Dari tengah Altar Unshiqua yang dikelilingi oleh tiga buah batu besar berbentuk tihang, terlihat sebuah bola cahaya yang kemudian mengeluarkan sinar, dan sinar itu dengan sangat cepat melesat menuju ke tiga buah batu besar tersebut. Tampak Nim, Luiji serta Michi yang setelah menyelesaikan meditasinya, sebuah cahaya tampak melesat dari ujung tihang batu, kemudian cahaya itu melesat ke tubuh mereka bertiga, lalu tubuh Nim, Luiji dan Michi mengeluarkan aura berwarna biru kemudian meresap masuk kembali ke dalam tubuh, mereka merasakan sesuatu kekuatan yang sangat besar meresap masuk ke dalam tubuh mereka, kemudian sebuah bola cahaya yang berada tengah Altar Unshiqua itu pun perlahan menghilang.
"Tubuhku terasa sangat ringan," ucap Nim setelah merasakan kekuatan pada tubuhnya yang meningkat.
"Benar, aku juga merasakan kekuatanku meningkat pesat," sahut Tion.
Nim menengok dari batu di dekatnya, "Apakah sudah selesai?" gumamnya kemudian.
"Ayo kita menemui Zorc," sahut Tion.
"Kalian semua, kemarilah!" teriak Zorc memanggil Nim, Luiji serta Michi.
"Ya, Zorc," ucap Nim ketika tiba tepat di depan Zorc berdiri.
"Selamat, kalian telah berhasil menyeselaikan meditasi," ucapnya tersenyum.
"Lalu, apa lagi yang harus kami lakukan?" tanya Luiji.
"Kalian sudah mencapai tingkat tertinggi kemampuan kalian," sahut Zorc.
"Nim, apakah kau merasakannya?" ucap Tion seketika bertanya.
"Ya, aku juga merasakan sesuatu kekuatan besar, tapi kekuatan itu tidak ada disini," sahut Nim.
Zorc tersenyum ke arah Nim, Luiji serta Michi yang berdiri tepat di depannya, "Sepertinya sekarang kalian juga mampu melacak kekuatan dari Hashfer, sama seperti kemampuan yang dulu kupunya," ucapnya kemudian.
"Benar, sepertinya kekuatan ini berasal dari sebuah Hashfer, tapi aku merasa bukan berasal dari dunia ini," sahut Naken.
"Apakah benar kita bisa melacak keberadaan Hashfer?" gumam Luiji.
"Ya, kalian mampu merasakan dan juga dapat mengetahui dimana letak Hashfer berada," sahut Zorc,"Dan kalian, para Beaster, dengan kemampuan dari pengguna kalian, kalian mampu keluar dan menampakkan wujud asli kalian," sambungnya.
"Benarkah? Ayo Nim," ucap Tion.
"Tapi caranya bagaimana?" tanya Nim.
"Pejamkanlah mata kalian, lalu pusatkan seluruh kekuatan tepat di tengah jantung kalian," sahut Zorc.
"Baik, aku akan mencobanya," ucap Nim kemudian memejamkan matanya lalu memusatkan seluruh kekuatan tepat di jantungnya. Seketika dari gelang di tangan Nim yang mengeluarkan cahaya putih kemudian cahaya putih itu melesat keluar dari gelang lalu membentuk wujud seekor harimau yang ukurannya sedikit lebih tinggi dari tubuh Nim.
"Ternyata benar," ucap Tion, "Tapi wujud ini masih belum sempurna," sambungnya lagi ketika melihat wujudnya yang masih terbuat dari segumpal cahaya yang membentuk wujud harimau.
"Luiji, aku juga ingin keluar," ucap Naken.
"Baiklah, aku juga akan mencobanya," sahut Luiji kemudian melakukan hal yang sama seperti yang telah dilakukan oleh Nim. Tampak sebuah cahaya keluar dari tubuh Luiji, lalu cahaya tersebut membentuk wujud seekor gurita.
"Kamu gurita yang waktu itu ingin memangsaku, kan?" tanya Michi menunjuk ke arah Naken ketika melihat wujud asli Naken yang berbentuk gurita.
