12. Pengkhianat

1922 Kata
Nim merebahkan tubuhnya di atas kasur, sembari memandangi sebuah kalung di tangannya. "Tion," ucap Nim. "Ya, Nim?" sahut Tion. "Jika benar ini adalah Ultimiore, apakah sebaiknya kita menyerahkannya saja kepada Putri Alice?" tanya Nim. "Menurutku, kita simpan dulu benda ini," jawab Tion. "Kenapa?" "Kita tidak tahu kalung ini milik siapa," sahut Tion, "Dan kalau seandainya benda ini kau serahkan kepada Putri Alice, aku takut ini bisa menjadi sebuah masalah besar," sambungnya. "Kau rasa, ini milik siapa, Tion?" tanya Nim. "Melihat dari perkataan adikmu, tentu saja bukan dia," jawab Nim. "Ya, kalau itu aku juga tahu," sahut Nim, "Tapi saat itu kita hanya bersama Luiji dan Aston," sambungnya. "Itulah sebabnya, kita harus menyelidiki siapa pemilik kalung ini," sahut Tion. "Ya, kau benar," ucap Tion kemudian. Seketika Luiji masuk ke dalam kamar, kemudian Nim tergesa-gesa untuk menyembunyikan kalung tersebut. "Kau tidak perlu menyembunyikan apapun dariku, Nim," ucap Luiji kemudian duduk di samping Nim merebahkan tubuhnya. "Luiji, apa kau percaya dengan Aston?" tanya Nim seketika beranjak duduk kemudian menunjukkan sebuah kalung. "Apa itu?" tanya Luiji. "Aku rasa ini adalah Ultimiore, Michi menemukannya tepat di tempat terakhir kita berdiri sebelum Aston pergi," jawab Nim. "Benarkah ini Ultimiore," sahut Luiji seketika merebut kalung tersebut dari tangan Nim, "Mahkluk apa itu!" sentaknya terkejut ketika menyentuh kalung tersebut dan melihat wujud ular raksasa yang menatap tajam ke arahnya. "Kata Tion, di dalam kalung itu terbelenggu satu Beaster," sahut Nim. "Ya, energinya mirip dengan kami," sahut Tion. "Naken?" ucap Luiji bertanya kepada Naken. "Ya, aku juga merasa kalau makhluk itu adalah Beaster, sama seperti kami," jawab Naken. "Apa ini miliknya?" tanya Luiji seketika menoleh ke arah Nim. "Aku belum yakin," jawab Nim. "Kenapa tidak kita selidiki saja," sahut Luiji tersenyum seketika berdiri sembari menggenggam kalung tersebut. "Tapi bagaimana caranya?" tanya Nim kemudian. "Gampang, kita tanyakan saja padanya langsung," sahut Luiji tersenyum. "Langsung menanyakan padanya?" tanya Nim heran. "Kau tenang saja," sahut Luiji, "Ayo kita cari dia," ajaknya seketika melangkah keluar kamar. "Apa kau yakin," ucap Nim. "Sudah, ikut saja," sahut Luiji. Kemudian Nim berdiri, "Baiklah," ucapnya kemudian melangkah mengiringi Luiji. "Dimana dia," gumam Luiji sembari menengok ke kiri dan kanan ketika menelusuro lorong istana. "Mungkin dia di ruang latihan," sahut Naken. "Benar, ayo kita kesana," ucap Luiji kemudian belok ke kanan tepat di persimpangan empat lorong istana menuju ke ruang latihan dan diiringi oleh Nim di belakangnya. Dengan langkah pelan Nim dan Luiji menelusuri lorong yang tepat menuju ke ruang latihan di dalam istana. "Ayo kita masuk," ucap Nim seketika hendak melangkahkan kakinya ketika tiba tepat di depan ruang latihan. "Tunggu," sahut Luiji menghalangi Nim dengan tangannya. "Jangan tergesa-gesa, Nim," ucap Naken. "Biarkan aku yang melihatnya," ucap Luiji kemudian perlahan mencoba mengintip ke dalam ruang latihan, "Ternyata dia ada di dalam. "Benarkah? Mana, aku lihat," ucap Nim, "Benar, ternyata dia ada di dalam," bisiknya sembari ikut mengintip ke dalam ruang latihan. "Apa yang sedang dia lakukan?" gumam Luiji ketika melihat Aston yang terlihat seperti kehilangan sesuatu. "Aku sudah tidak tahan lagi," ucap Nim, "Ayo kita ke dalam," sambungnya seketika dengan segera melangkah masuk ke dalam ruang latihan. "Nim!" teriak Luiji sembari hendak menghalangi Nim namum Nim tetap memaksa masuk, "Dasar kau Nim," ucapnya lagi kemudian ikut masuk ke dalam ruang latihan. "Aston," teriak Nim menyapa dan melambaikan tangannya sembari melangkah mendekati Aston dan diiringi oleh Luiji di belakang. Aston terkejut ketika melihat Nim dan Luiji yang tiba-tiba berada dalam ruang latihan, "Oh, Nim, Luiji," sahut Aston dengan gugup balas menyapa Nim dan Luiji. "Sedang apa kau disini?" tanya Nim seketika tiba tepat di depan Aston. "Hah, ti-tidak, tidak apa-apa," sahut Aston gugup. "Sepertinya kau sedang mencari sesuatu," ucap Luiji, "Apa kami boleh membantumu?" tanyanya kemudian. "Ti-tidak, aku tidak mencari apa-apa," jawab Aston sembari mendadahkan tangannya, "Kalian sedang apa kemari?" tanyanya kemudian. "Kami... hhmm...." Nim tampak bingung menjawab pertanyaan Aston. "Kami kemari hendak berlatih," sahut Luiji. "Benar, kami kemari hendak berlatih," ucap Nim kemudian. "Oh, kalau begitu silahkan kalian berlatih," sahut Aston, "Ee, aku pergi dulu," sambungnya seketika melangkah menjauh dari Nim dan Luiji. "Apa kau mencari ini!?" teriak Nim sembari menunjukkan sebuah kalung di tangannya. Aston menghentikan langkahnya kemudian membalikkan badannya. Aston tampak terkejut ketika melihat sebuah kalung di tangan Nim, kemudian dengan tatapan tajam dia melangkah mendekati ke arah Nim berdiri. "Apa ini milikmu?" tanya Nim tersenyum. "Kembalikan!" teriak Aston seketika hendak merebut kalung di tangan Nim, namun seketika Nim menarik tangannya. "Dari mana kau mendapatkan kalung ini?" tanya Luiji menatap tajam ke arah Aston. "Hahahaha." Aston tertawa, "Bukan urusan kalian," ucapnya seketika berusaha kembali merebut kalung di tangan Nim, namun dengan cepat Nim menghindar. "Bukan urusan kami?" tanya Luiji mengejek. "Beritahu kami lebih dulu, dari mana kau mendapatkan ini," ucap Nim, "Kalau kau tidak mau memberitahukannya, aku akan melaporkannya kepada Putri Alice," sambungnya. "Ada apa ini!" ucap Putri Alice seketika tiba tepat di depan ruang latihan kemudian melangkah masuk menuju ke arah Nim, Luiji dan Aston. Seketika Aston dengan cepat merebut kalung yang berada di tangan Nim. "Ti-tidak ada apa-apa, Tuan Putri," ucap Aston seketika menyembunyikan kalung yang direbutnya dari tangan Nim tepat di belakang badannya. "Apa itu, Aston?" tanya Putri Alice dengan nada tegas. "Hahahaha." Aston tertawa, "Tuan Putri," ucapnya tersenyum menatap Putri Alice sembari menggelengkan kepalanya. "Apa maksudmu, Aston!" tanya Putri Alice. "Kalian semua bodoh!" teriak Aston kemudian segera mengenakan kalung tersebut di lehernya. Tampak kristal berwarna biru yang menempel pada buah kalung berbentuk kepala ular tersebut mengeluarkan aura hitam. Seketika di sekujur tubuh Aston muncul sisik seperti sisik ular. "Apa-apaan ini," gumam Nim ketika melihat Aston. "Nim, bersiaga!" teriak Luiji. "Akan aku musnahkan kalian semua!" teriak Aston seketika dengan sangat cepat berlari ke arah Putri Alice. "Tidak akan aku biarkan," ucap Luiji seketika berlari dengan cepat dan berdiri tepat di depan Putri Alice dan menghalangi Aston yang sudah siap untuk menyerang Putri Alice. Aston melompat mundur kebelakang, kemudian tertawa, "Sepertinya aku akan bermain-main sebentar," ucapnya kemudian. "Sebenarnya apa tujuanmu, Aston?" tanya Putri Alice. "Tujuanku?" Aston tersenyum, "Tentu saja memusnahkan kalian semua!" teriaknya seketika berlari lagi dengan cepat ke arah Luiji dan menyerang Luiji dengan sebuah pukulan. Dengan segera Luiji menarik tangan Putri Alice menghindari serangan dari Aston. "Hei Aston, kau ketahuan ya," ucap seseorang yang tiba-tiba muncul tepat di sudut ruang latihan. "Yunzo?" gumam Putri Alice ketika menoleh ke arah asal suara tersebut. "Putri Alice...," ucap Yunzo tersenyum kemudian tubuhnya mengeluarkan aura berwarna merah dan sembari perlahan melangkahkan kakinya menuju ke arah Putri Alice berdiri. "Kau lagi!" teriak Luiji. "Hei, Aston!" teriak Yunzo, "Jangan kau sekali-sekali menyentuh tubuh Tuan Putri!" teriaknya lagi seketika tiba tepat di depan Aston kemudian memukulnya dengan sangat keras sehingga membuat Aston terpental jauh sampai membentur dinding ruang latihan. "Maafkan aku, Yunzo," sahut Aston tersenyum kemudian berdiri, "Bagaimana kalau kita melawan kedua bocah ini dulu," sambungnya kemudian melangkah perlahan mendekat ke arah Yunzo berdiri. "Nah! Kalau itu aku setuju!" sahut Yunzo tersenyum. "Kau pilih yang mana?" tanya Aston. "Aku yang ini saja!" teriak Yunzo seketika berlari dengan sangat cepat menyerang ke arah Luiji, "Sudah aku katakan, kita pasti bertemu lagi," sambungnya sembari menyerang Luiji bertubi-tubi, namun dengan sangat mudah semua serangan tersebut dihindari oleh Luiji. Luiji tersenyum, "SWICH!" bisiknya kemudian tubuh Luiji mengeluarkan aura putih berbentuk gurita yang langsung menyelimuti tubuhnya dan bertukar dengan Naken. "Kalau hanya begitu, aku juga bisa," ucap Yunzo seketika tubuhnya diselimuti oleh aura merah yang kemudian membentuk wujud seekor kuda bertanduk. "Apa itu," ucap Naken heran melihat wujud Yunzo. "Kalau hanya dengan kekuatan seperti itu, hanya akan membuang-buang waktuku," ucap Yunzo menatap ke arah tubuh Luiji yang dikendalikan oleh Naken. "Luiji," bisik Naken. "Ya," sahut Luiji, kemudian aura putih pada tubuh Luiji seketika berubah menjadi biru. "Bagaimana dengan ini!" ucap Naken. "Nah, kalau seperti itu akan membuatku lebih bersemangat," sahut Yunzo seketika kembali menyerang Luiji dengan sangat cepat dan tak mau kalah Luiji juga dengan sangat cepat menangkis dan menghalaunya, sampai gerakan mereka tidak kelihatan oleh Putri Alice. "Jangan lengah!" teriak Aston seketika melesat dan menyerang ke arah Nim. "Apa!" ucap Nim tersentak seketika menghindari serangan Aston. "Sepertinya aku juga akan menggunakannya," ucap Aston seketika tampak dari tubuhnya yang mengeluarkan aura hitam menyelimuti tubuhnya kemudian aura hitam tersebut membentuk wujud seekor ular. "Ayo, Nim!" ucap Tion. Nim mengangguk, "SWICH!" Nim bertukar dengan Tion, seketika tubuh Nim mengeluarkan aura putih dan langsung berubah warna menjadi biru membentuk wujud seekor harimau. Dengan gesit Aston melesat ke arah Nim dan menyerangnya sehingga membuat Nim terlempar akibat serangan tersebut. "Apa hanya segitu kemampuanmu?" ucap Tion tersenyum dengan menggunakan tubuh Nim menatap ke arah Aston. "Kau meremehkan aku." Seketika Aston melesat menyerang lagi ke arah Nim, namun Nim dengan cepat seketika menghilang dan tiba di dekat Putri Alice. "Sebaiknya aku panggil bantuan," ucap Putri Alice seketika berlari keluar dari ruang latihan. "Tidak akan aku biarkan kau memanggil bantuan!" teriak Aston seketika melesat ke arah Putri Alice, namun seketika Nim menghalangi. "Aku juga tidak akan membiarkanmu," ucap Tion dengan tubuh Nim membentangkan tangannya. "Kau!" teriak Aston seketika menyerang Nim menggunakan ekornya, namun dengan cepat Nim menangkisnya menggunakan tangannya. "Ular hanya akan menjadi makanan harimau," ucap Tion seketika dengat erat menggenggam ekor Aston yang tubuhnya diselimuti aura hitam berwujud ular. "Lepaskan!" teriak Aston seketika melilit erat tubuh Nim yang diselimuti aura biru berwujud harimau. "Aaarrgghh!" teriak Tion menjerit kesakitan karena lilitan dari Aston. Seketika dari luar ruang latihan sekelompok prajurit berlari masuk ke dalam ruangan dipimpin oleh Putri Alice. "Kepung mereka!" teriak Putri Alice seketika seluruh prajurit berlari mengepung mengelilingi Yunzo dan Aston. Seketika Yunzo menghentikan pertarungan sengitnya dengan Luiji kemudian melompat mundur ke belakang, "Aston, sepertinya kita harus mundur," ucapnya. "Baiklah," sahut Aston seketika melepaskan lilitannya pada tubuh Nim kemudian melesat mendekat ke arah Yunzo. "Tidak akan ku biarkan kalian lolos!" teriak Tion seketika dengan cepat berlari ke arah Yunzo dan Aston. "Kita lanjutkan nanti," ucap Yunzo tersenyum melambaikan tangannya, seketika Yunzo dan Aston menghilang. "Sial!" ucap Tion kesal, "Mereka berhasil melarikan diri," ucapnya lagi. "Biarkan saja mereka, Tion," ucap Naken kemudian dengan tubuh Luiji ia memejamkan matanya, "Luiji," bisiknya. "Ya," sahut Luiji kemudian kembali mengambil alih tubuhnya. "Nim," bisik Tion. "Ya," sahut Nim yang juga kemudian kembali mengambil alih tubuhnya. "Aku tidak percaya kalau Aston bisa berkhianat kepada kita," ucap Putri Alice lirih. "Aku sudah mengetahui bahwa Aston adalah seorang pengkhianat," ucap seseorang seketika tiba melangkah di balik kerumunan prajurit yang ternyata adalah Grazel. Putri Alice menundukkan wajahnya. "Grazel," ucap Nim. "Dialah yang telah menyerangku," sahut Grazel sembari melangkah mendekat ke arah Putri Alice. "Apa!" ucap Nim terkejut. "Dialah yang telah membiarkan anggota Black Tail mampu menyelinap masuk ke dalam istana," ucap Grazel. Putri Alice menggenggam tangannya, "Yunzo, Neru, kemudian Aston," ucapnya, "Sepertinya aku sudah gagal menjalankan amanah dari ayahku," sambungnya seketika meneteskan air mata. "Semua yang sudah terjadi bukan salahmu, Tuan Putri," ucap Grazel, "Aku sudah mencurigai Aston sejak lama sebelum Yunzo dan Neru pergi meninggalkan istana," sambungnya memberitahu Putri Alice. "Apa sebenarnya rencana mereka?" tanya Luiji seketika mendekat ke arah Putri Alice dan Grazel. "Mereka ingin menguasai istana ini," jawab Grazel, "Di dalam istana ini terdapat sebuah ruangan suci yang di dalamnya banyak menyimpan artefak-artefak kuno dan juga sebuah benda yang diyakini memiliki kekuatan yang lebih besar dari Hashfer," sambungnya menjelaskan. Putri Alice mengusap air matanya, "Benar," sahutnya kemudian mengangkat wajahnya, "Tapi benda itu telah disegel dengan sihir oleh ayahku sendiri." "Mungkin Neilto sudah menemukan cara untuk membuka segel tersebut," sahut Grazel, "Neilto juga pasti mengetahui bahwa Rieghart juga memiliki ambisi yang sama dengannya," sambungnya. "Kalian, ikuti aku," ucap Putri Alice kemudian melangkah keluar dari ruang latihan. "Ayo, Nim, Luiji," ajak Grazel seketika mengiringi langkah Putri Alice. Nim dan Luiji saling menatap kemudian mengangguk, lalu ikut mengiringi Putri Alice.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN