Bab 28

1051 Kata

“Tidak masalahkan mengajak dia ke sini? Kita happy fun sama-sama,” kata Jovan. Jenie tidak menjawab sepatah katapun, tatapannya terus terpaku pada pria yang tengah duduk itu. Meski dari jarak beberapa meter, tapi Jenie dapat meliaht manik berwarna Emerald dan hidung mancung serta wajah tampannya. Seketika itu dia mengepalkan tangannya berusaha untuk menahan emosi yang siap dia keluarkan. “Kasihan dia selalu murung sejak kepergian kembaranmu, dan kedua temannya, Ben dan Michel,” sambung Jovan lagi. Kesepian, sepertinya kata-kata itu terdengar begitu memuakkan di telinga Jenie. Dia tahu betul bagaimana perasaan pria itu atas kepergian saudari kembarnya. Tak pernah ada kata kesedihan di dalam benak pria tak punya hati itu. “Ayolah, dia kan sahabatku, Jen,” kata Jovan lagi seolah ingin mem

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN