sehingga kerikil masih begitu terasa saat menginjaknya. Tarikan napas selalu dilakukan Megan kala mulai memasuki hutan Jazmore. Ia tentu mengingat bahwa Rudo pernah mengatakan bahwa hutan tersebut terlarang, namun dirinya yang datang ke sana pada tahun 2010 tidak menemukan keanehan. Salah satu hal yang membuatnya ingin mendatangi sumur tempatnya ditemukan adalah tas yang dipakainya, tidak terdapat padanya. Padahal Megan merasa bahwa tas itu menyelempang pada tubuhnya dengan erat, sehingga walaupun terjatuh ke dalam sumur maka sulit terlepas darinya. Ia merasa tas itu begitu berharga, bukan karena isi dompet atau ponselnya, tetapi catatan harian Helena berada di dalam. Gerimis mulai turun kala Megan merasa mulai semakin dekat. Pepohonan juga semakin rimbun dengan dataran tanah yang tidak merata. Matanya menjadi sedikit terbelalak kala mulai melihat sumur tersebut. Ia dengan kakinya melangkah semakin cepat, namun tiba-tiba dirinya berhenti. Mulut Megan sedikit terbuka ketika melihat seekor serigala mendekati sumur tersebut. Bukan serigala biasa yang sering dilihatnya pada chanel NatGeo Wild, melainkan seekor serigala besar.  Tubuh Megan terasa bergetar ketakutan, apalagi serigala tersebut memutar tubuhnya menghadapnya. Ia diam terpatung di tempat kala matanya bertemu pandangan dengan mata keemasan milik serigala tersebut. Bulu putih keabu-abuan terlihat tajam, namun juga memancarkan aura tangguh dan anggun dapat dilihat oleh Megan. Perlahan rasa ketakutan wanita itu berubah menjadi rasa takjub. Tiba-tiba suara siulan terdengar dan membuat serigala tersebut beranjak dari dekat sumur. Hal tersebut membuat Megan terkejut, seolag serigala besar tersebut adalah peliharaan seseorang. Kaki Megan spontan berjalan ke arah di mana serigala tersebut pergi, namun ia melihat bahwa hal itu mengarah ke bagian hutan Jazmore yang lebih dalam. Ia tentu masih takut untuk melangkah lebih jauh, apalagi dengan  adanya sosok serigala besar tersebut. Bisa-bisa dirinya lah yang menjadi santapan hewan buas tersebut. Megan mencoba memfokuskan dirinya pada sumur yang berada didekatnya. Namun tidak ada hal yang dicarinya, apalagi sumur terlihat penuh oleh air, ditambah air hujan yang turun. Merasa kecewa dan putus asa membuatnya melangkah akan kembali keluar dari hutan Jazmore.  Akan tetapi begitu Megan berbalik badan sekilas untuk melihat sekali lagi sumur itu, ia seperti melihat sosok manusia yang mengintip di balik sebuah pohon besar yang berada tidak jauh dari sumur. Megan tidak bisa melihat wajah sosok manusia itu, namun satu hal yang pasti. Sosok tersebut adalah seorang pria yang tidak memakai baju yang membuat Megan segera berlari menjauh untuk keluar dari hutan Jazmore. Berbagai pikiran negatif mulai menghantui kepalanya, mulai dari pria yang mungkin orang jahat atau bangsa kanibal yang hidup di hutan. "Megan kau dari mana?" ujar Ann menghampiri Megan yang tubuhnya sudah hampir basah kuyup akibat terkena air hujan. Megan bisa melihat bahwa Ann dan Rudo sudah kembali. Ia mengulum senyum sekilas. "Jalan-jalan dan … mencari tasku," balas Megan berkata jujur. "Apa?" Rudo tampak terkejut mendengarnya. Ia tentu mengerti bahwa yang dimaksud wanita itu adalah baru saja mengunjungi hutan Jazmore, di mana sumur berada. "Kau tidak boleh ke sana. Sangat berbahaya dalam hutan itu," ujar Rudo yang bersikeras. Megan mengangguk pelan. "Benar, di sana aku melihat seekor serigala besar." Rudo dan Ann saling bertukar pandang dengan raut wajah tercengang sekaligus telah memucat. Reaksi dari bapak dan anak itu membuat Megan bingung. "Serigala?" ulang Rudo menunjukkan wajah ketakutan. "Ya, bukankah itu wajar? Hutan menjadi salah satu tempat serigala," balas Megan tidak melihat apa yang perlu ditakutkan dengan adanya serigala di hutan. "Ayah, apakah … mungkin akan terulang kembali?" balas Ann dengan nada putus asa yang semakin membuat Megan bingung. Rudo yang awalnya berdiri, kini mulai terduduk sambil menghela napas. "Purnama sebentar lagi muncul. Kita harus berhati-hati mulai sekarang." "Ada apa sebenarnya?" tanya Megan dengan begitu penasaran. Rudo menatap lekat Megan. "Dulu, ada masa di mana malam begitu menakutkan di Dasford. Suara lolongan serigala yang terdengar akan selalu disertai aroma anyir dan suara teriakan meminta tolong." "Serigala menerkam warga?" Kali ini Ann yang menggeleng pelan. "Jika hanya serigala, satu tembakan peluru akan bisa melumpuhkannya." Alis Megan terangkat. "Lalu itu apa?" "Monster," balas Rudo dengan nada tanpa ragu. Megan menjadi terdiam di tempat. Ia mencerna ucapan Rudo perlahan, setelah mulai menerima bahwa dirinya berada pada masa penjajahan, kini ia juga harus bersiap untuk menghadapi sosok monster. Megan lalu mengingat akan sosok pria yang juga dilihatnya, bukan hanya ketika berada di hutan Jazmore, tetapi malam ketika dirinya pertama kali berada di rumah Ann. "Bagaimana wujud monster tersebut?" tanya Megan membuat Rudo menegak salivanya. "Belum pernah ada yang melihat secara apsti, kecuali para korban yang tubuhnya terkoyak tanpa sisa dan dapat dipastikan telah mati," balas Rudo dengan raut wajah serius. "Namun bukankah rumor mengatakan bahwa monster itu tak ubahnya sosok yang menyerupai manusia yang rupawan? Kecuali beberapa bagian tubuhnya yang berbeda?" tambah Ann dengan pandangan menerawang. Megan ikut menegak salivanya. Jika ia berada di London sekarang dan diceritakan oleh teman-temannya, maka sudah pasti ia akan tertawa keras sekarang. Namun melihat ekspresi Ann dan Rudo dan fakta dirinya berada di Norwegia pada tahun 1945 membuatnya kini bergidik ngeri.  ◇◇◇
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN