Tampak Putri Alice dengan wajah murung melangkah menuntun Grazel, Nim dan Luiji menuju ke ruang rahasia dalam istana.
"Tuan Putri," ucap Grazel ketika melihat wajah Putri Alice yang tampak murung.
"Aku tidak apa-apa," sahut Putri Alice kemudian mengeluarkan senyumnya yang terlihat terpaksa.
"Kita mau kemana?" tanya Nim.
"Ayo lewat sini," sahut Putri Alice kemudian menyentuh dan menekan sebuah tombol rahasia yang tepat berada di ujung istana.
Kemudian terdengar suara gemuruh dari dinding istana yang tampak bergeser lalu memperlihatkan sebuah lorong rahasia yang langsung mengarah ke ruangan rahasia di dalam istana.
"Waah!" Nim melongo ketika menatap ke arah dinding istana yang bergeser sendiri, "Aku kira hal seperti ini hanya ada dalam dongeng, ternyata benar-benar ada," ucapnya terheran.
"Kakak!" teriak Michi yang tampak dari jauh di belakang berlari mendekat ke arah Nim, Luiji, Putr Alice, dan Grazel, "Kalian mau kemana?" tanyanya dengan nada terngah-engah sembari menundukkan badannya dan menumpukan tangannya pada lututnya setelah berlari.
Nim menoleh ke arah Putri Alice.
Putri Alice mengangguk, "Baiklah, tidak apa-apa, kau juga boleh ikut," ucapnya tersenyum sembari menatap ke arah Michi kemudian melanjutkan langkahnya menelusuri sebuah lorong rahasia tersebut dan diiringi oleh Grazel, Nim dan Luiji, serta Michi di belakang.
"Kakak?" bisik Michi melangkah tepat di samping Nim dan menatap Nim.
"Ya?" sahut Nim menoleh ke arah adiknya.
"Kita mau ke mana kak?" tanya Michi.
"Kakak juga tidak tahu," jawab Nim tersenyum sembari menggaruk kepalanya, "Nanti kita juga akan tahu mengarah kemana lorong ini," sambungnya.
"Oh, begitu ya, Kak?" sahut Michi lagi.
Nim mengangguk.
"Sebaiknya aku akan melihatnya lebih dahulu," ucapnya tersenyum ke arah Nim kemudian seketika berlari mendahului Putri Alice dan Grazel di depan.
"Awas!" teriak Grazel seketika menarik tubuh Michi ketika sebuah perangkap anak panah melesat ke arah Michi.
"Kau tidak apa-apa, Michi?" ucap Nim seketika berlari ke arah adiknya.
"Kakak... Aku takut," ucap Michi seketika memeluk kakaknya.
"Makanya, kau harus hati-hati," sahut Nim kemudian perlahan mendirikan adiknya.
"Lorong ini sudah dipasangi dengan sihir perangkap, dan hanya keturunan istana yang bisa melewati lorong ini," ucap Putri Alice memberitahu, "Kalian harus tetap berada di belakang ku jika kalian tidak mau mengaktifkan sihir perangkapnya," sambungnya.
"Maafkan aku, Tuan Putri," ucap Michi menundukkan badannya meminta maaf.
"Iya, tidak apa-apa, beruntung kau tidak kenapa-kenapa," sahut Putri Alice tersenyum sembari mengusap-usap kepala Michi.
"Kali ini, kau jangan jauh-jauh dari kakak," ucap Nim.
"Baik kak, maaf..." sahut Michi.
"Ayo kita lanjutkan," ajak Putri Alice kemudian melanjutkan langkahnya dan diikuti oleh Grazel, Nim dan Luiji, serta Michi yang juga ikut melangkah tepat di samping Nim.
"Besar sekali gerbangnya," ucap Michi takjub ketika tampak sebuah ruangan yang gerbangnya sangat besar.
"Kita sudah sampai," ucap Putri Alice seketika tiba di depan sebuah gerbang besar. Kemudian Putri Alice merapalkan sebuah mantera sihir sembari mengarahkan kedua telapak tangannya ke sebuah kristal kuning berbentuk segi enam yang menempel di gerbang besar tersebut. Setelah Putri Alice selesai merapal mantera, kemudian kristal kuning pada gerbang tersebut tampak bersinar, lalu sinar tersebut melesat keluar dan sinar itu pun berubah wujud menjadi seorang perempuan bergaun kuning.
"Selamat datang, Tuan Putri," perempuan tersebut, "Sudah lama sekali Tuan Putri tidak kemari," ucapnya lagi.
Putri Alice tersenyum menatap perempuan bergaun tersebut, "Sudah lama sekali ya, Vichel?"
"Ada keperluan apa Tuan Putri kemari?" tanya Vichel.
"Aku ingin menunjukkan Greatshfer kepada teman-temanku," jawab Putri Alice.
"Baiklah, silahkan masuk," ucap Vichel kemudian seketika pintu gerbang terbuka dengan sendirinya.
"Ayo," ajak Putri Alice seketika melangkah masuk ke dalam ruangan diikuti oleh Grazel, Nim dan Luiji serta Michi.
"Banyak sekali artefak-artefak kuno disini," ucap Nim sembari menoleh ke kiri dan kanan sembari menatap beberapa artefak yang tersusun rapi di dalam ruangan kaca.
"Ini seperti museum ya kak," ucap Michi kemudian.
"Kau benar, Michi," sahut Nim, "Tempat ini seperti museum," sambungnya sembari tersenyum.
"Tempat ini bukan hanya sekedar museum bagiku," ucap Putri Alice tersenyum, "Sejak kecil aku sering kemari, tempat ini sudah seperti perpustakaan bagi ku, disini aku bisa mengetahui sejarah yang ada di dunia ini," sambungnya menjelaskan.
"Apa itu?" tanya Michi menunjuk ke sebuah Altar tepat di atasnya terdapat sebuah kristal yang mengambang, kristal tersebut berwarna putih dan berbentuk prisma.
"Inilah yang disebut Greatshfer," ucap Putri Alice.
"Kristal itu mirip dengan Hashfer," ucap Tion.
"Ya, kau benar, Tion," sahut Naken.
"Benarkah?" tanya Luiji.
"Ya, bentuknya sama persis," jawab Naken.
"Sekarang aku tahu bagaimana bentuk asli dari Hashfer," ucap Nim.
"Kakak, kakak," bisik Michi, "Kak Luiji sedang bicara dengan siapa?" bisiknya lagi.
Nim tersenyum ke arah adiknya.
"Michi," panggil Grazel.
"Ya?" sahut Michi.
"Ayo kemari," ucap Grazel.
Michi menatap ke arah Nim, "Kakak...."
"Kamu ikut Om Grazel dulu, ya," ucap Nim tersenyum.
Michi mengangguk kemudian melangkah ke arah Grazel.
"Om? Apa tampang ku setua itu!" gumam Grazel tampak kesal sembari melangkah menuju sebuah kursi panjang yang berada tepat di dekat Altar dan diiringi oleh Michi, "Sepertinya aku akan duduk disini saja," ucapnya lagi seketika duduk di atas kursi sembari merasa bingung karena tidak bisa mendengar perkataan dari Tion dan Naken, "Michi, ayo duduk disini," sambungnya sembari membersihkan kursi di sebelahnya.
Sentak Putri Alice, Nim, Luiji, dan Michi tertawa ketika mendengar Grazel yang tampak kesal karena disebut 'Om'.
"Tapi aku tidak merasakan energi apapun dari Greatshfer itu," ucap Tion.
"Ya, karena kekuatan Greatshfer sudah disegel oleh ayahku," sahut Putri Alice.
"Kenapa kekuatan Greatshfer disegel?" tanya Naken.
"Greatshfer memiliki kekuatan yang lebih besar dari Hashfer yang kini sedang dicari-cari oleh Rieghart," jawab Putri Alice, "Dan hanya mendiang ayahku yang bisa melepaskan segelnya, dan sekarang ayahku sudah tidak ada," sambungnya lagi.
"Lalu apa mungkin Black Tail mampu mematahkan sihir penyegelnya?" tanya Nim, "Bukannya mendiang ayah Tuan Putri sudah tidak ada?"
"Hanya karena segelnya tidak bisa dibuka, kita tidak bisa meremehkan kemampuan Neilto, pemimpin dari Black Tail," sahut Grazel dari kejauhan.
"Benar, karena kemampuan sihir Neilto sebanding dengan kemampuan sihir yang dimiliki oleh mendiang ayahku," ucap Putri Alice.
Tiba-tiba tampak Altar yang di atasnya terdapat Greatshfer tersebut mengeluarkan cahaya biru, kemudian cahaya tersebut mengalir mengikuti garis pada Altar menuju Greatshfer di atasnya, sehingga membuat Greatshfer tersebut mengeluarkan cahaya.
"Apa yang terjadi?" teriak Grazel seketika berdiri.
Tampak Putri Alice yang juga terkejut, "Aku juga baru pertama kali melihat ini."
"Siapa kalian!" Terdengar suara yang menggelegar berasal dari Greatshfer.
"Apa benar Greatshfer tersebut berbicara?" ucap Nim heran.
"Aku memang Greatshfer. Lalu siapa kalian?" ucap Greatshfer tersebut bertanya.
"Aku adalah Putri Alice," jawab Putri Alice mendekat ke arah Greatshfer.
"Putri Alice? Apa kau adalah anak dari Raja Ashgar?" tanya Greatshfer.
"Benar, dia adalah ayahku," jawab Putri Alice.
"Lalu, siapa anak perempuan yang satunya lagi?" tanya Greatshfer lagi.
Nim melangkah mendekati Greatshfer, "Dia? Di-dia...."
"Diam!" teriak Greatshfer tersebut menghentikan ucapan Nim.
"Namaku Michi," jawab Michi seketika berdiri kemudian mendekati Greatshfer.
"Aura yang kau miliki mirip sekali dengan raja Ashgar," ucap Greatshfer.
"Apa!" ucap Putri Alice terkejut sembari menatap ke arah Michi.
"Apa maksudmu?" tanya Michi yang tidak mengerti perkataan dari Greashfer.
"Putri Alice juga memiliki aura yang hampir mirip dengan aura yang dimiliki oleh raja Ashgar, tapi auramu sangat mirip dengan yang dimiliki oleh raja Ashgar," sahut Greatshfer.
"Bagaimana bisa?" gumam Putri Alice.
"Sepertinya kau bisa membuka sihir penyegel yang ada padaku," ucap Greatshfer.
"Aku masih tidak mengerti," sahut Michi tersenyum sembari menggaruk kepalanya.
"Kemarilah," ucap Greatshfer.
"Siapa? Aku?" sahut Michi sembari menunjuk wajahnya sendiri.
"Ya, kau," ucap Greatshfer.
"Kakak?" ucap Michi sembari menatap ke arah Nim. Kemudian Nim menoleh lagi ke arah Putri Alice. Lalu Putri Alice pun mengangguk ke arah Nim.
"Baiklah," sahut Michi mengangguk kemudian perlahan melangkah menaiki dan mendekati Greatshfer.
"Ulurkan kedua telapak tanganmu," ucap Greatshfer.
"Seperti ini?" sahut Michi sembari mengikuti arahan dari Greatshfer.
"Ya, benar seperti itu," ucap Greatshfer, "Pejamkanlah matamu," sambungnya mengarahkan.
Tampak dari bawah Altar, Putri Alice, Nim, Luiji dan Grazel yang terlihat bingung ketika mengetahui bahwa Michi adiknya Nim yang memiliki aura yang sangat mirip dengan aura yang dimiliki oleh raja Ashgar. Setelah Michi memejamkan matanya, Greatshfer itupun kemudian mengeluarkan cahaya yang sangat menyilaukan mata sampai membuat Putri Alice, Nim, Luiji dan Grazel tidak bisa melihat karena silau.
"Michi!" teriak Nim yang ketika melihat adiknya berada di dekat Greatshfer, namun ketika dia hendak mendekati adiknya, tubuhnya kaku dan tidak bisa digerakkan.
Ketika Michi memejamkan matanya, tampak dalam pandangan mata Michi sebuah alam semesta yang sangat luas dan Michi merasa seperti berdiri mengambang di luar angkasa.
"Sepertinya memang benar, kau adalah keturunan murni dari raja Ashgar," ucap Greatshfer tersebut seketika menunjukkan wujud aslinya, yaitu berwujud seekor naga berwarna emas dan tampak bola besar berwarna biru mengelilingi tubuhnya.
Michi hanya terpesona menatap alam semesta yang sangat luas, "Ternyata besar sekali dunia ini," gumamnya.
"Aku akan mengabdi kepadamu, Putri Michi," ucap Greatshfer tersebut.
Michi menoleh ke arah Greatshfer yang berubah wujud menjadi naga emas, "Hah? Apa maksudmu dengan mengabdi kepadaku?" tanya Michi heran.
Tanpa menghiraukan pertanyaan Michi, kemudian Greatshfer tersebut merubah wujudnya lagi seperti semula dan mengecil membentuk sebuah gelang berwarna emas yang kemudian bergerak melayang menuju tangan Michi, seketika gelang tersebut terpasang di tangan Michi.
Kemudian cahaya yang menyilaukan pun perlahan memudar, sampai tampak Michi yang berdiri melayang tepat di atas Altar kemudian perlahan turun dan menginjakkan kakinya tepat di atas Altar.
"Michi!" teriak Nim seketika berlari ke arah Michi ketika dia sudah mampu menggerakkan tubuhnya, "Kau tidak apa-apa?" tanyanya kemudian seketika tiba tepat di depan adiknya.
"Ya kakak, aku tidak apa-apa," jawab Michi tersenyum.
"Dimana Greatshfernya?" tanya Tion.
"Siapa yang bicara itu?" tanya Michi yang heran ketika mendengar suara dari Tion.
"Oh, ini," jawab Nim sembari menunjukkan sebuah gelang yang terpasang di tangannya.
"Waaahh," Michi mendekatkan wajahnya ke arah gelang di tangan Nim, "Siapa namamu?" tanyanya kemudian.
"A-aku Tion," jawab Tion, "Lalu, dimana Greatshfer tadi?" sambungnya bertanya.
"Ini," ucap Michi sembari mendekatkan sebuah gelang di tangannya ke arah gelang yang dimiliki oleh Nim.
"Apa kau juga salah satu Beaster sama seperti kami?" tanya Tion.
"Apa maksudmu Beaster?" sahut Greatshfer, "Aku bukan Beaster seperti kalian, aku adalah Dewa Keseimbangan," sambungnya memberitahu.
"Dewa Keseimbangan?" ucap Luiji seketika mendekat ke arah Nim dan Michi.
"Ya, aku adalah Dewa Keseimbangan, tugasku adalah untuk menjaga keseimbangan antar dunia," sahut Greatshfer.
"Kalau kau adalah Dewa Keseimbangan dan tugasmu untuk menjaga keseimbangan antar dunia, lalu kenapa kau biarkan Rieghart dan Neilto berambisi untuk menguasai seluruh dunia?" tanya Luiji.
"Itulah sebabnya kalian kemari," jawab Greatshfer, "Apakah kau ingat di saat kalian terjebak dalam sebuah lubang hitam yang dibuat oleh Alio?" sambungnya bertanya balik.
"Ya, aku mengingatnya," jawab Luiji.
"Kemudian, kalian semua terhisap ke sebuah lorong, sehingga kalian jatuh di dunia ini," ucap Greatshfer.
"Bagaimana kau bisa tahu kalau kami sempat terjebak disana, lalu jatuh di dunia ini?" sahut Nim seketika bertanya.
"Bukankah sudah ku katakan bahwa aku adalah Dewa," sahut Greatshfer, "Walaupun aku tersegel di tempat ini, tapi aku masih mampu mengeluarkan sedikit kekuatanku," sambungnya.
Putri Alice mengerutkan keningnya, "Jadi, kau lah yang membawa Nim dan Luiji kemari," ucapnya seketika melangkah menaiki Altar kemudian mendekat ke arah Nim dan Michi.
"Kau benar, Putri Alice," sahut Greatshfer.
"Lalu, bagaimana dengan Michi?" pungkas Nim, "Bagaimana dia bisa kemari?" sambungnya bertanya.
"Kalau itu, aku tidak tahu," sahut Greatshfer.
"Kakak," panggil Michi.
"Ya?" sahut Nim.
"Apa kakak ingat dengan monster bermata merah menyala yang menatapku ketika di rumah?" tanya Michi.
"Ya, aku ingat," sahut Nim.
"Setelah kakak pergi bersama kak Luiji, ketika malam hari monster itu datang lagi, lalu membawaku ke suatu tempat gelap dan mengurungku disana," ucap Michi memberitahu.
"Apa kau ingat bagaimana tempat itu?" tanya Putri Alice.
"Ya, aku masih ingat bagaimana tempat tersebut," jawab Michi mengangguk, "Ketika aku berada disana, aku melihat tempat itu mirip seperti laboraturium penelitian dan aku juga melihat terdapat banyak sekali benda menggantung mirip seperti kepompong," sambungnya memberitahu.
"Lalu, bagaimana kau bisa kemari?" tanya Nim.
Michi terdiam sejenak, "Aku dipaksa untuk memasuki sebuah ruangan, lalu...." Tiba-tiba Michi menjerit kesakitan sembari memegangi kepalanya kemudian terjatuh, namun dengan sigap Nim seketika merangkul dan memangku adiknya.
"Kau tidak apa-apa, Michi," ucap Nim tampak khawatir dengan apa yang terjadi pada adiknya.
"Sakit sekali, kak," jerit Michi yang masih merasa kesakitan sembari memegangi kepalanya kemudian seketika tidak sadarkan diri.
"Michi! Michi!" teriak Nim sembari menggoyang-goyangkan tubuh adiknya.
"Ayo kita bawa kembali Michi ke dalam istana!" teriak Putri Alice, "Segera bawa dia ke ruang rawat!" sambungnya lagi.
"Ayo, Nim!" teriak Luiji.
Nim mengangguk dan dengan segera mengangkat tubuh adiknya, kemudian bersama Luiji, seketika Nim berlari membawa adiknya menuju ke ruang rawat di dalam istana.
"Greatshfer...." Putri Alice kemudian terdiam sembari menatap ke arah Nim yang berlari menggendong Michi menuju ke ruang rawat di dalam istana.
"Tuan Putri?" ucap Grazel seketika melangkah mendekat ke arah Putri Alice.
"Siapa Michi sebenarnya?" ucap Putri Alice.
Grazel menatap Putri Alice tanpa sepatah kata.
"Jika dia juga memiliki aura yang sama seperti mendiang ayahku, itu artinya dia juga seorang keturunan di istana ini, tapi bukankah seharusnya dia tidak akan diserang oleh jebakan yang dipasang mendiang ayahku," ucap Putri Alice.
"Saya juga tidak mengerti," sahut Grazel, "Apakah kita bisa menanyakan kebenarannya kepada Greatshfer, Tuan Putri?" sambungnya bertanya.
"Itu bisa saja," jawab Putri Alice, "Tapi bagaimana kalau Greatshfer juga tidak tahu?" sahutnya lagi kembali bertanya.
Kemudian Grazel terdiam.
"Tuan Putri," ucap Vichel yang seketika masuk ke dalam ruangan rahasia dan melangkah mendekat ke arah Putri Alice.
"Vichel?" sahut Putri Alice seketika menoleh ke arah Vichel.
"Sebenarnya masih ada suatu kebenaran yang disembunyikan oleh Raja Ashgar," ucap Vichel ketika berdiri tepat di samping Putri Alice.
Putri Alice mengerutkan keningnya, "Kebenaran yang disembunyikan ayahku?"
"Ya, Tuan Putri," sahut Vichel mengangguk.
"Apa itu?" tanya Putri Alice.
"Ketika itu, Raja Ashgar masih belum menjabat sebagai seorang raja." Vichel tersenyum,"Karena Raja Ashgar tidak setuju dengan perjodohan yang telah direncanakan oleh Raja Venus, yaitu kakek Tuan Putri. Raja Ashgar kemudian lari meninggalkan istana, dan dicari oleh Raja Venus. Sampai beliau bertemu dengan Oldeus yaitu sahabat Raja Venus. Raja Ashgar menceritakan apa yang terjadi kepada Oldeus. Oldeus pun kemudian bersedia menyembunyikan Raja Ashgar dari Raja Venus yang mencarinya. Di kediaman Oldeus, Raja Ashgar dilatih oleh Oldeus. Sampai suatu ketika, Raja Ashgar diajak oleh Oldeus memasuki sebuah goa sampai mereka tiba di bumi."
"Apa! Ayahku pernah ke bumi?" tanya Putri Alice.
Tampak Grazel mengerutkan keningnya.
"Ya, Tuan Putri," sahut Vichel tersenyum, "Ketika di bumi, Raja Ashgar bertemu dengan seorang perempuan yang ternyata juga berasar dari dunia ini, dia bernama Moura," sambungnya.
"Moura?" gumam Putri Alice.
"Benar, lama setelah saling mengenal, kemudian mereka menikah, lalu kembali pulang ke istana dengan membawa seorang bayi perempuan, yang tidak lain adalah anak dari Raja Ashgar dan Moura," jelas Vichel.
"Jadi, aku bukanlah anak tunggal dari ayahku?" tanya Putri Alice.
"Ya, Tuan Putri," jawab Vichel sembari mengangguk.
"Lalu, bagaimana dengan bayi perempuan itu?" tanya Grazel.
Vichel terdiam sejenak, "Dia dibuang," ucapnya kemudian, "Karena Raja Venus tidak menerima keberadaan Moura dan bayi mereka, kemudian Moura bersama bayinya diusir dari istana, dan Raja Ashgar tidak mampu berbuat apa-apa, dan dengan segera Raja Ashgar dinikahkan secara paksa dengan Ratu Ohna, yaitu ibunda Tuan Putri. Setelah diusir dari istana, Moura pergi ke tempat Oldeus dan berniat menitipkan bayi tersebut kepada Oldeus. Namun Oldeus menolaknya, tapi dia memberikan sebuah saran agar bayi tersebut dititipkan ke bumi," sambungnya menjelaskan.
"Tapi, kalau benar bayi itu adalah Michi, kenapa bisa dia tampak lebih muda dari ku?" tanya Putri Alice.
"Oldeus mencari seorang wanita yang sedang mengandung, kemudian dengan sihirnya seketika memasukkan bayi tersebut ke dalam perut seorang wanita yang sedang mengandung, dibantu oleh sihir Oldeus, sehingga bayi itu menyatu dengan janin yang ada di dalam perut wanita itu dan menyelaraskan pertumbuhannya mengikuti pertumbuhan makhluk di bumi," jelas Vichel.
"Artinya, wanita yang sedang mengandung itu adalah ibunya Nim," ucap Putri Alice.
"Mungkin seperti itu, Tuan Putri," sahut Vichel tersenyum, "Karena takdir, kalian dipertemukan kembali," sambungnya.
"Jadi, Michi adalah kakak ku..." gumam Putri Alice.