41. Dimensi Alam Ghaib

1787 Kata
Kemudian Oldeus beranjak dari duduknya dan berjalan keluar dari kuil, "Ayo, ikuti aku," ajaknya. "Baik," sahut Nim dan teman-temannya serentak. Kemudian Nim, Luiji dan Juno pun melangkah menyusul Oldeus menuju ke depan kuil. "Tunggu, kalian mau kemana?" tanya Profesor Ana menyela. Sentak Nim menghentikan langkah kakinya, "Oh iya, Ibu pulang saja lebih dulu," sahut Nim menoleh ke arah Profesor Ana kemudian menoleh lagi ke arah Michi, "Michi, kamu sebaiknya ikut bersama ibu," sambungnya. Michi mengangguk, "Baik, Kak," ucapnya, "Lagipula aku takut gelap," sambungnya kemudian Michi berdiri, "Ayo, Bu," ajaknya. Kemudian Nim bersama adik dan ibunya pun melangkah menuju ke depan kuil menyusul Oldeus, Luiji dan Juno yang sudah tiba lebih dahulu disana. Sesampainya di depan kuil, Nim pun menghampiri Oldeus, Luiji dan Juno. Michi bersama Profesor Ana pun lewat di depan mereka. "Michi mau kemana?" tanya Oldeus ketika melihat Michi bersama dengan Profesor Ana berjalan melewati mereka. "Oh Kek, Michi menemani ibu pulang ke rumah," jawab Nim. "Hmmm," sahut Oldeus mengangguk. "Jaga ibu baik-baik ya, Michi," ucap Nim. "Ya, Kak," sahut Michi tersenyum, "Ayo Bu," ucapnya mengajak Profesor Ana, "Dah semua," ucap Michi berpamitan. Kemudian Michi bersama Profesor Ana pun melangkah menjauh dari kuil dan berjalan menelusuri jalan setapak menuju ke tepi jalan dimana mobil biru milik Profesor Ana sudah menunggu. "Baiklah." Oldeus melemparkan sebuah kepingan emas ke atas langit, kemudian kepingan emas itu terjatuh ke tanah, dan seketika kepingan emas tersebut pecah dan diantara pecahan-pecahan tersebut muncul sebuah asap hitam pekat yang kemudian perlahan membesar dan membentuk sebuah portal, "Ayo," ajaknya kemudian lebih dahulu melangkah masuk ke dalam gumpalan asap hitam tersebut. Nim, Luiji dan Juno pun perlahan melangkahkan kaki dan menyusul Oldeus memasuki gumapalan asap hitam tersebut. Setelah Nim, Oldeus, Luiji dan Juno berhasil melewati gumpalan asap hitam pekat tersebut, kemudian seketika mereka semua masuk ke dalam dimensi lain. "Tempat ini gelap sekali," ucap Nim menyebarkan pandangannya. "Biar aku bantu, Nim," ucap Tion terdengar dari gelang di tangan Nim. Kemudian gelang yang berada di tangan Nim seketika mengeluarkan sebuah cahaya dan menerangi seluruh tempat di sekitar Nim berdiri. "Rupanya Beaster juga bisa digunakan dalam kondisi seperti ini, ya," ucap Oldeus bangga. "Semua ini berkat anda," sahut Tion. "Ah, tidak juga," ucap Oldeus tersipu malu. "Kan, mulai lagi," dengus Nim jengkel. "Di mana sebaiknya kita melepaskan elang itu?" tanya Luiji sembari memperhatikan tempat sekitarnya. "Sebaiknya kita cari tempat dimana kawanan elang hitam itu," sahut Oldeus, "Aku tahu tempatnya, ikuti aku," sambungnya kemudian melangkahkan kaki berjalan ke depan. Nim, Luiji dan Juno pun mengiringi Oldeus dari belakang. "Awas," ucap Oldeus seketika menghentikan langkah kakinya ketika melihat satu monster raksasa yang sedang melintas, "Sebaiknya keberadaan kita jangan sampai terlihat oleh mereka," sambungnya memberitahu. "Memangnya kenapa?" tanya Nim penasaran. "Kalau keberadaan kita dilihat oleh mereka, mereka akan memburu dan memakan kita," jawab Oldeus. "Memakan..." sahut Nim merasakan takut. "Ayo, kita lanjutkan perjalanan kita," ajak Oldeus setelah melihat keadaan sekitar sudah aman. "Baik," sahut Nim kemudian bersama Luiji dan Juno mengiringi langkah Oldeus. Setelah beberapa lama berjalan, mereka pun akhirnya sampai di depan sebuah pohon yang sangat besar hingga ujung dari pohon itupun tidak terlihat. "Nah, ini tempatnya," ucap Oldeus ketika berhenti di samping batang pohon besar itu, "Mana kristal hitam yang kau temukan tadi?" sambungnya menoleh ke arah Nim. Kemudian Nim merogoh kantong celananya dan berniat mengambil kristal hitam itu, "Kristalnya tidak ada," ucapnya tersentak ketika tidak menemukan kristal itu di dalam kantongnya. "Coba cari lagi," ucap Juno. Kemudian Nim mencari ke dalam seluruh saku pakaiannya, namun kristal itu tetap tidak ditemukan. "Oh iya, aku ingat!" sentak Nim, "Kristal itu aku letakkan di dekat Kakek Oldeus ketika di dalam kuil," sambungnya. "Astaga, kenapa kristal itu kau tinggal disana," teriak Oldeus kesal. "Lalu, apa tujuan kita kemari?" teriak Juno. "Mengapa kita tidak kembali saja ke bumi lalu membawanya lagi ke dimensi ini," ucap Luiji memberi saran. "Tidak semudah itu," sahut Oldeus lesu. "Apa maksudmu 'Tidak semudah itu?" tanya Nim. "Kita harus meminta kepingan emas itu lagi kepada orang itu," jawab Oldeus, "Karena kepingan itu hanya bisa digunakan untuk satu kali," sambungnya menjelaskan. "Kalau begitu, kita temui dia," ucap Juno. "Nah itu maksudku tidak mudah," sahut Oldeus. "Memangnya kenapa?" tanya Luiji. "Aku lupa dimana rumahnya," sahut Oldeus. "Apa!" teriak Nim, Luiji dan Juno bersamaan. Seketika salah satu monster raksasa dengan badan bewujud ular dan berkepala manusia melintas dan mendengar teriakan tersebut kemudian perlahan mendekat ke arah Nim, Luiji, Juno dan Oldeus yang berdiri di samping batang pohon besar tersebut. "Ayo kita sembunyi," ucap Oldeus mengajak ketika mengetahui seekor siluman ular berjalan mendekat ke arah mereka. "Sembunyi dimana?" tanya Nim kebingungan. "Melompat," ajak Luiji seketika melompat ke atas pohon besar dan berdiri pada dahan pohon tersebut. Juno dan Oldeus pun seketika mengikuti Luiji yang melompat ke atas dahan pohon. "Haah!" Seketika Nim pun juga ikut melompat ke atas dahan pohon. "Ssssttt." Oldeus memperingatkan untuk tidak berisik. PREEKK. Sebuah dahan pohon yang dipijak Nim mengeluarkan suara. Kemudian seketika siluman ular itu pun menolehkan kepalanya ke atas. Dengan wajah mengerikannya, kemudian siluman ular tersebut segera melesat memanjat ke atas pohon dan mengarah ke mana Nim bersembunyi. "Sial, aku ketahuan," gumam Nim kesal kemudian melompat ke bawah. Siluman ular itu berbalik arah mengejar Nim. Dan Nim pun berlari menjauh dari pohon tersebut. "Aaaaaa!" teriak Nim sembari melarikan diri dari kejaran siluman ular yang tetap melesat cepat membuntutinya dari belakang. "Kemana dia berlari?" tanya Juno yang masih berdiri di atas dahan pohon. "Ayo, kita harus menyelamatkan Nim," ajak Luiji kemudian melompat turun