"Kau benar, maaf ya, Michi," sahut Naken.
"Bagus, dengan kemampuan ini sepertinya kita bisa bertarung bersama," ucap Nim ketika mulai menemukan potensi dari kemampuan itu.
"Benar, kalian sudah mampu bertarung bersama, walaupun dengan wujud Beaster yang masih belum sempurna," sahut Zorc, "Tapi, bukan kemampuan itu yang saat ini kalian butuhkan," sambungnya lagi.
"Lalu, apa?" tanya Nim seketika.
"Baiklah." Zorc kemudian melangkah ke tengah Altar Unshiqua, "Kalian, berdirilah sejejer dengan tihang batu disini," sambungnya ketika tepat berdiri di tengah-tengah Altar Unshiqua.
"Ayo, Luiji, Michi," ajak Nim seketika melangkah menuruti arahan dari Zorc.
"Ulurkan kedua tangan kalian ke arah ku," ucap Zorc. Kemudian, Nim, Luiji, dan Michi pun mengikuti arahan dari Zorc, "Jangan ubah posisi kalian," ucapnya lagi kemudian melangkah ke pinggir Altar Unshiqua, "Sekarang pejamkanlah mata kalian, lalu bayangkan gerbang istana tempat dimana Putri Alice dan Grazel berada," sambungnya lagi.
Nim, Luiji dan Michi pun kemudian mencoba membayangkan sebuah gerbang istana tepat di tempat Putri Alice dan Grazel berada, seketika dari tengah Altar Unshiqua tampak sebuah cahaya kecil berwarna kuning yang melingkar kemudian perlahan membesar dan menciptakan sebuah portal.
"Kalian berhasil melakukannya," ucap Zorc ketika melihat sebuah portal yang dibuat oleh Nim, Luiji, dan Michi.
"Apa ini?" gumam Luiji ketika membuka matanya dan melihat sebuah portal di depannya.
"Ini adalah portal yang telah kalian ciptakan untuk menuju ke istana," sahut Zorc.
"Apa!?" sentak Nim terkejut dengan kekuatannya sendiri, "Benarkah ini portal yang sudah kami ciptakan?" sambungnya bertanya.
"Ya," jawab Zorc mengangguk, "Kalau kalian tidak percaya, silahkan kalian masuk ke dalam portal itu," sambungnya.
"Bagaimana, Tion," tanya Nim kepada Tion.
"Ya, sepertinya kalian sudah berhasil menciptakan sebuah portal menuju ke istana," sahut Tion.
"Baiklah, ayo kita segera kembali ke istana," ucap Nim kemudian seketika melangkahkan kakinya mendekati portal di hadapannya.
"Baik," sahut Luiji dan Michi bersamaan kemudian mengiringi Nim yang sudah berdiri di depan portal tersebut.
"Sebaiknya kita kembali, Naken," ucap Tion yanh seketika menjadi segumpal cahaya yang kemudian melesat masuk ke dalam gelang di tangan Nim.
"Ya," sahut Naken yang juga kemudian menjadi segumpal cahaya lalu melesat masuk ke tubuh Luiji.
"Zorc, kau ikut bersama kami, kan?" tanya Michi seketika menoleh menatap ke arah Zorc.
Zorc menggelengkan kepalanya kemudian tersenyum, "Tidak, aku harus menjaga hutan ini, lagipula disini Kuro juga membutuhkanku," sahutnya kemudian seketika melompat seekor kucing berwarna hitam yang kemudian digendong oleh Zorc kemudian mengusap kepala kucing tersebut.
"Baiklah, jaga dirimu baik-baik," sahut Nim kemudian perlahan melangkahkan kakinya masuk ke dalam portal yang sudah diciptakan oleh mereka bertiga.
"Ya," ucap Zorc tersenyum, "Tolong sampaikan salamku pada Grazel!" teriaknya kemudian sembari melambaikan tangannya.
Nim seketika membalikkan badannya, "Ya, aku pasti akan menyampaikan salammu kepada Grazel," ucapnya sembari melambaikan tangannya ke arah Zorc kemudian membalikkan badannya lagi melanjutkan langkahnya masuk ke dalam portal dan diiringi oleh Luiji serta Michi tepat di samping Nim.
Dari depan istana, tampak sebuah portal yang tiba-tiba muncul dan mengejutkan seluruh prajurit penjaga istana.
"Apa itu!" teriak salah seorang prajurit yang melihat sebuah portal muncul di dekatnya.
"Ayo bersiap! Sepertinya akan ada serangan!" teriak salah seorang prajurit yang lain.
"Ya!" teriak prajurit yang lain kemudian seketika bergerombol dan bersiap dengan serangan dari portal tersebut.
"Sepertinya telah terjadi sesuatu diluar istana," gumam Putri Alice bergegas melangkah ke luar istana ketika mendengar teriakan prajuritnya dari luar istana, "Ada apa?" tanyanya dengan tegas ketika tiba tepat diluar istana tepat di depan pintu istana.
"Itu, Tuan Putri," sahut salah seorang Prajurit yang berdiri di dekat Putri Alice dan menunjuk sebuah portal.
"Portal?" Putri Alice mengerutkan keningnya, "Siapa yang akan keluar dari situ?" gumamnya kemudian.
Dari portal tersebut, samar terlihat bayangan tiga orang yang perlahan melangkah mendekat. Namun, Putri Alice terkejut ketika melihat tiga orang yang keluar dari portal tersebut adalah Nim, Luiji dan Michi.
"Kalian?" ucap Putri Alice seketika dengan cepat melangkahkan kakinya mendekat menuju portal.
"Ya, ini kami, Alice," sahut Nim ketika keluar dari portal.
"Apakah yang membuat portal ini adalah kalian?" tanya Putri Alice.
"Ya benar, kami yang sudah membuat portal ini," sahut Luiji yang juga keluar dari portal.
"Kalau begitu, kalian telah berhasil menyelesaikan latihan," ucap Putri Alice yang tampak senyum bangga dari wajahnya.
"Benar kakak, kami sudah berhasil," sahut Michi yang juga keluar dari portal.
Putri Alice tersenyum melihat mereka bertiga.
"Hei, ini apa?" tanya Nim yang melihat beberapa prajurit yang bersiaga hendak menyerang.
"Cepat turunkan senjata kalian!" teriak Putri Alice memerintah seluruh prajuritnya, "Tadinya kami mengira portal itu berasal dari serangan musuh," sambungnya.
"Bagaimana keadaan Grazel?" tanya Nim.
"Keadaannya sudah berangsur membaik," jawab Putri Alice tersenyum.
"Ayo kita menemui Grazel," ucap Michi seketika berlari ke arah Putri Alice berdiri kemudian menarik tangan Putri Alice dan segera menuju ke ruangan Grazel dirawat.
"Ayo, Nim," ucap Luiji kemudian berjalan menuju ke ruang rawat.
"Ya," sahut Nim sembari mengangguk kemudian mengikuti langkah Luiji dari belakang.
"Grazel," ucap Putri Alice ketika tiba tepat di samping Grazel yang sedang berbaring di atas sebuah ranjang di ruang rawat.
"Tuan Putri?" sahut Grazel.
"Om Grazel," ucap Michi yang seketika tiba dari bekakang Putri Alice.
"Michi?" sahut Grazel seketika terkejut melihat Michi, "Apa kalian sudah selesai melakukan latihan?" sambungnya bertanya.
"Ya, kami sudah berhasil menyelesaikan latihan," sahut Nim yang juga seketika masuk ke dalam ruangan dan diiringi Luiji di belakangnya.
"Dan kami sudah bertemu dengan Zorc, dia mengirimkan salam padamu, Om Grazel," ucap Michi menyampaikan salam dari Zorc.
"Zorc." Grazel tampak tersenyum, "Apakah dia baik-baik saja?" sambungnya bertanya.
"Ya, sepertinya keadaan Zorc baik-baik disana," jawab Nim.
