20. Kembali ke Unshiqua Altar

1861 Kata
Dari dalam ruang rawat tepat di dalam istana, tampak Juno yang terbaring tidak berdaya dan terlihat beberapa perawat yang berusaha untuk menyelamatkannya. "Semoga saja mereka berhasil," gumam Luiji yang tampak khawatir ketika mengintip ke dalam ruang rawat melalui sebuah jendela kecil tepat berada di pintu ruang rawat. Nim berjalan mendekat ke arah Luiji, "Mereka pasti berhasil, Luiji," ucapnya sembari memegang pundak Luiji ketika tiba tepat di samping Luiji berdiri. Kemudian seorang kepala perawat berjalan ke arah pintu lalu membuka pintu tersebut, "Kami sudah berhasil mengeluarkan seluruh pecahan Hashfer yang berada dari dalam tubuhnya," ucapnya menatap ke arah Nim dan Luiji ketika keluar dari ruang rawat. "Lalu, bagaimana keadaannya?" tanya Luiji. "Kami masih belum bisa memastikan," jawab Kepala Perawat menatap ke arah Luiji, "Karena tubuhnya sudah ditanamkan pecahan Hashfer cukup lama," sambungnya lagi. "Bukankah kami juga menyimpan pecahan Hashfer di dalam tubuh kami," sahut Nim, "Lalu, kenapa tubuh kami baik-baik saja?" sambungnya bertanya. "Tubuh teman kalian belum siap menerima kekuatan dari Hashfer, berbeda dengan kalian yang sudah melakukan latihan yang cukup," sahut Grazel yang berjalan mendekat ke arah Nim dan Luiji. "Lalu, apakah Juno akan selamat?" tanya Luiji menatap ke arah Grazel. "Itu semua tergantung sekuat apa tubuhnya dapat bertahan," jawab Grazel, "Tapi melihat kondisinya sampai saat ini, teman kalian masih bisa bertahan, aku rasa dia akan segera pulih karena dengan pecahan Hashfer dalam tubuhnya yang tertanam lumayan lama," sambungnya. Tiba-tiba salah seorang perawat keluar ruangan, "Maaf Tuan, pasiennya sudah mulai sadar," ucapnya kepada Kepala Perawat. "Benarkah," sahut Kepala Perawat takjub kemudian segera melangkah masuk ke dalam ruang rawat. Nim, Luiji, dan Grazel pun seketika mengikuti Kepala Perawat masuk ke dalam ruangan. "Juno," ucap Luiji ketika tiba dan berdiri di samping Juno yang berbaring. "Apa itu kau, Luiji?" tanya Juno pelan. "Benar, ini aku," sahut Luiji, "Berjuanglah, Juno," sambungnya memberi semangat. "Kekuatan fisiknya luar biasa," gumam Grazel ketika melihat kondisi Juno yang dapat bertahan. "Apa-apaan kau, Luiji," ucap Juno kemudian perlahan mendudukkan tubuhnya. "Jangan anda paksakan dulu, Tuan," ucap Kepala Perawat menahan tubuh Juno yang berusaha duduk. "Aku baik-baik saja," sahut Juno menatap ke arah Kepala Perawat, "Terima kasih," sambungnya tersenyum. "Bagaimana keadaanmu sekarang, Juno?" tanya Nim seketika mendekat ke arah Juno yang duduk tepat di atas ranjang di ruang rawat. "Nim?" ucap Juno tersenyum, "Terima kasih kalian sudah menyelamatkan ku," sambungnya. "Tidak apa-apa, Juno," sahut Nim tersenyum, "Kita kan teman," sambungnya lagi. Kemudian Juno perlahan berusaha untuk turun dari ranjang dan bermaksud untuk berdiri. "Kau mau apa, Juno?" tanya Luiji sembari menahan tubuh Juno yang masih lemah. "Aku bosan kalau hanya diam," jawab Juno, "Kau jangan khawatir, Luiji," sambungnya sembari menepuk bahu Luiji, "Aku ingin berkeliling, maukah kalian menemaniku?" sambungnya lagi bertanya. "Baiklah," sahut Nim. "Ayo," sahut Luiji. Kemudian Nim dan Luiji menemani Juno berkeliling. "Tempat ini tidak seperti rumah sakit," ucap Juno melihat keadaan sekelilingnya dan belum mengetahui bahwa dia sedang di dalam istana yang tepat berada di Jembatan Dunia. "Disini memang bukanlah rumah sakit, Juno," sahut Nim menatap ke arah Juno. "Lalu, kita dimana?" tanya Juno. "Ini adalah istana milik Putri Alice, dan istana ini berada di Jembatan Dunia. "Istana? Jembatan Dunia?" ucap Juno heran. "Benar, sewaktu kau dibawa oleh Alio ke Khamaya, kami dilatih oleh Oldeus dan mencoba menyelamatkanmu, ketika kami di istana milik Rieghart, kami dihisap oleh sebuah lubang hitam yang dibuat oleh Alio, sehingga kami jatuh ke dunia ini," sahut Luiji menjelaskan. "Sekali lagi, terima kasih," ucap Juno, "Lalu, apa rencana kalian selanjutnya?" sambungnya lagi bertanya. "Tentu saja mencari pecahan Hashfer," jawab Nim dengan semangat, "Dan menghentikan rencana Rieghart," sambungnya. "Tapi sebelum itu, sepertinya kau juga harus mempersiapkan fisikmu, Juno," ucap Luiji. "Maksudmu, aku harus latihan?" tanya Juno. "Benar," jawab Luiji. "Dengan siapa aku dilatih?" tanya Juno lagi. "Grazel adalah pelatih handal di istana ini," sahut Nim kemudian terdiam sejenak, "Tapi, Grazel mungkin saat ini masih belum bisa melatihmu," sambungnya. "Benar!" sahut Luiji yang tampak mendapatkan sebuah ide. "Kenapa, Luiji?" tanya Nim heran menatap Luiji. "Bagaimana kalau kita menemui Zorc, dan disana Juno bisa berlatih sangat cepat," jawab Luiji semangat. "Kau benar," ucap Nim, "Bagaimana, Juno?" sambungnya bertanya menatap Juno. "Aku ikuti saja," sahut Juno tersenyum. "Tapi bagaimana kondisi tubuhmu?" tanya Luiji. "Jangan khawatir, tubuhku sudah sangat segar," jawab Juno. Dari kejauhan tampak Michi yang berlari ke arah Nim, Luiji, dan Juno yang sedang berkeliling istana, "Kakak!" teriaknya. "Michi?" ucap Nim seketika menoleh ke belakang. "Eh, kakak sudah sembuh?" tanya Michi ketika tiba tepat di depan mereka sembari menatap ke arah Juno. "Iya, aku sudah sembuh," sahut Juno tersenyum. "Perkenalkan, aku Michi adiknya Kak Nim," ucap Michi memperkenalkan dirinya sambil mengulurkan tangannya. "Ya, namaku Juno," ucap Juno kemudian menyambut jabat tangan dari Michi, "Salam kenal," sambungnya, "Jadi dia adikmu, Nim?" sambungnya lagi menatap ke arah Nim. "Iya, dia adikku," jawab Nim. "Bagaimana dia juga bisa kemari?" tanya Juno lagi. "Dia dibawa oleh Black Tail," jawab Nim. "Black Tail?" ucap Juno mengerutkan keningnya, "Sepertinya aku pernah mendengar nama itu ketika aku berada di istana Rieghart," sambungnya. "Rieghart bukan satu-satunya musuh kita," sahut Luiji, "Neilto, pemimpin dari Black Tail juga memiliki ambisi yang sama seperti Rieghart," sambungnya. "Kalau begitu, kita harus secepatnya mengumpulkan pecahan Hashfer lebih banyak dari Rieghart," ucap Juno. "Memangnya kenapa, Juno?" tanya Nim menatap ke arah Juno. "Sewaktu aku ditahan disana, aku mendengar apa yang Rieghart dan Neilto bicarakan," jawab Juno, "Sepertinya mereka berniat untuk bekerja sama," sambungnya. "Kalau begitu kau benar, Juno," sahut Nim, "Kita harus secepatnya mengumpulkan pecahan Hashfer yang tersisa," sambungnya. Kemudian Michi melangkah ke depan sembari menatap Nim, Luiji dan Juno, "Kalau begitu, tunggu apa lagi?" ucapnya dengan semangat. "Tapi, sebelum kita menemui Zorc, sebaiknya kita harus memberitahu Putri Alice dan yang lain, agar mereka tidak khawatir," ucap Luiji. "Kau benar, Luiji," sahut Nim, "Ayo kita ke ruangan Alice," sambungnya. "Ayo, Kak," sahut Michi. Kemudian Nim, Michi, Luiji dan Juno pun pergi menemui Putri Alice di ruangannya. "Dimana Alice?" gumam Nim ketika tiba di ruangan Putri Alice dan ternyata Putri Alice tidak berada disana. "Kalian mencariku?" sahut Putri Alice yang terdengar dari belakang Nim, Michi, Luiji dan Juno. "Alice," ucap Nim setelah membalikkan badannya dan menatap ke arah Putri Alice. "Ya, Nim?" sahut Putri Alice kemudian menatap ke arah Juno, "Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanyanya kemudian. "Ya, kondisi ku sudah pulih, Tuan Putri," jawab Juno menundukkan badannya ke arah Putri Alice. "Tidak usah memanggilku dengan sebutan itu," sahut Putri Alice tersenyum, "Panggil saja aku, Alice," sambungnya. "Ta-tapi..." "Teman Nim adalah temanku juga," pungkas Putri Alice seketika memotong perkataan Juno. "Ba-baik, Alice," sahut Juno tersenyum sambil mengangguk. "Oh iya, ada keperluan apa kalian mencariku?" tanya Putri Alice. "Begini... Kami hanya meminta izin untuk kembali ke tempat Zorc, dan meminta Zorc untuk membantu Juno memperkuat fisiknya," jawab Nim. "Baiklah, tapi kalian harus berhati-hati, mungkin Rieghart dan pengikutnya saat ini sedang mencari kalian," sahut Putri Alice. "Jangan khawatir, Alice," ucap Nim dengan semangat sembari mengacungkan jempolnya ke arah Putri Alice. Dari depan istana, tampak Nim, Michi, Luiji dan Juno yang sudah siap untuk pergi ke tempat Zorc yang tepat berada di sebelah utara dari istana dan sudah membuat portal untuk ke sana. "Ayo," ucap Nim kemudian berjalan ke arah portal yang menuju ke tempat dimana Zorc berada, diikuti oleh Michi, Luiji dan Juno tepat di belakangnya. Dari dalam hutan tepat di dekat Altar Unshiqua, Zorc merasakan sebuah energi yang muncul di dekat Altar kemudian segera berlari ke sana. Lalu dia melihat sebuah cahaya kecil melingkar kemudian perlahan membesar sehingga membentuk sebuah portal, "Siapa yang datang?" gumamnya menatap tajam ke arah portal sembari mempersiapkan posisi siaga. Tampak Nim, Michi, Luiji dan Juno yang melangkah keluar dari portal. "Zorc!" teriak Nim melambaikan tangannya ke arah Zorc yang berdiri tepat di depan portal. "Ternyata kalian," ucap Zorc kemudian menurunkan posisi siaganya. "Wah, syukurlah langsung bertemu denganmu," ucap Nim seketika melangkah mendekat ke arah Zorc. "Ada apalagi kalian kemari?" tanya Zorc. "Perkenalkan, ini temanku Juno," sahut Nim. Zorc menatap ke arah Juno kemudian menatap kembali ke arah Nim, "Ternyata kalian berhasil," ucapnya tersenyum. "Berkat bantuanmu, Zorc," sahut Nim. "Tapi aku tidak membantu apa-apa," ucap Zorc sembari mengerutkan keningnya. "Tentu saja kau sangat membantu," sahut Nim, "Kalau tidak dengan bantuanmu, kami tidak akan bisa pergi ke dunia Khamaya dan berhasil menyelamatkan Juno," sambungnya. "Lalu, kalian mau apa kemari?" tanya Zorc lagi mengulang pertanyaannya. "Sebenarnya kami kemari hendak meminta izin kepadamu untuk meminjam Altar Unshiqua lagi," jawab Luiji. "Bukankah kalian kemampuan kalian sudah mencapai tingkat tertinggi," sahut Zorc. "Bukan untuk kami, tapi untuk membantu Juno memperkuat kemampuannya," jawab Luiji. "Kalian tidak perlu meminta izin padaku," sahut Zorc tersenyum, "Selama kalian menggunakan kekuatan di jalur yang benar, gunakanlah sesuka kalian," sambungnya. "Baiklah, kalau begitu," ucap Nim semangat, "Ayo, Juno," ucapnya lagi menatap ke arah Juno. "Aku harus melakukan apa?" tanya Juno bingung dengan apa yang harus dilakukannya. "Bukankah kau sudah pernah melakukan meditasi ketika kau dilatih oleh Oldeus?" tanya Nim. "Ya, aku sudah pernah melakukan meditasi sewaktu aku dilatih oleh Oldeus," jawab Juno. "Nah, kalau begitu duduklah tepat di depan batu itu," ucap Luiji sembari menunjuk salah satu tihang batu yang mengelilingi Altar Unshiqua, " Lalu, lakukan meditasi sama seperti latihan yang diberikan oleh Oldeus," sambungnya. "Baiklah," ucap Juno mengangguk, kemudian melakukan apa yang sudah diarahkan oleh Luiji. "Hei, Luiji, Nim," ucap Naken. "Ya, Naken?" sahut Nim bertanya. "Sepertinya ada sesuatu yang kurang dari Juno, tapi aku lupa," jawab Naken. "Ya, aku juga baru saja menyadarinya, Naken," sahut Tion. "Apa itu, Tion?" tanya Luiji. "Fyuri, dimana dia?" sahut Tion ketika menyadari bahwa gelang yang berada di tangan Juno ternyata tidak ada. "Fyuri?" gumam Luiji, "Benar, bukankah Juno juga mengenakan gelang sama sepertiku?" ucapnya seketika menyadari bahwa Juno tidak bersama Fyuri, yaitu Beatser yang bersemayam di gelang milik Juno. "Juno," panggil Nim yang seketika berdiri tepat di depan Juno yang sedang melakukan meditasi. "Ya, Nim?" sahut Juno bertanya setelah menghentikan meditasinya. "Dimana gelangmu, bukankah waktu itu kau bersama Fyuri?" ucap Nim balik bertanya. "Benar, aku lupa memberitahu kalian bahwa Fyuri telah diambil oleh Alio sebelum aku dipenjara ke istana dan diserahkan kepada Rieghart," jawab Juno. "Kalau begitu, artinya Fyuri masih berada di dunia Khamaya?" tanya Luiji yang juga seketika berdiri tepat di depan Juno. "Aku rasa juga begitu," jawab Juno, "Tapi, aku tidak melihat Alio menyerahkannya pada Rieghart," sambungnya. "Berarti, Fyuri masih berada di tangan Alio," ucap Nim mengerutkan keningnya kemudian terdiam sejenak, "Kau tenang saja, Juno. Kita akan merebut kembali Fyuri dari tangan Alio. Aku harap kita bisa segera bertemu dengan Alio, dan merebut Fyuri kembali," lanjutnya. "Terima kasih, Nim," ucap Juno tersenyum. Nim balas tersenyum sembari mengangguk ke arah Juno. "Kakak!" teriak Michi yang tepat berdiri di samping Zorc, "Apakah sudah selesai? Aku sudah lapar, Kak!" lanjutnya berteriak. "Benar, sebaiknya Juno melanjutkan meditasinya sebelum hari semakin gelap," ucap Luiji. "Baik," sahut Nim, "Silahkan, Juno," lanjutnya menatap ke arah Juno. "Juno, ingat ketika kau bermeditasi lalu melihat sebuah cahaya, itu artinya kau sudah berhasil melakukannya," ucap Luiji menjelaskan, "Lalu, buka matamu dan segera berlindung di balik batu ini," sambungnya sembari menunjuk sebuah tihang batu tepat di belakang Juno. "Baik," sahut Juno mengangguk. "Oh iya satu lagi, jika kau melihat sesuatu ketika bermeditasi, jangan dihiraukan, tetaplah fokus," tambah Nim mengarahkan. "Ya, aku mengerti," sahut Juno mengangguk kemudian melanjutkan meditasinya, lalu Nim dan Luiji pun melangkah kembali ke tempat dimana Michi dan Zorc menunggu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN