"Pak Presiden, apa ada yang ketinggalan, Pak?" tanya Jenderal Albert ketika melihat Pak Presiden kembali masuk ke ruangannya.
Komandan Fredi pun masuk bersama dengan Nim, Luiji, Juno dan Michi di belakangnya.
"Pak Fredi?" ucap Jenderal Albert heran kemudian menoleh ke arah belakang Komandan Fredi, "Mereka siapa?" tanyanya kemudian.
"Maaf, Jenderal," ucap Komandan Fredi sembari memberi hormat, "Saya harus memberitahukan sesuatu pada anda dan juga kepada Pak Presiden," sambungnya.
"Sebentar," sahut Jenderal Albert menyela seketika beranjak berdiri kemudian berjalan ke arah pintu dan menutup pintu tersebut, lalu berjalan ke arah sebuah kursi di balik mejanya kemudian mengangkat dan membawanya ke arah Pak Presiden, "Maaf Pak, silahkan duduk." Pak Presiden pun kemudian duduk pada kursi yang diberikan oleh Jenderal Albert, lalu berjalan lagi mendekat ke arah Komandan Fredi, "Apa yang ingin anda beritahukan kepada saya dan Pak Presiden?" tanyanya.
"Semua ini tentang insiden asal dari suara terompet tempo hari yang membuat sebuah kota hancur," jawab Komandan Fredi.
"Hhmm...." Pak Presiden terlihat begitu serius menatap Komandan Fredi.
"Kenyataannya, semua yang sudah terjadi bukanlah merupakan serangan dari negara tetangga," sambung Komandan Fredi.
"Lalu apa?" sahut Pak Presiden bertanya.
"Mungkin setelah Pak Presiden dan Jenderal Albert akan menertawakan saya, karena cerita yang akan saya beritahukan ini terdengar tidak masuk akal," jelas Komandan Fredi.
"Aku akan mendengarkan," sahut Pak Presiden menatap tajam ke arah Komandan Fredi.
"Suara terompet tempo hari yang menyebabkan sebuah kota hancur adalah ulah dari salah satu anak buah Rieghart, dia adalah makhluk yang berasal dari dunia yang berbeda dengan kita," lanjut Komandan Fredi menjelaskan.
"Rieghart? Dunia lain?" Jenderal Albert mengerutkan keningnya kemudian tertawa.
"Jenderal!" bentak Pak Presiden menegur Jenderal Albert, "Aku masih ingin mendengarnya!" sambungnya kemudian menoleh ke arah Komandan Fredi, "Baik Komandan, lanjutkan," sambungnya lagi mempersilahkan
Sentak Jenderal Albert terdiam.
"Rieghart dan anak buahnya mengincar kristal putih yang berada di Bumi, yang kemarin beberapa orang menemukannya dan menyerahkannya kepada pemerintah," ucap Komandan Fredi.
"Kristal putih?" Pak Presiden mengerutkan keningnya, "Lalu, apa yang akan mereka lakukan setelah mendapatkan kristal putih itu?" tanyanya.
"Untuk mewujudkan rencananya," sahut Nim menyela.
"Rencana?" tanya Pak Presiden.
"Rencana Rieghart adalah menyatukan seluruh dunia, atau lebih tepatnya seluruh alam semesta," sahut Nim menjawab.
Kemudian Nim dan teman-temannya bersama Komandan Fredi pun menjelaskannya kepada Pak Presiden dan Jenderal Albert.
Setelah selesai menjelaskan, Komandan Fredi pun mendekat ke arah dimana Pak Presiden duduk, "Karena itulah, saya harap agar perselisih-fahaman ini akan segera menemukan titik terang dan tidak akan menjadi bibit peperangan, Pak," ucapnya.
Pak Presiden terlihat tenang setelah mendengar penjelasan dari Komadan Fredi dan Nim serta teman-temannya, "Baiklah, sekarang aku sudah mendengar semua yang kalian ceritakan," ucap Pak Presiden kemudian berdiri, "Ikuti aku," ajaknya kemudian berjalan keluar dari ruangan Jenderal Albert.
"Ayo," ucap Jenderal Albert yang juga mengiringi langkah Pak Presiden.
Kemudian Nim dan teman-temannya bersama Komandan Fredi pun mengikuti Pak Presiden dan Jenderal Albert.
"Ssss, hei Juno, Luiji, kita mau kemana?" bisik Nim.
"Sudah, ikuti saja," sahut Juno balas berbisik.
Dari kejauhan terlihat sebuah ruangan yang dari luar pintunya terdapat beberapa petugas yang terlihat sedang menjaga ruangan tersebut. Pak Presiden kemudian menempelkan telapak tangannya pada sebuah alat pembaca sidik jari yang menempel di dinding tepat di samping pintu. Seketika pintu tersebut menggeser. Kemudian Pak Presiden pun masuk ke dalam ruangan tersebut bersama yang lainnya di belakangnya.
"Wah, ini laboraturium," gumam Juno berdecak kagum ketika memasuki dan melihat di dalam ruangan yang terlihat seperti sebuah laboraturium.
"Selamat datang," sambut seseorang laki-laki yang terdengar suaranya dari belakang, "Ada apa, Pak Presiden?" tanyanya setelah melangkah mendekat ke arah Pak Presiden.
Pak Presiden menoleh ke arah laki-laki tersebut, "Profesor Law, tolong tunjukkan kristal itu," ucap Pak Presiden memerintah.
Profesor Law mengangguk, "Baik, Pak," sahutnya kemudian melangkah mendekat ke arah sebuah monitor hologram yang melayang di atas meja, lalu mengutak-atik monitor hologram tersebut dan beberapa saat kemudian dari atas lantai di dalam laboraturium seketika muncul sebuah lubang berbentuk persegi, dari lubang tersebut perlahan naik sebuah kubus besar yang di dalamnya berisi dua belas kristal putih yang tidak lain adalah pecahan Hashfer.
"Apakah ini kristal yang kalian maksud?" tanya Pak Presiden.
"Benar, tidak salah lagi, ini adalah pecahan Hashfer," sahut Juno kemudian mendekat ke arah kubus tersebut.
"Maaf Prof, selain di tempat ini, lalu dimana lagi kalian menyimpan kristal seperti ini?" tanya Luiji.
"Aku rasa di kota sebelah juga ada lima yang seperti ini," jawab Profesor Law, "Tapi satu hari sebelum kalian kemari, aku mendengar kabar bahwa sebuah gedung yang menyimpan kristal itu telah diserang oleh seseorang laki-laki tak dikenal, orang itu kuat sekali, bahkan ketika ditembak pun dia tidak mempan, dan dia pergi membawa seluruh kristal putih dari gedung itu," sambungnya menjelaskan.
"Di serang?" gumam Nim, "Apakah orang itu memiliki warna mata yang berbeda?" tanyanya seketika.
"Aku tidak melihatnya secara langsung, tapi kau benar, laki-laki itu memiliki warna mata yang berbeda," jawab Profesor Law.
Seorang wanita kemudian tiba dan berdiri di depan laboraturium dimana Nim dan teman-temannya berada.
"Wah ramai sekali, ada Pak Presiden juga," ucap wanita tersebut kemudian melangkah masuk.
Nim dan teman-temannya bersama Pak Presiden, Jenderal Albert dan Komandan Fredi pun menoleh ke asal suara wanita tersebut.
"Ibu!" teriak Nim dan Michi sentak terkejut ketika melihat wanita tersebut.
"Nim, Michi!" sentak Wanita itu yang juga terkejut, "Sedang apa kalian berdua disini?" tanyanya kemudian.
Seketika Michi berlari ke arah wanita tersebut kemudian memeluknya, "Aku rindu sekali dengan ibu," ucapnya lirih.
"Ibu juga sangat merindukanmu, Michi," sahut wanita tersebut membalas pelukan sembari mengusap rambut Michi, "Nim juga," sambungnya menatap ke arah Nim.
"Ibu sedang apa disini?" sahut Nim bertanya balik, "Bukankah Ibu sedang berada di luar negeri?" sambungnya.
"Oh... Ibu mendapat panggilan dari Pak Presiden untuk membantu disini," jawab wanita tersebut yang ternyata Ibu dari Nim dan Michi.
"Benar, akulah yang memanggil Profesor Ana kemari," sahut Pak Presiden.
"Profesor?" sentak Nim dan Michi terkejut.
"Jadi, ibu adalah seorang Profesor?" tanya Michi, "Kenapa ibu tidak pernah memberitahukannya pada kami?" sambungnya.
"Sebenarnya sewaktu ibu pulang kemari, ibu sudah berniat memberitahukannya pada kalian," jawab Profesor Ana, "Tapi setelah ibu tiba di rumah, ibu tidak menemukan kalian berdua," sambungnya menjelaskan.
"Lalu, ayah dimana, Bu?" tanya Nim.
Profesor Ana sentak terdiam dan menundukkan wajahnya.
"Ibu, ayah dimana?" tanya Michi lirih.
"Ayah kalian...." Profesor Ana seketika menitikkan air matanya.
"Ayah kenapa, Bu?" tanya Michi lagi kemudian melepaskan pelukannya pada Profesor Ana.
"Ayah kalian kecelakaan sewaktu bertugas di luar negeri," jawab Profesor Ana.
"Ayah...." Michi seketika menangis seketika kembali memeluk Profesor Ana.
Nim sentak terdiam. "Ayah..." gumamnya dalam hati.
Profesor Ana perlahan melepaskan pelukannya kemudian berjalan mendekat ke arah kubus yang di dalamnya terdapat dua belas pecahan Hashfer. "Sewaktu Ibu melakukan penelitian pada kristal putih sama seperti ini yang berada di luar negeri bersama ayah kalian," ucapnya menatap kristal putih di dalam kubus, "Tiba-tiba dari kristal putih itu muncul sebuah portal hitam, dan ayah kalian pun terhisap ke dalamnya, lalu portal itu pun menghilang kembali bersama ayah kalian," jelasnya.
"Ayah...." Michi seketika menangis semakin menjadi.
Seketika Profesor Ana mendekat dan memeluk Michi, "Kamu jangan menangis, masih ada ibu," ucapnya sembari memusut rambut anak perempuannya tersebut.
Nim tampak terdian sembari mengepalkan erat kedua tangannya.
"Nim," ucap Luiji seketika menepuk bahu Nim.
"Ayahku masih hidup, kan?" tanya Nim dengan wajah yakin.
Luiji mengangguk, "Apakah aku pernah meragukan keyakinanmu, Nim?" tanya Luiji tersenyum dengan maksud memberi semangat.
"Ya, aku juga tidak pernah meragukanmu, Nim," ucap Juno tersenyum mengacungkan ibu jarinya ke arah Nim.
Nim melangkah mendekat ke arah Profesor Ana, "Aku berjanji Bu, akan membawa ayah pulang hidup-hidup," ucapnya dengan semangat.
Sembari memeluk Michi, Profesor Ana tersenyum ke arah Nim dan mengulurkan tangan kanannya, "Kemari...."
"Ah ibu, aku kan sudah besar," sahut Nim tersenyum menolak.
"Ya sudah, ibu sayang Michi saja," sahut Profesor Ana kemudian memeluk erat tubuh Michi.
"Karena kejadian itulah aku menyuruh Profesor Ana kembali kemari," ucap Pak Presiden, "Lalu, apa yang harus dilakukan pada kristal-kristal ini?" tanyanya kemudian.
"Mereka bisa dipercaya, Pak," ucap Komandan Fredi sembari.
"Baiklah," ucap Pak Presiden mengangguk kemudian menatap ke arah Profesor Law, "Prof, buka penutupnya," perintahnya.
"Baik, Pak," sahut Profesor Law kemudian mengutak-atik komputer hologram di depannya dan seketika kubus tersebut terbuka, tampak dua belas pecahan Hashfer melayang di atas lantai laboraturium.
"Kami percayakan pecahan Hashfer ini pada kalian," ucap Pak Presiden.
Nim mengangguk kemudian perlahan melangkahkan kedua kakinya berjalan mendekat ke arah dua belas pecahan Hashfer, "Luiji, Juno, Michi," panggilnya kemudian setelah tiba di dekat pecahan Hashfer.
Kemudian Luiji dan Juno pun menyusul mendekati pecahan Hashfer.
Michi menggelengkan kepalanya, "Kalian saja," ucapnya.
"Baiklah, masing-masing empat pecahan," ucap Juno kemudian meraih empat kristal putih yang mengambang di depannya lalu menempelkannya pada d*da di tubuhnya, dan seketika keempat pecahan Hashfer itupun meresap masuk ke dalam tubuh Juno.
Nim mengangguk kemudian ikut meraih kristal putih di depannya lalu memasukkannya ke dalam tubuhnya melalui d*da nya. Luiji pun mengikuti Nim dan Juno.
"Sekarang pecahan Hashfer sudah diamankan," ucap Pak Presiden, "Selanjutnya aku akan bicara dengan Presiden di negara tetangga, tentang kesalah-fahaman ini," sambungnya.
"Tapi, bagaimana cara Pak Presiden meyakinkan negara tetangga?" tanya Komandan Fredi.
"Sama seperti kau meyakinkannya padaku," jawab Pak Presiden tersenyum.
"Wah, kita akan ke luar negeri," ucap Nim bersemangat.
"Semoga saja pecahan Hashfer juga kita temukan disana," ucap Juno berharap.
"Benar, itulah tujuan utama kita, sebelum Rieghart berhasil mengumpulkanya," sahut Luiji.
"Baiklah, untuk sekarang kalian bisa beristirahat dahulu," ucap Pak Presiden, "Nanti akan ku kabarkan pada kalian, kapan kita akan berangkat," sambungnya.
Seketika Nim, Luiji, Juno dan Michi mengangguk bersama-sama.
"Sepertinya tugasku sudah selesai," ucap Komandan Fredi, "Ayo kita pulang," ajaknya kemudian.
"Terima kasih Komandan, Anak-anakku dan teman-temannya biar aku yang nanti mengantar pulang, Komanda Fredi bisa pulang lebih dahulu," sahut Profesor Ana.
"Baiklah," ucap Komandan Fredi tersenyum kemudian melangkah mendekat ke arah Pak Presiden dan seketika memberi hormat.
Pak Presiden pun balas memberi hormat kemudian mengangguk, "Silahkan, Komandan," ucapnya.
Komandan Fredi pun kemudian keluar dari laboraturium meninggalkan Nim dan teman-temannya serta Pak Presiden, Jenderal Abert, Profesor Law dan Profesor Ana.
"Terima kasih, Komandan!" teriak Nim.
Komandan Fredi menghentikan langkahnya tepat di depan laboraturium dan menoleh ke belakang.
Nim bersama Luiji, Juno seketika memberi hormat pada Komandan Fredi.
Komandan Fredi pun terseyum seketika membalas hormat dari Nim dan teman-temannya kemudian melanjutkan langkahnya menjauh dari laboraturium dan segera menuju mobil zipnya yang terparkir di depan kantor, kemudian bersama dengan beberapa mobil pengawal ia meninggalkan kantor tersebut.