42. Siapa Dia?

1629 Kata
"Wah, ternyata di dalam sangat berbeda, tidak semenyeramkan seperti di luar ya, tapi malah sebaliknya," ucap Nim berdecak kagum ketika menyebarkan pandangannya ke segala arah di dalam rumah tempat tinggal Padetto. Di dalam rumah tempat tinggal Padetto terlihat seperti rumah mewah dengan dihiasi beberapa barang antik yang tersusun rapi di dalamnya. "Ternyata selain ceroboh, Nim juga mempunyai kebiasaan menilai orang dari sampulnya ya," bisik Juno kepada Luiji. "Heh, enak saja, bukan begitu maksudku," sahut Nim yang mendengar Juno berbisik kepada Luiji. "Iya tidak apa-apa, tapi memang benar kalau dilihat dari luar seperti rumah hantu," ucap Padetto sembari menggaruk kepalanya, "Kalian duduk saja disini, aku akan mengambilkan kalian makanan," sambungnya kemudian berjalan menuju ke sebuah ruangan di dalam rumahnya. "Kursinya sangat empuk," ucap Nim setelah duduk di atas sofa panjang berwarna merah bersama Luiji, Juno dan Oldeus. "Ini, silahkan dicicipi," ucap Padetto setelah kembali dan membawa sebuah piring yang di dalamnya terdapat beberapa potong kue yang berbentuk aneh. "Ini apa?" tanya Nim sembari mengambil sepotong kue. "Kue ini jika kalian memakannya, maka bau tubuh kalian tidak akan tercium oleh siluman di luar sana," jawab Padetto menjelaskan. "Benarkah?" tanya Nim kemudian memasukkan kue tersebut ke dalam mulutnya lalu mengunyahnya, "Wah, kue ini enak sekali," ucapnya lagi setelah menelan kue tersebut. Kemudian Luiji, Juno dan Oldeus pun mengambil satu per satu kue yang disuguhkan oleh Padetto dan memakan kue tersebut. "Baiklah, bisakah kalian ceritakan padaku tentang Beaster?" tanya Padetto seketika duduk di salah satu sofa tunggal. "Beaster adalah makhluk raksasa berwujud seperti hewan," jawab Nim. "Apakah Beaster sama seperti siluman di dimensi ini?" tanya Padetto. "Hhhmmm." Oldeus mengangguk, "Aku rasa mereka memiliki kesamaan, tapi dengan energi yang berbeda," jawab Oldeus. "Ya, mereka memiliki kesamaan pada naluri pemangsa," lanjut Nim, "Tapi mereka mempunyai energi yang berbeda," sambungnya lagi. "Hhmm," gumam Padetto mengangguk. "Sebenarnya di dunia kami yaitu di Bumi, kami sedang menghadapi masalah besar," ucap Nim. "Masalah besar?" Padetto terheran. "Apa itu?" tanyanya kemudian. "Beberapa waktu lalu, sebagian dunia kami dihancurkan oleh seseorang dengan wujud kepala bertanduk dan ia memegang sebuah terompet di tangannya," ucap Juno. "Dia bernama Alio, yaitu salah satu anak buah dari Rieghart," lanjut Oldeus. "Rieghart?," gumam Padetto mengerutkan kedua keningnya, "Aku belum pernah mendengar nama itu," ucapnya lagi, "Tapi kalau nama Alio, aku pernah mendengarnya," sambungnya. "Benarkah?" "Ya, aku mendengar nama itu dari seseorang yang juga pernah kemari, lama sebelum Oldeus dan kalian kemari," jawab Padetto. "Siapa orang itu?" tanya Nim. "Dia tidak pernah memberitahukan namanya padaku," jawab Padetto tersenyum. "Lalu, apa yang dilakukannya di dimensi ini?" tanya Juno. "Dia datang kemari untuk berburu," jawab Padetto. "Berburu apa?" tanya Luiji. "Dia sudah memburu beberapa siluman di dimensi ini," jawab Padetto. "Lalu, apa yang akan dia lakukan kepada siluman yang sudah ditangkapnya?" tanya Nim. "Aku tidak tahu apa yang akan dilakukannya kepada hasil buruannya itu, tapi karenanya keseimbangan dimensi ini menjadi terganggu," jawab Padetto, "Aku pernah sekali berusaha mencoba menghalanginya, tapi kekuatanku tidak cukup melawannya," sambung Padetto menjelaskan, "Ketika aku dalam keadaan kalah, dia mengatakan jangan menghalanginya, dan dia berpesan padaku jika Alio datang kemari aku harus mengerahkan seluruh siluman di dimensi ini untuk melawannya," sambungnya. "Apakah mungkin orang itu adalah salah satu anggota Black Tail?" gumam Nim bertanya. "Black Tail? Aku rasa bukan, karena dia juga pernah berpesan lagi kepadaku untuk tidak percaya dengan orang-orang yang mengatasnamakan Black Tail," sahut Padetto. "Lalu, kalau bukan Black Tail, siapa dia?" gumam Luiji berfikir. "Oh iya, tunggu sebentar," ucap Padetto kemudian beranjak berdiri lalu pergi menuju ke sebuah ruangan di dalam rumahnya, "Orang itu juga berpesan kepadaku, jika ada orang lain yang berniat melepaskan siluman yang sudah ditangkapnya kembali ke dimensi ini maka aku harus memberikan ini pada orang itu," ucapnya setelah kembali dari ruangan dan menunjukkan dua pecahan kristal berwarna putih di tangannya. "Itu pecahan Hashfer," ucap Juno tersentak. "Jadi pecahan kristal ini bernama Hashfer, ya?" tanya Padetto, "Ini," sambungnya sembari meletakkan dua pecahan Hashfer di tangannya ke atas meja. "Sebaiknya kau saja yang menyimpannya, Nim," ucap Luiji. "Ya benar, sebaiknya Nim saja yang menyimpan kedua pecahan Hashfer ini," lanjut Juno. "Kenapa harus aku?" tanya Nim heran. "Karena penampilanmu sangat tidak meyakinkan jika pecahan Hashfer berada di dalam tubuhmu," ucap Oldeus dengan santai. "Heeeeeh, tidak meyakinkan?" ucap Nim merasa bingung,"Baiklah kalau begitu," sambungnya kemudian seketika meraih kedua pecahan Hashfer dari atas meja lalu memasukkan pecahan tersebut ke dalam tubuhnya, meresap masuk melalui d*da di tubuhnya. "Baiklah, sebaiknya salah satu dari kita harus segera kembali ke bumi dan mengambil kristal hitam yang tertinggal disana," ajak Juno. "Kau benar, tapi bagaimana caranya untuk kembali ke bumi?" tanya Nim. "Oh iya, aku hampir lupa," ucap Padetto kemudian berjalan ke sebuah lemari dan mengambil beberapa kepingan emas, "Kalian bisa gunakan lagi ini," ucapnya lagi sembari menyerahkan beberapa kepingan emas kepada Nim. "Sekali lagi terima kasih, Padetto," ucap Nim tersenyum kemudian mengambil kepingan emas dari tangan Padetto. "Sebaiknya kalian harus cepat sebelum matahari terbenam," ucap Padetto, "Karena jika matahari di dunia kalian sudah terbenam, kalian tidak dapat menggunakan kepingan itu, kecuali jika kalian ingin menunggu besok pagi," sambungnya menjelaskan. "Baik, biarkan aku saja yang mengambilnya," ucap Nim kemudian beranjak berdiri lalu berjalan ke depan rumah, "Aku akan membuka portal di depan rumah," ucapnya lagi. "Jangan," ucap Padetto menghalangi. "Memangnya kenapa?" tanya Nim. "Jika kau membuka portal di luar sana, aku takut jika siluman lain juga akan mengikuti kalian melewati portal itu," jawab Padetto. "Lalu, dimana sebaiknya kita menggunakan ini?" tanya Juno. "Di halaman belakang rumah ini saja," jawab Padetto, "Karena halaman belakang rumahku sudah diberi pelindung agar siluman lain tidak dapat masuk dan mengikuti kalian," sambungnya. "Baiklah kalau begitu," sahut Nim. "Ayo ikuti aku," ajak Padetto kemudian berjalan lebih dahulu menuntun Nim dan teman-temannya menuju ke halaman belakang rumahnya. *Setelah mereka tiba di halaman belakang rumah Padetto, Nim pun berdecak kagum ketika melihat halaman milik Padetto yang terlihat seperti taman bunga yang sangat indah dengan ditutupi sebuah energi berwarna biru berbentuk kubah. "Wah! Aku mengira di dalam dimensi ini tidak ada tempat seperti ini," ucap Nim berdecak kagum. "Sudah, sebaiknya kau harus bergerak cepat sebelum matahari terbenam," ucap Luiji. "Baik," ucap Nim mengangguk kemudian melemparkan ke atas salah satu kepingan emas dari tangannya lalu kepingan tersebut terhempas di atas tanah, kemudian muncul segumpal asap hitam dari pecahan kepingan emas tersebut, "Sekali lagi terima kasih," ucap Nim kepada Padetto. "Ini sudah tugasku untuk menolong orang-orang yang terjebak di dalam dimensi ini," sahut Padetto tersenyum. "Baiklah, secepatnya aku akan kembali lagi kemari," ucap Nim kemudian melangkahkan kedua kakinya lebih dahulu masuk melalui segumpal asap hitam yang merupakan sebuah portal mengarah kembali ke Bumi meninggalkan Luiji, Juno dan Oldeus. Setelah melewati segumpal asap hitam, Nim pun akhirnya tiba tepat di depan kuil, dan segera berlari mengambil sebuah bola kristal berwarna hitam yang tertinggal di dalam kuil. Namun, Nim merasakan bahwa seseorang sedang memperhatikannya, "Tion, sepertinya ada yang memperhatikan kita," ucapnya berbicara kepada Tion. "Ya, aku juga merasakannya," sahut Tion, "Tapi, sebaiknya kita lebih dahulu harus kembali ke dimensi itu," sambungnya. "Baiklah," sahut Nim, kemudian berlari lagi menuju ke depan kuil. Lalu melemparkan lagi satu kepingan emas untuk membuka portal menuju ke Dimensi Alam Ghaib. "Ini dia," ucap Nim setelah beberapa menit keluar melalui segumpal asap hitam dan berdiri di depan teman-teman yang sudah menunggunya sembari menunjukkan sebuah bola kristal berwarna hitam di tangannya. "Ayo kita kembali ke pohon besar tadi," ajak Juno. "Tidak perlu," sahut Padetto menyela, "Kalian bisa melepaskannya disini," sambungnya. "Tapi, apakah tidak menimbulkan bahaya jika dilepaskan di dalam sini?" tanya Oldeus. "Semua siluman jika berada di dalam sini akan kehilangan kekuatan mereka," jawab Padetto yakin. "Baguslah," ucap Nim, "Tapi bagaimana kita bisa melepaskannya?" sambungnya bertanya. "Biar aku saja," ucap Oldeus, "Kalian masih perlu banyak belajar," sambungnya kemudian mengambil bola kristal berwarna hitam dari tangan Nim. "Apa yang akan kau lakukan, Guru?" tanya Juno. "Kalian lihat saja," sahut Oldeus kemudian menggenggam bola kristal tersebut dengan kedua tangannya, lalu memejamkan kedua matanya. Seketika bola kristal berwarna hitam di tangan Oldeus mengeluarkan energi berbentuk asap berwarna hitam yang perlahan mengarah ke atas kemudian asap tersebut menggumpal lalu membentuk wujud seekor elang hitam raksasa dengan dua tanduk berwarna emas di kepalanya. "Terima kasih," ucap elang hitam tersebut setelah mendarat di depan Oldeus. Padetto melangkahkan kedua kakinya berjalan mendekat ke arah dimana Oldeus berdiri, "Kau bisa pergi kembali pada kawananmu," ucapnya kemudian mengulurkan tangannya ke atas, lalu energi biru berbentuk kubah yang melindungi halaman belakang tersebut membuka sebuah lubang. Elang hitam raksasa tersebut mengangguk kemudian terbang menuju lubang tersebut, dan pergi menjauh. "Akhirnya kita berhasil mengembalikan elang itu," ucap Nim lega. "Sebenarnya dari mana kalian mendapatkan elang itu?" tanya Padetto. "Sewaktu kami bertemu dengan Neilto tepat di depan candi tempat tinggal Oldeus," jawab Juno. "Neilto?" tanya Padetto heran. "Ya, Neilto adalah pemimpin sekaligus pendiri dari komplotan bernama Black Tail," jawab Nim. "Ya, Neilto menghilang setelah memanggil dan menggunakan elang hitam itu untuk melawan kami," lanjut Luiji menjelaskan. "Apa sebenarnya hubungan Neilto dengan orang itu?" gumam Padetto. "Jika orang misterius itu memberi peringatan padamu, itu artinya dia orang baik," sahut Nim, "Tapi, bukankah dia juga memberi pesan kepadamu agar tidak mempercayai Black Tail," sambungnya. "Aku masih bingung," ucap Juno. "Tapi, siapapun orang itu, aku yakin suatu saat kita pasti akan bertemu dengannya," sahut Nim yakin, "Dan aku akan bertanya langsung kepada orang itu," sambungnya lagi. "Sebaiknya kita harus segera kembali ke bumi," ucap Oldeus, "Karena aku rasa di bumi sudah mulai sore," sambungnya mengingatkan. "Baiklah, ucap Nim kemudian melemparkan lagi ke atas kepingan emas terakhir di tangannya dan membuat portal berbentuk segumpal asap hitam. "Suatu saat, kami akan kembali lagi kemari dengan membawa kabar yang baik, dan kita pasti akan bertemu lagi," ucap Nim tersenyum ke arah Padetto. Padetto mengangguk, "Ya," sahutnya. "Dah...." Nim melambaikan tangannya ke arah Padetto sembari melangkah masuk bersama Luiji, Juno dan Oldeus melewati segumpal asap hitam. Akhirnya Nim, Luiji, Juno dan Oldeus pun kembali lagi ke bumi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN