"Sebaiknya aku juga harus pergi, untuk mempersiapkan semuanya sebelum kita pergi menemui Presiden di negara tetangga," ucap Pak Presiden kemudian beranjak dari duduknya.
"Baik, Pak," sahut Nim mengangguk.
Pak Presiden dan Jenderal Albert kemudian keluar dari laboraturium.
"Ayo, kita juga pulang," ajak Profesor Ana, "Teman-teman Nim juga nanti Ibu antar, ya," sambungnya tersenyum.
Kemudian Nim bersama teman-temannya pun keluar dari laboraturium, dan berjalan menuju sebuah mobil berwarna biru yang terletak di parkiran tepat di depan kantor.
"Ibu masih tidak mengerti, bagaimana kalian bisa sampai kemari," ucap Profesor Ana sembari membuka pintu mobil.
"Ceritanya panjang, Bu," sahut Michi.
"Kalau begitu ketika sampai di rumah, kalian bisa cerita pada ibu," ucap Profesor Ana.
Kemudian mobil biru tersebut perlahan berjalan dan menjauh dari kantor tersebut.
"Rumah kalian dimana?" ucap Profesor Ana bertanya pada Luiji dan Juno.
Juno pun menjawab, "Eeemmm, rumah saya...."
"Ibu, nanti saja pulangnya!" pungkas Michi memotong perkataan Juno.
"Memangnya kenapa?" tanya Profesor Ana.
"Aku baru teringat kalau beberapa orang-orang di kuil masih belum dievakuasi, Bu," jawab Michi.
"Benar, Bu," sahut Nim.
"Kenapa kalian tidak mengatakannya sejak tadi," ucap Profesor Ana seketika menghentikan laju mobilnya kemudian berbalik arah dan bergegas kembali menuju kantor.
"Kita mau kemana, Bu?" tanya Nim heran.
"Ibu akan meminta bantuan di kantor," sahut Profesor Ana, dan tidak lama kemudian memarkirkan mobil birunya di depan kantor, "Kalian tunggu disini," ucap Profesor Ana bergegas keluar dari mobilnya dan masuk ke dalam kantor.
Tidak lama kemudian, Profesor Ana pun kembali keluar dari kantor tersebut bersama dengan beberapa polisi yang akan mengevakuasi korban yang mengamankan diri di kuil.
"Kalian tahu tempatnya, kan?" tanya Profesor Ana setelah kembali masuk ke dalam mobil.
"Ya, Bu," sahut Nim.
Kemudian Profesor Ana pun lebih dahulu menjalankan mobilnya menggiring beberapa mobil polisi dan mobil ambulan di belakang.
Setengah jam kemudian.
"Di sana, Bu," ucap Michi menunjuk sebuah jalan setapak yang tepat mengarah ke tengah hutan menuju candi.
Kemudian mobil biru itupun seketika berhenti tepat di samping jalan.
"Ayo!" ajak Profesor Ana keluar dari mobil.
"Ke sini," ajak Nim memimpin.
Kemudian Nim dan teman-temannya bersama Profesor Ana serta beberapa polisi dan perawat pun menelusuri jalan setapak yang mengarah tepat ke tengah hutan dimana beberapa orang sedang mengungsi.
"Kenapa kalian tidak meminta bantuan kepada Komandan Fredi?" tanya Profesor Ana ketika berjalan menelusuri jalan setapak.
Seketika Nim, Michi dan teman-temannya pun sentak terdiam seribu bahasa.
"Kenapa aku tidak terpikir," sesal Nim merasa lalai.
"Ingat, keselamatan jiwa seseorang lebih berharga dari apapun," ucap Profesor Ana mengingatkan.
"Mereka disana, Bu," ucap Michi menunjuk sebuah candi yang terlihat dari ujung jalan setapak.
"Ayo!" teriak salah seorang polisi mengajak, kemudian seluruh polisi bersama beberapa perawat berlari menuju ke candi tersebut.
Nim dan teman-temannya bersama Profesor Ana pun ikut berlari menyusul menuju ke dalam candi.
Dari tengah candi tepatnya di depan sebua kuil dimana Oldeus dan beberapa orang yang mengungsi berada.
"Siapa mereka?" gumam Oldeus dalam hati ketika melihat beberapa orang yang berlari menuju ke arah kuil dimana ia berada.
"Di mana orang yang akan dievakuasi, Kek?" tanya salah seorang perawat yang menghampiri Oldeus.
"Hah." Oldeus tampak bingung.
"Guru!" teriak Juno yang seketika berlari mendekat ke arah Oldeus.
"Juno?" gumam Oldeus masih tampak heran.
"Mereka para petugas penyelamat yang akan mengevakuasi para korban disini, Guru," ucap Juno ketika tiba tepat di depan Oldeus, "Dimana orang-orang itu?" tanyanya.
"Ooh, mereka sedang di atas sana," jawab Oldeus menunjuk tangga batu yang mengarah ke bukit.
"Baiklah, kami akan ke sana," ucap salah seorang perawat kemudian bersama beberapa polisi dan perawat yang lain pun bergegas naik ke atas menuju bukit melewati ratusan anak tangga yang terbuat dari batu tersebut.
*Dari atas bukit.
"Wah, polisi datang!" seru seseorang yang ketika berada di atas bukit dan melihat beberapa polisi dan perawat tiba di bukit tersebut.
"Apakah ada lagi selain kalian?" tanya salah seorang polisi.
"Tidak, Pak," sahut seseorang, "Semuanya sudah disini," sambungnya.
"Baik, kami akan segera membawa kalian dan merawat kalian semua," ucap salah seorang perawat.
Kemudian beberapa polisi dan perawat pun turun bersama beberapa orang pengungsi ke bawah.
*Dari depan kuil.
"Aku mengira kalian semua tidak akan kembali kemari," ucap Oldeus.
"Bagaimana mungkin kami lupa, Kek," sahut Nim mengejek.
Pluk!
Seketika tongkat Oldeus melesat ke arah kepala Nim.
"Aduh!" jerit Nim tersentak.
"Dia siapa?" tanya Oldeus menoleh ke arah Profesor Ana.
"Oh, ini ibu saya," jawab Michi menyahut.
Oldeus mengerutkan keningnya, "Ibu?" gumamnya seketika terdiam menatap wajah Profesor Ana, "Dia mirip sekali," ucapnya dalam hati.
"Memangnya kenapa, Kek?" tanya Nim heran.
"Oh, tidak-tidak," sahut Oldeus.
"Aku hampir saja lupa lagi," ucap Michi sentak teringat, "Sewaktu Kak Nim melawan Mora, Kakek lah yang memberitahukan padaku, Kak," ucapnya memberitahu kepada Nim.
"Bagaimana kau mengetahuinya, Kek?" tanya Nim.
Tiba-tiba beberapa orang turun dari atas bukit dan salah seorang polisi berjalan mendekat ke arah Profesor Ana.
"Profesor, kami sudah mengevakuasi semuanya," ucap salah seorang polisi ketika tiba di depan Profesor Ana.
"Baik," sahut Profesor Ana mengangguk, "Terima kasih, sisanya saya serahkan pada kalian," sambungnya.
"Baik Prof," sahut polisi tersebut mengangguk kemudian bersama dengan beberapa polisi lainnya dan beberapa perawat pun pergi dari kuil dengan membawa beberapa orang yang sudah mereka evakuasi.
"Nah, ayo masuk," ajak Oldeus melangkah masuk ke dalam kuil.
Kemudian Nim, Michi, Luiji, Juno dan Profesor Ana pun mengikuti Oldeus masuk ke dalam kuil.
"Dia siapa?" bisik Profesor Ana pada Michi.
"Dia itu guru pelatihnya Kak Nim, Kak Luiji dan Kak Juno, Bu," jawab Michi.
"Guru pelatih?" gumam Profesor Ana merasa bingung.
"Masih ingat dengan serangan rudal kemarin?" tanya Oldeus setelah tiba di dalam kuil dan mendudukkan tubuhnya bersila.
"Naah!" sentak Nim, "Kenapa waktu itu kau tiba-tiba menghilang!" ucapnya kesal.
"Sewaktu kalian menahan rudal-rudal itu, tiba-tiba sebuah energi hitam melesat sangat cepat ke arah ku, dan aku pun tidak sempat menghindarinya," jelas Oldeus.
"Energi hitam?" Luiji mengerutkan kedua keningnya.
"Apa itu serangan dari salah satu anak buah Rieghart?" tanya Nim.
"Bukan, aku baru pertama kali merasakan kekuatan itu," jawab Oldeus, "Setelah energi hitam itu mengenai tubuhku, seketika aku terpental dan pingsan," sambungnya, "Dan saat aku membuka mata, aku berada di sebuah dunia yang belum pernah aku temui," sambungnya lagi menjelaskan.
"Dunia lain?" Juno pun mengerutkan kedua keningnya.
"Bagaimana dunia itu, Kek?" tanya Nim penasaran.
"Dunia disana sedikit gelap, dan matahari pun tidak ada disana," jawab Oldeus, "Di dunia itu aku melihat beberap monster dengan tubuh manusia dan kepalanya seperti hewan, begitupun sebaliknya," sambungnya memberitahu.
"Kepala hewan, tubuh manusia?" gumam Profesor Ana yang ternyata juga ikut mendengarkan cerita dari Oldeus.
"Apa ibu pernah bertemu dengan monster seperti itu?" tanya Nim.
"Ibu sih tidak pernah bertemu, tapi lihat ini sebentar," ucapnya kemudian mengeluarkan ponsel pintarnya dan menunjukkan sebuah gambar pada ponsel pintarnya kepada Oldeus, "Apa monster itu seperti ini?" tanyanya.
"Benar, seperti itu," jawab Oldeus.
"Monster ini biasa disebut Siluman," ucap Profesor Ana.
"Siluman?" gumam Nim dalam hati kemudian seketika teringat dengan sebuah kristal hitam yang disimpannya, "Kakek harus melihat ini," ucapnya sembari menunjukkan sebuah bola kristal berwarna hitam kepada Oldeus.
"Benda apa ini?" tanya Oldeus menatap ke arah bola kristal berwarna hitam yang ukurannya kecil tersebut, "Kalian dapat dari mana?' tanyanya.
"Benda ini kami dapat setelah mengalahkan elang hitam raksasa yang dikendalikan oleh Neilto," jawab Nim.
Kemudian Oldeus meraih kristal hitam di tangan Nim, lalu memejamkan kedua matanya, "Benar, makhluk ini juga aku lihat disana," ucapnya setelah membuka kedua matanya.
"Jadi, elang ini juga berasal dari sana?" tanya Juno.
"Aku rasa begitu," sahut Oldeus.
"Lalu, bagaimana caranya Kakek bisa kembali kemari?" tanya Michi.
"Aku ditolong seseorang dari dimensi itu, dan dia mengajakku ke rumahnya," jawab Oldeus, "Nah, di dalam rumahnya aku melihat sebuah cermin besar, dan dari cermin itu aku melihat kalian sedang bertarung dengan seekor naga," sambungnya, "Aku pun bertanya padanya bagaimana keluar dari dunia itu, kemudian dia memberi aku ini," sambungnya lagi kemudian menunjukkan sebuah lempengan berbentuk lingkaran berwarna emas.
"Apa ini?" tanya Nim.
"Benda ini bisa membuka portal menuju dimensi dimana asal elang raksasa ini," jawab Oldeus, "Benda ini juga yang membantuku kembali kemari," sambungnya.
"Membuka portal ke dunia siluman?" tanya Michi sentak merasa takut, "Aku tidak ingin ikut," sambungnya.
"Kenapa kamu tidak ikut?" tanya Nim.
"Di sana gelap, aku tidak mau, Kak," jawab Michi.
"Sebaiknya kalian kembalikan elang hitam itu ke dimensi asalnya, karena dia tidak bersalah," ucap Oldeus.
"Aku tidak ikut!" ucap Michi.
"Iya-iya, kami tidak mengajakmu," ucap Luiji.
"Bagaimana sekarang saja kita kembalikan elang hitam ini ke dimensi asalnya," ucap Nim sembari menatap ke arah bola kristal hitam di tangan Oldeus.