dari atas pohon. "Baik," sahut Juno kemudian ikut turun dari dahan pohon. Oldeus pun menyusul melompat turun, "Sebaiknya kita cari dahulu orang itu, setelah itu kita cari Nim," ucap Oldeus. "Siapa nama orang itu?" tanya Juno. "Namanya adalah Padetto," jawab Oldeus. "Baiklah, ayo," ajak Luiji kemudian melangkahkan kedua kakinya berjalan menelusuri jalan gelap di dimensi itu. Oldeus dan Juno pun mengiringi melangkah di belakang Luiji. "Fyuri," panggil Juno. "Ya, Fyuri?" tanya Juno. "Kenapa kalian tidak mencoba kemampuan teleportasi?" tanya Fyuri. "Apa kita bisa menggunakannya di dimensi ini?" tanya Luiji. "Karena kita berada di dimensi ini, aku rasa masih bisa," sahut Naken menegaskan. "Apa yang anda ingat tentang rumah Padetto, guru?" tanya Juno. "Sebentar." Kemudian Oldeus mencoba mengingat sebuah tempat dimana rumah Padetto yaitu orang yang sudah menolongnya. "Aku ingat," ucapnya setelah merasa ingat. "Katakan padaku bagaimana tempat itu?" tanya Juno. Kemudian Oldeus pun memberitahukan gambaran suatu tempat dimana Padetto tinggal. Di saat yang bersamaan ketika Nim sudah jauh berlari dan siluman ular pun itu masih tetap mengejarnya, sampai Nim tiba pada suatu tembok besar dan kemudian ia pun berhenti. Nim menengadahkan kepalanya ke atas, kemudian melompat ke atas dengan maksud ingin melewati tembok besar tersebut. Namun setelah Nim melompat sangat tinggi, puncak dari tembok itu tetap tidak kelihatan. Tinggi sekali, gumamnya. Kemudian akhirnya Nim pun kembali turun. "Aaaaa!" teriaknya ketika melihat ke bawah, dan dilihatnya seekor siluman ular yang sejak tadi mengejarnya tetap menghadangnya di bawah. "Sepertinya aku akan menjadi santapannya," ucapnya pasrah. "Apa kau menyerah Nim?' tanya Tion. "Oh iya, aku lupa kalau masih ada kau, Tion," ucap Nim kemudian seketika berdiri dengan penuh keyakinan berhadapan dengan siluman ular tersebut. "Ayo, aku tidak akan lari lagi," ucap Nim kemudian mempersiapkan kuda-kudanya untuk menyerang. Nim berlari ke arah siluman ular raksasa tersebut, dan melancarkan sebuah pukulan. Namun, dengan sangat mudah siluman ular tersebut menangkis pukulan dari Nim menggunakan ekornya. Kemudian siluman ular tersebut mencoba melilit tubuh Nim. Nim melompat ke belakang menghindari lilitan siluman ular itu, namun Nim kalah cepat dengannya. "Kenapa kau menyerangku?" tanya siluman ular tersebut sembari melilit tubuh Nim agar tidak melarikan diri. "Kau yang kenapa mengejarku?" tanya Nim sembari berusaha melepaskan diri. "Ooh itu, sebenarnya aku ingin mengembalikan ini," jawab siluman ular tersebut kemudian menunjukkan sebuah bola kecil kristal berwarna hitam di tangannya, "Ini punyamu, kan?" tanyanya. "I-iya, itu punyaku," jawab Nim, "Di mana kau mendapatkan itu?" sambungnya bertanya. Kemudian siluman ular itu perlahan melepaskan tubuh Nim, "Aku melihat kalian berjalan dan benda ini tercecer dari tubuh mu," jawabnya, "Lalu, aku ambil ini dan bermaksud mengembalikannya pada kalian,' sambungnya, "Ini ambillah," sambungnya lagi sembari menyerahkan sebuah bola kecil kristal berwarna hitam kepada Nim. "Terima kasih, ya," ucap Nim sembari meraih bola kristal tersebut. "Memangnya kau berasal dari mana?" tanya siluman tersebut. "Aku berasal dari dimensi yang berbeda dengan dimensi kalian," jawab Nim. "Lalu, bagaimana kalian bisa masuk ke Dimensi Alam Ghaib ini?" "Dimensi Alam Ghaib?" gumam Nim mengerutkan kedua keningnya. Tiba-tiba, sebuah tentakel melesat cepat ke arah Nim dan mengenai tangannya sehingga menjatuhkan bola kristal di tangannya. "Aah!" sentak Nim terkejut kemudian menoleh ke arah dimana tentakel tersebut berasal. "Jangan ambil itu!" teriak Luiji yang sembari berlari bersama dengan Juno dan Oldeus serta seorang laki-laki ke arah dimana Nim berdiri. "Kalian?" gumam Nim, "Kenapa?" tanyanya ketika Luiji, Juno dan Oldeus serta seorang laki-laki tiba di depannya. "Itu adalah jebakan!" sahut Juno, "Lihat," ucapnya sembari menunjuk ke arah dimana bola kristal tersebut terlempar. Dari kejauhan tampak perlahan bola kristal tersebut berubah menjadi beberapa ular hitam. "Untung saja," ucap Nim lega. "Pergi kau dari sini!" teriak seorang laki-laki yang sejak tadi tiba bersama dengan Luiji, Juno dan Oldeus. "Kau melepaskan mangsaku!" teriak siluman ular tersebut, "Aaaaaa!" teriaknya lagi kemudian perlahan pergi menjauh meninggalkan Nim, Luiji, Juno dan Oldeus serta seorang laki-laki yang bersama mereka. "Wah, terima kasih kalian semua sudah menyelamatkanku," ucap Nim. "Beruntung masih sempat, kalau tidak kau akan jadi makanan siluman itu," ucap Juno. "Oh iya, bagaimana kalian tahu kalau aku disini?" tanya Nim. "Padetto lah yang menuntun kami," jawab Oldeus. "Terima kasih, Padetto," ucap Nim menundukkan setengah badannya ke arah Padetto. "Ah tidak usah begitu," sahut Padetto merendah, "Teman-teman mu lah yang memberitahuku kalau kau dalam bahaya," sambungnya. "Ya, dari dalam cermin yang ada di rumah Padetto, aku melihat kau berlari ke arah sini sewaktu dikejar siluman tadi," lanjut Luiji menjelaskan. "Sebaiknya kita ke rumahku dahulu, karena disini tempatnya tidak aman," ucap Padetto. "Baiklah," sahut Nim. Kemudian mereka pun pergi menuju ke rumah Padetto. "Lalu, bagaimana kalian bisa menemukan rumah Padetto?" tanya Nim sembari berjalan. "Ternyata di dalam dimensi ini kita masih bisa menggunakan kemampuan teleportasi," jawab Juno. "Benarkah?" tanya Nim terkejut. "Ya, karena sebenarnya tempat ini masih sama dengan Bumi," ucap Juno. "Kita sudah sampai," pungkas Padetto ketika tiba tepat di depan rumahnya yang terkesan angker dan mengerikan. "I-i-ini rumahmu?" tanya Nim merasa takut. "Kau tenang saja, di dalam sana tidak ada hantu," jawab Padetto menenangkan. "Apa itu hantu, Nim?" tanya Tion. "Hantu itu sama seperti siluman, tapi wujudnya masih seperti manusia, namun menyeramkan," jawab Nim. "Kau bicara dengan siapa?" tanya Padetto heran. "Oh iya, kau belum diberitahu mereka tentang Beaster?" tanya Nim. Padetto menggeleng, "Sebaiknya kita masuk ke dalam, dan kalian bisa bercerita padaku," ajaknya kemudian lebih dahulu melangkah memasuki rumahnya. Nim mengangguk kemudian berjalan bersama dengan Luiji, Juno dan Oldeus menyusul Padetto masuk ke dalam rumahnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN