23. Pohon Lakhwa

1042 Kata
Di perjalanan tepat di tengah hamparan tanah yang luas sejauh mata memandang dan terik matahari yang terasa membakar kulit. Michi tampak kelelahan karena sudah berjalan cukup jauh. Nim menoleh ke arah Michi yang terlihat kelelahan, "Sepertinya Michi sudah sangat kelelahan," ucap Nim cemas kemudian mempercepat langkahnya dan berjalan tepat di samping Grazel, "Apakah masih jauh, Grazel?" tanya Nim menoleh ke arah Grazel. "Kira-kira, jarak ke danau itu adalah satu hari perjalanan," jawab Grazel menoleh ke arah Nim, "Dan saat ini kita belum sampai setengah perjalanan." "Apa!" sentak Nim ternganga mendengar jawaban dari Grazel. "Tapi, sepertinya Michi sudah kelelahan," ucap Luiji memberitahu karena ia sejak tadi juga memerhatikan keadaan Michi. "Aku tidak apa-apa, Kak," sahut Michi. "Tidak ada salahnya kita harus mengistirahatkan kaki kita," ucap Luiji. "Disana ada goa." Juno menunjuk sebuah batu berukuran besar yang berada tepat di tengah hamparan tanah yang luas. Batu itu memiliki sebuah lubang yang cukup besar dan mirip seperti sebuah goa. "Goa," gumam Grazel heran kemudian menatap ke arah goa tersebut. "Ayo kita ke sana," ajak Nim kemudian menarik tangan adiknya dan berjalan menuju goa tersebut. "Kita bisa bernaung disini sebentar, Michi," ucapnya lagi ketika tiba tepat di depan mulut goa dan berlindung dari terik matahari. "Nim, tunggu!" teriak Juno yang kemudian juga mengikuti Nim menuju goa dan diiringi oleh Luiji tepat di belakang. "Aku sangat haus, Kak," keluh Michi menatap ke arah Nim setelah duduk mengistirahatkan kedua kakinya yang terasa sangat lelah. "Sebentar, aku akan ke dalam goa," ucap Nim kemudian berjalan masuk ke dalam goa. "Hei Nim, kau mau kemana?" tanya Luiji ketika tiba tepat di depan mulut goa. "Aku mau mencari sesuatu yang bisa diminum!" sahut Nim berteriak sembari berjalan ke dalam goa. "Ada yang tidak beres," gumam Grazel ketika juga tiba di depan goa tepat berdiri di samping Luiji. "Kenapa, Grazel?" tanya Luiji menoleh ke arah Grazel. "Memang aku jarang lewat sini, tapi aku baru kali ini melihat goa ada disini," jawab Grazel. Nim berjalan semakin jauh ke dalam goa. Tidak berapa lama ia berjalan, Nim merasakan kakinya yang basah. "Wah, aku menemukan air," ucapnya, "Tapi, bagaimana aku membawanya keluar?" Nim mengerutkan keningnya. "Nim," panggil Tion. "Ya, Tion?" tanya Nim. "Aku merasa ada yang janggal dengan tempat ini," jawab Tion. "Mungkin hanya perasaanku saja," sahut Nim, "Sebaiknya kita keluar, dan mengajak yang lain untuk minum disini, sambungnya kemudian berbalik arah menuju ke depan goa. "Bagaimana Nim, apa kau sudah dapat airya?" tanya Juno ketika melihat Nim yang berjalan ke depan goa. "Ya, aku menemukannya," jawab Nim, "Ayo kita ke dalam, di dalam sana banyak air," sambungnya memberitahu. "Ayo, Kak," ucap Michi kemudian berdiri. "Baik," sahut Luiji mengangguk. "Aku juga haus," sahut Juno. "Ayo, Grazel juga," ucap Nim mengajak Grazel. "Tidak, aku akan berjaga-jaga disini saja," sahut Grazel. "Baiklah, nanti aku juga akan membawakan air untuk mu," ucap Nim, "Ayo," sambungnya kemudian berjalan menuju ke dalam goa dan diiringi oleh Michi, Luiji, dan Juno tepat di belakangnya. Tampak Nim dan teman-temannya masuk ke dalam goa. "Aku masih penasaran dengan goa ini," gumam Grazel berjalan ke depan sembari memperhatikan goa yang dimasuki oleh Nim dan teman-temannya, "Sebaiknya aku harus menelusuri tempat ini," gumamnya lagi kemudian berjalan mengitari luar goa. Tak lama setelah Nim dan teman-temannya berjalan memasuki goa, kemudian terdengar suara gemericik air dari dalam goa, Michi yang merasa sangat kehausan segera berlari ke arah suara gemericik air tersebut. "Michi, jangan lari!" teriak Nim menegur adiknya, namun Michi tidak menghiraukannya. "Akhirnya, aku bisa minum," ucap Michi ketika tiba berdiri tepat di samping sebuah genangan air yang bening di dalam goa kemudian hendak meminum air tersebut. "Tunggu! Jangan diminum!" teriak Grazel memperingatkan sembari berlari ke arah Nim dan teman-temannya. "Memangnya ada apa dengan air ini, Om?" tanya Michi seketika menghentikan keinginanya hendak meminum air dari genangan tersebut. "Sebaiknya kita segera pergi menjauh dari tempat ini," ajak Grazel, "Tempat ini sangat berbahaya," sambungnya memperingatkan, "Ayo ikuti aku," sambungnya lagi mengajak. "Mau kemana?" tanya Nim. "Ikut saja, nanti aku jelaskan," ucap Grazel memaksa. "Baik," sahut Nim. Kemudian Grazel, Nim serta teman-temannya bergegas keluar dari goa. "Kalian harus melihat itu," ucap Grazel ketika tiba setelah berlari menyisir di samping goa sembari menunjuk sebuah pohon yang akarnya tertanam pada sebuah bagian batu yang menyatu dengan goa. "Pohon?" gumam Nim menatap ke arah pohon tersebut. "Sepertinya aku pernah melihat pohon ini," ucap Naken. "Itu pohon apa?" tanya Luiji. "Kalau tidak salah itu po...." "Pohon Lakhwa," pungkas Tion memotong ucapan dari Naken. "Pohon Lakhwa?" gumam Nim. "Ya, itu pohoh Lakhwa, dan air yang di dalam goa tadi berasal dari pohon ini," jawab Grazel. "Lalu, apa yang berbahaya?" tanya Nim. "Pohon Lakhwa sering disebut sebagai pohon pencuri wajah, jika kalian meminum air dari pohon itu, maka tubuh kalian akan mencair," jawab Grazel. "Menjadi air," ucap Nim kemudian terdiam sejenak, "Jadi, air yang di dalam goa tadi juga...." "Ya, juga berasal dari orang yang meminum air tersebut," pungkas Grazel. "Beruntung kita belum sempat meminumnya," ucap Juno lega. "Lihatlah kulit pohon itu," ucap Grazel menunjuk pohon Lakhwa. "Wajah?" ucap Nim mengerutkan keningnya ketika melihat banyak wajah yang terukir di kulit pohon. "Itu adalah wajah dari orang-orang yang sudah menimum air dari pohon Lakhwa," ucap Grazel memberitahu, "Sebaiknya kita harus segera menjauh dari tempat ini," sambungnya, "Karena di sekitar pohon Lakhwa juga terdapat banyak monster yang buas," sambungnya lagi memberitahu. "Ayo, kita lanjutkan perjalanan kita," ajak Nim kemudian bersama teman-temannya segera menjauh dari pohon Lakhwa. "Benar, sebaiknya kita segera menuju danau, dan kita bisa meminum air disana," ucap Grazel sembari berjalan menjauh dari goa yang berasal dari akar Pohon Lakhwa. Ketika mereka mulai pergi menjauh dari Pohon Lakhwa, tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari belakang. "Kita terlambat," ucap Grazel ketika mendengar suara tersebut. Nim menoleh ke belakang, "Apa itu?" ucapnya seketika melihat segerombol monster berwarna hitam berwujud seperti monyet dengan mata menyala serta taring dan kukunya yang panjang dan berwarna merah. "Kita harus melawannya?" tanya Luiji seketika juga menoleh ke belakang. "Jangan!" sahut Grazel, "Dengan waktu yang kita miliki saat ini, aku rasa kita tidak akan sempat jika melawan para monster itu," sambungnya. "Kalau begitu!" Nim, Luiji, Juno saling menatap. "Kemari, Michi," ucap Nim seketika menjongkokkan tubuhnya sembari mengisyaratkan adiknya untuk berhambin di belakangnya. Michi mengangguk kemudian segera berhambin dengan kakaknya. Seketika Nim dan teman-temannya berlari dengan sangat cepat meninggalkan segerombol monster yang berlari ke arah mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN