21. Serangan Black Tail ke Istana

1754 Kata
Tampak sebuah bola cahaya kecil berwarna biru yang melayang tepat di tengah Altar Unshiqua, menandakan bahwa Juno hampir menyelesaikan meditasinya. "Sepertinya, sebentar lagi teman kalian akan berhasil menyelesaikannya," ucap Zorc sembari menatap ke arah cahaya tersebut. "Cahayanya sudah kelihatan," gumam Juno kemudian perlahan membuka kedua matanya lalu segera melangkah berlindung tepat di balik tihang batu di belakangnya. Bola cahaya berwarna biru itupun terlihat membesar lalu melesat ke arah tihang batu tepat di tempat Juno berlindung. Dari atas, tepat di ujung batu, sebuah cahaya melesat ke tubuh Juno kemudian meresap ke dalam tubuhnya. "Apa ini?" gumamnya ketika melihat seluruh tubuhnya diselimuti aura berwarna biru, "Tubuhku berasa sangat ringan," gumamnya lagi kemudian aura biru tersebut meresap masuk ke dalam tubuhnya. "Sepertinya kau sudah berhasil, Juno," ucap Nim melangkah mendekat ke arah Juno dan berdiri tepat di tengah Altar Unshiqua. "Aku merasakan kekuatanku semakin bertambah," sahut Juno sembari melangkah mendekati Nim. "Sepertinya sekarang saatnya," gumam Michi kemudian melangkah mendekat ke arah Nim dan Juno tepat di tengah Altar, "Kakak," ucapnya ketika tiba di dekat Nim dan Juno. "Ya, Michi?" tanya Nim menoleh ke arah adiknya. "Ini," jawab Michi sembari yang dari tangannya menunjukkan sebuah kain yang tampak membungkus sesuatu. "Apa itu?" tanya Nim. "Ini diberikan oleh kak Alice sebelum kita pergi," jawab Michi. "Apa itu?" tanya Luiji seketika menghampiri Nim, Michi dan Juno yang berdiri tepat di tengah Altar dan diiringi oleh Zorc di belakangnya. "Aku akan membukanya," ucap Nim kemudian meletakkan sebuah bungkusan kain tepat di atas Altar Unshiqua lalu membukanya, "Apa ini potongan Hashfer yang sudah dikeluarkan dari tubuh Juno?" sambungnya bertanya ketika melihat beberapa potongan Hashfer dari kain tersebut. "Benar, ini adalah potongan Hashfer," sahut Tion. "Lalu, apa yang akan kita lakukan pada potongan Hashfer ini?" tanya Naken. "Hhmm." Nim tampak berpikir, "Bagaimana kalau kita membaginya?" ucapnya kemudian. "Membaginya?" tanya Luiji heran. "Maksudku kita bagi rata potongan Hashfer ini lalu menyimpannya," sahut Nim menjelaskan. "Sebaiknya begitu," sahut Tion. "Lalu, bagaimana kita membaginya?" tanya Luiji. "Sebentar," Nim menghitung jumlah potongan Hashfer, "Satu... dua... tiga... empat... lima... enam... tujuh... delapan...." "Delapan potongan Hashfer?" gumam Luiji, "Kalau begitu masing-masing dari kita menyimpan dua potongan, bagaimana?" sambungnya mengajukan pendapat. "Tapi, aku rasa tidak adil, Luiji," sahut Nim, "Bukankah kita sudah punya dua potongan Hashfer di masing-masing tubuh kita?" sambungnya memberitahu. "Kau benar," ucap Luiji. "Begini saja," ucap Zorc tiba-tiba menyela pembicaraan, "Jika Nim dan Luiji sudah memiliki potongan Hashfer masing-masing dua potongan dalam tubuh kalian, maka Michi dan Juno masing-masing menyimpan tiga potongan, dan kalian, Nim dan Luiji masing-masing menyimpan satu potongan," sambungnya, "Dengan begitu, semua potongan Hashfer terbagi rata," sambungnya lagi. "Kau benar, Zorc," ucap Nim tersenyum, "Ternyata kau pintar juga," sambungnya sembari menggaruk kepalanya. "Kau meremehkan kecerdasanku," ucap Zorc seketika kucing yang digendongnya melompat mengarah ke wajah Nim kemudian mencakarnya habis-habisan. "Ampun, ampun," jerit Nim kemudian berlari menghindar dari kejaran kucing hitam milik Zorc. "Kuro, cukup!" teriak Zorc memerintahkan kucingnya untuk berhenti mengejar Nim kemudian melompat ke bahu Zorc. "Awas kau, Kuro!" teriak Nim kesal. "Baiklah," ucap Luiji, "Juno, Michi, kalian ambil tiga potongan Hashfer, lalu Aku dan Nim mengambil masing-masing satu potongan yang tersisa," sambungnya mengarahkan. "Baik, Kak," sahut Michi kemudian mengambil tiga potongan Hashfer dan diikuti oleh Juno yang juga mengambil tiga potongan Hashfer. "Lalu, bagaimana aku menyimpan ini?" tanya Juno. "Dekatkan potongan Hashfer itu ke arah jantungmu, dengan begitu Hashfer akan meresap ke dalam tubuhmu," jawab Zorc memberitahu. "Ternyata kau juga mengetahui caranya, Zorc," ucap Nim menatap ke arah Zorc. "Tentu saja aku mengetahuinya," sahut Zorc. "Baiklah," ucap Michi kemudian mendekatkan ketiga potongan Hashfer tersebut ke arah jantungnya dan diikuti oleh Juno, seketika potongan Hashfer tersebut meresap masuk ke dalam tubuh Michi dan Juno. Juno menghela nafas, "Aku semakin merasakan kekuatanku bertambah," ucapnya kemudian. "Bagus, sekarang kita sudah memiliki potongan Hashfer yang jumlahnya sebelas potongan," ucap Nim semangat. "Naken," ucap Luiji. "Ya?" sahut Naken. "Apa kau tahu sebenarnya Hashfer ini terpecah menjadi berapa?" tanya Luiji. "Aku masih belum bisa memastikannya, Luiji," jawab Naken. "Naken, apa itu kau?" pungkas Juno yang kemudian juga dapat mendengar perkataan dari Naken. "Ya, ini aku Naken," sahut Naken. "Benar, waktu itu Putri Alice juga bisa mendengar kita sewaktu di dalam tubuhnya terdapat pecahan Hashfer," ucap Tion. "Tion?" ucap Juno, "Ternyata aku bisa mendengar kalian semua," sambungnya heran ketika menyadari kemampuan yang dimilikinya sekarang. "Tentu saja kau mampu mendengar perkataan dari Beaster, karena dalam tubuhmu sudah mengalir kekuatan dari Hashfer yang sudah memiliki ikatan kuat dengan Beaster," jelas Zorc. "Ikatan kuat?" gumam Nim. "Benar, walaupun aku masih belum mengerti ikatan apa yang dimiliki antara Hashfer dan Beaster," ucap Zorc, "Tapi, begitulah yang sering para Caster katakan," sambungnya. "Benar begitu, Tion?" tanya Nim. "Benar, tapi aku juga hanya sebatas mengetahui bahwa kami para Beaster memiliki ikatan kuat dengan Hashfer," jawab Tion. "Tapi sampai saat ini, semua itu masih menjadi suatu misteri yang dirahasiakan oleh Ibate, yaitu pemimpin para Caster," ucap Naken lanjut menjelaskan. "Greatshfer, apa kau mengetahui sesuatu?" tanya Michi. "Tidak, Tuan Putri," jawab Greatshfer, "Aku sama sekali belum mengetahuinya," sambungnya lagi. "Begitu ya," ucap Michi. "Aku rasa ikatan itu adalah ikatan yang baik," ucap Nim, "Baiklah, Juno sudah berhasil meningkatkan kekuatannya, ayo kita kembali ke istana," sambungnya. "Baik," sahut Luiji, Michi dan Juno bersamaan. Kemudian Nim, Michi dan Luiji membuat sebuah portal yang menuju tepat kembali ke istana Putri Alice. "Zorc, kamu tidak mau ikut bersama kami?" tanya Michi. "Tidak, aku lebih nyaman disini," sahut Zorc. "Ya sudah, ayo kita kembali!" teriak Nim dengan semangat kemudian melangkah masuk ke dalam portal bersama dengan Michi, Luiji, dan Juno. Disaat yang sama, tampak Alio yang ketika itu berada di sebuah tempat gelap bersama Neilto. "Bagaimana?" ucap Neilto. "Jika benar kau ingin bekerja sama dengan kami, seharusnya kau sudah tahu tugasmu apa," ucap Alio, "Dan, aku yakin kalian pasti memerlukan ini," sambungnya kemudian menyerahkan sebuah gelang yang ternyata milik Juno. "Gelang ini?" gumam Neilto mengerutkan keningnya ketika melihat sebuah gelang yang diserahkan oleh Alio kepadanya, "Jangan khawatir temanku Alio, aku tidak akan mengecewakanmu," ucapnya dengan senyum jahatnya. "Sebaiknya kau mulai sekarang," ucap Alio. "Baiklah, beberapa anggotaku sudah ku siapkan untuk membawanya kemari," sahut Neilto. Malam hari keadaan di istana tampak hening, terlihat beberapa prajurit yang sedang berpatroli mengelilingi istana. Namun, keheningan tersebut terpecah ketika sebuah benda kecil berbentuk segitiga yang tepat di tengahnya terdapat sebuah titik berwarna biru tiba-tiba meledak tepat di depan gerbang istana, dan ledakan tersebut membuat seluruh istana bergetar. "Apa itu?" gumam Putri Alice ketika mendengar sebuah ledakan tepat dari luar istana, kemudian seketika pergi ke luar istana. "Putri Alice!" teriak Grazel seketika menarik tubuh Putri Alice dengan segera ketika melihat sebuah benda kecil berbentuk segitiga yang melesat ke arah Putri Alice, sehingga benda kecil segitiga tersebut membentur dinding istana lalu meledak. "Terima kasih, Grazel," ucap Putri Alice. "Bersiap! Kita diserang!" teriak salah seorang prajurit yang berlari ke arah seorang laki-laki yang mengenakan pakaian serba hitam. "Black Tail," gumam Grazel seketika dengan cepat berlari ke arah seorang laki-laki berpakaian serba hitam tersebut lalu bertarung dengannya. "Aku juga tidak bisa hanya berdiam diri," gumam Putri Alice kemudian seketika berlari ke dalam istana lalu mengambil perlengkapan bertarungnya. Di dalam istana, dia mengambil sebuah pedang dan sebuah tameng yang berwarna emas. "Putri Alice," ucap seseorang yang tiba-tiba muncul dan berdiri tepat di depan Putri Alice di dalam istana. "Yunzo!" teriak Putri Alice dengan menampakan wajahnya yang sangat serius, "Apa maumu!?" sambungnya bertanya tegas. Yunzo menengkok ke kiri dan kanan kemudian menatap ke arah Putri Alice lalu tersenyum, "Aku hanya mencari Beaster, apa kau melihatnya?" ucapnya bertanya. "Mereka sudah kembali ke dunia mereka!" sahut Putri Alice tegas. "Ternyata memang benar, Beaster tidak ada disini," ucap Yunzo, "Tapi sepertinya kedatangaku kemari akan sia-sia jika tidak membawa sesuatu untuk dibawa pulang," sambungnya. "Ambilah apapun yang kau mau, lalu pergilah," sahut Putri Alice. "Benarkah?" tanya Yunzo tersenyum, "Kalau begitu, bolehkah aku membawamu?" sambungnya. "Coba saja!" sahut Putri Alice kemudian mempersiapkan kuda-kudanya. "Kau tampak semakin cantik kalau seperti itu, Putri," ucap Yunzo tersenyum ke arah Putri Alice, "Aku tidak ingin bertarung denganmu, Putri," sambungnya. Seketika Putri Alice berlari ke arah Yunzo dan bermaksud hendak menyerangnya. Tiba-tiba Yunzo menghilang ketika sebuah pedang milik Putri Alice hendak mengenai tubuhnya, lalu muncul kembali tepat di belakang Putri Alice. "Sudah aku katakan, aku tidak ingin bertarung denganmu," bisik Yunzo ketika berdiri tepat di belakang Putri Alice. Kemudian dengan sekali serangan menggunakan jari Yunzo yang tepat mengenai leher Putri Alice. "Ka-kau..." ucap Putri Alice seketika tubuhnya tergeletak tidak sadarkan diri tepat di atas lantai istana. "Putri Alice," gumam Yunzo dengan senyum liciknya kemudian berjalan membawa tubuh Putri Alice yang tidak sadarkan diri ke luar istana, "Ayo kita kembali!" teriaknya ketika tiba tepat di depan gerbang istana yang sudah hancur sembari menggendong tubuh Putri Alice. "Apa yang ingin kau lakukan!" teriak Grazel yang melihat Yunzo sedang menggendong tubuh Putri Alice yang tidak sadarkan diri. "Aku tidak ada urusan denganmu," sahut Yunzo berjalan melewat tepat di depan Grazel sembari membawa tubuh Putri Alice. "Aku tidak akan membiarkan kau membawa Tuan Putri!" teriak Grazel seketika menyerang Yunzo. Namun, serangan tersebut seketika ditangkis oleh seseorang anggota Black Tail. "Hans, kau bereskan serangga yang satu ini," ucap Yunzo tetap melangkahkan kedua kakinya dan seketika menghilang dengan membawa Putri Alice. "Tuan Putri!" teriak Grazel, seketika sebuah pukulan melesat ke tubuh Grazel sehingga membuat tubuhnya terlempar. "Lawanmu adalah aku," ucap Hans perlahan melangkah mendekat ke arah Grazel. "Kau!" gumam Grazel yang tampak marah lalu dengan sangat cepat melesat ke arah Hans dan menyerangnya, namun dengan gesit Hans dapat menghindarinya. "Sebaiknya aku harus segera membereskan serangga ini," gumam Hans lalu mengangkat salah satu tangannya, dari tangannya tampak sebuah gelang yang mengeluarkan aura berwarna merah, lalu aura merah tersebut menyelimuti tubuhnya. Grazel mengerutkan keningnya, "Gelang itu mirip seperti gelang milik Nim," gumamnya. "Aku harus segera menyelesaikan tugasku," ucap Hans kemudian dengan sangat cepat melesat lalu menghilang. "Dimana dia..." gumam Grazel ketika melihat lawannya tersebut menghilang. "Kau," ucap Hans seketika meluncurkan sebuah pukulan tepat mengenai tubuh Grazel sehingga terlempar jauh, seketika lagi Hans menghilang dan tiba tepat di belakang Grazel yang masih terlempar, "Lemah!" ucapnya lagi seketika meluncurkan pukulannya lagi sehingga membuat tubuh Grazel terlempar dengan sangat kencang dan membentur dinding tepat di luar istana. "A-a-aku...." Grazel perlahan menutup matanya lalu tidak sadarkan diri. "Sepertinya tugasku sudah selesai," gumam Hans kemudian melompat tinggi dan berdiri tepat di atas benteng istana, "Lebih baik semuanya harus dimusnahkan," gumamnya lagi kemudian melemparkan beberapa benda kecil berbentuk segitiga ke arah bagunan istana kemudian meledak tepat di dalam istana, sehingga membuat istana yang tampak megah dan kokoh itupun menjadi puing-puing kecil. Kemudian Hans menghilang diikuti anggota Black Tail yang lain dan meninggalkan istana yang keadaannya sudah porak-poranda.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN