Tipuan Aksa

1025 Kata
Shena terlihat bimbang dengan ajakan Aksa yang sedikit memaksa, tapi ia juga tidak akan bisa tenang sebelum memenuhi keinginan Pria itu. Hari sudah semakin sore, dan Shena sudah bersiap untuk pulang ke rumah sederhana yang ia sewa. "Shena, apa kau mau pulang bersamaku?" Sebuah pertanyaan muncul dari sosok pria yang entah dari mana datangnya. Shena menghela napasnya panjang saat melihat Aksa sudah masuk ke dalam ruangannya tanpa permisi. Pria itu benar-benar tidak bisa membiarkan dirinya menjadi tenang di rumah sakit ini. Mungkin seharusnya ia meminta keamanan lebih sebagai fasilitas di sana. "Tidak." Shena menjawab tanpa menoleh ke arah sosok pria yang masih berdiri di dekat pintu. Sedangkan Shena, justru memutar bola matanya jengah dengan perilaku Aksa yang sangat kekanakan. "Boleh aku minta alamat rumahmu, biar nanti malam aku bisa langsung jemput saja." Kali ini Shena menghentikan gerakannya seraya menghela napasnya kasar. Wanita itu menoleh ke arah Aksa dengan malas, dan melihat senyuman yang terbit dari bibir pria itu. "Apa kau tidak bisa diam sebentar saja. Apa kau tidak melihat kesibukan ku?" Tanya Shena dengan geram. Ia tidak tahu harus bagaimana agar bisa terlepas dari gangguan pria itu. Apalagi mereka selalu bertemu sapa dan menjadi rekan kerja. Ini benar-benar menyebalkan baginya. "Hm, biar aku bantu. Shena, mau mampir dulu, di restoran tempat kita berkencan waktu itu?" Aksa bertanya sambil membantu Shena membereskan meja kerja wanita itu. Bahkan Aksa tidak tahu malu dengan apa ia katakan saat ini. "Pak Aksa, sudah saya katakan, jika kita tidak pernah bertemu sebelumnya. Jika pak Aksa masih bersikeras juga, saya akan membatalkan rencana kita. Saya tidak peduli dengan tempat-tempat yang anda kunjungi, bersama mantan anda." Kali ini Shena harus berkilah dan mengancam pria itu, agar tidak berlaku seenak jidat seperti itu lagi padanya. Aksa tertunduk lesu saat mendengar penuturan dari wanita yang ada di sampingnya. Wanita itu sangat keras kepala, dan berbeda jauh dengan mantan istrinya lima tahun yang lalu. Karena Shena yang ia tahu adalah, bersifat lembut dan tidak pernah menatap tajam kepada siapa pun, bahkan tidak pernah meninggikan suaranya sedikit pun. "Baik, aku mengerti. Aku minta nomor ponsel mu. Lagi pula, kita kan rekan kerja. Kau belum memberikan itu padaku." Aksa berkata seolah tidak terjadi apa-apa. Pria itu masih bisa tersenyum lembut di hadapan Shena, setelah dibentak tadi. "Hm, sebenarnya kenapa kau meminta ku untuk ikut makan malam bersama keluargamu?" Tanya Shena seraya mengetikan nomor telepon miliknya di ponsel milik Aksa. Jujur saja, ia merasa sangat penasaran dengan hal itu. "Aku ingin membawamu pulang dan bertemu ibu. Aku yakin, jika ibu juga sangat merindukanmu. Aku akan memastikan pada ibu, jika aku bisa membawamu kembali dan menolak semua keinginannya yang tidak masuk akal." Mata Aksa berbinar sambil terus menatap Shena. Ia benar-benar bahagia bisa melihat Shena kembali di depan matanya, meski semua telah berubah, tidak seperti dulu lagi. "Memangnya apa keinginan ibumu?" Shena bertanya dengan datar, seolah tak tertarik dengan topik pembicaraan mereka saat ini. Lagi pula, ia sudah tidak ada urusan dengan keluarga itu. "Tidak ada apa-apa, ibu hanya ingin aku bahagia dengan caranya." Aksa menjawab dengan santai, tapi raut wajahnya telah membuktikan bahwa ada sesuatu yang ia sembunyikan. "Kau dijodohkan karena tak kunjung menikah?" Lagi dan lagi, Shena bertanya dengan raut wajah dingin. Sehingga membuat Aksa semakin gugup dan berusaha menutupi apa yang terjadi. "Itu tidak akan pernah terjadi, karena aku sudah menemukan mu." Shena memutar bola matanya malas, saat mendengar jawaban Aksa. Pria itu terlalu percaya diri saat bertemu dengan dirinya. "Itu juga tidak akan pernah terjadi, karena aku tidak ingin menikah denganmu." * Malam ini Shena sudah bersiap untuk pergi ke rumah Aksa. Tetapi sebelum itu, ia sudah menghubungi Mario dan melakukan panggilan telepon untuk bertemu dengan anak kembarnya. Ah, Shena jadi merindukan mereka. Namun ia tidak terlalu cemas, karena Mario menjaga mereka dengan baik. Ya, pria itu sangat baik dan dapat ia andalkan. Larut dalam lamunan, hingga akhirnya suara klakson terdengar dari halaman rumah mampu membuyarkan lamunan Shena saat ini. Wanita itu segera bergegas pergi agar tidak membuat Aksa menunggu lama. "Selamat malam, Shen." Aksa tiba-tiba sudah muncul dari balik pintu, dengan menampilkan senyuman semanis mungkin, hingga ia terkejut bukan main. "Se-selamat malam, pak Aksa." Shena gugup karena wajah Aksa yang terlalu dekat dengan dirinya, hingga ia terkejut dan segera menjauh dari pria itu. "Ini bukan tempat kerja, kau bisa memanggil ku dengan nama saja. Kamu sendiri yang mengatakannya." Shena hanya diam tak menanggapi ucapan pria itu. Ia rasa, Aksa benar-benar sudah gila dan tidak tahu malu. "Sebaiknya kita cepat pergi, karena aku punya janji dengan anak-anakku." Shena berkata sangat ketus, dan berjalan mendahului Aksa yang masih terdiam di belakang sana. Tak lama kemudian, Aksa pun mengejar Shena dan membukakan pintu mobil untuk wanita tersebut. "Berapa usia anak-anak mu?" Tanya Aksa yang kini sudah duduk di bangku pengemudi, hingga Shena menoleh ke arah sumber suara dengan tatapan penuh selidik. Wanita itu menatap curiga kepada Aksa yang sudah menancapkan pedal gas mobilnya. "Memangnya kau mau apa. Kau tidak perlu ikut campur dalam urusan keluarga ku." Shena menjawab dengan datar seperti biasanya, dan segera memalingkan wajahnya ke arah luar jendela mobil. Sungguh, ia tidak ingin membahas tentang anak-anaknya kepada siapa pun. "Aku hanya penasaran saja, Shen. Aku ingin melihat mereka. Apa pria itu juga sangat tampan?" Lagi dan lagi, Aksa tidak bisa menahan rasa penasarannya, hingga terus menerus bertanya dan membuat kepala Shena pusing tujuh keliling. "Kau tidak perlu tahu." Aksa tersenyum miris, saat mendengar jawaban Shena yang singkat, padat dan jelas. Wanita itu benar-benar bisa membuatnya semakin penasaran. Ia ingin tahu mengenai hal apa saja yang telah wanita itu alami, hingga akhirnya menjadi seperti saat ini. Karena Shena yang ia kenal sudah berubah seratus delapan puluh derajat dari yang ia ketahui. "Aku harap kau bisa memaafkan ibu, Shen." Tiba-tiba saja Aksa berkata demikian, setelah keheningan beberapa saat di dalam mobil tersebut. Entah apa yang ada dalam pikiran Aksa saat ini, tapi ia dapat melihat,jika pria itu sedikit berbeda. Ya, dapat Shena lihat, jika pria itu kembali menjadi sosok dulu yang pernah ia ketahui. Sedikit dingin dan sendu. "Memangnya ada apa?" Tanya Shena yang benar-benar tidak mengetahui apa maksud dari ucapan Aksa. "Maafkan aku, Shen. Kita tidak akan ke rumah." "Apa maksudmu?! Lalu kita mau ke mana?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN