Dari dalam ruang rawat, tampak Grazel yang masih belum sadarkan diri karena serangan dari anggota Black Tail.
"Bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Nim kepada salah seorang perawat.
"Masih belum sadar, Tuan," jawab perawat tersebut, "Dilihat dari luka di tubuhnya, sepertinya tuan Grazel diserang oleh seekor makhluk yang memiliki cakar," sambungnya menjelaskan.
"Cakar?" tanya Nim heran.
"Benar, Tuan," sahut perawat tersebut.
"Baiklah, terima kasih," ucap Nim tersenyum.
"Dimana Grazel?" ucap Aston yang seketika tiba berdiri di samping Nim dan diikuti Luiji yang juga seketika tiba.
"Coba kalian perhatikan luka di tubuhnya," ucap Nim.
"Luka ini seperti bekas cakaran dari hewan buas," sahut Luiji.
"Ya, kau benar," ucap Nim.
"Sepertinya Black Tail sudah mulai menggunakan alat itu," ucap Aston mengenggam tangannya.
"Alat apa maksudmu, Aston?" tanya Nim.
"Alat itu bernama Ultimiore, bentuk alat itu serupa seperti cincin dengan sebuah kristal, juga ada seperti kalung dan gelang yang juga dengan sebuah kristal," jawab Aston.
"Tadi aku melihatnya, salah satu anggota Black Tail menggunakan sebuah cincin dengan kristal merah, kemudian aura merah keluar dari tubuhnya," ucap Naken.
"Ultimiore..." gumam Nim.
"Ada apa, Nim?" tanya Luiji.
"Ti-tidak apa-apa," jawab Nim mendadahkan tangannya, "Aku hanya teringat, barusan Michi juga menyebut nama Ultimiore," sambungnya.
"Dimana Michi sekarang?" tanya Luiji.
"Sekarang dia sedang beristirahan di dalam kamar yang sudah disiapkan oleh Putri Alice," jawab Nim.
Luiji mengangguk, "Baguslah."
"Luiji, bukankah tadi kamu juga melihat salah satu anggota Black Tail menggunakan Ultimiore?" tanya Aston.
"Ya, benar," jawab Luiji menoleh ke arah Aston.
"Apa dia menyebutkan namanya?" tanya Aston lagi.
"Ya, dia bilang namanya adalah Yunzo," jawab Luiji.
"Yunzo..." ucap Aston mengerutkan keningnya, "Aku ingat, Yunzo adalah kakak dari Neru," sambungnya.
"Neru? Bukankah Neru adalah salah satu pengikut Rieghart?," tanya Luiji.
"Kenapa bisa begitu?" tanya Nim lagi.
"Benar, tidak salah lagi," sahut Aston dengan yakin, "Ayo ikuti aku," ajaknya sembari melangkah keluar dari ruang rawat.
"Kau mau kemana?" tanya Nim, "Bagaimana dengan Grazel?" sambungnya lagi.
"Tenang saja, Grazel akan baik-baik saja," sahut Aston seketika menghentikan langkahnya, "Jangan meremehkannya," sambungnya lagi sembari tersenyum, "Ayo ikuti aku," ajaknya lagi sembari melanjutkan langkahnya.
"Tunggu aku," ucap Nim seketika mengikuti Aston dan diiringi Luiji yang juga ikut melangkah di samping Nim.
"Kita mau kemana?" tanya Nim seketika tiba mengiringi langkah Aston.
Sampai mereka di depan sebuah lukisan yang tepat menempel di dinding lorong istana. Aston kemudian mengusap lukisan tersebur sembari membaca sebuah mantera, dengan sekejap muncul sebuah portal dari lukisan tersebut.
"Apa ini?" tanya Nim.
"Ayo ikuti aku ke dalam," ajak Aston sembari melangkah memasuki portal tersebut.
"Ayo, Luiji," ucap Nim menoleh ke arah Luiji.
Luiji mengangguk. Kemudian Nim dan Luiji pun mengikuti langkah Aston.
Setelah mereka melewati portal, seketika mereka tiba di sebuah ruangan tanpa ada pintu di sana.
"Dimana kita?" tanya Nim.
"Coba kalian lihat ini," ucap Aston sembari menunjukkan sebuah buku kemudian membukanya sembari mencari sebuah halaman yang ingin ditunjukkannya, "Ini dia," ucapnya kemudian ketika menemukan selembar halaman yang dari lembar halaman tersebut tertulis :
'Kakak beradik Yunzo dan Neru sekarang meninggalkan istana, mereka memilih jalan yang berbeda, semua itu karena'
Namun, tulisanya terpotong karena memang sudah kusam.
"Lalu, untuk apa kau menunjukkan tulisan ini?" tanya Nim.
"Putri Alice," jawab Aston, "Tuan putri lah yang menulis ini," sambungnya.
"Oh iya, aku ingat, saat kami pertama kali bertemu dengan tuan putri, dia mengatakan bahwa mengenal Neru," sahut Nim.
"Lalu?" ucap Luiji.
"Karena Yunzo yang sangat menyukai Putri Alice, namun perasaannya tidak dibalas oleh tuan putri karena tuan putri lebih menyukai Neru, sehingga membuat Yunzo sakit hati kemudian memutuskan untuk meninggalkan istana," sahut Aston, "Karena Neru yang tidak ingin kakaknya salah sangka terhadapnya, sehingga membuat Neru juga pergi meninggalkan istana," sambungnya menjelaskan.
"Apakah tuan putri juga mengetahui bahwa Yunzo menjadi salah satu anggota Black Tail," tanya Luiji.
"Tentu saja dia mengetahuinya, karena ketika Neilto melakukan penelitian, dia di bantu oleh Yunzo," jawab Aston.
"Bagaimana dengan Neru? Kenapa dia memilih untuk ikut menjadi anak buah Rieghart?" tanya Nim.
"Itu semua hanya untuk membuktikan kepada Yunzo bahwa Neru tidak memihak pada Putri Alice," jawab Aston.
"Jadi itu alasannya, kenapa Yunzo dan Neru meninggalkan istana dan memilih jalan yang salah," gumam Luiji sembari mengusap-usap dagunya.
"Benar," jawab Aston.
Di lain tempat di waktu yang sama, tampak Alio dan juga Neru sedang menghadap kepada Rieghart yang sedang duduk di singgasananya.
"Sepertinya mereka juga sudah mulai bergerak, Tuanku" ucap Alio.
"Benar, walaupun cara mereka berbeda dengan kita, tapi tujuan mereka sama," ucap Rieghart.
"Tenang saja, Tuanku," ucap Alio, "Kita sudah lebih dulu selangkah dari mereka," sambungnya.
"Kau jangan meremehkan mereka, apalagi Neilto, dia hanya seorang ilmuan gila," ucap Rieghart, "Terlebih lagi dengan Yunzo," sambungnya kemudian menatap ke arah Neru, "Apa benar begitu, Neru?"
Neru hanya terdiam.
"Aku akan mengalahkannya, Tuanku," sahut Neru.
"Bagus," ucap Rieghart tersenyum.
Kembali ke tempat Nim dan Luiji dan Aston yang masih di dalam sebuah ruangan tersembunyi di dalam istana.
"Sepertinya kita harus menyatukan mereka kembali," ucap Nim.
"Caranya?" tanya Aston.
"Aku masih belum tahu caranya, tapi kita harus mempertemukan mereka bertiga kembali," jawab Nim tersenyum dan diikuti oleh Luiji yang juga tersenyum.
"Begitulah Nim, selalu tak memiliki rencana," ucap Luiji kemudian tertawa dan diikuti oleh Nim dan juga Aston tertawa.
"Baiklah, ayo kita kembali ke istana," ajak Aston kemudian melangkah mendekati dinding sembari mendekatkan telapak tangannya lalu membaca sebuah mantera, kemudian portal pun kembali muncul dan Aston melangkah lebih dahulu melewati portal tersebut, diiringi oleh Nim dan Luiji di belakang.
"Kakak!" teriak Michi sembari melambaikan tangannya terlihat dari kejauhan.
"Ya!" teriak Nim balas melambaikan tangannya ke arah Michi. Kemudian Michi pun segera berlari menuju ke tempat Nim berdiri.
"Kakak dari mana?" tanya Michi setelah berlari dan tiba di depan Nim.
"Ooh, tadi kakak baru selesai berkeliling istana," jawab Nim.
"Tapi, aku juga tadi mengelilingi istana, tapi kakak tidak ketemu," sahut Michi.
"Oh, mungkin terselisih," ucap Nim tersenyum.
"Aku pergi dulu ya," ucap Aston pamit seketika melangkahkan kakinya pergi menjauh.
"Iya, Aston," sahut Nim.
"Kakak, aku lapar, Kak," ucap Michi.
"Benar, sejak disini kau belum makan sesuatu," sahut Nim, "Ayo kita kembali ke kamar, sekalian nanti pas lewat ruangan pelayan istana, minta dibawakan makanan ke kamar kamu ya, Michi," sambungnya sembari memegang pergelangan tangan Michi kemudian melangkah pergi menuju kamar dan diiringi oleh Luiji di belakang.
"Kamu istirahat dulu di dalam kamar," ucap Nim ketika tiba di depan kamar Michi, "Nanti akan kakak beritahu pelayan untuk mengantar makanan ke sini," sambungnya.
"Iya kak." Michi mengangguk.
"Ayo, Luiji," ajak Nim melangkah pergi.
Luiji mengangguk kemudian mengiringi Nim.
Perlahan Michi membuka pintu kamarnya, "Kakak nanti kemari lagi, kan?" tanya Michi.
Nim menghentikan langkahnya, "Iya, nanti setelah ini kakak kemari lagi," sahut Nim tersenyum menoleh ke arah adiknya kemudian kembali melanjutkan langkahnya. Michi pun kemudian melangkah masuk ke dalam kamar.
"Nim?" ucap Luiji.
"Ya, Luiji?" tanya Nim menoleh ke arah Luiji.
"Aku masih bingung bagaimana adikmu bisa kemari," ucap Luiji.
"Benar, nanti setelah ini akan ku tanyakan langsung kepadanya," sahut Nim.
"Baiklah, aku mau meditasi dulu ya," ucap Luiji melangkah meninggalkan Nim tepat di persimpangan lorong istana.
"Ya, Luiji," sahut Nim tersenyum.
Nim menghentikan langkahnya ketika dia tiba tepat di depan ruang pelayan istana, "Maaf, permisi," ucapnya.
"Ya, Tuan," sahut salah seorang pelayan menghampiri Nim, "Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya kemudian.
"Ya, bolehkah saya minta dibawakan makanan ke ruangan itu?" tanya Nim sembari menunjuk sebuah kamar yang juga ternyata berdekatan dengan ruangan pelayan istana.
"Baik, Tuan," sahut pelayan tersebut, "Secepatnya akan saya siapkan, Tuan," sambungnya.
"Terima kasih, ya," ucap Nim tersenyum kemudian melangkah kembali menuju ke kamar Michi.
"Michi?" panggil Nim sembari mengetuk pintu kamar Michi, "Michi...," panggilnya lagi, namun seketika pintu kamar terbuka dengan sendirinya, "Michi? Kamu dimana?" tanyanya seketika masuk ke dalam kamar, "Dimana dia?" gumamnya kemudian.
"Kakak?" sahut Michi yang seketika tiba dari luar kamar, "Kakak sudah lama?" tanya Michi.
"Tidak, kakak juga baru tiba," jawab Nim tersenyum, "Kamu dari mana?" tanyanya kemudian.
"Oh, tadi aku kembali ke tempat aku melihat Kak Nim dan Kak Luiji, juga seorang teman kakak barusan," jawab Michi, "Lalu disana aku menemukan ini, Kak," sambungnya sembari menunjukkan sebuah kalung dan buah kalungnya berbentuk kepala ular serta terdapat sebuah batu kristal berwarna biru melekat di kepala ular tersebut.
"Apa ini?" tanya Nim kemudian mengambil kalung yang dipegang oleh Michi.
"Permisi," ucap salah seorang pelayan yang tiba dengan membawa makanan tepat di atas meja kecil beroda, "Dimana harus saya letakkan makanannya, Tuan?" tanyanya kemudian.
"Oh, tolong kamu letakkan saja di dalam," jawab Nim tersenyum.
"Baik, Tuan," ucap pelayan tersebut kemudian membawa makanan tersebut ke dalam kamar Michi, "Sudah, Tuan," ucapnya lagi setelah meletakkan makanan, kemudian keluar kamar.
"Terima kasih, ya," ucap Nim.
"Sama-sama, Tuan," sahut pelayan tersebut, "Nanti kalau ada perlu lagi Tuan bisa panggil kami," sambungnya kemudian melangkah kembali ke ruangannya.
"Milik siapa ini?" gumam Nim dalam hati sembari menatapi kalung di tangannya.
"Coba kau pejamkan matamu, Nim," ucap Tion.
"Baiklah," sahut Nim dalam hati kemudian memejamkan matanya. Tampak seekor ular besar sedang menatap tajam ke arah Nim, "Apa itu tadi?" tanyanya kemudian.
"Kakak melihat apa?" tanya Michi penasaran dengan apa yang dilihat oleh kakaknya.
"Michi, tepat di dekat mana kau menemukan kalung ini?" tanya Nim.
"Aku juga tidak yakin, Kak," jawab Michi, "Mungkin ini punya teman kakak yang satunya tadi," sambungnya.
Nim terdiam. "Tion," bisik Nim dalam hati.
"Ya?" sahut Tion.
"Apa ini adalah Ultimiore?" tanya Nim.
"Aku juga tidak yakin," jawab Tion, "Tapi, akh yakin bahwa makhluk yang tadi kau lihat adalah Beaster," sambungnya.
"Beaster?" ucap Nim dalam hati, "Bagaimana kau yakin itu adalah Beaster?" sambungnya.
"Aku merasakan energinya sama seperti Beaster lain," jawab Tion.
"Apakah aku harus menyimpan ini dulu?" tanya Nim dalam hati.
"Sebaiknya kau simpan saja dulu," jawab Tion.
"Kakak?" tanya Michi, "Kenapa kakak melamun?" tanyanya lagi.
"Oh, Michi. Tidak apa-apa," jawab Nim tersenyum, "Aku hanya merindukan rumah," sambungnya, "Kamu makan dulu, katanya tadi lapar?" ucapnya lagi sembari mencubit pipi adiknya.
"Iya, iya, Kak," sahut Michi sembari mengusap-usap pipinya yang terasa nyeri karena dicubit oleh kakaknya, "Kakak mau ikut makan?" tanyanya kemudian.
"Tidak, kamu habiskan saja sendiri, kakak sudah kenyang," jawab Nim tersenyum sembari menepuk-nepuk perutnya.
"Ya sudah, aku habiskan nih," ucap Michi mengejek.
"Iya, habiskan saja," sahut Nim kembali mencubit pipi adiknya.
"Yakin nih?" tanya Michi lagi mengejek.
"Nanti kalau kakak ikut makan, takutnya kamu tidak cukup," jawab Nim tertawa.
"Ya sudah, aku mau makan dulu ya, Kak," sahut Michi.
"Iya, kakak mau istirahat dulu," ucap Nim kemudian perlahan melangkah pergi menuju ke kamarnya.