15. Penduduk Asli Jembatan Dunia

2078 Kata
Tampak Grazel, Nim, dan Luiji yang sedang berada di dalam ruang latihan, serta beberapa prajurit yang juga sedang melakukan latihan disana. "Prajurit! Berbaris!" teriak Grazel. Seketika seluruh prajurit bergegas berlari menuju ke depan Grazel berdiri kemudian berbaris, "Kalian semua boleh libur untuk latihan hari ini," ucapnya. "Hore! Asik!" teriak beberapa prajurit yang tampak senang karena latihan mereka diliburkan. Grazel menatap ke arah Nim dan Luiji yang tepat berdiri di belakangnya, "Nim! Luiji!" ucapnya kemudian. "Ya," sahut Nim. "Kalian berdua, ambil empat buah ember yang ada disana," ucap Grazel sembari menunjukkan tangannya ke arah empat buah ember yang tepat berada di sudut ruang latihan. "Baik," sahut Nim dan Luiji bersamaan, kemudian mereka berlari menuju ke empat ember tersebut, Nim dan Luiji masing-masing mengangkat dua ember lalu membawanya kembali lagi menuju ke arah Grazel. "Sekarang, kalian ikut aku," ucap Grazel kemudian melangkah ke luar dari ruang latihan. Nim dan Luiji mengangguk seketika megiringi Grazel. "Mau kemana kita?" tanya Nim. "Kita akan berlatih di luar istana," jawab Grazel. "Sepertinya ini akan sulit," gumam Luiji dalam hati. "Tenang saja Luiji, kita pasti bisa menyelesaikannya," sahut Nim dalam hati. "Baiklah, kita sudah sampai," ucap Grazel ketika mereka tiba di dekat sumur kecil yang berada tepat di belakang istana. "Ternyata ada sumur disini," ucap Nim. "Cepat kalian isi semua ember dengan air yang berada di dalam sumur itu," ucap Grazel menyuruh Nim dan Luiji. "Baik," sahut Nim dan Luiji bersamaan, kemudian mereka mendekati sumur tersebut lalu mencoba mengambil air dari sumur tersebut. "Kenapa berat sekali?" ucap Nim yang tampak sulit mengeluarkan ember yang berisi air dari sumur tersebut. "Bagaimana? Apa kalian bisa?" ucap Grazel tersenyum, "Sumur ini adalah sebuah sumur keramat," sambungnya. "Sumur keramat?" tanya Nim heran sembari meletakkan sebuah ember yang berisi air yang telah ditimbanya dari sumur. "Benar, turun temurun kami semua disini menggunakan air dari dalam sumur ini untuk berlatih," jawab Grazel. "Lalu, apa latihan apa yang akan kami lakukan sekarang dengan menggunakan ini?" tanya Luiji seketika meletakkan dua ember yang berisi air yang berasal dari sumur keramat. Grazel tersenyum, "Silahkan kalian angkat dua ember itu dengan kedua tangan kalian," "Seperti ini?" tanya Nim seketika menjinjing kedua ember berisi air dengan kedua tangannya. "Bukan seperti itu, tapi seperti ini," jawab Grazel sembari membentangkan lurus kedua tangannya ke arah samping. "Baiklah, kalau seperti ini sih mudah," sahut Nim seketika mengangkat kedua ember berisi air di tangannya dengan cara membentangkan kedua tangannya dan ikuti oleh Luiji yang juga mengangkat kedua ember berisi air itu. Grazel tersenyum, "Apapun yang terjadi, jangan sampai kalian menurunkan kedua tangan kalian sebelum aku perintahkan," ucapnya kemudian. "Baik," teriak Nim dan Luiji bersamaan sembari menahan kedua ember pada tangan mereka dengan posisi tangan membentang ke samping. "Bagus, sepertinya aku akan berkeliling istana sebentar," ucap Grazel kemudian melangkah pergi menjauh dari Nim dan Luiji yang sedang berdiri mengangkat kedua ember berisi air keramat dengan posisi tangan terbentang ke samping. "Tanganku keram," keluh Nim ketika merasakan seluruh tangannya keram. "Ya, tanganku juga," sahut Luiji ikut mengeluh. "Bagaimana?" tanya Grazel yang seketika tiba di dekat mereka, "Bukankah ini sangat mudah?" sambungnya lagi bertanya. Tampak wajah Nim dan Luiji yang terlihat pucat karena menahan rasa keram di kedua