Di pagi hari yang terlihat sangat cerah, tampak Nim dan Luiji serta Michi yang sudah bersiap di depan istana untuk pergi mencari seseorang yang akan melatih mereka tepat berada di tengah hutan di utara dari istana.
"Berhati-hatilah jika kalian sudah masuk ke dalam hutan, karena di dalam hutan itu masih banyak hal yang belum diketahui," ucap Putri Alice menatap ke arah Nim dan Luiji serta Michi yang bersiap hendak berangkat, "Persediaan makanan kalian sudah kami siapkan," sambungnya lagi sambil menyerahkan sesuatu berbungkus kain yang di dalamnya terdapat persediaan makanan untuk Nim, Luiji, dan Michi.
"Terima kasih, Alice," sahut Nim tersenyum sembari menundukkan badannya ke arah Putri Alice dan diikuti oleh Luiji dan Michi.
"Ayo, Nim," aja Luiji.
"Baik," sahut Nim, "Kami akan berlatih dan kembali dengan segera," sambungnya kemudian melangkahkan kaki menjauh dari istana ke arah utara diiringi oleh Luiji dan Michi di belakangnya.
Tampak Putri Alice tersenyum menatap Nim, Luiji, dan Michi, "Semoga mereka berhasil menemukannya," gumam Putri Alice dalam hati, "Sepertinya kami juga harus segera mempersiapkan pasukan sebelum mereka kembali ke sini," sambungnya lagi kemudian perlahan masuk ke dalam istana.
Pada waktu yang sama di sebuah tempat, tepat di dalam sebuah laboraturium rahasia yang berada di bawah laut, tampak Aston yang sedang menghadap kepada Neilto.
"Tuan Neilto," ucap Aston ketika masuk ke ruangan Neilto dan melihat Neilto yang sedang melakukan penelitian.
"Ya, ada apa, Aston?" sahut Neilto tanpa menatap ke arah Aston.
"Tuan harus mengetahui hal ini," ucap Aston.
"Apa itu?" sahut Neilto kemudian menatap ke arah Aston.
"Putri Alice sudah merencanakan penyerangannya ke dunia Khamaya," ucap Aston memberitahu.
Neilto menampakkan senyum liciknya, "Benarkah begitu?"
"Benar, Tuan."
"Sepertinya aku akan mengirimkan pesan kepada Rieghart tentang rencana Putri Alice," ucap Neilto tersenyum, "Kita akan memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya," sambungnya lagi tersenyum licik.
"Ya Tuan," sahut Aston.
Disaat yang sama, tampak Nim dan Luiji serta Michi sudah sampai di depan sebuah hutan yang sangat lebat, kemudian mereka perlahan masuk ke dalam hutan.
"Dimana dia?" gumam Luiji melangkah di dalam hutan.
"Kata Grazel, dia hanya tinggal sendiri di tengah hutan ini," sahut Nim.
"Kakak, aku takut, disini gelap sekali," ucap Michi seketika berlari mendekat ke arah Nim kemudian bepegangan tangan dengan Nim.
"Tenang saja Tuan Putri, saya akan melindungi Tuan Putri," ucap Greatshfer.
"Benar, kamu tenang saja Michi," sahut Nim, "Kakak juga pasti melindungimu."
Tiba-tiba tampak bayangan hitam yang melesat dengan sangat cepat sehingga mengejutkan Nim, Luiji dan Michi.
"Apa itu kak!" jerit Michi ketakutan berlindung di belakang tubuh Nim.
Nim dan Luiji menoleh ke segala arah mencari bayangan hitam tersebut.
"Siapa itu!" teriak Luiji ketika melihat sebuah semak yang tampak bergerak, "Bersiap, Nim!" sambungnya.
"Ya!" sahut Nim seketika menyiapkan kuda-kudanya.
Dari dalam semak tiba-tiba keluar seekor kucing berwarna hitam yang seketika melompat ke arah Nim, dan Nim pun sempat menghindarinya. Kemudian kucing hitam itu pun menghilang lagi.
"Kuro!" teriak seseorang yang tiba-tiba terdengar samar oleh Nim, Luiji dan Michi.
"Sepertinya disana ada seseorang," ucap Nim, "Ayo," sambungnya seketika berlari sembari menarik tangan adiknya yang juga ikut berlari ke arah asal suara tersebut dan diiringi oleh Luiji.
"Ternyata benar, ada orang," ucap Luiji ketika melihat seseorang yang terlihat sedang mencari sesuatu di dalam hutan.
"Hei!" teriak seseorang tersebut melambaikan tangannya sembari berlari mendekat ke arah Nim, Luiji dan juga Michi, "Apa kalian melihat seekor kucing hitam?" sambungnya bertanya ketika tiba di depan Nim, Luiji dan Michi.
"Itu dia!" teriak Nim ketika melihat seekor kucing yang kemudian melompat ke tubuh seseorang tersebut, "Kucing itu yang tadi berusaha menyerangku!" sambungnya.
"Maafkan kucingku, ya," ucap seseorang tersebut, "Namaku Zorc," sambungnya memberitahu namanya, "Kalian siapa?" sambungnya lagi bertanya.
"Namaku Nim, dan ini adikku Michi," sahut Nim mengenalkan dirinya dan adiknya, "Dan dia Luiji, temanku," sambungnya lagi menoleh ke arah Luiji.
"Lalu, apa yang kalian lakukan di hutan ini?" tanya Zorc.
"Kami diperintahkan oleh Grazel untuk mencari seseorang yang tinggal di dalam hutan ini, lalu berlatih dengannya," jawab Luiji seketika melangkah mendekat ke arah Zorc.
"Grazel? Dia itu adalah sahabatku," ucap Zorc sembari tersenyum kemudian terdiam sejenak, "Benar, kalau begitu akulah orang yang kalian cari, tapi...."
"Kalau begitu, bisakah kau melatih kami?" pungkas Nim seketika memotong perkataan Zorc.
"Aku tidak bisa," sahut Zorc kemudian perlahan membalikkan badannya dan perlahan melangkahkan kaki untuk menjauh.
"Hei, tunggu," ucap Nim seketika menyusul langkah Zorc sembari mengiringi langkahnya dan diiringi oleh Luiji dan Michi di belakang, "Kenapa tidak bisa?" sambungnya bertanya.
"Aku bukan orang hebat seperti Grazel," sahut Zorc.
"Tapi, Grazel memberitahu kami bahwa kau adalah satu-satunya orang yang bisa melatih kami," ucap Nim.
"Maaf, aku tidak bisa," sahut Zorc.
"Aku mohon," ucap Nim seketika menyalip langkah Zorc kemudian memohon bertekuk lutut di depan Zorc, "Teman kami ditawan oleh Rieghart," sambungnya.
"Itu teman kalian, bukan temanku," sahut Zorc tidak perduli seketika melewati Nim yang sedang bertekuk lutut.
"Dunia kami, dunia kami juga sedang dalam bahaya," ucap Nim yang masih belum beranjak.
Zorc seketika menghentikan langkahnya kemudian berpaling menatap Nim yang masih bertekuk lutut belum beranjak, "Dunia kalian? Memangnya kalian berasal dari mana?"
"Bumi," jawab Nim.
"Apa! Bumi?" sahut Zorc terkejut, "Lalu bagaimana kalian bisa kemari?" sambungnya bertanya sembari melangkah mendekat ke arah Nim yang bertekuk lutut.
"Kami bertarung denga Alio di istana Rieghart dan kami terhisap oleh lubang hitam yang dibuat oleh Alio dan terjebak disana, lalu Greatshfer yang menarik kami, sehingga kami jatuh disini," sahut Luiji menjelaskan sembari melangkah mendekat ke arah Nim.
"Kalau kalian benar dari bumi, bagaimana kalian bisa masuk ke dunia Khamaya?" tanya Zorc lagi.
"Saat di bumi, kami dilatih oleh Oldeus, setelah latihan kami selesai, kami pun berniat menyelamatkan teman kami yang ditawan oleh Alio di istana Rieghart," sahut Nim seketika beranjak berdiri.
"Kalau begitu, sekarang aku percaya kalau kalian benar berasal dari bumi," ucap Zorc.
Nim tampak tersenyum senang, "Kalau begitu, kau mau kan melatih kami?" tanyanya.
"Aku tetap tidak bisa," sahut Zorc.
"Kenapa?" tanya Nim.
"Tapi, aku tahu bagaimana caranya agar kalian dengan sekejap meningkatkan kekuatan kalian," sahut Zorc, "Ikut aku," sambungnya kemudian melangkahkan kakinya masuk semakin dalam ke tengah hutan.
"Ayo, Michi, Luiji," ajak Nim sembari mengiringi langkah Zorc yang melangkah masuk ke tengah hutan dan juga diiringi oleh Luiji dan Michi.
"Sebenarnya aku juga berasal dari bumi," ucap Zorc sambil melangkahkan kakinya.
"Benarkah?" Nim seketika berjalan beriringan tepat di samping Zorc.
"Ibuku adalah seorang manusia, dan ayahku adalah seorang Caster, tapi tubuhku lebih dominan menjadi seorang Caster dari pada menjadi seorang manusia," sahut Zorc.
"Lalu, bagaimana kau bisa kemari?" tanya Nim.
"Karena aku adalah seorang Caster yang lahir dari manusia, dengan kemampuan yang hanya aku miliki, aku bisa sangat mudah membuka portal menuju dunia jembatan ini ataupun portal dari sini menuju bumi," jawab Zorc.
"Lalu, kenapa kamu tinggal disini?" tanya Nim lagi, "Bukankah dengan kemampuan itu, kamu lebih mudah kembali ke bumi?" sambungnya lagi.
"Aku tidak bisa menggunakannya lagi," jawab Zorc.
"Kenapa?" tanya Michi seketika mempercepat langkahnya dan berjalan di samping Nim dan Zorc.
"Kekuatanku semakin melemah, dan dengan kedaan seperti ini aku sudah tidak mampu lagi membuka portalnya," jawab Zorc menoleh ke arah Michi, "Apa itu Greatshfer!?" tanyanya seketika terkejut ketika melihat sebuah gelang yang berada di tangan Michi.
"Ya, ini Greatshfer," jawab Michi tersenyum sembari mengulurkan lengannya ke arah Zorc.
"Kalau dia adikmu," ucap Zorc menatap ke arah Nim, "Artinya, kau juga berasal dari Bumi?" tanya Zorc lagi seketika menoleh ke arah Michi.
"Ya, aku juga dari Bumi," jawab Michi tersenyum.
"Bagus," gumam Zorc tersenyum.
"Kenapa, Zorc?" ucap Nim.
"Kau juga seorang Caster," ucap Zorc menatap ke arah Michi.
"Aku tidak mengerti," sahut Michi.
"Sudahlah, aku tidak perlu menjelaskan itu sekarang," ucap Zorc, "Kita sudah sampai," sambungnya ketika tiba di sebuah tempat yang di sekelilingnya terdapat tiga buah batu besar dan tinggi, yang berbentuk seperti sebuah tihang.
"Tempat apa ini?" tanya Luiji.
"Tempat ini bernama Altar Unshiqua," jawab Zorc, "Yang menciptakan tempat ini adalah Ohlfeim, Caster pertama yang turun ke dunia ini," sambungnya lagi.
"Lalu, apa yang akan kita lakukan disini?" tanya Nim kemudian.
"Lakukanlah meditasi di dekat batu," jawab Zorc, "Setelah kalian berhasil melakukan meditasi disini, kekuatan kalian akan segera meningkat seperti sudah melakukan latihan selama ratusan juta tahun," sambungnya menjelaskan.
"Baiklah, tunggu apalagi?" sahut Nim seketika melangkah mendekati sebuah batu besar berbentuk tihang tersebut.
"Tunggu, tapi setelah kalian selesai meditasi, jangan lupa untuk segera berlari ke belakang batu," ucap Zorc memberitahu, "Dan satu lagi, ketika kalian melakukan meditasi dan melihat sesuatu, jangan sampai kalian terlena di dalamnya," sambungnya lagi.
"Memangnya kenapa?" tanya Nim.
"Sudah! Lakukan saja!" ucap Zorc dengan tegas, "Dan disaat meditasi, jika kalian melihat sebuah cahaya, itu artinya kalian sudah berhasil menyelesaikan meditasi," sambungnya lagi.
"Kakak, aku masih belum mengerti bagaimana caranya meditasi," ucap Michi menatap ke arah Nim.
"Aku akan menuntunmu, Tuan Putri," sahut Greatshfer.
"Nah, Greatshfer akan membantumu, Michi," ucap Nim, "Ayo, Luiji," sambungnya lagi mengajak Luiji seketika mendudukkan tubuhnya dengan posisi kaki mengilang lalu memejamkan matanya.
"Baiklah, sepertinya aku juga harus melakukannya," ucap Luiji kemudian melangkah menuju salau satu batu besar berbentuk tihang lalu melakukan meditasi di depan batu tersebut.
"Ayo, Tuan Putri," ucap Greatshfer.
"Iya," sahut Michi kemudian juga melangkah ke arah salah satu batu, "Bagaimana, Greatshfer?" tanyanya seketika tiba tepat di sebuah batu besar berbentuk tihang tersebut.
"Tuan Putri duduklah dengan posisi kaki menyilang," ucap Greatshfer kemudian Michi melakukan apa yang diarahkan oleh Greatshfer, "Lalu pejamkan mata Tuan Putri," sambungnya lagi mengarahkan kemudian Michi pun perlahan memejamkan matanya.
"Lalu, selanjutnya bagaimana?" tanya Michi ketika memejamkan matanya.
"Pusatkan pikiran Tuan Putri pada satu titik," jawab Greatshfer.
"Baiklah, aku akan mencobanya," sahut Michi.
Dari tengah di tempat bernama Altar Unshiqua tampak sebuah bola kecil dengan cahaya berwarna putih yang kemudian terlihat semakin membesar.
"Luar biasa!" gumam Zorc, "Aku belum pernah melihat kekuatan sebesar ini. Kekuatan ini bahkan hampir mirip dengan sebuah Hashfer yang pernah ku temui," gumamnya lagi.
Hari semakin gelap, namun Nim, Luiji dan Michi masih belum menyelesaikan meditasi mereka. Dari dalam pandangan Nim ketika meditasi, tampak dalam pandangannya sebuah kota yang telah porak-poranda dan banyak korban yang tergeletak disana, dan Luiji pun melihat hal yang sama ketika dia melakukan meditasi. Berbeda dengan Michi, dia melihat dunia yang sangat indah dan merasa itu adalah sebuah surga yang diimpikannya.
"Nim!" ucap Tion, "Ingat! Kau harus fokus!" ucapnya lagi memperingatkan Nim.
"Benar, aku tidak boleh memperhatikan ini," sahut Nim berbisik dalam hati, kemudian pandangan itu seketika menghilang.
Disamping itu, Naken juga memperingatkan Luiji yang juga memperhatikan apa yang dilihatnya.
"Benar, aku harus tetap memusatkan pikiranku," ucap Luiji dalam hati, kemudian pandangan yang dilihat Luiji juga menghilang.
Berbeda dengan Michi yang begitu terlena dengan apa yang dilihatnya dan seakan tidak mau pergi dari sana.
"Tuan Putri! Tuan Putri!" ucap Greatshfer.
"Ya, Greatshfer?" sahut Michi.
"Tuan Putri harus tetap memusatkan pikiran," ucap Greatshfer.
"Tapi dunia ini sangat indah, seperti surga yang sudah aku impikan," sahut Michi.
"Ini hanyalah ujian dalam meditasi, Tuan Putri," ucap Greatshfer.
"Benarkah?"
"Cobalah Tuan Putri untuk tetap memusatkan pikiran, dan apa yang sudah dilihat oleh Tuan Putri akan menghilang," ucap Greatshfer.
"Baiklah," sahut Michi kemudian melanjutkan untuk memusatkan pikirannya lalu pandangan dunia yang indah itupun perlahan menghilang, "Kau benar, surga itu mengilang," sambungnya lagi ketika melihat dalam surga pandangannya perlahan menghilang.
Ketika siang yang sudah berganti menjadi malam, tampak sebuah cahaya yang berasal dari bola tepat berada di tengah tempat yang bernama Altar Unshiqua yang menerangi Nim, Luiji, Michi serta Zorc yang sejak tadi sudah menunggu mereka untuk selesai melakukan meditasi.
"Masih belum juga ya," gumam Zorc kemudian melangkah ke sebuah pohon di dekatnya lalu duduk dan bersandar di pohon tersebut. Namun, tidak berapa lama ketika Zorc duduk, tampak bola cahaya yang berada tepat di tengah Altar Unshiqua itu semakin bersinar sangat terang sehingga menyilaukan mata Zorc yang melihatnya, "Apa! Sepertinya mereka sudah selesai!" ucap Zorc sembari melindungi matanya dari cahaya yang menyilaukan matanya dengan tangannya.
"Cahaya itu sudah kelihatan, sepertinya meditasi ini sudah selesai," gumam Nim kemudian perlahan membuka matanya dan segera pergi melangkah ke belakang batu. Diikuti oleh Luiji serta Michi yang juga ketika membuka matanya lalu dengan segera pergi melangkah ke belakang batu.