Tampak Nim dari dalam ruang rawat di dalam istama yang terlihat sangat khawatir dengan keadaan Michi, yaitu adiknya.
"Michi," gumam Nim tampak murung ketika menatap adiknya.
"Nim," ucap Luiji seketika menghampiri Nim.
Nim menoleh ke arah Luiji.
"Putri Alice ingin bicara denganmu," ucap Luiji memberitahu.
"Dimana?" tanya Nim.
"Dia menunggumu di ruang tengah," jawab Luiji.
"Baiklah, aku akan menemui Putri Alice sekarang juga," sahut Nim seketika beranjak dari duduknya, "Bisakah kau jagakan Michi sebentar," pinta Nim.
"Ya, kau bisa mengandalkanku," sahut Luiji tersenyum sembari mengacungkan jempolnya.
"Terima kasih, Luiji," ucap Nim seketika melangkah keluar dari ruang rawat menuju ke tempat Putri Alice berada.
"Apa yang sebenarnya terjadi," gumam Luiji.
"Aku juga tidak mengerti," sahut Naken.
Tampak Nim yang perlahan melangkah masuk ke dalam ruangan yang disana Putri Alice sudah menunggunya.
"Tuan Putri memanggil saya?" tanya Nim ketika tiba dan berdiri di depan Putri Alice yang sedang duduk di singgasananya.
Putri Alice mengangguk, "Ada suatu hal yang sepertinya harus aku beritahukan kepadamu," ucapnya dengan tatapan serius.
"Apa itu, Tuan Putri?" tanya Nim heran.
"Suatu kebenaran," jawab Putri Alice.
"Kebenaran?"
"Ya, kebenaran tentang adikmu, Michi," jawab Putri Alice.
"Kenapa dengan adik saya, Tuan Putri?" tanya Nim lagi.
"Kau mungkin tidak dapat mempercayai dengan apa yang akan aku katakan," sahut Putri Alice beranjak dari singgasananya kemudian perlahan melangkah mendekat menuju Nim berdiri.
"Apa itu?" tanya Nim lagi ketika Putri Alice berdiri tepat di depannya.
"Tapi, sebelum aku mengatakan ini, kau harus berjanji kepada ku untuk tidak segera memberitahukannya kepada adik mu," ucap Putri Alice menatap tajam ke arah Nim.
Nim terdiam sejenak kemudian mengangguk, "Baiklah, Tuan Putri," ucapnya kemudian.
"Sebenarnya, Michi adikmu adalah kakakku," ucap Putri Alice.
"Apa!" sentak Nim terkejut, "Tuan Putri bohong," sahutnya lagi.
"Kau pasti tahu kalau aku sedang berkata jujur atau tidak," ucap Putri Alice.
Nim mengerutkan keningnya, "Tapi, bagaimana bisa?" lanjutnya bertanya.
Kemudian Putri Alice memberitahukan semua yang dia ketahui dari cerita Vichel kepada Nim.
"Semua kenyataan ini semakin menjadi tidak masuk akal," gumam Nim.
"Nim," ucap Tion.
"Ya, Tion," sahut Nim.
"Kalau semua yang telah kau temui selama ini tidak masuk akal, lantas bagaimana sekarang kau bisa kemari?" tanya Tion kemudian.
Nim terdiam sejenak, "Jika Tuan Putri adalah adik Michi, itu artinya Tuan Putri juga adikku," ucapnya kemudian tersenyum sembari menatap Putri Alice.
Putri Alice balas tersenyum, "Begitu juga boleh," sahutnya kemudian.
"Kalau begitu, aku tidak perlu lagi memanggil Putri Alice dengan sebutan Tuan Putri," ucap Nim.
"Jaga sikapmu!" teriak Grazel yang ketika itu berdiri di samping singgasana Putri Alice.
"Tidak apa-apa, Grazel," ucap Putri Alice menoleh ke belakang ke arah Grazel.
"Ta-tapi, Tuan Putri...."
"Iya, aku senang kalau Nim memanggilku hanya dengan nama saja," ucap Putri Alice tersenyum.
"Baiklah, mulai sekarang aku akan memanggil Tuan Putri, dengan sebutan Alice," sahut Nim tersenyum.
Putri Alice balas tersenyum sembari mengangguk, "Tapi ingat, jangan kau beritahu dulu Michi tentang kebenaran ini," ucap Putri Alice.
"Tenang saja, Alice," sahut Nim mengedipkan sebelah matanya sembari mengacungkan jempolnya.
"Bagaimana keadaan Michi sekarang?" tanya Putri Alice.
"Michi masih belum siuman," sahut Nim kemudian menundukkan kepalanya menyembunyikan wajahnya yang tampak murung.
"Ayo kita ke sana," ajak Putri Alice.
Nim mengangguk kemudian melangkah bersama Putri Alice menuju ke ruang rawat tempat Michi dirawat.
"Apakah sudah ada kemajuan, Luiji?" tanya Putri Alice ketika tiba di dalam ruang rawat.
"Sepertinya masih belum, Tuan Putri,"
"Ssstt, Alice," bisik Nim. Seketika Luiji heran ketika mendengar Nim memanggil Putri Alice hanya dengan sebutan nama saja.
"Ya, Nim?" sahut Putri Alice balas berbisik.
"Luiji kan temanku, itu berarti juga temanmu, kan?" ucap Nim berbisik.
"Ya?" bisik Putri Alice.
"Apa boleh, Luiji juga memanggilmu hanya dengan sebutan Alice?" tanya Nim berbisik.
Putri Alice tersenyum mengangguk mendandakan bahwa membolehkan.
"Hei, hei, aku mendengar pembicaraan kalian!" ucap Luiji menoleh ke arah Nim dan Putri Alice.
"Oh iya, aku lupa kalau Luiji juga bisa mendengar perkataan dalam hati, apalagi hanya sekedar berbisik," ucap Nim sembari menggaruk kepalanya.
"Sebenarnya apa yang sudah terjadi pada kalian?" tanya Luiji.
"Luiji, ikut aku sebentar," ucap Nim seketika menarik tangan Luiji menuju ke luar ruang rawat istana.
"Alice, tolong jaga Michi sebentar," ucap Nim menengok dari depan ruang rawat ke arah Putri Alice.
Putri Alice tesenyum sembari mengangguk.
"Ada apa, Nim?" tanya Luiji tampak bingung.
"Ssstt, jangan keras-keras," ucap Nim memperingatkan Luiji.
"Ada apa?" bisik Luiji kemudian.
"Aku akan memberitahukan sebuah kebenaran mengejutkan kepada mu," ucap Nim berbisik, "Tapi, aku mohon kau harus merahasiakan ini dari Michi," bisiknya lagi.
Luiji terdiam sejenak, "Apa itu?" bisiknya kemudian.
Kemudian dengan sangat rinci Nim memberitahukan semua yang dikatakan Putri Alice kepada Luiji.
"Apa!" sentak Luiji terkejut.
"Ssstt."
"Aku masih tidak percaya, tapi ini sebuah kebenaran yang sangat mengejutkan," ucap Luiji.
"Ingat, jangan sampai Michi mengetahuinya," ucap Nim berbisik memperingatkan Luiji.
"Ya, tenang saja, rahasia ini pasti aman," sahut Luiji balas berbisik.
"Nim, Luiji! Cepar kemari!" teriak Putri Alice dari dalam ruang rawat.
Seketika Nim dan Luiji segera masuk ke dalam ruang rawat.
"Ada apa, Alice?" tanya Nim ketika tiba di dalam ruang rawat.
"Michi mulai siuman," jawab Putri Alice.
"Michi," ucap Nim seketika mendekat ke arah Michi berbaring sembari menggenggam tangan Michi.
"Ka-kakak?" ucap Michi, "Apa yang sudah terjadi padaku, Kak?" tanyanya kemudian seketika berusaha membangunkan tubuhnya.
"Sudah, kau jangan memaksakan diri dulu," sahut Nim seketika perlahan merebahkan kembali tubuh adiknya, "Beristirahatlah dulu," sambungnya kemudian.
Michi mengangguk.
"Nim, Luiji!" panggil Grazel yang seketika tiba berdiri tepat di depan ruang rawat.
"Grazel?" sahut Nim seketika menoleh kebelakang ke arah Grazel berdiri.
"Sebaiknya kita secepatnya melanjutkan lagi latihan kalian ke tahap kedua," ucap Grazel sembari melangkahkan kaki mendekat menuju ke arah Nim, Luiji, Putri Alice serta Michi yang sedang berbaring.
"Benar, hampir saja aku lupa kalau kita masih ada latihan," sahut Nim seketika berdiri.
"Benar, sebaiknya kalian sekarang segera melanjutkan latihan," ucap Putri Alice, "Michi serahkan saja padaku," sambunya tersenyum sembari menggenggam tangan Michi.
"Terima kasih ya, Kak," ucap Michi tersenyum seketika perlahan menggerakkan tangannya balas menggenggam tangan Putri Alice yang menggenggam tangannya.
"Nah, tunggu apa lagi?" sahut Putri Alice seketika menatap ke arah Nim dan Luiji.
Nim dan Luiji seketika saling menatap kemudian mengangguk.
"Ayo, Luiji," ucap Nim.
"Ya, kita harus segera menyelesaikan latihan di tahap kedua ini," sahut Luiji.
"Baiklah, sekarang kita langsung menuju ke ruang latihan," ucap Grazel seketika melangkah keluar dari ruang rawat dan langsung menuju ke ruang latihan.
"Ya," sahut Nim dan Luiji bersamaan kemudian mengiringi langkah Grazel tepat di belakang.
"Kakak?" ucap Michi, "Apa boleh aku panggil kakak saja?"
"Ya?" sahut Putri Alice tersenyum, "Kau boleh memanggilku dengan sebutan kakak," ucapnya lagi, "Hmm... Adik juga boleh," sambungnya lagi tersenyum dengan nada mengejek.
"Kakak bisa saja," sahut Michi seketika tertawa dan diikuti oleh Putri Alice yang juga kemudian tertawa.
"Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Putri Alice.
"Sudah agak mendingan, Kak," jawab Michi tersenyum kemudian berusaha membangunkan tubuhnya untuk duduk.
"Jangan dipaksakan dulu," sahut Putri Alice sembari menahan tubuh Michi.
"Tidak apa-apa, Kak," ucap Michi perlahan meneruskan duduk, "Aku tidak suka berbaring, Kak," sambungnya tersenyum.
"Kenapa? Bukankah kalau tidur juga berbaring?" tanya Putri Alice.
"Kalau tidur sih tidak apa-apa, Kak," sahut Michi, "Tapi kalau tidak tidur, aku tidak suka, karena aku merasa seperti seorang yang malas dan lemah ketika aku berbaring," sambungnya kemudian.
"Dalam darahmu mengalir semangat yang membara," ucap Putri Alice tersenyum.
"Jangan terlalu membara, Kak," sahut Michi.
"Kenapa?" tanya Putri Alice heran.
"Kalau terlalu membara, takutnya nanti aku kepanasan," jawab Michi mengejek.
Seketika Putri Alice tertawa kemudian diiringi oleh Michi yang juga tertawa.
"Kakak?" ucap Michi seketika melerai tertawaan mereka.
"Ya?" sahut Putri Alice tersenyum.
"Sebenarnya kita sekarang berada dimana, Kak?" tanya Michi sembari menatap tajam ke arah Putri Alice.
"Kalian sekarang ini berada di dunia yang menjadi jembatan antar dunia," jawab Putri Alice.
"Lalu, apa yang kak Nim dan kak Luiji lakukan disini?" tanya Michi lagi.
"Sebenarnya Nim dan Luiji ingin menyelamatkan seorang teman mereka yang saat ini ditahan oleh Alio, tapi karena dengan kemampuan mereka sekarang ini, itulah sebabnya Nim dan Luiji mempersiapkan diri mereka disini," jawab Putri Alice.
"Siapa itu Alio, Kak?" tanya Michi.
"Alio adalah tangan kanan Rieghart, Penguasa jahat yang memiliki ambisi untuk menguasai dan memerintah seluruh dunia," jawab Putri Alice, "Dan tujuan kami untuk menghentikan ambisi dari mereka," sambungnya lagi.
"Lalu, orang yang menangkapku itu siapa kak?" tanya Michi lagi.
"Mungkin orang yang menangkapmu itu adalah salah satu anggota dari Black Tail," jawab Putri Alice.
"Black Tail?" gumam Michi.
"Ya, dan pemimpin Black Tail yaitu Neilto yang juga memiliki ambisi yang sama dengan Rieghart," ucap Putri Alice.
"Apakah aku juga boleh ikut, Kak?" tanya Michi setelah mendengar penjelasan dari Putri Alice.
Putri Alice tersenyum, "Sebaiknya kamu harus meminta izin terlebih dahulu kepada Nim," jawabnya kemudian.
"Tenang saja, Kak," sahut Michi terseyum, "Kak Nim pasti mengizinkan aku untuk ikut kok," sambungnya lagi.
"Baiklah, kalau begitu kita berjuang bersama-sama ya," ucap Putri Alice.
"Ya, kak," sahut Michi bersemangat.