tangannya. "Ta-tanganku keram," jerit Nim kemudian kedua ember di tangan Nim terjatuh, "Aku tidak bisa merasakan jari-jari tanganku," keluhnya kemudian. "Aku belum menyuruhmu berhenti!" teriak Grazel seketika melihat Nim yang menjatuhkan kedua ember berisi air dari tangannya, "Cepat kau ambil lagi airnya, lalu lakukan lagi apa yang ku perintahkan!" teriaknya lagi. "Ba-baik," ucap Nim seketika bergegas mengambil kembali air dari sumur keramat, bergegas lagi berdiri tepat di samping Luiji lalu mengangkat kembali ember yang berisi air dengan posisi tangan membentang ke samping. "Bagus, tetap tahan tangan kalian sampai aku menyuruh kalian berhenti," ucap Grazel kemudian melangkah pergi menjauh dari Nim dan Luiji yang sedang berlatih. Di dalam ruang rawat tepat di dalam istana. "Kak," ucap Michi menatap wajah Putri Alice. "Ya?" sahut Putri Alice tersenyum. "Aku bosan disini, Kak," keluh Michi, "Apakah kakak mau menemani aku jalan-jalan?" tanyanya kemudian. "Kamu harus istirahat dulu," sahut Putri Alice. "Tidak apa-apa, Kak," ucap Michi sembari perlahan menurunkan kakinya dari ranjang kemudian berdiri, "Aku kuat kok," ucapnya lagi sembari tersenyum. Putri Alice tersenyum, "Baiklah, tapi jangan lama-lama ya, kakak takut nanti kamu kenapa-kenapa lagi," ucapnya sembari memegang tangan Michi kemudian perlahan menuntunnya keluar dari ruang rawat. "Kak Nim sama kak Luiji dimana ya, Kak?" tanya Michi menengok ke dalam ruang latihan ketika tepat mereka melintas di depan ruang tersebut. "Mungkin mereka sekarang sedang latihan di belakang istana," jawab Putri Alice. "Ayo kita datangi mereka, Kak," ucap Michi seketika menarik tangan Putri Alice menuju ke luar istana. Setibanya Michi dan Putri Alice di belakang istana, mereka melihat Nim dan Luiji yang sedang berlatih dengan mengangkat kedua ember di tangannya. "Kakak!" teriak Michi seketika berlari ke arah Nim dan Luiji. "Michi?" ucap Nim ketika menoleh ke arah adiknya yang sedang berlari. "Apa aku boleh ikut latihan, Kak?" tanya Michi. "Tidak bisa, Michi, harusnya kamu itu istirahat," sahut Nim menoleh ke arah adiknya. "Benar, Michi, kamu tidak perlu ikut latihan," sahut Putri Alice ketika tiba di dekat mereka. "Yah, padahal aku juga mau menjadi hebat seperti kakak," ucap Michi kecewa sembari menundukkan kepalanya. Putri Alice tersenyum, kemudian melangkah mendekati Michi, "Tenang saja, kakak bisa melatih kamu," ucapnya kemudian sembari meraih tangan Michi. "Benarkah, Kak?" tanya Michi yang kemudian menunjukkan senyumnya. Putri Alice mengangguk sembari tersenyum menatap wajah Michi. "Asiik!" teriak Michi melompat kegirangan, namun seketika dia merasa pusing kembali dan hendak terjatuh. "Michi!" teriak Nim ketika melihat adiknya yang hendak terjatuh. "Kamu semangat sekali," ucap Putri Alice seketika menahan tubuh Michi yang hendak terjatuh, "Kamu jangan terlalu memaksakan diri dulu," ucapnya lagi. "Iya, Kak, terima kasih ya, Kak," sahut Michi. "Ayo kita ke sana," ucap Putri Alice sembari menunjuk sebuah kursi panjang tepat berada di dekat taman yang berada di belakang istana. Michi mengangguk sembari tersenyum, "Iya kak." Kemudian Michi dan Putri Alice melangkah menuju ke sebuah kursi panjang tersebut lalu duduk di sana sambil memperhatikan Nim dan Luiji yang sedang melakukan latihan. "Kakak," ucap Michi menatap wajah Putri Alice. "Ya?" sahut Putri Alice menoleh ke arah Michi. "Aku masih belum mengerti apa yang kemarin dikatakan Greatshfer ini," ucap Michi sambil menunjukkan gelang berwarna emas tepat di tangannya. "Greatshfer?" sahut Putri Alice. Michi mengangguk. "Waktu itu, apa yang kamu lihat?" "Aku melihat seekor naga kak." "Hei, apa kalian kira aku tidak mendengar kalian!" teriak Greatshfer seketika menyahut pembicaraan Michi dan Putri Alice. "Eh, Greatshfer?" ucap Putri Alice. "Ya, ini aku," sahut Greatshfer. "Greatshfer, apa kau juga tahu tentang Hashfer?" tanya Putri Alice. "Ya, jelas aku mengetahuinya," sahut Greatshfer. "Hashfer itu apa, Kak?" sahut Michi seketika bertanya. "Biarkan aku yang menjelaskannya kepada Putri Michi," sahut Greatshfer. "Hah!? Putri Michi?" tanya Michi heran. "Iya, kau kan...." "Kau kan lebih bagus dipanggil Putri Michi," ucap Putri Alice seketika memotong ucapan dari Greatshfer. "Ya sudah, itu tidak penting," sahut Greatshfer, "Aku akan menjelaskan tentang apa yang disebut Hashfer," sambungnya. Greatshfer terdiam sejenak, "Dahulu kala, ketika Caster pertama yang bernama Ohlfeim turun dari langit, dan dia turun ke dunia ini tepat di sebuah desa yang bernama Desa Haure bersama Hashfer di tangannya. Orang-orang di desa Haure adalah ras asli penghuni jembatan dunia yaitu dunia tempat kita berada saat ini. Keadaan di desa itu sangat suram. Karena sifat mereka yang tamak dan serakah, mereka memiliki ambisi untuk menguasai seluruh dunia, namun rencana dari orang-orang di desa itu diketahui oleh Ohlfeim. Dengan menggunakan Hashfer, Ohlfeim memusnahkan semua orang di desa itu. Namun, Ohlfeim melihat bahwa ada seorang bayi laki-laki yang selamat, dia adalah Rieghart. Ohlfeim kemudian membesarkan dan mendidik Rieghart dengan baik, berharap kelak memperbaiki keturunan dari ras itu. Namun, ketika Rieghart sudah dewasa, sifat aslinya tumbuh kembali. Rieghart berencana mencuri Hashfer dari tangan Ohlfeim. Setelah Rieghart berhasil mendapatkan Hashfer, dia berusaha membunuh Ohlfeim yang sudah membesarkannya. Ohlfeim terpojok kemudian kembali lagi ke langit, lalu segera membawa aku kemari dan segera melawan Rieghart. Ohlfeim mengalahkan Rieghart dan berhasil merebut kembali Hashfer. Ohlfeim tidak tega membunuh Rieghart, kemudian Ohlfeim mengusir Rieghart yang sudah berusaha mencuri Hashfer. Setelah Rieghart diusir oleh Ohlfeim, ketika di dalam hutan dia menemukan sebuah portal lalu masuk ke dalamnya, sampai dia tiba di dunia Khamaya. Dengan kekuatan yang dimilikinya, Rieghart berhasil merebut dan menguasai dunia Khamaya, lalu membuat kerajaan disana. Rieghart kemudian merencanakan sebuah serangan kemari dengan seluruh pasukannya, namun rencana itu diketahui oleh Ohlfeim yang ternyata masih mengawasinya. Lalu Ohlfeim menggunakan aku dan Hashfer untuk menutup seluruh portal yang ada di dunia ini. Setelah Ohlfeim wafat, aku yaitu Greatshfer dan juga Hashfer pun diwariskan turun temurun, hingga aku bersama Raja Ashgar dan Hashfer bersama Ibate, yaitu pemimpin pemberontak yang memiliki ambisi kuat melawan dan menghentikan Rieghart. Namun yang ku ketahui sekarang bahwa Ibate sedang tersegel di dunia Khamaya, dunia kekuasaan Rieghart," jelasnya. "Kalau begitu, dengan bersama Greatshfer, bukankah kita akan lebih mudah mengalahkan dan menghentikan ambisi Rieghart?" tanya Putri Alice. "Kekuatanku memanglah lebih besar dari Hashfer, tapi kalau yang berasama ku adalah Ohlfeim atau ayahmu, yaitu Raja Ashgar," jawab Greathsfer. "Kalau Ohlfeim dan Ibate adalah seorang Caster, lalu kenapa kamu mengatakan bahwa aku adalah pewaris murni?" tanya Michi merasa bingung. "Michi, bolehkah aku memegang sebentar gelang ini?" tanya Putri Alice seketika mengalihkan pembicaraan. "Boleh kak," sahut Michi kemudian mengulurkan tangannya. Kemudian, setelah Michi mengulurkan tangannya, Putri Alice perlahan menggenggam gelang yang ada pada tangan Michi lalu memejamkan matanya. "Michi," bisik Putri Alice dalam hati, "Apa kau bisa mendengarku?" sambungnya masih berbisik dalam hati. "Dia tidak akan mendengar kita," sahut Greatshfer seketika menampakkan wujud aslinya. "Ternyata ini wujud aslimu," ucap Putri Alice sembari menatap wujud asli Greatshfer yaitu seekor naga yang berwarna emas, "Kenapa Michi tidak bisa mendengar kita?" sambungnya lagi bertanya. "Aku sudah menguncinya, agar dia tidak bisa mendengar kita," jawab Greatshfer, "Aku juga sudah mengetahui apa yang hendak kau katakan padaku," sambungnya. "Baguslah kalau kau sudah tahu apa yang hendak aku katakan," ucap Putri Alice. "Ya, tenang saja, di waktu yang tepat dia akan tahu jadi dirinya yang sebenarnya," sahut Greatshfer. "Baiklah, terima kasih Greatshfer," ucap Putri Alice kemudian membuka matanya kembali dan melepaskan genggaman tangannya pada gelang yang ada di tangan Michi. Dari kejauhan, tampak Grazel yang melangkah mendekat ke arah Nim dan Luiji, "Baiklah, kalian telah lulus latihan tahap kedua," ucapnya ketika tiba tepat di depan Nim dan Luiji. "Apa!" sentak Nim tidak percaya. "Bukankah kami latihan hanya satu hari?" tanya Luiji yang juga merasa tidak percaya dengan perkataan Grazel. Grazel tersenyum, "Kalau kalian tidak percaya, mari kita buktikan," ucapnya kemudian melangkah mendekati sebuah batu besar yang berada di dekat mereka, "Kemarilah," panggilnya. "Ba-baik," sahut Nim dan Luiji bersamaan kemudian berjalan menuju ke tempat Grazel. "Nim, coba kau pukul batu itu dengan sekuat tenaga," ucap Grazel. "Apa kau bercanda?" tanya Nim heran. "Lakukan saja!" teriak Grazel. "I-iya," sahut Nim seketika menyiapkan kuda-kuda kemudian dengan mengerahkan seluruh tenaganya memukul batu besar tersebut dan hasilnya mengejutkan, batu yang berukuran besar itupun dapat dihancurkan dengan mudah oleh pukulan dari Nim. Grazel tersenyum, "Kalian masih tidak percaya?" "Apa ini benar?" gumam Nim heran karena berhasil menghancurkan batu besar itu hanya dengan satu pukulan. "Aku juga ingin mencobanya," ucap Luiji seketika menuju ke sebuah batu besar lagi kemudian memukulnya dengan sekuat tenaga dan hasilnya pun sama dengan Nim, dia dapat dengan mudah menghancurkan batu besar itu, Luiji begumam, "Hebat!" Dari kejauhan tampak Michi dan Putri Alice yang seketika melangkah mendekat menuju ke arah Nim dan Luiji. "Wah, selamat kalian telah berhasil menyelesaikan latihan tahan kedua ini hanya satu hari," ucap Putri Alice ketika tiba tepat di dekat Nim dan Luiji. "Iya," sahut Nim bangga, "Aku bahkan masih belum bisa mempercayai ini," sambungnya lagi. "Selamat ya, Kak," ucap Michi tersenyum ke arah kakaknya. "Iya, Michi, terima kasih," sahut Nim balas tersenyum. Tiba-tiba tampak sebuah pisau yang berbentuk seperti mata tombak yang melesat dengan cepat dan mengarah ke tubuh Putri Alice, dan Grazel pun menyadari akan hal tersebut. "Awas!" teriak Grazel seketika menarik tubuh Putri Alice, sehingga pisau itu mengenai dan menancap di bahu tepat pada tubuh Grazel yang sudah menyelamatkan Putri Alice. "Grazel!" teriak Nim dan Luiji bersamaan seketika mendekati tubuh Grazel yang tergeletak di tanah. "Darimana asalnya!?" ucap Nim menoleh ke seluruh arah mencari asal dari pisau tersebut, namun tidak menemukan seseorangpun yang melemparkannya. "A-aku tidak apa-apa," ucap Grazel sembari memegangi bahunya yang terluka kemudian berusaha melepaskan pisau itu dari bahunya. "Grazel!" teriak Putri Alice seketika mendekati tubuh Grazel, "Ayo sekarang kita bawa dia ke ruang rawat!" teriaknya lagi. Dengan segera Nim dan Luiji mengangkat tubuh Grazel yang terkulai lemas, dan membawanya segera menuju ke ruang rawat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN