Dari dalam ruang rawat tepat di dalam istana, tampak beberapa perawat yang mencoba untuk mengobati Grazel.
"Bagaimana keadaan Grazel?" tanya Putri Alice ketika tiba di dalam ruang rawat.
"Maaf, Tuan Putri," jawab salah seorang perawat yang tidak lain adalah seorang kepala perawat.
"Apa maksudmu meminta maaf padaku?" tanya Putri Alice lagi yang kemudian tampak khawatir melihat keadaan Grazel yang bertambah parah.
"Kami tidak bisa membuat penawar racunnya, Tuan Putri," jawab Kepala Perawat.
"Racun," sahut Putri Alice mengerutkan keningnya.
"Benar racun, Tuan Putri," sahut Kepala Perawat, "Semua bahan penawar yang kita miliki tidak bisa menghentikan penyebaran racun itu," sambungnya lagi.
"Lalu, bagaimana kita bisa menyelamatkan Grazel?" tanya Putri Alice.
"Penawar racun pada tubuh Tuan Grazel hanya dapat ditemukan di satu tempat, Tuan Putri," jawab Kepala Perawat.
"Dimana itu?" tanya Putri Alice lagi.
"Bukit Elfeheim, Tuan Putri," jawab Kepala Perawat.
Putri Alice mengerutkan keningnya, "Bukit Elfeheim? Bukankah itu tempat yang sangat berbahaya?" tanyanya kemudian.
"Tapi, penawarnya hanya ada di tempat itu, Tuan Putri," jawab Kepala Perawat.
"Bagaimana keadaan Grazel?" ucap Nim seketika tiba di dalam ruang rawat dan diikuti oleh Michi serta Luiji di belakangnya.
"Grazel terkena racun dari pisau itu, dan sekarang racun itu sudah hampir menyebar di seluruh tubuhnya, kami tidak memiliki penawar racunnya karena bahan penawar itu berada di tempat yang paling berbahaya disini," jawab Putri Alice.
"Kalau begitu, kami akan ke sana dan pulang kemari dengan membawa bahan penawar racunnya," ucap Nim, "Benarkan, Luiji?" ucapnya lagi sambil menatap ke arah Luiji.
"Kau benar, Nim," sahut Luiji.
"Ayo, tunggu apa lagi," ucap Nim seketika hendak melangkah pergi.
"Kau mau kemana, Nim?" tanya Luiji menatap Nim.
"Ya sudah jelas, mencari penawarnya," jawab Nim.
"Dimana?" tanya Luiji lagi.
Nim menggaruk kepalanya, "Benar juga, aku tidak tahu," ucapnya kemudian.
"Penawar itu berada di bukit Elfeheim," sahut Putri Alice.
"Tuan Putri, kita hanya punya waktu satu hari sebelum racunnya menyebar ke seluruh tubuh," ucap Kepala Perawat tiba-tiba menyela pembicaraan.
"Baik!" ucap Putri Alice tegas, "Nim, Luiji, aku akan memberi kalian peta yang akan menuju ke bukit Elfeheim," ucapnya lagi.
"Baik!" sahut Nim dan Luiji bersamaan sembari bersemangat.
"Penawar itu berbentuk apa?" tanya Luiji.
"Penawar itu bernama Bunga Hojo, dan berbentuk bunga yang tangkainya berwarna seperti pelangi," jelas Kepala Perawat memberitahu.
"Baiklah, tunggu apalagi?" ucap Nim kemudian.
"Ayo!" sahut Luiji.
"Kakak, apa aku boleh ikut?" tanya Michi.
"Tidak usah, Michi," sahut Nim, "Sepertinya kau akan lebih aman di dalam istana," sambungnya.
"Tapi aku mau ikut," ucap Michi memelas.
"Baiklah, tapi kamu jangan jauh-jauh dari kakak," sahut Nim, "Ayo, Luiji," ucapnya lagi kemudian Nim dan Luiji serta Michi dengan segera melangkah menuju ke luar istana dan diiringi oleh Putri Alice.
"Ini peta yang akan menuntun kalian menuju bukit Elfeheim," ucap Putri Alice sembari menyerahkan sebuah peta kepada Nim.
"Terima kasih, Alice," sahut Nim sembari menyambut peta yang diserahkan oleh Putri Alice. Kemudian Nim menatap ke arah Luiji sembari mengangguk dan berkata, "Ayo!"
Nim bersama Michi dan Luiji pun berangkat menuju bukit Elfeheim dan bermaksud untuk mencarikan penawar racun untuk menyelamatkan Grazel.
"Apa benar ini jalan menuju bukit Elfeheim?" tanya Luiji ketika melihat sebuah bukit saat menelusuri jalan setapak tepat di tengah hutan sambil menatap jalan di sekitarnya sesekali melihat peta di tangannya.
"Coba aku lihat," sahut Nim seketika merebut peta dari tangan Luiji, "Sepertinya memang benar ini adalah jalannya," sambungnya lagi sambil melihat peta di tangannya.
"Kalau begitu, tunggu apalagi?" ucap Luiji, "Ayo kita ke sana," sambungnya lagi mempercepat langkahnya diiringi oleh Nim dan Michi di belakangnya.
Setelah menelusuri jalan setapak, tampak sebuah jalan menanjak yang di sekitarnya banyak terdapat pohon yang sudah kering dan mati.
"Menyeramkan sekali tempat ini, Kak," ucap Michi ketika tiba tepat di depan sebuah jalan menanjak yang mengarah ke bukit yang dituju mereka.
"Jangan takut, Michi," sahut Nim, "Kamu jangan jauh-jauh dari kakak," sambungnya seketika meraih tangan adiknya kemudian menuntunnya perlahan menaiki bukit yang curam.
"Kita harus berhati-hati," ucap Luiji memperingatkan, "Jalan ini sangat licin," sambungnya lagi.
"Aahhh!" teriak Michi ketika menginjakkan kakinya dan tergelincir tepat di atas tanah yang licin. Beruntung Nim dengan erat memegang tangan Michi.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Nim.
Michi mengangguk, "Iya, kak."
"Ayo kita lanjutkan," ucap Nim sambil menuntun adiknya.
Setelah cukup lama mereka menaiki bukit yang terjal dan licin, sampailah mereka di atas bukit.
"Akhirnya kita sampai," ucap Nim lega ketika tiba tepat di atas bukit.
"Dimana bunga Hojo itu," gumam Luiji melirik ke segala arah mencari bunga yang dengan tangkai berwarna pelangi.
"Cahaya apa itu, Kak," ucap Michi sambil menunjuk cahaya yang dari kejauhan tampak bersinar.
"Sepertinya disana," sahut Nim, "Ayo," ajaknya seketika melangkahkan kakinya segera menuju mendekati cahaya tersebut.
"Hati-hati, Nim," ucap Luiji memperingatkan sambil perlahan melangkahkan kakinya mengikuti Nim.
"Ternyata benar, ini adalah Bunga Hojo yang kita cari," ucap Nim ketika tepat berada di dekat cahaya yang ternyata berasal dari setangkai bunga yang tangkainya memiliki warna seperti pelangi.
"Benar, ayo segera kita ambil dan membawanya kembali ke istana," sahut Luiji.
"Kakak!" teriak Michi sambil menunjuk seekor makhluk besar yang perlahan melangkah mendekat ke arah mereka.
"Apa itu?" gumam Luiji yang juga melihatnya.
"Siapa kalian!" teriak makhluk besar itu sembari melangkah mendekat, kemudian menunjukkan wujud aslinya yang ternyata berwujud seekor kura-kura raksasa, "Berani sekali kalian menginjakkan kaki kalian di wilayah kekuasaanku!" teriaknya lagi.
"Ma-maaf Tuan Kura-kura, kami hanya ingin meminta setangkai bunga ini untuk mengobati teman kami yang sedang terkena racun," sahut Nim.
"Enak sekali kau bilang meminta!" teriak kura-kura raksasa itu, "Kalian harus melawanku dan mengalahkanku dulu, setelah itu kalian boleh membawanya!" teriaknya lagi.
"Apa tidak ada cara lain agar kami bisa membawanya?" tanya Nim.
"Tidak ada!" teriak kura-kura raksasa itu, "Aku Elfe penguasa bukit ini, tidak akan aku biarkan kalian mengambil apapun disini tanpa harus mengalahkanku!" teriaknya lagi seketika dari tubuhnya mengeluarkan cahaya hijau menyelimuti tubuhnya dan kemudian tampak mengecil, setelah cahaya hijau itu memudar, tampak wujud Elfe yang seketika berubah dan memiliki tangan dan kaki seperti manusia, namun dengan kepala dan ekor kura-kuranya dan di punggungnya menempel sebuah cangkang kura-kura.
"Bisa berubah wujud," ucap Nim takjub.
"Ayo kalahkan aku!" teriak Elfe seketika berlari ke arah Nim yang berdiri di dekat Bunga Hojo dan sengarahkan sebuah pukulan ke arah Nim, namun dengan sigap Nim menghindari serangan tersebut sehingga serangan dari Elfe mengenai sebuah batu besar tepat di belakang Nim sebelum menghindar.
"Kuat juga kau," ucap Nim.
"Aku masih belum mengeluarkan seluruh kekuatanku," sahut Elfe kemudian seketika mengambil sebuah cangkang di belakang punggungnya dan dari lubang cangkang tersebut dia menarik sesuatu seperti sebuah pedang berwarna hijau.
"Kau curang!" teriak Nim.
"Akan ku habisi kalian semua!" teriak Elfe seketika melesat ke arah Michi berdiri.
"Aaaaa!" teriak Michi terduduk sambil melindungi dengan tangannya ketika melihat Elfe melesat ke arahnya.
"Michi!" teriak Nim seketika hendak berlari ke arah adiknya, namun Elfe lebih cepat darinya.
"Apa itu!" ucap Elfe yang terkejut ketika melihat sebuah gelang yang ada pada tangan Michi, "Ka-kau?" ucapnya lagi gemetar kemudian menundukkan kakinya dan bersujud di depan Michi lalu berkata, "Maafkan saya."
"Kenapa kamu minta maaf padaku?" tanya Michi seketika heran melihat Elfe yang bersujud di depannya.
"Apakah anda anak dari Raja Ashgar?" tanya Elfe.
"Raja Ashgar?" Michi mengerutkan keningnya, "Aku tidak tahu siapa itu Raja Ashgar," sahutnya.
"Greatshfer itu," gumam Elfe.
"Tuan Putri," ucap Greatshfer.
"Ya, Greatshfer?" sahut Michi.
"Bolehkah aku menggunakan sedikit kekuatanku, Tuan Putri?" tanya Greatshfer.
"Aku masih tidak mengerti," sahut Michi, namun seketika dari gelang yang ada di tangannya pun mengeluarkan cahaya berwarna emas lalu memancar ke langit. Dari atas langit seketika turun seekor naga berwarna emas yang melesat turun mendekat ke arah Michi.
"A-apa itu?" ucap Nim gemetar ketika melihat seekor naga yang seketika turun dari langit.
"Aku adalah Greatshfer, dan ini wujud asliku," sahut Greatshfer.
"Greatshfer?" gumam Naken.
"Kekuatannya besar sekali," ucap Tion.
"Tuan Greatshfer, ma-maafkan saya," ucap Elfe gemetar ketika melihat Greatshfer yang keluar dari gelang pada tangan Michi.
"Elfe, sudah lama sekali kita tidak bertemu," sahut Greatshfer, "Kau tidak berubah sama sekali."
"Maaf Tuan, mereka berniat mencuri di wilayahku, dan aku hanya bermaksud melindungi tempat ini," ucap Elfe menjelaskan.
"Tapi mereka sudah meminta izin padamu, kan?" sahut Greatshfer, "Lagipula, mereka ingin menyelamatkan temannya yang sedang terkena racun."
Elfe menundukkan kepalanya, "Maafkan saya, silahkan kalian ambil apapun yang kalian butuhkan," ucapnya menatap Nim dan mempersilahkan Nim yang berdiri tepat di dekat Bunga Hojo.
"Wah, benarkah?" sahut Nim,
"Ya,".
"Terima kasih banyak, kami hanya memerlukan Bunga Hojo ini." Kemudian perlahan Nim memetik setangkai Bunga Hojo yang tangkainya berwarna pelangi.
"Baiklah, tugasku sudah selesai," ucap Greatsfer kemudian seketika melesat ke langit, dan dari langit melesat sebuah cahaya emas mengarah pada gelang di tangan Michi.
"Terima kasih, Greatshfer," ucap Michi.
"Itu bukan apa-apa, Tuan Putri," sahut Greatshfer.
"Baiklah, ayo kita segera kembali ke istana," ajak Nim seketika berjalan mendekat ke arah Michi kemudian meraih lalu menuntun tangan adiknya untuk kembali ke istana.
"Ayo, kita harus cepat sebelum matahari terbenam," sahut Luiji kemudian mengiringi Nim dan Michi dari belakang.
"Oh iya," ucap Michi seketika menghentikan langkahnya lalu membalikkan badannya dan berteriak sambil melambaikan tangannya ke arah Elfe, "Sekali lagi terima kasih, ya."
Tampak dari kejauhan Elfe balas melambaikan tangannya lalu menundukkan badannya.
"Greatshfer, sejak kapan kamu kenal dengan Elfe?" tanya Nim ketika melangkah bersama Michi dan Luiji menuju kembali ke istana, namun Greatsfer tidak menjawab pertanyaan dari Nim.
"Greatshfer?" ucap Michi.
"Ya, Tuan Putri," sahut Greatshfer.
"Kakakku bertanya kepadamu," ucap Michi.
"Kakak? Jadi orang konyol ini adalah kakakmu?" sahut Greatshfer.
"Orang konyol?" gumam Nim, "Hei! Jaga ucapanmu!" teriaknya ke arah gelang yang ada pada tangan Michi dengan nada kesal.
"Maafkan aku," ucap Greatshfer, "Jadi, apa yang ingin kau tanyakan tadi?" sambungnya.
"Tidak jadi!" Nim mengilangkan tangannya di d*danya sambil memalingkan wajahnya tanda merajuk.
"Ya sudah," sahut Greatshfer.
"Hahahahaha." Tampak Michi dan Luiji yang tertawa dan diikuti Tion dan Naken yang juga ikut menertawakan Nim yang bertengkar dengan Greatshfer.
Setelah tiba di istana dan matahari pun mulai bersembunyi dan meredupkan sinarnya, tampak Nim dan Luji serta Michi segera pergi ke ruang rawat dan menyerahkan Bung Hojo untuk penawar racun yang ada di tubuh Grazel.
"Ayo, kita harus cepat!" teriak Nim seketika mempercepat larinya menuju ke ruang rawat dalam istana.
"Ayo," sahut Luiji mengiringi Nim.
"Kami berhasil mendapatkan penawarnya," ucap Nim sambil memegang Bunga Hojo di tangannya dan memberitahu Kepala Perawat ketika tiba di dalam ruang rawat.
"Bagus, semoga saja ini berhasil," sahut Kepala Perawat kemudian segera mengambil setangkai bunga di tangan Nim lalu meracik bunga tersebut untuk dijadikan sebuah ramuan penawar racun untuk Grazel kemudian menyuntikkannya ke tubuh Grazel.
"Bagaimana?" tanya Luiji.
"Sepertinya tubuh tuan Grazel perlahan berangsur membaik," jawab Kepala Perawat ketika melihat tubuh Grazel perlahan dapat menggerakkan sebuah jarinya.
"Nim, Luiji, apa itu kalian?" ucap Grazel perlahan membukakan matanya yang masih tampak buram.
"Ya, ini kami, Grazel," sahut Nim.
"Sepertinya kalian harus melanjutkan latihan kalian, tapi bukan denganku," ucap Grazel menatap ke arah Nim dan Luiji yang berdiri di dekatnya.
"Lalu, dengan siapa kami akan melanjutkan latihan?" tanya Nim bingung.
"Ada seseorang yang bisa melatih kalian dengan cepat, dia berada di sebuah tempat di tengah hutan diarah utara dari istana," jawab Grazel.
"Kenapa kami tidak menunggu kau sembuh saja," sahut Nim.
"Kalian tidak punya banyak waktu lagi," ucap Grazel.
Nim menundukkan kepalanya, "Benar, lalu siapa nama orang itu?" tanya Nim kemudian.
"Aku lupa, tapi dia hanya seorang diri tinggal di dalam hutan itu," jawab Grazel.
Nim mengangguk, "Baiklah, kami akan segera mencari lalu berlatih dengannya," ucapnya kemudian, "Tapi...." Nim terdiam seketika mengusap-usap perutnya yang mengeluarkan suara karena merasa lapar.
Grazel tersenyum, "Kau masih saja seperti itu, Nim," ucapnya.
"Aku lupa makan dari kemarin," sahut Nim sambil menggaruk-garuk kepalanya.
"Baiklah, kalau bagitu kita akan melanjutkan perjalanan besok, malam ini kita siapkan diri kita," ucap Luiji.
"Baik," sahut Nim mengangguk, "Ayo, Michi," ajaknya kemudian.
Michi mengangguk, "Ya Kak," sahutnya kemudian Nim dan Michi melangkah keluar dari ruang rawat diikuti oleh Luiji menuju ke kamar mereka masing-masing.
"Kakak hanya mengantarmu sampai depan kamar ya," ucap Nim ketika tiba tepat di depan kamar Michi.
"Ya, Kak," sahut Michi mengangguk kemudian Nim dan Luiji melangkah menjauh menuju ke kamar mereka berdua.
"Nanti kakak panggilkan pelayan untuk mengantarkan makanan ke kamarmu," teriak Nim menoleh ke arah adiknya.
"Ya, kak." Michi balas berteriak sambil melambaikan tangannya ke arah Nim dan Luiji.