Di waktu yang sama ketika Nim, Luiji, Juno dan Oldeus sedang berada di dalam dimensi yang bernama Dimensi Alam Ghaib, Michi bersama ibunya yaitu Profesor Ana pun keluar dari hutan dan berniat menghampiri mobil milik Profesor Ana. Namun, Michi dan Profesor Ana melihat ada empat orang yang sebagian sedang menghalangi jalan setapak dan sebagian lagi menghadang mereka di tepi jalan.
"Apa mereka juga teman-temanmu, Michi?" tanya Profesor Ana.
"Bukan, Bu," jawab Michi, "Aku tidak pernah bertemu mereka," sambungnya memberitahu.
"Baguslah, hanya kalian yang kemari," ucap salah seorang dengan menampakkan senyum jahatnya yang juga menghadang Michi dan Profesor Ana.
Michi dan Profesor Ana mencoba melewati ke empat orang tersebut, namun dua orang dari mereka menghalangi.
Michi bersama Profesor Ana pun seketika menghentikan langkah mereka.
"Siapa kalian?!" tanya Michi.
"Kau tidak perlu tahu siapa kami," sahut salah seorang tersebut kemudian mengisyaratkan tangannya memerintah ketiga orang di belakangnya. Seketika tiga orang di belakangnya kemudian berjalan dan berdiri mengelilingi dimana Michi dan Profesor Ana berdiri.
"Kalian tidak perlu melawan." Terdengar suara dari belakang Michi.
Michi memalingkan kepalanya kebelakang kemudian kembali ke depan.
"Pergi kalian!" teriak Profesor Ana kemudian menarik tangan Michi lalu berusaha menjauh dari tempat itu.
Namun, keempat orang tersebut melangkah semakin mendekat dan menghalangi jalan.
"Ayo, ringkus mereka!" ucap salah seorang kemudian mengisyaratkan kedua tangannya kepada ketiga orang yang lain.
Tiba-tiba sebuah batu kecil melesat dan mengenai kepala salah satu dari empat orang yang mengepung Michi dan Profesor Ana. "Jangan ganggu mereka!" Tiba-tiba terdengar suara teriakan seorang laki-laki dari atas pohon.
"Siapa yang melemparku!?" teriak salah seorang sembari menahan rasa sakit dan memusut kepalanya karena telah dikenai batu.
Kemudian laki-laki dengan mengenakan pakaian berwarna biru melompat dari atas pohon.
"Kau lagi?" tanya Michi seketika mengenali laki-laki yang dahulu pernah ia temui sewaktu di depan candi di dalam hutan, yaitu Neru, namun Michi belum mengetahui namanya.
Neru tidak menghiraukan perkataan Michi kemudian dengan seketika menyerang ke empat orang yang mengepung Michi dan Profesor Ana.
"Kenapa kau menyerang kami!" teriak salah seorang sembari menghindari serangan dari Neru.
"Jangan ganggu mereka!" teriak Neru tetap menyerang.
"Akan ku laporkan kau!" teriak salah seorang seketika melompat menghindari serangan dari Neru kemudian mengisyaratkan kepada ketika orang lainnya untuk pergi dari tempat itu. Namun sebelum pergi, mereka pun seketika mendekat ke sebuah mobil biru yang terparkir di tepi jalan, kemudian salah seorang mengulurkan telapak tangannya ke arah mobil tersebut. Dengan seketika, mobil biru milik Profesor Ana pun meledak dan hancur berkeping-keping.
"Mobil ku!" teriak Profesor Ana ketika melihat mobilnya dihancurkan.
"Hahahaha...." Terdengar salah seorang yang telah menghancurkan mobil milik Profesor Ana tertawa, kemudian keempat orang itupun seketika menghilang dengan sekejap.
"Sial!" desis Neru geram kemudian seketika melangkahkan salah satu kakinya bermaksud mengejar.
"Tidak apa-apa," ucap Profesor Ana mengulurkan salah satu tangannya mengisyaratkan Neru agar tidak mengejar mereka, "Terima kasih kau sudah menolong kami," sambungnya menatap Neru.
"Terima kasih sekali lagi," ucap Michi seketika menghampiri Neru.
"Bukan apa-apa," sahut Neru tersenyum.
"Kemarin kau tidak sempat memberitahu namamu," ucap Michi.
"Oh iya, perkenalkan namaku Neru," ucap Neru sembari mengulurkan tangan kanannya.
Michi menyambut tangan Neru, "Aku Michi," ucapnya tersenyum, "Dan beliau Ibuku, Profesor Ana," sambungnya menoleh ke arah Profesor Ana.
"Bagaimana kita pulang?" tanya Profesor Ana khawatir.
"Sebaiknya kalian harus menunggu Nim dan yang lain," ucap Neru.
"Ya, aku rasa juga begitu," sahut Michi, "Ayo, Bu," sambungnya kemudian berbalik badan mengarah ke dalam hutan, lalu menolehkan kepalanya ke arah Neru, "Kau juga ikut, kan?" tanyanya.
"Sebaiknya aku tidak bertemu mereka dulu," sahut Neru terseyum.
"Memangnya kenapa?" tanya Michi.
"Oh iya, berjanjilah padaku agar merahasiakan pertemuan kita," ucap Neru tidak menghiraukan pertanyaan Michi. Kemudian Neru membalikkan badannya dan seketika melompat ke atas pohon lalu menghilang.
"Terima kasih," gumam Michi dalam hati.
"Apa dia juga salah satu teman Nim?" tanya Profesor Ana.
"Aku juga belum tahu, Bu," jawab Michi kemudian sejenak terdiam sembari menatap ke arah Profesor Ana, "Bu..." panggilnya.
"Ya?" sahut Profesor Ana.
"Bisakah ibu merahasiakan tentang Neru dari Kak Nim dan yang lainnya?" tanya Michi berharap.
Profesor Ana tersenyum sembari mengangguk ke arah Michi tanda mengiyakan.
"Terima kasih, Bu," ucap Michi tersenyum.
"Ayo, sebaiknya kita kembali ke kuil," ajak Profesor Ana menuntun tangan anak perempuannya tersebut. Kemudian Michi dan Profesor Ana pun terpaksa kembali melangkah menelusuri jalan setapak yang mengarah ke candi di tengah hutan.
***
Terlihat dari depan kuil, Michi bersama ibunya yaitu Profesor Ana yang sedang menunggu kedatangan Nim serta teman-temannya. Mereka berdua tampak kebingungan. Sembari menunggu, Michi dan Greatshfer yaitu gelang di tangannya bercengkrama.
"Greatshfer?" panggil Michi.
"Ya, Tuan Putri?" sahut Greatshfer bertanya.
"Mereka tadi siapa ya?" tanya Michi.
"Aku baru pertama kali bertemu mereka, tapi ada beberapa energi yang tidak asing bersemayam di dalam tubuh mereka," jawab Greatshfer.
"Greatshfer? Bagaimana kalau kau aku panggil Greati saja, hihi," ucap Michi tertawa kecil.
"Greati!?" sahut Greatshfer tidak terima.
"Ya, supaya aku tidak sulit menyebut namamu," ucap Michi tersenyum.
Profesor Ana tampak heran ketika melihat anaknya, yaitu Michi yang terlihat sedang berbicara sendirian, "Michi, kamu berbicara dengan siapa?" tanyanya.
"Eh, Ibu...." Michi tersenyum seketika menggaruk kepalanya, "Aku lupa kalau ibu tidak bisa mendengar suara Greati, hihi," ucapnya sembari menutupi mulutnya yang tertawa kecil.
"Greati?" gumam Profesor Ana mengerutkan kedua keningnya, "Siapa Greati?" tanyanya.
"Ini, Bu," sahut Michi kemudian mengulurkan tangan sebelah kanannya dimana terdapat sebuah gelang berwarna emas yang terpasang pada lengannya, "Di dalam gelang ini terdapat seekor naga yang merupakan wujud dari dewa, Bu," sambungnya menjelaskan.
"Dewa!?" Profesor Ana mengerutkan kedua keningnya.
"Iya, Bu," sahut Michi tersenyum, "Ibu mau melihatnya?" tanyanya kemudian menarik tangan Profesor Ana lalu menyentuhkannya pada gelang di lengannya, "Pejamkan kedua mata Ibu," sambungnya lagi.
Profesor Ana kemudian perlahan memejamkan kedua matanya. Seketika dalam pandangannya, ia melihat sebuah ruangan dengan dinding berwarna emas, di dalam ruangan tersebut ia melihat wujud sebenarnya dari makhluk yang bersemayam di dalam gelang yang dikenakan oleh anak perempuannya, yaitu Michi.
"Ibu...." ucap Greatshfer menundukkan kepalanya.
"Ka-kamu... Kamu Greati?" tanya Profesor Ana terkejut setelah melihat wujud sebenarnya dari Greatshfer, yaitu seekor naga berwarna emas.
"Iya, saya Greatsfe... maksud saya Greati...."
"Salam kenal, ya," ucap Profesor Ana tersenyum, "Aku percaya kalau kau mampu menjaga Michi," sambungnya.
"Terima kasih, kalau kau sudah mempercayakan Tuan Putri pada saya," sahut Greatshfer.
Profesor Ana tersenyum sembari mengangguk kemudian membuka kembali kedua matanya.
"Bagaimana, Bu?" tanya Michi setelah melihat Profesor Ana membuka kedua matanya.
"Ya, aku sudah melihatnya," sahut Profesor Ana tersenyum ke arah anak perempuannya.
"Greati, apa kau juga mengenal Neru?" tanya Michi.
"Ya Tuan Putri, saya mengenalnya," jawab Greatshfer.
"Siapa dia sebenarnya?" tanya Michi lagi.
"Dia...." Seketika saat Greatshfer hendak memberitahu siapa Neru sebenarnya, tiba-tiba segumpal asap hitam muncul tepat di depan kuil.
"Energi apa ini?" gumam Greatshfer merasakan sebuah kekuatan yang baru dikenalnya.
"Apa itu?" gumam Michi dalam hati ketika melihat segumpal asap hitam yang tiba-tiba muncul tepat di depan kuil tepat dimana Michi dan Profesor Ana berada.
Nim, Luiji, Juno dan Oldeus kemudian keluar dari gumpalan asap hitam tersebut.
"Kakak!" teriak Michi seketika berjalan menghampiri ke arah Nim, Luiji, Juno dan Oldeus yang setelah keluar dari gumpalan asap hitam.
"Michi, bukankah kalian sudah pulang?" tanya Nim setelah Michi tiba dan berdiri di depannya.
"Sewaktu Aku dan Ibu sudah tiba di tepi jalan, kami tiba-tiba diserang oleh beberapa orang, dan beruntung kami ditolong oleh seseorang laki-laki yang entah datang dari mana," jawab Michi, "Lalu kami pun segera berlari kembali kemari," sambungnya, "Sewaktu kami berlari masuk ke dalam hutan, aku melihat mobil Ibu dihancurkan oleh mereka, Kak," sambungnya lagi.
"Hah!" sentak Nim terkejut, "Siapa yang melakukannya?!" sambungnya bertanya.
"Aku tidak mengenal mereka, Kak," jawab Michi, "Mereka berjumlah empat orang, Kak," sambungnya menjelaskan.
"Apa mungkin mereka anggota Black Tail?" tanya Luiji.
"Aku rasa bukan, Kak," sahut Michi menjawab Luiji, "Karena yang aku tahu kalau anggota Black Tail pasti mengenakan pakaian hitam," sambungnya menjelaskan.
"Ya, aku juga tidak pernah melihat mereka," sahut Greatshfer, "Tapi aku merasakan suatu kekuatan aneh di dalam tubuh mereka semua," sambungnya.
"Benar kata Greati," ucap Michi menyebut nama panggilan pada Greatshfer.
"Greati?" gumam Shirashfer terdengar dari belakang tubuh Nim, "Sungguh nama panggilan yang menyeramkan, Hahahahaha," sambungnya mengejek.
"Diam Kau!" teriak Greatshfer kesal.
"Sudah-sudah, sesama dewa jangan bertengkar," ucap Nim melerai.
"Hahahahaha...." Shirashfer tetap tertawa tidak menghiraukan perkataan Nim.
"Lalu, laki-laki yang menolong kalian?" tanya Luiji.
"Ketika kami berlari kemari, dia tiba-tiba hilang, Kak," jawab Michi, "Dan aku tidak sempat menanyakan namanya," sambungnya menjelaskan.
"Kau tidak perlu berbohong pada kami, adikku," ucap Nim seketika menggosok rambut di kepala Michi.
"Aku tidak berbohong, Kak," sahut Michi membela diri.
"Apa kau lupa kalau aku, Luiji dan Juno bahkan Oldeus pun bisa membaca isi hatimu?" tanya Nim tersenyum.
Michi seketika terdiam sembari menundukkan kepalanya, "Aku...."
"Tidak apa-apa, Michi," ucap Nim tersenyum sembari memegang bahu adiknya, "Aku percaya kalau Neru juga merupakan orang yang baik," sambungnya tersenyum.
"Kakak kenal Neru?" tanya Michi seketika menatap Nim.
"Aku belum mengenalnya, tapi sewaktu kami berada di dunia Khamaya, kami pernah bertemu dan bertarung dengannya," jawab Nim tersenyum.
"Bertarung dengan Neru?" tanya Michi mengerutkan kedua keningnya menunjukkan keheranan di wajahnya, "Kenapa Kak Nim bertarung dengan Neru?" tanyanya lagi.
"Sudah, nanti saja menceritakan itu," sahut Profesor Ana menyela, "Bagaimana kita pulang?" tanyanya, "Ibu sudah sangat lelah," sambungnya lagi.
"Melihat kemampuan yang sudah kalian capai, aku rasa dampak kemampuan kalian berteleportasi juga berkurang," ucap Oldeus, "Kalian bisa menggunakan itu," sambungnya.
"Baiklah, Kek," sahut Nim tersenyum, "Kau mau ikut?" sambungnya bertanya.
"Tidak, aku lebih suka disini," sahut Oldeus.
"Kemari, Bu, Michi," panggil Nim mengulurkan tangannya.
Kemudian Profesor Ana dan Michi mendekat ke arah Nim.
"Kita mau apa?" tanya Profesor Ana menunjukkan keheranan di wajahnya.
"Kalian berdua pegang tanganku, ya," ucap Nim, "Jangan sampai terlepas," sambungnya.
Profesor Ana dan Michi mengangguk bersamaan.
"Rasanya aku juga harus pulang, tubuhku sudah terasa gatal karena tidak mandi," ucap Juno sembari mencubit baju yang dikenakannya lalu menciumnya.
Profesor Ana dan Michi seketika menutup hidung mereka dengan tangan.
"Huumh, benar," ucap Michi, "Aku juga belum mandi," sambungnya cengingisan.
"Baiklah, besok kita bertemu lagi disini," ucap Luiji tersenyum kemudian melambaikan tangannya, "Daah," ucapnya lagi kemudian menghilang dengan sekejap.
"Aku juga," ucap Juno kemudian menghilang dengan sekejap.
"Baiklah, ayo kita pulang," ucap Nim kemudian menutup kedua matanya lalu bersama Michi dan Profesor Ana menghilang dengan sekejap meninggalkan Oldeus sendirian di depan kuil.
Oldeus tersenyum kemudian berbalik badan perlahan melangkahkan kedua kakinya bersama dengan tongkatnya berjalan masuk ke dalam kuil sembari bergumam, "Semoga jalan yang mereka lalui tidak sulit...."