19. Misi Penyelamatan Juno

2187 Kata
Di dasar laut yang dalam, masuk ke dalam sebuah bangunan yang menyerupai laboraturium, tampak Neilto yang sedang menggunakan sebuah alat ciptaannya yang berbentuk bola. Kemudian bola tersebut melayang lalu terbang keluar dari laboraturiumnya. Dari atas laut, seketika bola tersebut dengan sangat cepat terbang melesat, lalu bola tersebut mengeluarkan sebuah cahaya dan sekejap menghilang. Dari atas istana kekuasaan Rieghart, tampak sebuah cahaya kecil yang membentuk sebuah lingkaran menyerupai sebuah portal kecil, dan dari portal tersebut keluar sebuah bola yang ternyata dikirim oleh Neilto. Bola tersebut menyelinap masuk ke dalam istana milik Rieghart. "Apa itu?" gumam Alio ketika melihat sebuah bola kecil yang terbang melesat tepat di dalam istana kemudian seketika Alio menangkap bola tersebut, "Benda ini seperti sebuah pesan, aku harus menunjukkan ini kepada Tuan ku," gumamnya lagi, lalu Alio melangkah ke ruangan dimana Rieghart berada dan bermaksud menyerahkannya kepada Rieghart. "Maaf, Tuan ku," ucap Alio menghadap ke pada Rieghart yang sedang duduk di singgasananya. "Benda apa yang kau bawa itu?" tanya Rieghart sembari menunjuk sebuah bola yang berada di tangan Alio. "Benda ini seperti dikirim oleh seseorang, Tuan ku," jawab Alio, "Ini, Tuan ku," sambungnya lagi ketika melangkah mendekat ke arah Rieghart kemudian menyerahkan bola kecil di tangannya kepada Rieghart. Setelah menerima sebuah bola dari Alio, kemudian Rieghart melihat sebuah tombol yang tepat berada pada bola tersebut. "Sepertinya ini adalah sebuah benda yang berisi pesan," gumam Rieghart kemudian perlahan menekan sebuah tombol pada bola tersebut. Lalu dari bola tersebut terdengar sebuah suara, "Rieghart, sepertinya kau sudah membuka pesan dariku." "Neilto! Sudah ku duga," sahut Rieghart tersenyum seketika mengetahui ternyata suara tersebut adalah suara dari Neilto. "Ya, aku adalah Neilto," sahut Neilto yang suaranya terdengar dari bola tersebut. "Baiklah, apa yang ingin kau katakan?" tanya Rieghart. "Aku hanya memberitahumu tentang Putri Alice," sahut Neilto. "Putri Alice?" gumam Rieghart mengerutkan keningnya, "Apa hubungannya denganku?" tanyanya kemudian. "Aku tidak akan berbelit-belit memberitahukan hal ini padamu, Rieghart," sahut Neilto, "Tapi aku yakin ini adalah sebuah informasi yang sangat penting untukmu," sambungnya. "Apa itu?" tanya Rieghart. "Sabar-sabar," sahut Neilto sembari tertawa, "Informasi penting tidak gratis, Rieghart," sambungnya lagi. "Apa yang kau inginkan," ucap Rieghart. "Hei kau jangan main-main dengan Tuan ku!" teriak Alio yang juga mendengar ucapan dari Neilto. Seketika Rieghart mengarahkan telapak tangannya dengan maksud menyuruh Alio berhenti untuk bicara. "Aku tidak ingin apapun darimu," sahut Neilto, "Tapi, bagaimana kita membuat kesepakatan kecil," sambungnya lagi. "Kesepakatan apa yang kau inginkan?" tanya Rieghart. "Jika kau berhasil menguasai seluruh dunia, aku ingin seperempatnya untukku," jawab Neilto. "Hahahahaha." Rieghart tertawa, "Baiklah, lalu apa yang ingin kau beritahu padaku," sahutnya bertanya. "Putri Alice dan pasukannya sebentar lagi akan tiba di dunia kekuasaanmu, dan mereka berencana untuk mengalahkanmu," jawab Neilto, "Aku hanya ingin mengajakmu untuk bekerja sama denganku, Rieghart," sambungnya. Seketika Rieghart tertawa setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Neilto, "Bekerja sama? Itu akan ku pertimbangkan lagi," ucapnya, "Tapi, aku yakin mereka tidak akan bisa kemari karena semua portal sudah tertutup," sahutnya kemudian. "Aku tidak akan memaksa kau untuk mempercayaiku, Rieghart," ucap Neilto sembari tertawa, "Tapi yang terpenting, aku sudah memberitahukan hal ini padamu, kau mau percaya atau tidak, itu terserah padamu," sambungnya kemudian seketika bola tersebut menghilang lenyap. "Putri Alice akan kemari?" gumam Rieghart. "Benarkah itu, Tuan ku?" tanya Alio. "Aku tidak yakin, tapi jika memang benar, sebaiknya kita harus mempersiapkan sambutan yang sangat meriah untuk mereka," jawab Rieghart tersenyum dengan wajah licik. "Baik, Tuan ku," ucap Alio, "Aku akan mempersiapkan semuanya mulai sekarang," sambungnya lagi kemudian seketika menghilang dari hadapan Rieghart. Di saat yang sama tepat di depan sebuah istana dimana Putri Alice berada, tampak Nim dan Luiji serta Michi yang sedang membuat sebuah portal, dan portal tersebut tepat menuju ke dunia Khamaya, yaitu dunia yang dikuasai oleh Rieghart. "Baiklah, semua sudah siap, Alice," ucap Nim menatap ke arah Putri Alice. "Baik, ayo kita ke sana," ucap Putri Alice perlahan melangkah masuk diiringi oleh Nim, Luiji, Michi, dan Grazel serta beberapa petinggi istana, lalu di belakang mereka juga terdapat sepuluh ribu pasukan yang mengiringi. Dari depan gerbang istana milik Rieghart, tampak sebuah cahaya yang melingkar membentuk sebuah portal. "Sepertinya Neilto benar, Tuan ku," ucap Alio yang berdiri di samping Rieghart tepat di depan gerbang istana. Rieghart tersenyum licik menatap ke arah portal tersebut. "Seratus ribu pasukan kita juga sudah siap, Tuan ku," ucap Alio. "Selamat datang!" teriak Rieghart membentangkan kedua tangannya menyambut ketika tampak Putri Alice yang keluar dari portal di depannya. "Rieghart!" teriak Putri Alice, "Kami akan menghentikan kalian!" teriaknya lagi. "Pasukan! Serang!" teriak Grazel memerintah pasukan di belakangnya kemudian berlari dengan sangat cepat ke arah Alio. "Habisi mereka!" teriak Alio yang juga memerintah pasukan di belakangnya kemudian juga berlari ke arah Grazel. Terjadi pertarungan yang sangat sengit antara Grazel dan Alio. Disamping itu tepat dari belakang istana Rieghart, tampak Nim, Luiji dan Michi yang diam-diam menyelinap. "Kita harus lewat mana?" tanya Nim yang menengok ke segala arah menatap tembok di belakang istana milik Rieghart. "Nim, Luiji," ucap Naken. Nim dan Michi menatap ke arah Luiji. "Ya," sahut Luiji. "Sepertinya kalian sudah bisa menggunakan kembali kemampuan teleportasi," ucap Naken. "Ya, aku juga merasa begitu," sahut Tion. "Baiklah, ayo kita coba, Luiji," ucap Nim, "Michi," sambungnya lagi seketika menggenggam tangan Michi. Kemudian Nim dan Luiji pun memejamkan mata mereka berdua, dan ternyata mereka pun berhasil melakukan teleportasi. Nim, Luiji dan Michi seketika tiba di dalam sebuah ruangan tepat di depan singgasana milik Rieghart yang tepat di atas singgasana tersebut terdapat sebuah kurungan menggantuk berbentuk sangkar yang ternyata berada di dalam kurungan tersebut adalah Juno, teman mereka. "Itu dia," ucap Nim menunjuk sebuah kurungan tepat menggantung di atas singgasana milik Rieghart. "Benar, seseorang di dalam sana adalah Juno," sahut Luiji menatap ke arah kurungan tersebut. "Lalu, bagaimana kita bisa mengeluarkannya?" tanya Michi. "Mau apa kalian!" Tiba-tiba terdengar teriakan tepat dari depan ruangan. Seketika Nim, Luiji dan Michi menoleh ke arah asal suara tersebut dan melihat Neru yang sedang berdiri tepat di depan ruangan. "Ternyata kau, Neru," ucap Luiji menatap tajam ke arah Neru. "Kalau kalian ingin menyelamatkan teman kalian, kalahkan aku dulu," ucap Neru sembari perlahan melangkah mendekat ke arah Nim, Luiji serta Michi. "Nim, kau cari cara untuk mengeluarkan Juno dari sana," ucap Luiji menoleh ke arah Nim, "Aku akan melawannya," sambungnya seketika kembali menatap ke arah Neru yang berjalan semakin mendekat. "Tidak akan ku biarkan kalian!" teriak Neru seketika berlari ke arah Nim yang berusaha melompat ke kurungan yang tepat berada di atas singgasana. Seketika Luiji dengan cepat menghalangi Neru, "Lawanmu adalah aku," ucapnya. "Baiklah," ucap Neru, "SWICH!" bisiknya kemudian Neru bertukar dengan Ryuto, yaitu Beaster yang bersama Neru. "Aku Ryuto, ucap Ryuto dengan tubuh Neru. "Ayo Luiji," ucap Naken. "Baik," sahut Luiji mengangguk, "SWICH!" bisiknya kemudian bertukar dengan Naken. "Bagaimana cara membukanya?" gumam Nim ketika tiba tepat di atas kurungan. "Kakak!" teriak Michi dari bawah kemudian melompat ke arah kurungan. "Nim, kurungan ini sudah diberi sebuah sihir," ucap Greatshfer ketika Michi juga tiba tepat di atas kurungan. "Lalu, bagaimana kita bisa membukanya?" tanya Nim. "Mantera sihirnya sangat kuat dan rumit, tapi kita masih bisa melepaskan sihir ini," jawab Greatshfer, "Tuan Putri, cepat tempelkan kedua telapak tangan Tuan Putri pada kurungan ini," sambungnya lagi. "Baik," sahut Michi kemudian menempelkan kedua telapak tangannya pada kurungan tersebut. "Kemudian, ikuti apa yang aku katakan," ucap Greathsfer lagi. "Ya," sahut Michi. Kemudian Michi mengikuti semua apa yang diucapkan oleh Greatshfer. Naken dan Ryuto bertarung dengan kemampuan seimbang, seluruh pukulan dari Ryuto dapat dengan mudah dihindari oleh Naken, dan begitupun sebaliknya. "Sepertinya kita seimbang," ucap Naken seketika melompat ke belakang menghindari serangan dari Ryuto. "Aku masih belum mengeluarkan seluruh kekuatan ku," ucap Ryuto kemudian dari tubuh Neru keluar aura berwarna hitam pekat yang menyelimuti tubuhnya, kemudian aura hitam tersebut membentuk wujud seekor naga, lalu seketika melesat dengan sangat cepat menyerang ke arah Naken yang menggunakan tubuh Luiji. Naken terpental sangat jauh dikarenakan serangan dari Ryuto sehingga tubuh Luiji membentur dinding dan membuat dinding tersebut hancur. "Sepertinya aku juga akan mengeluarkan sedikit kekuatanku," ucap Naken, "Ayo Luiji," sambungnya berbisik kepada Luiji. Kemudian dari tubuh Luiji seketika keluar aura berwarna biru yang menyelimuti tubuhnya yang membentuk wujud gurita. "Sepertinya kemampuan kalian sudah meningkat," ucap Ryuto menatap ke arah Naken yang menggunakan tubuh Luiji. "Jangan remehkan aku!" teriak Naken seketika melesatkan salah satu tentakelnya ke arah Ryuto yang menggunakan tubuh Neru. "Hentikan!" Tiba-tiba terdengar sebuah teriakan seorang perempuan dari belakang Naken yang menggunakan tubuh Luiji. Naken menoleh ke belakang, "Putri Alice?" ucapnya kemudian. "Neru," ucap Putri Alice sembari perlahan mendekat ke arah Ryuto yang menggunakan tubuh Neru. "Putri Alice?" gumam Neru yang mendengar suara Putri Alice dari dalam tubuhnya, "Ryuto," ucapnya kemudian. "Baiklah," sahut Ryuto kemudian bertukar kembali dengan Neru. Neru menundukkan wajahnya, "Mau apa kau kemari!" teriaknya sembari menatap ke arah Putri Alice yang melangkah mendekat ke arahnya. "Neru, aku mohon kembalilah," ucap Putri Alice ketika tiba berdiri tepat di depan Neru. "Maaf, aku tidak bisa, Alice," sahut Neru kemudian menundukkan lagi kepalanya. "Tapi kenapa?" tanya Putri Alice yang kemudian tampak dari matanya yang meneteskan air mata. "Ini sudah keputusan yang aku pilih!" teriak Neru. "Aku mohon!" teriak Putri Alice yang tampak dari wajahnya yang sudah berlinang air mata. Neru menatap Putri Alice tajam, "Maaf, aku sudah memilih jalan ini," ucapnya kemudian seketika tubuhnya menghilang dari depan Putri Alice yang masih terisak dengan tangisannya. "Neru," ucap Putri Alice kemudian menundukkan wajahnya. "Putri..." gumam Naken dari kejauhan ketika melihat Putri Alice yang terlihat sangat sedih. "Naken, aku rasa sekarang sudah selesai," ucap Luiji. "Baik," sahut Naken kemudian bertukar kembali dengan Luiji. Setelah Neru menghilang, disaat yang sama Nim dan Michi berhasil mengeluarkan Juno dari kurungan tersebut. Tampak tubuh Juno yang masih terkulai lemah, lalu Nim menggendong tubuh Juno untuk turun ke bawah. "Mereka berhasil," ucap Luiji seketika berlari ke arah Nim yang menggendong tubuh Juno. "Kakak kenapa?" tanya Michi seketika menghampiri Putri Alice yang terisak menangis. Kemudian segera Putri Alice menyapu seluruh air mata di wajahnya, "Kakak, tidak apa-apa," ucapnya tersenyum ke arah Michi yang berdiri tepat di depannya. "Kita sudah berhasil, Kak," ucap Michi. "Baik, sekarang kita harus mundur," sahut Putri Alice, "Aku akan segera memberitahu Grazel," sambungnya kemudian berlari menuju keluar dari istana milik Rieghart. "Baiklah, ayo kita kembali ke portal," ucap Nim. "Ya," sahut Luiji. "Michi, ayo, kita harus segera kembali," ucap Nim memanggil adiknya. "Ya, Kak," sahut Michi kemudian melangkah ke arah Nim. "Semua sudah siap," ucap Luiji seketika menggenggam tangan Michi. "Kakak?" tampak wajah Michi yang terlihat memerah karena merasa malu ketika Luiji menggenggam tangannya. "Baik," sahut Nim mengangguk sembari menggendong tubuh Juno. Nim dan Luiji memejamkan kedua mata mereka, dan dengan sekejap berpindah tempat dan tiba tepat berada di depan sebuah portal yang menuju kembali ke istana Putri Alice. Dari kejauhan tampak Putri Alice dan Grazel serta sebagian prajurit yang masih selamat berlari kembali menuju portal di dekat Nim, Luiji, dan Michi berdiri. "Baik, semuanya sudah siap," ucap Putri Alice ketika tiba di depan portal, "Ayo, kita segera kembali ke istana!" sambungnya berteriak kemudian segera melangkah masuk ke dalam portal. "Ayo semuanya masuk!" teriak Grazel sembari melangkah memasuki portal dan diiringi pasukannya di belakang. "Ya, kita juga segera masuk sebelum Rieghart dan Alio mengejar kita," ucap Nim sembari menggendong tubuh Juno kemudian seketika masuk ke dalam portal, dan diikuti oleh Luiji dan Michi. Tepat setelah Nim, Luiji, Michi, Putri Alice, Grazel dan seluruh pasukan yang tersisa keluar dari portal. Dengan segera Nim, Luiji dan Michi berusaha kembali menutup portal yang sudah mereka gunakan. "Baik, sepertinya kita sudah berhasil," ucap Nim. "Cepat segera bawa teman kalian ke ruang rawat!" teriak Putri Alice. "Benar, kita harus segera membawa Juno," sahut Luiji. "Ayo!" teriak Nim seketika berlari membawa tubuh Juno menuju ruang rawat dan diikuti oleh Luiji tepat di belakangnya. "Grazel, bagaimana dengan pasukan kita?" tanya Putri Alice. "Tidak banyak yang gugur dari peperangan tadi, Tuan Putri," sahut Grazel. "Aku harap, di peperangan selanjutnya tidak akan ada lagi korban yang gugur," ucap Putri Alice, "Sekarang silahkan prajurit untuk segera beristirahat," sambungnya. "Baik, Tuan Putri," sahut Grazel kemudian menoleh ke arah pasukannya yang sudah terlihat kelelahan, "Kalian semua boleh beristirahat!" teriaknya memerintah seluruh pasukannya. "Kau juga sebaiknya beristirahat," ucap Putri Alice tersenyum ke arah Grazel. "Baik, Tuan Putri, terima kasih," sahut Grazel sembari menundukkan badannya kemudian melangkah masuk ke dalam istana untuk segera beristirahat. Kemudian tampak Putri Alice yang terdiam sembari menundukkan wajahnya. "Kakak?" tanya Michi seketika menghampiri Putri Alice yang terlihat kembali bersedih, "Kakak baik-baik saja?" sambungnya. "Ya, Michi, kakak tidak apa-apa," sahut Putri Alice yang seketika menatap ke arah Michi dengan senyumnya. "Kakak tidak bisa bohong padaku," ucap Michi yang ternyata juga bisa mendengar isi hati Putri Alice. Putri Alice menatap Michi kemudian seketika memeluk erat tubuh Michi. "Aku janji, bersama kak Nim dan kak Luiji, pasti akan membawanya kembali pulang kemari," ucap Michi balas memeluk tubuh Putri Alice, "Jadi, kakak jangan sedih lagi ya," sambungnya. "Terima kasih, Michi," ucap Putri Alice tersenyum sembari masih memeluk Michi. Dari dalam istana di dunia Khamaya, tampak Rieghart yang sangat marah ketika mengetahui bahwa Juno yaitu tawanannya menghilang. "Aku tidak akan membiarkan kalian semua selamat!" teriak Rieghart dengan amarah yang sangat besar dan membuat dunia Khamaya dan seisinya bergetar layaknya gempa, dari tubuh Rieghart seketika keluar aura hitam berbaur merah sehingga membuat Alio yang merasakan kekuatan itupun merasa sangat takut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN