1. Keluarga Elisa
"Bun! Kakak berangkat sekolah dulu ya!" teriak seorang gadis berseragam putih abu-abu dari ruang tamu.
"Iya! Hati-hati dijalannya Kak!" sahut seorang wanita paruh baya dari arah dapur.
Gadis berseragam putih-abu itu langsung melesat pergi dari rumahnya. Berjalan kaki menuju halte bus yang berjarak tak jauh dari komplek rumahnya.
Pukul 6.35, bus sudah datang. Gadis itu langsung masuk ke dalam bus. Duduk dikursi pertama, dekat jendela. Sembari mendengarkan musik melalui headsetnya.
Jalanan tak begitu ramai, memudahkan bus itu untuk melaju sedikit lebih cepat. Dan, membuat gadis itu datang ke sekolah lebih cepat pula.
Sekitar 15 menit perjalanan, akhirnya ia sampai disekolah. Masih sepi, karena pukul 7 saja belum. Rata-rata para siswa berangkat pukul 07.05 dan sekarang pukul 06.50, hanya beberapa siswa rajin saja yang terlihat.
"Elisa!" Panggil seseorang.
Gadis yang merasa namanya disebut itu menoleh cepat ke asal suara. Seorang gadis sebaya nya tengah melambaikan tangan pada Elisa.
"Hei! Rani!" panggil Elisa. Gadis itu berlari kecil ke arah si empu yang memanggilnya tadi.
"Wow, rajin banget kamu udah dateng jam segini." puji Elisa, tapi itu terdengar seperti cemoohan.
"Halah alesan, bilang aja lagi ngeledek!" cibir Rani. Ya, ini terasa aneh bagi Elisa. Karena biasanya, Rani itu tipikal orang yang hobi telat.
"Hehe, tau aja ih!" cicit Elisa, lalu mencubit hidung sahabatnya itu.
"Nyenyenye." sahut Rani. Lalu mereka berjalan beriringan menuju kelas.
"Bentar, tumben kamu keliatan Happy?" tanya Rani, penuh curiga.
"Oh, hehe, Aku mau pindah rumah, Ran." tutur Elisa. Sontak ucapannya itu membuat Rani kaget tak percaya.
"Hah!? serius? kok gak bilang-bilang sih!" geram Rani. Bisa-bisanya sahabatnya itu menyembunyikan berita heboh itu dari dirinya.
"Iya, serius, kan kamu ga pernah nanya, makanya aku diem aja!" jelas Elisa. Ada benarnya juga sih, selama ini Rani hanya selalu membahas para cogan yang dilihatnya.
"Tapi ga gitu juga El!" tukas Rani.
"Masih lama kok, 2 hari lagi pindahnya." imbuh Elisa. Rani ini, terlalu heboh!
"Cuma!? Kamu bilang cuma!? heh, 2 hari itu sebentar lagi!" amuk Rani. Sungguh, emosinya tersulut pagi-pagi begini.
"Masih lama ih! udah deh nanti kamu nginep aja sampe aku pindah!" ujar Elisa. Rani ini, ribet sekali!
"Bener ya? huaa kok kamu tega sih ninggalin aku!" Rani merengek seperti anak kecil.
"Apaan sih! geli ih!" Elisa mendorong pelan tubuh Rani agar pelukannya tak terlalu erat.
"Hiks, y-ya lagian kamu ngedadak ngasi tau nya!" ucap Rani disela isak tangis drama-nya.
"Berisik ah! ayo ke kelas!" ajak Elisa.
***
Jam pelajaran telah berlangsung kurang lebih 2 jam. Full matematika hari itu. Membuat para siswa meledakkan pikirannya.
"Baiklah, cukup sampai sini saja. Jangan lupa kerja rumahnya." tutur seorang guru Wanita yang di Iya kan oleh seluruh murid.
"Gila! ngebul kepala gue El!" Rani mengadu pada Elisa. Matematika benar-benar membuatnya meledak.
"Kasian," sahut Elisa. Ia juga pusing, tapi tidak terlalu parah.
Setelah itu, bel istirahat berbunyi. Seluruh siswa penghuni sekolah berhamburan keluar kelas.
"El, serius kamu pindah? ga takut gitu?" tanya Rani disela sela aktivitas memakan mie ayamnya.
"Takut kenapa? Rumah lama kok takut." sahut Elisa dengan entengnya.
"Katanya, Rumah lama itu banyak penghuninya!" ucap Rani dengan raut wajah serius.
Elisa hanya diam, mencerna ucapan sahabatnya itu. Ada sedikit pikiran usil dikepalanya.
"Hah!? Masa sih Ran!? Kamu jangan bikin aku takut deh!" Elisa berbicara seolah dia sangat terkejut dengan ucapan Rani.
"Gue serius El! pasti serem deh!" Rani semakin serius. Kedua remaja itu bertatapan dengan sorot mata serius. Hanya beberapa detik, setelahnya, Elisa tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha! Ada-ada aja kamu Ran! Aku mana percaya yang begituan!" ucap Elisa sambil tertawa.
"Kurang asem! Ternyata kamu cuma becanda!" Rani dibuat kesal lagi oleh sahabatnya ini. Bisa-bisanya dia mempermainkan keseriusan Rani.
"Udah ah terserah!"
***
Setelah selesai belajar disekolah, Elisa pulang ke rumah bersama Rani. Meski wajah Rani masih terlihat kesal.
"Udah marahnya sayang, aku kan becanda." Elisa menggoda Rani. Menyebalkan.
"Idih, geli deh!" cetus Rani. Namun, tetap saja gadis itu tertawa.
"Ayo masuk!" ajak Elisa yang dituruti oleh Rani.
Rumah megah bercat putih itu hanya dihuni oleh keluarga sibuk yang beranggota 5 orang. Elisa, Bunda, Ayah, Kakak dan adiknya.
***
To Be Continued>