"Syukurlah," sahut Grazel lega ketika mendengar kabar tentang sahabatnya, "Lalu, bagaimana kalian bisa dengan sangat cepat bisa kembali kemari?" sambungnya lagi bertanya.
"Kami telah diajari Zorc bagaimana caranya membuat sebuah portal," jawab Nim.
"Baguslah, dengan begitu kita bisa melanjutkan rencana untuk menyelamatkan teman kalian, kemudian mengalahkan dan menghancurkan istana Rieghart," ucap Grazel sembari perlahan beranjak mendudukkan tubuhnya.
"Tapi sebelum itu, kondisimu harus pulih, Grazel," sahut Putri Alice.
"Aku sudah tidak apa-apa, Tuan Putri," sahut Grazel tersenyum sembari menggerak-gerakkan dan meregangkan otot di kedua tangannya.
"Semua pasukan sudah aku siapkan, sekarang kita harus menentukan kapan kita akan melakukan peyerbuan ke dunia Khamaya," ucap Putri Alice.
"Maafkan aku, Tuan Putri." Grazel menundukkan kepalanya, "Seharusnya tugas saya untuk mempersiapkan pasukan," ucapnya lagi kemudian menatap ke arah Putri Alice.
"Tidak apa-apa, Grazel," sahut Putri Alice tersenyum, "Sebaiknya kau harus memulihkan tubuhmu terlebih dahulu," sambungnya kemudian menoleh ke arah Nim, Luiji dan Michi yang berdiri di belakangnya, "Kalian sepertinya sudah kelelahan, sebaiknya kalian juga harus istirahat," sambungnya lagi.
"Ya, Alice," sahut Nim tersenyum sembari mengangguk, "Ayo, Michi, Luiji," sambungnya mengajak Luiji dan adiknya menuju ke kamar lalu beristirahat.
"Ya," sahut Michi kemudian melangkah bersama Nim dan Luiji keluar dari ruang rawat.
"Sepertinya aku juga harus pergi," ucap Putri Alice.
"Ya, terima kasih Tuan Putri," sahut Grazel, "Sepertinya besok aku sudah siap bertugas kembali," sambungnya.
"Jangan terlalu memaksakan dirimu, Grazel," ucap Putri Alice tersenyum kemudian perlahan melangkahkan kakinya menuju keluar dari ruang rawat.
Pagi hari, tampak Grazel yang sedang melakukan latihan tepat di dalam ruang latihan di dalam istana.
"Grazel?" gumam Luiji yang ketika itu bermaksud hendak keluar istana dan melintas tepat di depan ruang latihan dan melihat Grazel yang sedang berlatih.
"Luiji!" teriak Nim yang terdengar dari belakang sembari berlari ke arah Luiji, "Sedang apa kau disini?" tanyanya ketika tiba tepat di samping Luiji berdiri.
"Grazel," sahut Luiji menoleh ke dalam ruang latihan.
"Grazel?" ucap Nim kemudian ikut menoleh ke dalam ruang latihan, "Sepertinya Grazel sudah sepenuhnya sembuh," sambungnya kemudian perlahan melangkah masuk ke dalam ruang latihan.
"Nim, Luiji," ucap Grazel tersenyum ketika menoleh ke arah Nim dan Luiji yang berjalan mendekat ke arahnya.
"Kau sudah sembuh, Grazel?" tanya Nim.
"Ya, seperti yang kalian lihat," jawab Grazel seketika memukul sebuah samsak yang menggantung di dekatnya dan samsak itupun sekejap hancur tidak berbentuk.
"Syukurlah kalau kau sudah sembuh," sahut Nim, "Kita akan berjuang bersama ya, Grazel," sambungnya lagi dengan semangat.
Grazel tersenyum mengagguk.
"Maaf, Tuan Nim, Tuan Luiji, dan Tuan Grazel," ucap salah seorang prajurit dari depan ruang latihan.
"Ya, ada apa?" tanya Grazel seketika menoleh ke arah prajurit tersebut.
"Tuan-tuan sudah di tunggu Putri Alice di ruangannya."
Grazel mengangguk, "Kami akan segera kesana," sahutnya kemudian menoleh ke arah Nim dan Luiji, "Ayo!" ucapnya tegas.
"Baik," sahut Nim sambil mengangguk.
Kemudian Nim, Luiji dan Grazel pun pergi menemui Putri Alice ke ruangannya.
"Ada apa, Tuan Putri?" tanya Grazel ketika tiba menghadap Putri Alice.
"Sepertinya kita harus segera bersiap untuk melakukan rencana kita," sahut Putri Alice.
"Baik, Tuan Putri," ucap Grazel.
"Tapi, sebelum itu." Putri Alice kemudian mengarahkan salah satu telapak tangannya tepat di bagian jantung. Tiba-tiba terlihat cahaya putih yang bersinar dari telapak tangannya, "Ini adalah dua pecahan Hashfer yang aku punya, dan aku akan memberikan kedua pecahan Hashfer ini kepada kalian," sambungnya sembari menatap ke arah Nim dan Luiji.
"Ta-tapi, Alice," ucap Nim heran.
"Kalian lebih membutuhkan pecahan Hashfer ini," sahut Putri Alice,"Kemarilah," sambungnya lagi.
Nim dan Luiji saling menatap lalu mengangguk, kemudian mereka perlahan berjalan ke arah singgasana dimana Putri Alice duduk.
"Ambilah ini," ucap Putri Alice seketika mengulurkan kedua tangannya yang di atas kedua telapak tangannya terdapat dua pecahan Hashfer.
"Baiklah, Alice," sahut Nim sembari mengangguk kemudian mengambil salah satu pecahan Hashfer yang berada di salah satu tangan Putri Alice, dan Luiji pun mengambil salah satu pecahan Hashfer di tangan yang satunya.
"Terima kasih," ucap Luiji sembari menggenggam sebuah pecahan Hashfer di tangannya.
Putri Alice tersenyum sembari mengangguk.
"Lalu, bagaimana caranya kami menyimpan ini?" tanya Nim sembari menatap pecahan Hashfer yang ada di tangannya.
"Nim," ucap Tion.
"Ya, Tion?" tanya Nim.
"Tempelkan pecahan Hashfer itu di bagian jantungmu," ucap Tion.
"Baik," sahut Nim kemudian menempelkan pecahan Hashfer yang ada di tangannya ke bagian jantung di tubuhnya, seketika pecahan Hashfer tersebut meresap ke dalam tubuh Nim dan Luiji yang juga mengikuti arahan dari Tion.
"Sekarang kita sudah mendapatkan empat pecahan Hashfer," ucap Naken.
"Ya, sebelum kita mencari pecahan yang lain, kita harus menyelamatkan Juno terlebih dahulu," sahut Luiji.
"Oh iya, karena di dalam tubuhku sudah tidak ada pecahan Hashfer, jadi aku tidak bisa lagi mendengar kalian berbicara," pungkas Putri Alice tersenyum ke arah Nim dan Luiji.
"Benar begitu, Alice?" tanya Nim.
"Ya, aku bisa mendengar ucapan dari para Beaster dengan bantuan pecahan Hashfer," sahut Putri Alice kemudian terdiam sejenak lalu menatap ke arah Grazel, "Grazel, siapkan pasukan kita," ucapnya kemudian.
"Baik, Tuan Putri!" sahut Grazel kemudian melangkah pergi dari ruangan tersebut meninggalkan Putri Alice, Nim dan Luiji disana.
"Kapan kita akan ke sana?" tanya Nim menatap Putri Alice.
"Selambat-lambatnya, siang ini kita sudah harus siap," jawab Putri Alice.
"Baiklah," sahut Nim dengan tatapan serius dan penuh semangat.
"Kami akan bersiap," ucap Luiji, "Ayo Nim," sambungnya kemudian melangkah pergi meninggalkan Putri Alice di ruangannya.
"Kami tidak akan mengecewakan kalian," ucap Nim dengan tatapan serius.
"Ya, terima kasih, Nim," sahut Putri Alice tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.
Kemudian Nim pun menyusul Luiji yang sudah keluar dari ruangan Putri Alice.