22. Melacak Putri Alice

1743 Kata
Di dekat puing-puing istana, tampak sebuah cahaya yang kemudian membentuk sebuah portal. Nim, Luiji, Michi dan Juno keluar dari portal tersebut. "Apa-apaan ini," ucap Nim yang terkejut ketika melihat istana yang sudah porak-poranda. "Dimana kak Alice?" tanya Michi menoleh ke kiri dan kanan, namun, yang dilihatnya hanyalah puing-puing istana yang berserakan. "Grazel!" ucap Luiji seketika berlari ketika melihat tubuh Grazel yang tersandar pada sebuah tembok dan sudah tidak sadarkan diri, "Grazel... Grazel..." ucapnya ketika tiba tepat di dekat tubuh Grazel yang tidak sadarkan diri sembari berusaha menyadarkannya. Perlahan Grazel mulai sadar dan perlahan membuka matanya, "Pu-Putri Alice di-diba-bawa oleh Black...." Kemudian Grazel kembali tidak sadarkan diri. "Grazel!" teriak Nim kemudian bertekuk lutut, "Kalau saja...." "Tenang, Nim," pungkas Juno setelah merasakan denyut nadi tepat di leher Grazel dengan jarinya, "Grazel masih hidup," sambungnya memberitahu. "Syukurlah," ucap Nim lega. "Tapi, bagaimana kita merawat Om Grazel?" sahut Michi, "Seluruh istana sudah hancur," sambungnya. "Sebaiknya kita cari sebuah tempat untuk berlindung," ucap Juno. "Tapi dimana?" sahut Nim bertanya kemudian terdiam sejenak ketika teringat sesuatu, "Aku tahu!" ucapnya kemudian berdiri, "Ayo ikuti aku," sambungnya lagi kemudian mengangkat tubuh Grazel. Kemudian mereka tiba tepat di sebuah bangunan terlantar di samping hutan di dekat istana. "Untuk sementara, kita bisa beristirahat di sini," ucap Nim kemudian membaringkan tubuh Grazel tepat di atas sebuah meja di dalam bangunan. "Lalu, Grazel bagaimana?" tanya Juno menatap ke arah Grazel yang masih tidak sadarkan diri. "Tuan Putri," ucap Greatshfer. "Ya, Greatshfer?" tanya Michi menatap ke arah gelang di tangannya. "Tolong dekatkan kedua telapak tangan Tuan Putri ke arah Grazel," jawab Greatshfer. "Baik," ucap Michi kemudian mendekatkan kedua telapak tangannya ke arah Grazel. Tampak dari tangan Michi mengeluarkan sebuah cahaya dan tidak berapa lama Grazel pun perlahan sadar. "Wah, bagaimana kau bisa melakukannya, Michi?" tanya Nim yang terkejut dengan kemampuan adiknya. Grazel perlahan membuka kedua matanya dan menoleh ke arah Michi, "Te-terima kasih," ucapnya. "Jangan berterima kasih padaku, Om Grazel," sahut Michi tersenyum, "Greatshfer yang sudah menyelamatkanmu," sambungnya memberitahu. "Terima kasih, Greatshfer," ucap Grazel. "Aku adalah Dewa Keseimbangan, tentu sudah tugasku," sahut Greatshfer. "Grazel, apa sebenarnya yang sudah terjadi?" tanya Luiji seketika melangkah mendekat ke arah Grazel. "Black Tail, serangan tersebut dipimpin oleh Yunzo," jawab Grazel kemudian menundukkan kepalanya, "Aku gagal melindungi Tuan Putri," sambungnya. "Kenapa dengan kak Alice?" tanya Michi tampak khawatir. "Tuan Putri dibawa mereka," jawab Grazel menggenggamkan kedua tangannya menahan amarah. "Kemana mereka membawa Alice?" tanya Nim. "Aku tidak tahu," jawab Grazel, "Sampai saat ini, aku tidak tahu dimana Black Tail bersembunyi," sambungnya. "Sial!" ucap Nim kesal. "Nim," ucap Grazel. "Ya, Grazel?" tanya Nim. "Sewaktu aku bertarung dengan salah satu anggota Black Tail, dia bernama Hans," jawab Grazel, "Dan aku melihat sebuah gelang yang berada di tangannya," sambungnya, "Dia menggunakan kekuatan dari gelang itu sehingga membuatku seperti ini," sambungnya lagi. "Gelang?" gumam Luiji. "Benar, gelang itu mirip sekali dengan gelang yang kau punya, Nim," sahut Grazel, "Tapi, hanya bentuk ukirannya saja yang berbeda," sambungnya. "Apakah gelang itu memiliki ukiran kepala banteng?" tanya Juno. "Ya kau benar, gelang itu memiliki ukiran sebuah kepala banteng," jawab Grazel. "Fyuri..." gumam Juno, "Aku akan membawamu kembali," ucapnya kemudian. "Tapi, bukankah Fyuri berada di tangan Alio," ucap Naken, "Lalu, bagaimana Black Tail bisa memilikinya?" sambungnya bertanya. "Aku rasa Rieghart dan Black Tail sudah bekerja sama," sahut Juno. "Jika Rieghart dan Black Tail bekerja sama, maka Rieghart semakin tidak terkalahkan," ucap Grazel. "Tapi, Rieghart sudah tidak memiliki pecahan Hashfer," sahut Nim. "Kau benar, Nim," ucap Grazel menoleh ke arah Nim, "Tapi ada satu hal yang harus kalian ketahui tentang dari mana kekuatan Rieghart berasal," sambungnya. "Asal kekuatan Rieghart?" gumam Nim. "Ya, Rieghart juga memiliki gelang sama seperti milik Michi, tapi berbeda dengan Greatshfer," ucap Grazel memberitahu. "Berbeda dengan Greatshfer?" gumam Luiji. "Kekuatan Rieghart berasal dari Luminoushfer," jawab Grazel, "Luminousfher sama seperti Hashfer dan Greatshfer, kekuatannya bagaikan dewa," sambungnya. "Hei, kami memang dewa," sahut Greatshfer. "Greatshfer," ucap Michi, "Apa kau juga tahu tentang Luminoushfer?" sambungnya bertanya. "Ya, aku pernah mendengar nama itu, tapi Luminoushfer berbeda dengan kami," jawab Greatshfer. "Berbeda?" tanya Nim heran. "Benar, sepertinya Greatshfer lebih mengetahuinya dan akan menjelaskannya lebih rinci kepada kalian," ucap Grazel tersenyum sembari menggaruk kepalanya. "Oh iya, Grazel kan tidak bisa mendengarmu Greatshfer," ucap Michi. "Sebaiknya ajak Grazel keluar dari bangunan ini sebentar, Tuan Putri," sahut Greatshfer. "Baiklah," ucap Michi kemudian menatap ke arah Grazel, "Om, kita keluar sebentar," ucapnya lagi mengajak Grazel. "Memangnya kenapa?" tanya Grazel. "Aku tidak tahu, tapi Greatshfer yang memintaku untuk mengajakmu keluar," jawab Michi tersenyum sembari berjalan keluar dari bangunan. "Baiklah, kalau Greatshfer yang meminta, aku tidak bisa menolaknya," sahut Grazel kemudian mengikuti Michi dan diiringi oleh Nim, Luiji, dan Juno. Dari depan bangunan tepat di samping hutan, tampak dari gelang yang berada di tangan Michi mengeluarkan cahaya, lalu cahaya tersebut melesat ke atas langit. Dari dari atas langit tampak seekor naga berwarna emas yang perlahan turun dan mendekat ke arah Nim, Michi, Luiji, Juno dan Grazel yang berada disana. "Sungguh sebuah keistimewaan aku dapat melihat langsung wujud dari Greatshfer yang merupakan sebuah simbol kerajaan," gumam Grazel takjub ketika melihat seekor naga emas yaitu wujud asli dari Greatshfer. "Nah, sekarang kau juga dapat mendengarku," ucap Greatshfer. "Nim, aku juga ingin keluar sebentar," ucap Tion. "Ya, aku juga Luiji," ucap Naken. Kemudian dari gelang di tangan Nim dan juga di tubuh Luiji tampak sebuah cahaya yang kemudian melesat di hadapan mereka. Tampak dua cahaya putih yang kemudian membentuk wujud harimau dan gurita. "Bukankah wujud asli Beaster itu sangat besar?" tanya Grazel heran ketika melihat wujud Tion dan Naken. "Kemampuan ini masih belum sempurna," jawab Naken. "Nah, sekarang adil, kan?" ucap Nim tersenyum. "Baiklah, sekarang aku akan melanjutkannya," ucap Greatshfer. "Maksudmu tentang Luminoushfer?" tanya Nim yang ketika itu lupa tentang apa yang sedang mereka bahas. "Bukan, Nim," sahut Luiji. "Lalu, apa?" tanya Nim bingung. "Tentu saja tentang perutmu," sahut Luiji kemudian menggetok kepala Nim. "Sudah!" teriak Greatshfer, "Akan ku tegaskan bahwa Luminoushfer itu berbeda dengan kami," ucapnya menjelaskan, "Memang benar dia juga jelmaan dewa, tapi aliran yang dimiliki Luminoushfer tidak sama dengan kami para dewa langit." "Aliran?" Nim semakin bingung. "Aliran yang dimiliki Luminoushfer adalah kekuatan gelap," sahut Greatshfer. "Kekuatan gelap?" gumam Luiji. "Berbeda dengan kami, yaitu Aku Greatshfer, Hashfer dan beberapa dewa yang lain," jelas Greatshfer lagi. "Lalu, jika Rieghart sudah memiliki Luminoushfer, kenapa dia masih memerlukan kekuatan Hashfer?" tanya Nim. "Hashfer dan Luminoushfer adalah kekuatan yang saling berkebalikan," jawab Greatshfer, "Bisa dikatakan, Hashfer adalah cahaya, dan Luminoushfer adalah kegelapan," sambungnya menjelaskan, "Jika kekuatan Hashfer dan Luminoushfer disatukan, aku yakin akan tercipta sebuah kekuatan baru yang melebihi dari kekuatan seluruh dewa, dan dia tidak akan bisa dihentikan lagi," sambungnya lagi. "Pantas saja Rieghart berusaha mengumpulkan pecahan-pecahan Hashfer," ucap Nim. "Jadi, ternyata begitu rencana Rieghart yang sebenarnya," gumam Grazel. "Lalu, bagaimana dengan kak Alice?" sahut Michi, "Aku mengira kita kemari untuk membahas bagaimana cara menyelamatkan kak Alice," sambungnya. "Baik, Tuan Putri," ucap Greatshfer kemudian tubuhnya yang berwujud naga mengeluarkan sebuah bola cahaya. Lalu bola cahaya tersebut seketika melesat ke arah istana yang tepat berada dekat dengan sebuah bangunan dimana mereka berada. Bola cahaya tersebut kemudian kembali, dan bola cahaya itu membawa sebuah benda yang tampak seperti sebilah pedang emas yang ternyata milik dari Putri Alice. "Apa itu?" tanya Luiji heran ketika melihat sebuah pedang emas yang dibawa oleh bola cahaya tersebut. "Ini adalah pedang milik Putri Alice," jawab Grazel. "Benar," sahut Greatshfer, "Dan pedang itu terbuat dari salah satu sisik emas di tubuhku," sambungnya memberitahu. "Lalu, apa yang akan kita lakukan dengan pedang ini?" tanya Nim seketika meraih pedang emas tersebut. "Dengan pedang itu, kita bisa melacak keberadaan Putri Alice," jawab Greatshfer. "Bagaimana caranya?" tanya Michi. "Nim," panggil Greatshfer. "Ya?" sahut Nim. "Tolong berikan pedang itu kepada Putri Michi," ucap Greatshfer. "Baiklah," sahut Nim mengangguk kemudian menyerahkan pedang emas di tangannya kepada adiknya, yaitu Michi. "Apa yang harus aku lakukan dengan pedang ini?" tanya Michi. "Pejamkanlah matamu, Tuan Putri," jawab Greatshfer mengarahkan, "Lalu pusatkan pikiran, dan rasakan keberadaan pemilik dari pedang itu," sambungnya mengarahkan. "Baik," sahut Michi kemudian memejamkan matanya, lalu memusatkan pikirannya. Ketika Michi memejamkan matanya, tampak dalam penglihatannya Putri Alice yang sedang berada dalam sebuah ruangan sendirian, "Aku melihat kak Alice, dia berada di dalam sebuah ruangan sendirian," ucapnya. "Bagus, sekarang rasakan dimana Putri Alice berada," ucap Greatshfer mengarahkan. "Sepertinya aku melihat sebuah danau yang sangat besar dengan airnya yang sangat jernih," ucap Michi memberitahukan apa yang dia lihat, "Di tengah danau, aku melihat sebuah batu berbentuk persegi enam," sambungnya. "Batu berbentuk persegi enam di tengah danau," gumam Grazel sembari mengerutkan keningnya mencoba mengingat sebuah tempat yang telah dikatakan oleh Michi, "Aku tahu dimana tempat itu," ucapnya kemudian. "Benarkah?" tanya Nim semangat. "Ya, aku tahu dimana danau itu, tapi jaraknya cukup jauh dari sini," jawab Grazel. "Bagus, ayo kita segera ke sana," ucap Nim dengan semangat. "Tapi, ini sudah malam," sahut Juno, "Sebaiknya kita beristirahat disini dulu," sambungnya. "Benar, sebaiknya besok pagi saja kita ke sana," sahut Luiji. "Baiklah," ucap Nim. Nim terbangun dari tidurnya kemudian berjalan keluar dari bangunan tempat mereka beristirahat. Ketika tiba di luar bangunan, dia melihat Grazel yang tampak sedang berdiri tepat di luar bangunan sambil menatap ke atas memperhatikan langit berwarna putih di pagi hari. "Grazel?" ucap Nim ketika tiba berdiri tepat di samping Grazel. Grazel menoleh ke arah Nim, "Ya, Nim?" sahutnya kemudian kembali menatap langit dan sejenak terdiam, "Nim?" ucapnya lagi. "Ya?" sahut Nim yang kemudian juga ikut menatap ke langit. "Bagaimana langit di Bumi?" tanya Grazel, "Apakah langit di Bumi juga mirip seperti langit disini?" sambungnya. "Tidak, Grazel," jawab Nim, "Langit di Bumi itu sangat indah, apalagi jika harinya cerah, Langitnya berwarna biru dan di atas sana terlihat awan-awan yang terbang seakan melayang," sambungnya menjelaskan. "Awan-awan?" tanya Grazel bingung sembari menoleh ke arah Nim yang sedang memperhatikan langit di Jembatan Dunia. "Awan itu berwarna putih dan berbentuk seperti kapas yang lembut," jawab Nim tersenyum sembari menatap ke arah Grazel, "Kapan-kapan nanti aku akan mengajakmu untuk berkunjung ke Bumi," sambungnya mengajak. "Baik, Nim," sahut Grazel balas tersenyum. "Kakak?" ucap Michi yang baru tiba dan berdiri tepat di belakang Nim dan Grazel. "Ya, Michi?" tanya Nim membalikkan badannya ke belakang ke arah Michi. "Kapan kita berangkat, Kak?" tanya Michi. "Aku sudah siap!" ucap Luiji ketika tiba mendatangi Nim, Grazel dan Michi di luar bangunan. "Aku juga sudah siap!" ucap Juno yang berjalan tepat di belakang Luiji. "Baiklah, ayo kita berangkat!" ucap Nim dengan semangat. "Ayo ke arah sini," ajak Grazel melangkah tepat menuju ke tempat yang telah dikatakan oleh Michi tadi malam dan kemudian diiringi oleh Nim, Michi, Luiji, dan Juno di belakangnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN