Dengan sekejap Nim menghilang dari hadapan Mora, kemudian tiba dan berdiri dengan memegang sebuah pisau kecil yang memiliki kristal hijau di depan Michi, Luiji dan Juno yang sedang menunggunya. Cahaya pada kedua telapak tangan dan kaki Nim kemudian perlahan menghilang. Seketika tubuh Lighneshfer yang dililit oleh Greatshfer kemudian berubah wujud menjadi sebuah cahaya dan melesat ke arah pisau yang berada di tangan Nim.
"Sepertinya tugasku sudah selesai," ucap Greatshfer kemudian merubah wujudnya menjadi sebuah cahaya lalu melesat ke arah gelang yang berada di lengan Michi.
"Kakak," ucap Michi ketika melihat Nim yang dengan sekejap muncul dan berdiri di sampingnya.
Kemudian Nim menunjukkan sebuah pisau kecil yang berhasil direbutnya dari Mora, "Aku sudah berha...." Perkataan Nim terputus karena merasakan penglihatan di kedua matanya tiba-tiba memburam, "Ah!" jeritnya kemudian ketika merasakan sakit di kepalanya.
"Sepertinya Nim telah mengaktifkan salah satu kekuatan dari Hashfer," ucap Fyuri.
"Mengaktifkan kekuatan?" gumam Luiji, "Nim semakin kuat saja," gumamnya lagi tersenyum.
"Kakak kenapa, Kak?" tanya Michi tampak khawatir.
"Ya, aku tidak apa-apa, Mi...." Tiba-tiba lagi pendengaran Nim terganggu, telinganya terasa seperti berdengung kemudian seketika ia pun kehilangan kesadarannya.
"Kakak!" teriak Michi seketika mendekat ke arah Nim yang tubuhnya tergeletak di tanah kemudian memangkunya, "Kakak, bangun Kak!" teriaknya lagi berusaha membangunkan Nim.
"Nim!" teriak Komandan Fredi ketika melihat tubuh Nim terjatuh kemudian ia pun bersama petugas yang lain bergegas berlari ke arah Nim, "Cepat segera bawa dia ke rumah sakit!" teriaknya kemudian setelah tiba di dekat tubuh Nim yang terbaring di tanah dipangkuan Michi.
Sebuah mobil zip yang awalnya ditumpangi oleh Nim dan teman-temannya pun kemudian tiba di dekat tubuh Nim, lalu Luiji bersama Juno pun mengangkat tubuh Nim yang masih tidak sadarkan diri masuk ke dalam mobil. Kemudian mobil tersebut bergegas pergi dengan dikawal beberapa mobil di depan dan di belakangnya.
Tidak lama kemudian mobil zip tiba tepat d depan ruang IGD. Empat perawat seketika menghampi mobil tersebut sembari mendorong sebuah ranjang dorong. Tubuh Nim kemudian diletakkan di atas ranjang tersebut, lalu dibawa masuk ke dalam ruang IGD.
Tampak Michi, Luiji dan Juni bersama Komandan Fredi yang sedang menunggu di luar ruangan.
"Kakak..." ucap Michi tampak khawatir.
"Tidap apa-apa, Michi," ucap Luiji menenangkan.
Tiba-tiba seorang perawat membuka pintu kemudian berjalan ke arah Komandan Fredi yang sedang menunggu hasilnya.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Komandan Fredi ketika seorang perawat tiba di depannya berdiri.
"Dia hanya kelelahan, jadi saya rasa besok boleh pulang," jawab perawat tersebut.
"Syukurlah," ucap Komandan Fredi lega, "Terima kasih," sambungnya berterima kasih kepada perawat yang berdiri depannya.
"Ia, Pak," sahutnya kemudian pergi menjauh melewati lorong rumah sakit.
Michi seketika berjalan menghampiri Komadan Fredi, "Bagaimana keadaan kakakku?" tanyanya khawatir.
"Tenang saja, Nim tidak apa-apa, dia hanya kelelahan," jawab Komandan Fredi tersenyum.
"Huuh." Michi menghembus nafas lega.
"Lalu, sekarang bagaimana?" tanya Juno kepada Komandan Fredi.
"Sementara malam ini Nim beristirahat dahulu, besok kita lanjutkan perjalanan lagi," sahut Komandan Fredi, "Aku akan pergi dulu, dan besok pagi-pagi sekali aku akan kembali kemari," sambungnya.
"Baik, Pak," ucap Michi, "Terima kasih, Pak," sambungnya.
"Akulah yang seharusnya berterima kasih pada kalian," sahut Komandan Fredi, "Baiklah, sampai jumpa," sambungnya kemudian pergi meninggalkan Michi, Luiji dan Juno.
"Sepertinya tubuh Nim masih belum mampu menahan kekuatan dari Hashfer," ucap Naken.
"Tadi itu apa?" tanya Juno.
"Nim mengaktifkan mode cepat, namun tubuhnya belum bisa menyeimbangkan kecepatan yang diberikan oleh Hashfer," sahut Fyuri.
"Benar, jika melihat dari keadaan Nim sekarang, jika saja dia menggunakan mode cepat terlalu lama, maka seluruh fungsi inderanya akan terganggu, dampak terburuknya adalah Nim akan kehilangan ingatan karena mendapat getaran keras yang mengalir ke otaknya," lanjut Naken menjelaskan.
"Semoga saja itu tidak terjadi," ucap Luiji berharap.
Malam pun tiba dan masih tampak Michi, Luiji dan Juno yang masih menunggu dari luar ruangan.
Tiba-tiba seorang perawat keluar dari dalam ruangan dan berjalan menuju dimana Michi, Luiji dan Juno berdiri, "Pasien sudah bisa ditemui, tapi saya harap kalian tidak berisik karena akan mengganggu istirahatnya," ucapnya memberitahu kemudian pergi.
Kemudian Michi, Luiji dan Juno pun masuk ke dalam ruangan dan langsung menuju ke arah dimana Nim terbaring.
Juno tampak menguap karena merasa ngantuk.
"Sebaiknya kau tidur, Juno," ucap Luiji.
"Iya, aku sangat ngantuk sekali," sahut Juno.
"Kalian istirahat saja, aku akan menunggu Kak Nim disini," ucap Michi tampak khawatir.
"Baiklah," sahut Juno, "Ayo, Luiji," ajaknya kemudian Juno dan Luiji menuju ke sebuah sofa panjang yang berada di dalam ruangan tersebut lalu mereka berdua merebahkan tubuhnya pada sofa tersebut kemudian tertidur.
"Kakak...." Michi menatap ke arah Kakaknya kemudian menatap ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul dua dini hari, tidak berapa lama saat ia duduk di atas kursi yang berada di samping ranjang pun juga tertidur.
Di saat Nim terbaring tidak sadarkan diri, tampak sebuah bola kristal kecil berwarna hitam yang disimpannya mengeluarkan cahaya. Dalam keadaan masih tidak sadarkan diri, Nim bermimpi seakan berjalan ke suatu tempat yang sangat gelap. "Kita dimana, Tion?" Nim menyebarkan pandangannya. Di tempat itu Nim melihat banyak sekali monster yang berkeliaran. Wujud monster tersebut sebagian berbentuk manusia, namun berkepala binatang. Nim juga melihat seekor elang hitam raksasa yang sama, seperti yang pernah dikalahkannya kemarin, kemudian elang hitam tersebut terbang melesak ke arah dimana Nim berdiri, sehingga Nim tersentak bangun dan berdiri.
"Kakak!" ucap Michi sentak terbangun ketika melihat Nim yang tiba-tiba berduduk.
"Aku dimana?" tanya Nim menoleh ke segala arah memperhatikan ruangan.
"Kau sudah bangun, Nim," ucap Luiji setelah mendekat ke arah Nim.
"Syukurlah, kau tidak apa-apa," ucap Juno.
"Kakak di rumah sakit, Komandan Fredi yang membawa kakak kemari, karena kemarin Kak Nim tiba-tiba pingsan," jelas Michi.
"Nim sudah sadar?" tanya Komandan Fredi tiba-tiba datang, "Bagaimana keadaanmu sekarang?" sambungnya bertanya.
"Aku tidak apa-apa," jawab Nim tersenyum.
"Baguslah, sebaiknya kita segera melanjutkan perjalan menuju ke kantor pusat," ajak Komandan Fredi.
"Ya," sahut Nim mengangguk kemudian beranjak berdiri di samping ranjang.
Kemudian Nim, Michi, Luiji dan Juno bersama Komandan Fredi melanjutkan perjalanannya menuju ke kantor pusat yang berada tepat di ibukota.
Setelah perjalanan yang cukup jauh, akhirnya mereka pun sampai dan berhenti tepat di depan sebuah gedung besar yang merupakan sebuah kantor pusat di ibu kota. Komandan Fredi kemudian keluar dari mobilnya diikuti oleh Nim, Luiji, Juno dan Michi.
"Ikuti aku," ajak Komandan Fredi kemudian bergegas berjalan masuk ke dalam kantor tersebut.
Ketika Komandan Fredi masuk ke dalam, terlihat beberapa petugas yang lewat memberi hormat padanya dan dia pun balas memberi hormat pada petugas tersebut. Tiba-tiba seorang laki-laki berjalan mendekat ke arah Komandan Fredi yang bersama Nim, Luiji, Juno dan Michi di belakangnya.
"Pak Fredi," panggil laki-laki tersebut, "Ada apa, Pak?" tanyanya kemudian.
"Ayahmu ada di ruanggannya?" tanya Komandan Fredi kepada laki-laki tersebut.
"Sssttt, Pak." Laki-laki tersebut mendesit memberi isyarat untuk melarang mengatakan sesuatu, "Jangan keras-keras, nanti semua orang tahu kalau saya adalah anak Jenderal Albert, Pak," sambungnya berbisik memberitahu.
"Oh maaf, aku lupa," sahut Komandan Fredi, "Jadi, apa Jenderal Albert ada di ruangannya?" sambungnya bertanya.
"Iya, Pak Albert ada di ruangannya, tapi saya tidak yakin kalau beliau bisa ditemui, Pak," jawab laki-laki tersebut, "Karena di dalam ada seorang tamu penting," sambungnya.
"Memangnya siapa tamu penting tersebut?" tanya Komandan Fredi penasaran.
"Pak Presiden..." bisik laki-laki tersebut.
"Apa!" teriak Komandan Fredi sentak terkejut sehingga membuat beberapa petugas yang berada di dekatnya pun seketika menoleh ke arah Komandan Fredi.
"Sssssttt." Laki-laki tersebut kembali berdesit.
Komandan Fredi seketika terdiam, ia terlihat semakin kebingungan bagaimana caranya menjelaskan pada Jenderal Albert apa yang sebernarnya terjadi ditambah dengan keberadaan Pak Presiden yang ternyata sedang berada di dalam ruangan Jenderal Albert. "Ada hal penting apa sehingga Pak Presiden menemui Jenderal Albert?" tanya Komandan Fredi semakin penasaran.
"Dari yang saya ketahui, kalau Pak Presiden sudah menyetujui penggunaan kristal putih itu untuk menambah kekuatan militer, Pak," jawab laki-laki tersebut.
"Semoga saja itu tidak terjadi," ucap Komandan Fredi.
"Hah?" Laki-laki tersebut tampak heran, "Memangnya kenapa? Bagus kan, kalau kekuatan militer kita meningkat?" sambungnya bertanya.
"Itulah sebabnya aku kemari," sahut Komandan Fredi memberi jawaban menggantung.
Laki-laki tersebut menoleh ke arah belakang Komandan Fredi, "Mereka siapa?" tanyanya kemudian.
"Oh iya, perkenalkan ini Nim," ucap Komandan Fredi menunjuk ke arah Nim.
Nim melambai ke arah laki-laki tersebut kemudian berjalan mendekat ke arahnya, "Salam kenal," ucapnya mengulurkan jabat tangan.
"Salam kenal," sahut laki-laki tersebut sembari menyambut jabat tangan dari Nim, "Namaku Eizel," sambungnya memperkenalkan diri.
Michi mendekat, "Aku Michi, salam kenal, Kak," ucapnya.
Eizel tersenyum ke arah Michi.
"Dia adikku," ucap Nim memberitahu.
Kemudian Eizel berbisik ke arah Nim, "Adikmu cantik," bisiknya kemudian.
Nim merasa geram karena mendengar ucapan dari Eizel kemudian menguatkan genggaman tangannya meremas tangan Eizel, "Jangan ganggu adikku," bisiknya.
"Aduh, aduh, aduh!" jerit Eizel kesakitan ketika tangannya diremas kuat oleh Nim, "Maaf, maaf, maaf," sambungnya kemudian seketika Nim melepaskan genggaman tangannya, "Kau kuat sekali," ucapnya sembari menahan rasa sakit pada jari-jarinya, "Kalau ada waktu, apakah kau bisa melatihku?" sambungnya bertanya tersenyum ke arah Nim.
Kemudian Luiji dan Juno pun mendekat.
"Aku Juno."
"Dan aku Luiji."
"Baik, salam kenal semuanya," sahut Eizel, kemudian menoleh ke arah Komandan Fredi, "Sebaiknya kalian tunggu saja disini, mungkin sebentar lagi Pak Presiden keluar," ucapnya, "Aku pergi dulu, karena ada tugas yang harus dilakukan," sambungnya kemudian berjalan pergi menjauh.
Tidak berapa lama setelah menunggu, kemudian terlihat beberapa orang dengan jas hitam yang melintas di depan Nim, Luiji, Juno, dan Michi serta Komandan Fredi. Kemudian dari belakang tampak seorang pria yang ternyata adalah seorang Presiden.
"Sepertinya mereka sudah selesai," gumam Komandan Fredi kemudian berdiri dan seketika berjalan meninggalkan Nim dan teman-temannya menuju ke arah Pak Presiden, "Maaf Pak Presiden," ucapnya tegas embari memberi hormat.
Pak Presiden menatap ke arah Komandan Fredi kemudian menggeser matanya ke arah baju Komandan Fredi dan melihat emblem nama yang menempel pada baju Komandan Fredi, "Ya, ada apa Komandan?" tanyanya ramah tersenyum.
"Maaf, Pak," ucapnya tegas kembali memberi hormat, "Bolehkah saya memberitahu sesuatu pada Pak Presiden?" sambungnya tegas.
Pak Presiden mengerutkan keningnya, "Memberitahu tentang apa?" tanyanya kemudian.
"Maaf, Pak," ucapnya tegas kembali memberi hormat, "Sebaiknya kita bicarakan di dalam ruangan Jenderal Albert," sambungnya tegas.
Presiden mengangguk, "Baiklah," sahutnya, "Kalian semua tunggulah disini, Saya masih ada urusan," ucapnya kemudian kepada para ajudan pengawalnya.
"Siap, Pak!" seru salah satu ajudan yang berada dekat dengan Pak Presiden.
Pak Presiden menoleh ke arah Komandan Fredi, "Ayo," ucapnya mengangguk kemudian berjalan lebih dahulu dan kembali masuk ke dalam ruangan Jenderal Albert.
"Ayo," ajak Komandan Fredi kepada Nim dan teman-temannya kemudian menyusul masuk ke dalam ruangan Jenderal Albert
Kemudian Nim, Luiji, Juno dan Michi pun ikut menyusul Komandan Fredi yang masuk ke dalam ruangan Jenderal Albert.