37. Dewa Kehancuran

1734 Kata
"Aku tidak akan membiarkan kalian semua lolos dariku!" ucap Mora kemudian menjulangkan tangannya ke atas sembari memegang pisau dengan kristal hijau, "Rasakan kemarahan dewa!" sambungnya berteriak, seketika sebuah cahaya melesat ke atas langit menembus awan-awan dan tidak lama kemudian turun seekor naga raksasa berwarna hijau dengan petir yang mengelilingi sekujur tubuh naga tersebut. "Dewa!" ucap Tion sentak terkejut. Tubuh Nim, Luiji dan Juno seketika menjadi kaku ketika melihat sesosok dewa di hadapan mereka. "Dialah Lighneshfer Sang Dewa Kehancuran!" teriak Mora kemudian tertawa puas, "Serang mereka!" teriaknya lagi kemudian Lighneshfer membuka mulutnya lalu mengeluarkan petir besar yang seketika melesat ke arah dimana Nim, Luiji dan Juno berdiri. "Awas!" teriak Juno seketika mendorong tubuh Nim dan Luiji yang masih kaku sehingga petir besar tersebut menyambar tubuh Juno. "Juno!" teriak Nim seketika berlari ke arah Juno. "A-aku tidak apa-apa, Ni-Nim," ucap Juno terbata-bata kemudian perlahan aura biru yang menyelimuti tubuhnya menghilang dan Juno pun tidak sadarkan diri. "Aku harus membawa Juno pergi dari sini dulu," ucap Nim kemudian mengangkat tubuh Juno yang terkulai menuju dimana Komandan Fredi dan petugas yang lain sedang berlindung, "Aku titip Juno," ucapnya kemudian meletakkan tubuh Juno di dekat Komandan Fredi, lalu Nim seketika berlari kembali ke tempa pertarungannya. "Satu gugur..." ucap Mora tersenyum, "Siapa lagi selanjutnya," sambungnya kemudian tertawa. "Bagaimana mungkin Lighneshfer bisa masuk ke dalam Ultimiore?" gumam Tion. "Kita tidak akan mampu menandingi kekuatan dewa," ucap Naken. "Lalu, apakah kita harus berlari?" tanya Luiji. Nim menatap tajam ke arah dimana Mora berdiri yang di atasnya terbang seekor naga hijau bernama Lighneshfer, "Aku tidak akan kalah!" teriaknya menunjuk ke arah Mora. "Sangat tidak tahu diri kalian dengan kekuatan sekecil itu melawan kekuatan dewa," sahut Mora tersenyum jahat. Nim berlari ke arah Mora dan berniat menyerangnya. Mora menggerakkan tangannya ke arah dimana Nim berlari memberi isyarat pada Lighneshfer untuk menyerang Nim. Kemudian Lighneshfer menyemburkan petir dari mulutnya dan melesat ke arah Nim yang berlari. Nim menghindar dengan cara melompati petir yang melesat ke arahnya, namun petir tersebut membelok kembali ke arah Nim. Dengan cepat Nim berlari menghindar ke arah tebing kemudian melompat lagi, dan seketika petir tersebut mengenai tebing dan menghancurkannya. "Lumayan... lumayan..." ucap Mora tersenyum sembari menepukkan kedua tangannya. "Nim," panggil Luiji seketika menghampiri Nim. Nim menoleh ke arah Luiji. "Kita tidak akan mampu mengalahkannya," ucap Luiji, "Sebaiknya kita pergi dari sini," sambungnya. "Mau pergi?" ucap Mora yang mendengar perkataan Luiji, "Apa kalian kira aku akan membiarkan kalian lolos?" Luiji sentak terdiam dan merasa kebingungan bagaimana cara melawan atau menyelamatkan diri dari Mora yang mendatangkan dewa. "Kita tidak mempunyai cukup kekuatan melawannya, kecuali kekuatan dewa," ucap Naken. "Andai saja aku tidak meninggalkan Shira," gumam Nim menyesal karena tidak membawa pedang hitam miliknya. "Menyerahlah," ucap Mora perlahan berjalan mendekat ke arah dimana Nim dan Luiji berdiri, "Kembalikan pecahan Hashferku, maka aku akan melepaskan kalian," sambungnya. Di saat yang sama di dalam hutan tepatnya di dalam sebuah kuil dimana Michi dan beberapa orang yang diselamatkannya berada. Tampak Michi yang sedang duduk menunggu sambil mengasuh sebuah pedang hitam. "Aku merasakan sesuatu telah terjadi pada Nim dan yang lain," ucap Shirashfer. "Kau hanya khawatir, Shira..." sahut Greatshfer. "Tuan Putri, kenapa kau diam?" tanya Shirashfer. "Aku juga merasakan hal yang sama, Shira," ucap Michi lirih sembari menundukkan kepalanya, "Semoga tidak terjadi hal buruk pada mereka," gumamnya berharap. Tiba-tiba tidak jauh dari depan kuil terdengar suara teriakan memanggil Michi. "Michi." Seketika Michi menatap ke arah asal suara tersebut, "Kakek Oldeus?" ucapnya seketika berdiri ketika melihat Oldeus yang melangkah mendekat ke arahnya. "Di mana Nim dan yang lain?" tanya Oldeus menengok ke kanan dan kiri. "Kakak Nim bersama Kak Luiji dan Kak Juno sedang pergi ke kantor pemerintahan di dekat hutan ini, Kek." "Mau apa mereka ke sana?" tanya Oldeus. "Mereka mau memberitahukan tentang keselisih-fahaman yang terjadi dengan negara kita dan negara tetangga," jawab Michi. "Hhmm." Oldeus mengangguk memusut janggut putihnya. "Kakek dari mana saja?" tanya Michi. "Ada sesuatu hal yang menimpaku sewaktu bersama Nim," jawab Oldeus, "Sewaktu aku ingin membantu, tiba-tiba saja sebuah energi hitam melesat ke arahku, dan ketika aku membuka mata, aku sudah berada di dunia yang tidak pernah ku temui sebelumnya," sambungnya menjelaskan. "Lalu bagaimana Kakek bisa kemari?" tanya Michi. "Nanti saja Kakek jelaskan, sekarang kalian harus menyelamatkan Nim dan yang lain, mereka sedang membutuhkan kekuatan kalian," sahut Oldeus memberitahu. Michi mengangguk, "Ayo." Kemudian pedang hitam yang merupakan wujud dari Shirashfer melayang di depan Michi. "Aku tahu dimana mereka sekarang," ucap Shirashfer kemudian dari wujud pedang hitamnya seketika berubah wujud menjadi sebuah kereta salju berwarna kristal biru. "Kereta salju?" gumam Michi heran. "Cepat naik," seru Shirashfer. "Baik," ucap Michi kemudian segera menaiki kereta berwarna biru kristal tersebut, "Ayo, Kakek," ucapnya mengajak Oldeus. Oldeus menggelengkan kepalanya, "Aku disini saja, menjaga mereka," ucapnya kemudian menoleh ke arah dimana orang-orang yang diselamatkan sedang duduk di dalam kuil. "Baiklah, tolong jaga mereka ya, Kek," ucap Michi kemudian kereta yang ditumpanginya seketika terbang melayang dan melesat dengan cepat di udara menuju ke tempat dimana Nim dan yang lainnya berada. "Apa itu?" gumam Michi dari atas udara ketika melihat seekor naga hijau yang sedang bertarung melawan kakak dan teman-temannya. "Lighneshfer Sang Dewa Kehancuran," ucap Greatshfer memberitahu. "Bukankan dewa seperti kalian tidak boleh bertarung selain lawannya juga dewa?" tanya Michi heran. "Lighneshfer berbeda dengan dewa yang lain, karena dia adalah Dewa Kehancuran," sahut Shirashfer. "Sebaiknya kita segera membantu Nim," ucap Greatshfer. "Baik," sahut Shirashfer kemudian dengan cepat melesat turun lalu tiba tepat di depan Nim dan Luiji berdiri. "Apa itu?" ucap Nim heran ketika melihat sebuah kereta salju yang mendarat di depan mereka, "Michi," ucapnya lagi ketika ternyata yang berada di dalam kereta salju tersebut adalah adiknya. "Kakak," ucap Michi seketika turun dari kereta dan berlari ke arah Nim. Kemudian kereta salju tersebut seketika berubah wujud kembali menjadi sebuah pedang hitam lalu melayang ke arah Nim. "Bantuan datang," ucap Mora tersenyum. "Shira..." ucap Nim kemudian meraih pedang hitam yang melayang di hadapannya. "Maaf, kami terlambat," ucap Shirashfer. "Bagaimana kalian tahu jika kami sedang dalam situasi seperti ini?" tanya Luiji. "Nanti saja menjelaskannya, sebaiknya kita lawan dahulu Lighneshfer," ucap Shirashfer, "Izinkan aku untuk melawannya," sambungnya. "Tidak perlu, biarkan aku saja yang menghadapinya," ucap Greatshfer, "Tuan Putri, izinkan saya," ucapnya kemudian. "Baik," sahut Michi mengangguk kemudian dari gelang di lengannya melesat sebuah cahaya ke atas langit, dan turunlah seekor naga berwarna emas yang merupakan wujud dari Greatshfer. "Ternyata kalian juga bersama dengan dewa," ucap Mora senyum tercengir remeh, "Baiklah, Lighnes serang mereka semua!" teriaknya kemudian Lighneshfer menyemburkan petir dari mulutnya ke arah dimana Nim dan teman-temannya berdiri. Seketika Nim berlari ke depan menghadapi petir yang melesat ke arahnya kemudian menepis petir tersebut dengan menggunakan pedang hitam di tangannya. "Apa!" Mora sentak terkejut ketika melihat Nim dengan mudahnya menepis serangan dari Lighneshfer. "Sekarang kita seimbang," ucap Nim tersenyum yakin. Mora tampak ragu, "Lighnes, serang mereka lagi!" teriaknya seketika kemudian Lighnesfer menyemburkan lagi petir dari mulutnya ke arah Nim dan teman-temannya. Nim berdiri menghadang petir tersebut kemudian menepisnya kembali dengan mudah. "Lighneshfer tidak terlihat seperti biasanya," gumam Greatshfer, "Aku akan melawannya," ucapnya kemudian terbang melesat ke arah Lighneshfer, "Lighneshfer!" teriaknya memanggil ketika tiba di depan Lighneshfer. Lighneshfer tidak menjawab. "Kenapa dia?" gumam Greatshfer. "Hahahaha." Mora tertawa, "Kau bingung kan, mengapa Lighnes tidak menjawab?" "Apa yang kau lakukan padanya?" tanya Greatshfer dengan nada marah. "Hei, hei, bukan aku yang melakukannya," sahut Mora tersenyum, "Aku hanya mencuri ini dari Black Tail," sambungnya sembari menunjukkan sebuah pisau di tangannya. "Black Tail! Aku tidak akan membiarkan mereka berbuat semau mereka lagi," gumam Greatshfer. "Lighnes, serang mereka lagi!" teriak Mora kemudian Lighneshfer menyerang lagi, namun seketika Greatshfer melilit tubuh Lighnesfer dan menggagalkan serangan tersebut. "Cepat rebut pisau itu!" teriak Greatshfer dari atas, "Aku akan menahannya," sambungnya lagi. "Baik," sahut Nim mengangguk kemudian seketika berlari dengan cepat ke arah Mora. "Aku tidak akan menyerahkan benda ini pada kalian," ucap Mora seketika dengan cepat menghindar dari Nim yang hendak merebut pisau di tangannya. "Dia cepat sekali," gumam Nim. "Tangkap aku kalau bisa," ucap Mora kemudian berlari menjauh dari Nim. "Nim," panggil Tion. "Baik," sahut Nim kemudian aura biru berwujud harimau seketika menyelimuti tubuhnya lalu berlari mengejar Mora. "Kau ternyata bisa menandingi kecepatanku," ucap Mora tersenyum menoleh ke samping dan dilihatnya Nim sedang berlari mengimbanginya. "Keadaan berbalik, aku tidak akan membiarkanmu lolos," ucap Nim kemudian mendekat dan berusaha merebut pisau dari tangan Mora. Mora memutar tubuhnya dengan gesit melempar pisau ke tangan sebelahnya. Nim tampak kesulitan merebut pisau tersebut dari tangan Mora. "Gunakan kekuatan Hashfer, Nim," ucap Tion. "Baik," sahut Nim kemudian merasakan dan memusatkan energi Hashfer di dalam tubuhnya menuju ke dua belah tangan dan kakinya. Seketika aura biru yang menyelimuti tubuh Nim kemudian perlahan menghilang. Telapak tangan dan telapak kaki Nim terlihat bersinar. "Kekuatan apa ini?" gumam Mora ketika melihat ke dua belah telapak tangan dan telapak kaki Nim mengeluarkan sinar putih, "Sebaiknya aku harus segera menjauh darinya," gumamnya lagi seketika dengan sangat cepat berlari menjauh dari Nim. "Aku akan merebutnya darimu," ucap Nim kemudian dengan sekejap tiba di depan Mora yang seketika terhenti. Mora kemudian berbalik arah dan kembali berlari menjauh dari Nim. Namun Nim kembali berada di depan Mora yang seketika berhenti. "Sial!" gumam Mora kesal. "Kau tidak akan bisa lari lagi," ucap Nim kemudian dengan tangannya sangat cepat melesat ke arah pisau yang dipegang oleh Mora. Dengan gesit Mora menggerakkan tangannya menghindar dari tangan Nim yang berusaha merebut pisau di tangannya, "Tidak akan!" teriaknya. "Aku tidak akan membiarkanmu menggunakan kekuatan itu untuk kejahatan," ucap Nim kemudian berhasil merebut pisau dari tangan Mora. "Apa!" gumam Mora menyadari tangannya tidak lagi menggenggam pisau, "Aku tidak melihat gerakkannya sama sekali," gumamnya lagi, "Kembalikan!" teriaknya kemudian berusaha merebut kembali pisau dari tangan Nim. Seketika Nim menghilang dan berada tepat di belakang Mora, "Aku akan menyimpan ini, kecuali kau berjanji untuk tidak lagi menggunaannya untuk kejahatan," ucapnya. Mora terdiam sejenak kemudian memalingkan badannya dan berhadapan dengan Nim. "Bagaimana, apa kau mau berjanji padaku?" tanya Nim. Mora menghembuskan nafasnya, "Baiklah, aku akan berjanji tidak akan melakukan kejahatan lagi," ucapnya kemudian menengadahkan telapak tangannya arah Nim, "Sekarang cepat kembalikan padaku," sambungnya meminta. "Kau berbohong!" ucap Nim. "Aku tidak berbohong!" teriak Mora, "Cepat kembalikan!" teriaknya lagi kemudian berusaha kembali merebut pisau dari tangan Nim. "Tidak akan ku kembalikan padamu," ucap Nim menghindari tangan Mora yang hendak merebut pisau dari tangannya, "Sepertinya kau tidak akan mau berubah, aku akan pergi dari sini," sambungnya kemudian menghilang sekejap dari hadapan Mora. "Aaaaarrrrgggghhh!" Mora terlihat sangat marah, " Tunggu saja saatnya nanti, aku akan mengalahkanmu, Nim," ucapnya kemudian berjalan beranjak pergi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN