Ketika dalam perjalan menuju ke kantor pusat yang terletak di ibukota, Nim tampak penasaran dengan hubungan antara Komandan Fredi dan Yona, yaitu seorang wanita yang diselamatkan mereka mempertemukan Nim dan teman-temannya pada Komandan Fredi.
"Maaf, Komandan," ucap Nim memberanikan diri berkata kepada Komandan Fredi yang sedang fokus menyetir mobil.
Sesaat Komandan Fredi menoleh ke arah Nim yang duduk di sampingnya kemudian kembali memperhatikan jalan, "Ya?" tanya Komandan Fredi.
"Apa hubunganmu dengan wanita tadi?" tanya Nim memberanikan diri.
"Hei Nim!" tegur Juno.
"Tidak apa-apa," sahut Komandan Fredi tersenyum, "Yona adalah calon istriku," sambungnya menjawab.
"Jadi, Yona adalah kekasihmu," ucap Nim lega karena penasarannya, "Kau tampak ramah, sebagai seseorang yang menjabat gelar Komandan," sambungnya bangga.
"Komandan juga manusia, kan?" sahut Komandan Fredi tersenyum.
Juno dan Luiji menghembuskan nafas lega setelah tegang karena takut membuat marah Komandan Fredi atas pertanyaan dari Nim yang menyimpang dari permasalahan.
"Suami Yona meninggal dalam peperangan di perbatasan negara, beliau adalah atasanku sebelum aku menjabat sebagai seorang Komandan," ucap Komandan Fredi bercerita, "Sebelum meninggal, beliau mempercayakan Yona dan anaknya padaku," sambungnya.
"Kau seorang Komandan yang baik," ucap Nim tersenyum.
"Aku sangat berterima kasih pada kalian karena sudah menyelamatkan Yona dan anaknya," ucap Komandan Fredi.
"Itu sudah semestinya," sahut Nim.
Komandan Fredi tampak tersenyum sembari tetap mengunci pandangannya untuk fokus dengan jalan yang mereka lalui. Namun di tengah perjalanan ketika melintas di samping tebing, tiba-tiba sebuah energi hitam melesat dengan cepat dan seketika mengenai sebuah mobil pengawal di belakang mereka sehingga mobil tersebut meledak.
"Apa!" teriak Komandan Fredi menatap spion di depannya dan seketika menginjakkan kaki kanannya pada pedal rem sehingga membuat mobil yang ditumpangi Nim, Luiji dan Juno berhenti mendadak bersamaan dengan mobil pengawal lainnya.
Nim, Luiji dan Juno bersama Komandan Fredi bergegas keluar dari dalam mobil.
"Sial, mereka semua tewas," ucap Komandan Fredi setelah menghampiri salah satu mobil yang sudah dalam kondisi terbakar, "Siapa yang melakukan ini!" teriaknya menyebar tatapannya ke segala arah.
Terdengar samar sebuah tawa seseorang laki-laki berjubah hitam yang sedang berdiri di atas tebing.
"Siapa dia?" gumam Nim mengerutkan keningnya ke arah laki-laki berjubah hitam di atas tebing.
Laki-laki berjubah hitam tersebut seketika melompat turun dan berdiri di dekat Nim, Luiji, Juno dan Komandan Fredi.
Laki-laki berjubah hitam tersebut sentak terkejut karena ketika menyadari bahwa wajah Nim mirip dengan seseorang yang dikenalnya.
"Black Tail," ucap Luiji geram kemudian seketika berlari ke arah laki-laki berjubah hitam tersebut dan tiba di depannya kemudian memukulnya.
Laki-laki berjubah hitam tersebut menghindari serangan Luiji dengan melompat dan seketika berdiri di samping Komandan Fredi.
"Kalian sepertinya tergesa-gesa," ucap laki-laki berjubah hitam, "Dan satu lagi, aku bukanlah anggota Black Tail," sambungnya.
Komandan Fredi seketika bergerak menjauh melompat dan membalikkan badannya ke arah laki-laki berjubah hitam tersebut dan segera mengambil sebuah pistol yang menggantung di pinggangnya kemudian mengarahkan pistol tersebut kepada laki-laki berjubah hitam. "Apa maumu!" teriaknya.
"Senjata lemah seperti itu tidak akan mampu melukai pakaianku, apalagi melukai tubuhku," ucap laki-laki berjubah hitam tersebut sembari melangkahkan kakinya mendekat ke arah Komandan Fredi.
"Jangan mendekat, atau kau akan ku tembak!" teriak Komandan Fredi memperingatkan sembari gemetar memegang pistol di tangannya.
"Coba saja tembak aku dengan mainan itu," ucap laki-laki berjubah hitam tersebut tidak berhenti melangkahkan kakinya dan semakin mendekat ke arah Komandan Fredi.
Dooorr! Komandan Fredi melepaskan satu peluru ke arah laki-laki berjubah hitam tersebut, namun peluru tersebut tampak remuk setelah mengenai jubah hitam yang dikenakan oleh laki-laki tersebut.
"A-apa!" sentak Komandan Fredi terlihat takut dari raut wajahnya.
"Lawanmu adalah kami," ucap Nim yang tiba-tiba dengan sekejap berdiri di depan dan membelakangi Komandan Fredi sembari menatap tajam ke arah laki-laki berjubah hitam tersebut.
Laki-laki berjubah hitam tersebut melirikkan matanya ke arah gelang yang berada pada lengan Nim, "Seorang Caster ternyata," ucapnya tersenyum, "Pas sekali, karena aku sedang berburu," sambungnya.
"Aku bukanlah Caster," sahut Nim kemudian dari luar tubuhnya seketika mengeluarkan aura biru berwujud harimau dan menyelimuti tubuhnya.
Luiji dan Juno pun juga melakukan hal yang sama dengan Nim.
"Komandan, menghindarlah dari tempat ini bersama petugas yang lain," ucap Nim.
"Baik," sahut Komandan Fredi kemudian mengajak seluruh petugas menjauh dari tempat itu.
"Tiga lawan satu?" ucapnya tercengir remeh, "Sepertinya tidak seimbang," sambungnya kemudian meraih sebuah pisau kecil dengan kristal berwarna hijau pada pisau tersebut dari balik jubahnya.
"Apa itu Ultimiore," gumam Nim menatap sebuah pisau kecil yang dipegang oleh laki-laki berjubah hitam tersebut.
"Benar, ini adalah Ultimiore yang ku rebut dari salah satu anggota Black Tail," sahut laki-laki berjubah hitam tersebut.
Laki-laki berjubah hitam tersebut mengangkat dan mengarahkan ke atas pisau kecil di tangannya. Kristal hijau dari pisau tersebut tampak mengeluarkan petir yang menyambar ke arah Nim dan teman-temannya serta menyambar ke arah Komandan Fredi yang sedang berlari menuju mobil.
"Awas!" teriak Nim seketika melihat petir yang melesat ke arah Komandan Fredi dan menarik tubuh Komandan Fredi kemudian melompat untuk menghindari sambaran petir tersebut, "Ayo cepat pergi dari tempat ini," ucapnya
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Juno berteriak.
"Benar, penting sekali mengetahui nama lawanmu sebelum kau kalah," ucap laki-laki berjubah hitam tersebut kemudian kembali mengangkat pisau di tangannya dan seketika petir kembali menyambar ke arah Nim dan teman-temannya.
"Sial," gumam Nim kembali melompat bersama Luiji dan Juno menghindari petir tersebut, "Kalau bukan anggota Black Tail, lalu kenapa kau menyerang kami?"
"Sudah ku katakan, aku sedang berburu," jawab laki-laki berjubah hitam tersebut kemudian membuka penutup kepalanya. Tampak dari warna bola matanya yang berbeda, sebelah kanan berwarna merah dan sebelahnya lagi berwarna biru.
"Mora, dia dijuluki sebagai Pemburu Beaster," ucap Tion setelah mengenali laki-laki berjubah hitam tersebut ketika membuka penutup kepalanya.
"Mora?" ucap Nim.
"Hei, bagaimana kau tahu namaku?" tanya Mora heran.
"Pemburu Beaster?" ucap Luiji mengerutkan keningnya.
"Benar, aku adalah Mora si Pemburu Beaster," sahut Mora tersenyum, "Sebaiknya serahkan saja semua Beaster yang bersama dengan kalian, maka aku akan pergi tanpa perlawanan," sambungnya tersenyum.
"Tidak akan!" teriak Nim.
"Hmm" Mora terdiam sejenak, kemudian meraih sesuatu dari dalam jubahnya.
Nim tampak bersiaga dengan apa yang akan dilakukan oleh Mora.
"Bagaimana kalau kita melakukan barter dengan ini?" tanya Mora kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam jubahnya dan menunjukkannya pada Nim, Luiji dan Juno.
"Pecahan Hashfer?" gumam Luiji mengerutkan keningnya menatap lima kristal yang merupakan pecahan Hashfer di tangan Mora.
"Dari mana kau mendapatkan pecahan Hashfer itu?" teriak Nim bertanya.
"Hhmm..." Mora melirikkan matanya ke arah kiri atas, "Beberapa tempat di negara ini sudah ku datangi, dan dengan sangat mudah aku mengambil ini," sambungnya cengir tersenyum.
"Sebaiknya kau serahkan pecahan Hashfer itu pada kami," ucap Juno.
"Menyerahkan?" Mora mengerutkan keningnya. "Aku rasa ini sebanding dengan Beaster yang bersama dengan kalian," ucapnya tersenyum.
"Tidak!" teriak Nim, "Beaster bukanlah benda yang dapat diperjual belikan!" teriaknya lagi.
"Baiklah kalau begitu, sungguh sangat disayangkan jika ke lima pecahan Hashfer ini ku serahkan pada Rieghart, iya kan?" ucap Mora kemudian memasukkan ke lima pecahan Hashfer di tangannya ke balik jubahnya.
"Bukankah kau tahu apa yang akan terjadi jika Rieghart mengumpulkan semua pecahan Hashfer itu!" teriak Nim.
"Ya, aku tahu, dan aku tidak perduli," sahut Mora dengan tenang.
"Kau!" teriak Nim seketika dengan cepat kemudian berlari dan menyerang Mora dengan cakarnya.
Dengan sigap Mora menepis serangan dari Nim dengan tangannya, "Jika kalian menginginkan semua pecahan Hashfer yang ada padaku, sebaiknya terima saja tawaranku," ucapnya kemudian meraih tangan Nim lalu melemparnya.
"Nim!" teriak Luiji seketika menangkap tubuh Nim yang terlempar menggunakan salah satu tentakelnya.
"Bagaimana kita bisa merebut ke lima pecahan Hashfer itu?" gumam Nim kemudian berdiri.
"Sepertinya kita harus berada dekat dengannya untuk merebut semua pecahan Hashfer dari dalam jubahnya," ucap Luiji.
"Lalu bagaimana kita bisa mendekatinya?" tanya Juno.
Kemudian Nim, Luiji dan Juno bersama Tion, Naken dan Fyuri sejenak berdiskusi untuk membuat strategi untuk merebut pecahan Hashfer yang berada di tangan oleh Mora.
"Apa yang kalian lakukan!" teriak Mora seketika sebuah petir melesat ke arah Nim, Luiji dan Juno.
"Baik," ucap Nim, Luiji dan Juno bersamaan seketika melompat menyebar menghindari serangan dari Mora.
Aura biru dari tubuh Nim, Luiji dan Juno kemudian bersamaan perlahan menghilang.
"Bagaimana, apakah kalian menerima tawaranku?" tanya Mora.
"Baiklah," ucap Nim kemudian dari gelang di lengannya seketika melesat sebuah cahaya biru di depan Nim berdiri, dan cahaya biru tersebut kemudian menggumpal dan membentuk wujud harimau. Luiji dan Juno pun juga melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Nim.
"Tapi, sebelum kami menyerahkan Beaster padamu, lemparkan pisau di tanganmu ke arah kami," ucap Luiji.
"Bagaimana aku bisa mempercayai kalian?" tanya Mora tidak percaya.
"Baiklah kalau begitu, kau lemparkan pisaumu setelah Beaster di dekatmu," ucap Luiji.
"Kemarilah," ucap Mora membentangkan kedua tangannya.
Perlahan Tion, Naken dan Fyuri mendekat ke arah dimana Mora berdiri dan tepat tiba sangat dekat dengan Mora. Kemudian Mora pun melemparkan pisau di tangannya ke arah Luiji, dan Luiji pun menyambut pisau tersebut.
"Sekarang!" teriak Nim memerintah dalam hati.
Seketika Naken melesatkan semua tentakelnya dan melilitkannya pada tubuh Mora.
"Apa!" sentak Mora terkejut dan berusaha melepaskan lilitan tentakel Naken.
"Tion! Fyuri! Sekarang!" ucap Naken.
Kemudian Fyuri bersiap menanduk tubuh Mora yang tubuhnya masih terlilit oleh tentakel Naken. Fyuri pun segera menanduk tubuh Mora sehingga terlempar membentur tebing setelah Naken melepaskan lilitan tentakelnya, disaat yang sama Tion pun menerkam jubah yang dikenakan oleh Mora, kemudian membawa jubah hitam tersebut kepada Nim.
"Berhasil!" ucap Nim dengan bangga sembari meraih jubah hitam yang dibawa oleh Tion kemudian mengambil ke lima pecahan Hashfer dari dalam jubah tersebut.
"Sial, kalian membohongiku!" teriak Mora kemudian berusaha berdiri, lalu mengulurkan tangannya ke arah pisau yang dipegang oleh Luiji. Seketika pisau itu seakan ditarik sehingga pisau di tangan Luiji pun terlepas.
"Nim, cepat masukan semua pecahan Hashfer itu ke dalam tubuhmu," ucap Tion.
"Baik," sahut Nim kemudian menempelkan ke lima pecahan Hashfer ke d*danya, dan seketika semua pecahan Hashfer meresap masuk ke dalam tubuh Nim.
Mora geram kesal kemudian dengan sangat cepat berlari ke arah Nim dan bermaksud menyerang Nim dengan pisaunya.
"Cepat sekali!" gumam Nim ketika melihat Mora yang berlari ke arahnya. Seketika Tion merubah wujudnya kembali menjadi segumpal cahaya biru kemudian melesat masuk kembali pada gelang di lengan Nim.
"Ayo, Nim," ucap Tion setelah kembali ke dalam gelang.
Sekejap tubuh Nim diselimuti aura biru berwujud harimau, dan segera menahan serangan dari Mora. Namun, kekuatan Nim tidak mampu menahan serangan dari Mora sehingga membuat tubuh Nim terlempar.
"Nim!" teriak Naken seketika menangkap tubuh Nim.
"Aku tidak apa-apa," ucap Nim kemudian berdiri.
"Naken," teriak Luiji.
"Fyuri," teriak Juno.
"Baik," sahut Naken dan Fyuri bersamaan kemudian wujud mereka berdua berubah menjadi segumpal cahaya biru dan melesat kembali masuk ke dalam tubuh Luiji dan Juno.
Luiji dan Juno kemudian berlari ke arah dimana Nim dan Mora berada, disaat bersamaan ketika berlari seketika pada tubuh mereka diselimuti aura biru dan membentuk wujud gurita dan banteng.