Aksa tersenyum miris saat mendengar jawaban dari Shena. Wanita itu benar-benar tak peduli lagi dengan dirinya. Bahkan saat ada wanita lain yang seharusnya tidak berada di dekatnya. Aksa benar-benar merasa terbuang oleh mantan istri yang sudah ia sia-siakan sebelumnya.
"Ehm, kau benar juga. Shena, untuk kejadian semalam, aku ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya, padamu. Aku sadar, jika tidak seharusnya aku melakukan hal tidak terpuji seperti itu. Aku harap kau mau memaafkan aku dan memberikan aku kesempatan lagi padaku." Aksa berkata dengan penuh harap, agar wanita yang ada di hadapannya itu mau memaafkannya.
"Pak Aksa, bukankah anda sedang sibuk hari ini. Sebaiknya anda fokus bekerja saat di tempat kerja, dan jangan mengusik ketenangan pekerjaan orang lain." Shena berkata dengan sarkas dan tak menghiraukan ucapan Aksa sebelumnya, hingga pria itu sedikit terhenyak dengan jawaban Shena yang seolah tidak ingin diganggu.
"Shena, kenapa kau selalu menghindariku? Bahkan sekarang kau mengalihkan topik pembicaraan kita. Apa aku benar-benar sudah tidak layak untuk kamu maafkan?" Tanya Aksa penasaran. Pria itu menatap Shena dengan penuh harap.
"Pak Aksa, jangan menghambat pekerjaan saya. Lagi pula, anda tidak perlu meminta maaf seperti itu. Kita tidak ada hubungan apapun selain rekan kerja semata. Harap pak Aksa sadar dan segera pergi dari ruangan saya." Kali ini Shena berbicara dengan nada yang sedikit tinggi. Sehingga membuat paksa sedikit terkejut, apalagi tatapan tajam wanita itu mampu membuatnya terdiam seketika.
"Shena, baiklah kita hanya sebatas rekan kerja saja, tapi apakah aku boleh mengejar mu lagi?" Tanya Aksa yang tidak ada habisnya, mencari celah untuk mendekati mantan istrinya tersebut. Bahkan pria itu dengan tidak tahu malunya, membawa sebuah kotak cincin dan membukanya untuk diberikan kepada Shena.
Shena tersenyum manis seraya menerima kotak cincin tersebut, hingga membuat Aksa ikut merasa lega.
"Pak Aksa yang terhormat, Anda boleh saja mengejar saya, tapi jangan harap saya mau menerimanya." Shena menolak, setelah membuka kotak cincin tersebut dan membuang cincin itu ke tempat sampah yang ada di pojokan ruangan milik Shena.
Tentu saja Aksa terkejut, bahkan sampai tak bisa berkata-kata lagi di hadapan wanita itu. Akan tetapi, meski begitu, Shena tidak memperlihatkan rasa bersalah sedikit pun.
Aksa tak bergeming setelah melihat perilaku wanita yang ia cintai. Sifat wanita itu tidak pernah ia kenal. Pada akhirnya, Aksa hanya tersenyum miris, seraya mengeratkan kepalan tangannya yang ada di bawah sana.
"Baik, kalau begitu aku akan keluar dulu. Maaf sudah mengganggu pekerjaan mu." Aksa bangkit dari duduknya dan segera pergi ke arah pintu. Namun sebelum itu, ia menghampiri tempat sampah dan mengambil kotak cincinnya kembali, dan memasukkan lagi dalam saku.
"Shena!" Sebelum benar-benar pergi dari ruangan Shena, langkah kaki Aksa tiba-tiba terhenti seketika seraya memanggil nama sang mantan istri.
"Ada apa lagi? Apa ada yang ketinggalan?" Tanya Shena dengan nada dingin. Wanita itu sepertinya tidak terusik sama sekali, dengan keadaan yang ia alami saat ini.
"Tidak ada. Aku hanya ingin mengatakan, jika ini bukanlah akhir dari perjuanganku. Untuk ke depannya, aku akan berusaha lebih keras lagi agar mendapatkan hatimu kembali. Lalu pada saat itu, Aku tidak akan pernah melepaskan mu sedikitpun, bahkan tidak untuk sebentar saja." Aksa berkata dengan tegas tanpa menoleh ke arah Shena, lalu benar-benar menghilang ditelan pintu.
*
Waktu berputar dengan sangat cepat, hingga tak terasa terik matahari sudah ada di puncak ubun-ubun. Orang-orang berlalu-lalang masih sibuk dengan aktivitas masing-masing. Bahkan di jam istirahat ini, para petugas rumah sakit semakin aktif untuk memberikan makan siang kepada para pasiennya. Berbeda dengan seorang dokter, yang justru menghampiri Aksa dengan sangat santai.
"Kak Aksa, ayo kita makan siang dulu!" Seruan sosok wanita yang muncul dari balik pintu, membuat Aksa langsung menoleh ke arah sumber suara. Pria itu langsung menghela nafasnya kasar, dan kembali beraktivitas melihat beberapa laporan pasien yang ada di tangannya. Aksa benar-benar tidak tertarik, bahkan tidak menimpali sedikitpun.
"Kakak, apa Kakak masih sibuk? Kakak tunda saja dulu pekerjaannya, dan kita pergi makan siang. Menjaga kesehatan jaga jauh leb--."
"Pergi saja duluan!" Aksa menyela ucapan sosok wanita tersebut dengan sedikit membentak. Seketika itu, terdengar sebuah ringisan, yang membuat Aksa benar-benar merasa kesal tapi ia tidak bisa berbuat apapun. Sehingga pria itu hanya bisa menghalang nafasnya kasar, lalu kembali menoleh ke arah wanita yang ada di hadapannya.
"Sinta maafkan Aku. Kau tahu aku masih sibuk, dan aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku begitu saja. Aku terbawa emosi hingga membentak mu. Kamu Jangan menangis Lagi, aku minta maaf." Aksa meminta maaf, karena benar-benar merasa bersalah saat melihat Sinta menangis setelah ia bentak tadi.
"Aku tahu Kakak begitu sibuk, tapi apakah harus sampai membentak ku seperti itu? Padahal aku hanya ingin memperhatikan kesehatan kak Aksa saja, karena takut kak Aksa sakit. Tetapi ... Yang aku dapatkan justru sebaliknya. Kak Aksa sudah berubah sejak bertemu dokter baru itu." Sinta berkata sambil menangis sesenggukan dengan tatapan yang memelas, hingga membuat Aksa semakin merasa bersalah.
Sinta benar, meskipun ia sibuk, tapi tidak seharusnya ia sampai membentak, begitu pikir Aksa yang kini menyesali perbuatannya. Pria itu kembali berpikir, dengan apa yang Sinta ucapkan. Kembalinya Shena, membuat dia tidak fokus dalam beberapa hari ini.
"Sinta maafkan aku, kalau begitu kau pesan saja makanannya dan kita makan di sini. Kau tahu, aku tidak bisa buru-buru menyelesaikan pekerjaan ini. Aku harap kau tidak keberatan." Aksa kembali membujuk Sinta, agar wanita itu tidak merajuk lebih lama. Meskipun sebenarnya Aksa tidak perlu melakukan hal itu.
"Baiklah, kali ini aku akan memaafkan kak Aksa." Sinta langsung tersenyum merekah, dan melakukan apa yang Aksa perintahkan.
*
Lain halnya dengan Shena, wanita itu masih fokus dengan laporan yang ada di tangannya. Tentu saja ia ditemani dengan dua orang perawat yang terdiri dari pria dan wanita, yang usianya jauh lebih muda, yaitu Nina dan Bastian. Dua orang perawat itu merupakan asisten kepercayaannya.
"Apa bu dokter mau makan siang dulu? Jika iya, mau pesan atau mau keluar saja?" Tanya Bastian yang lebih mirip seperti asisten pribadi. Ya, tanpa Shena ketahui pria itu dikirim khusus untuk menjaganya oleh Mario. Tentu saja semua itu atas persetujuan Pak Leo.
"Saya bukan ibu kamu!" Shena berkata dengan dingin, hingga membuat Bastian maupun Nina gugup seketika.
"Dokter Shen, apa mau makan siang lebih dulu?" Kini Nina yang bertanya, berharap dokter cantik itu tidak ketus padanya.
"Tidak. Apa kalian sudah mendapat laporan dari dokter Aksa?" Nina maupun Bastian langsung menggelengkan kepala tatkala mendengar pertanyaan tersebut, karena memang mereka berdua tidak menerima apapun.
"Baiklah, kalau begitu kalian sudah boleh pergi makan siang lebih dulu. Aku akan memastikannya sendiri." Shena bangkit dari duduknya, dan keluar ruangan tersebut menuju ruangan Aksa, meninggalkan dua asistennya yang masih kebingungan.
*
"Selamat siang dokter Aksa," sapa Shena setelah memasuki ruangan Aksa yang sedikit terbuka, membuat penghuni ruangan tersebut terdiam seketika. Ya, saat ini Aksa tengah makan berdua, bersama dengan Sinta. Pria itu tampak sedikit terkejut dan segera menghentikan gerakannya.
"S-Shena."