35. Kekuatan Tidak Terbatas

1707 Kata
Keesokan hari tepat di depan kuil, terlihat Nim, Luiji dan Juno bersama seorang wanita yang sedang menuntun seorang anak kecil yaitu anaknya untuk bersiap pergi ke sebuah kantor pemerintahan yang tidak jauh dari tempat mereka berada sekarang. "Baiklah, ayo kita pergi," ajak Nim seketika melangkah pergi. "Tunggu, Nim," teriak Luiji dan seketika membuat Nim menghentikan langkah kakinya. Nim menoleh ke arah Luiji, "Ada apa, Luiji?" tanyanya bingung. "Apa tidak terlalu kelihatan mencolok, jika kau membawa pedang itu di jalanan?" tanya Luiji memperhatikan penampilan Nim yang di belakang tubuhnya menggantung sebuah pedang hitam. "Benar, sebaiknya kau tinggal saja Shirashfer disini," ucap Juno menambahkan. "Kalian benar juga," ucap Nim menggaruk kepalanya kemudian meraih pedang di belakang tubuhnya tersebut lalu melangkah mendekat ke arah Michi, "Michi, kakak titip Shira denganmu, ya...." "Hei, aku ini dewa bukan seperti benda yang seenaknya kalian bisa titipkan!" teriak Shirashfer mengeluh. "Sudah, tidak usah mengeluh," sahut Nim, "Lagi pula, Michi tidak ikut bersama kami," sambungnya, "Maukah kau menjaga adikku, Shira?" sambungnya lagi bertanya memohon. "Tapi adikmu kan sudah ada Greatshfer yang menjaganya?" ucap Shirashfer balik bertanya. "Iya benar, akan lebih aman lagi jika kau bersama Greatshfer menjaga Michi," sahut Nim. "Huh, baiklah," jawab Shirashfer, "Aku akan menjaga adikmu dengan seluruh jiwaku," sambungnya berjanji. "Terima kasih, Shira," ucap Nim tersenyum menatap pedang hitam di tangannya. "Ini, Michi," ucapnya sembari menyerahkan pedang hitam tersebut pada adiknya. "Ya, Kak," sahut Michi kemudian meraih pedang hitam yang diserahkan kakaknya. "Kami pergi dulu," ucap Nim kemudian melangkah bersama Luiji dan Juno serta seorang wanita yang dengan menuntun anaknya menuju ke sebuah kantor pemerintahan yang letaknya tidak jauh dari hutan. Tidak berapa lama, mereka pun keluar dari hutan dan segera menuju sebuah kantor yang bangunannya sudah nampak terlihat. "Itu kantornya," ucap seorang wanita menunjuk ke sebuah bangunan. "Baik," sahut Nim. Kemudian mereka pun melanjutkan langkah kaki mereka menuju kantor tersebut. Di sepanjang jalan, mereka melihat hampir semua bangunan sudah hancur karena serangan rudal kemarin, kecuali bangunan yang merupakan kantor pemerintahan. "Apa temanmu tidak sibuk?" tanya Luiji kepada wanita yang menuntun anaknya. "Aku juga tidak yakin, tapi semoga dia masih bisa kita temui," jawabnya dengan penuh harap. "Ibu, kita mau pergi ke mana?" tanya anak kecil yang dituntun ibunya. "Kita mau ke kantor Om Fredi," sahutnya tersenyum. Setelah beberapa puluh meter berjalan mereka pun tiba di depan sebuah bangunan yang mereka tuju, yaitu kantor pemerintahan. "Kalian bertiga tunggu disini dulu, aku akan masuk ke dalam dan mencarinya," ucap wanita tersebut kemudian membuka pintu lalu masuk bersama anaknya. Setelah wanita bersama anaknya tersebut masuk, Nim, Luiji dan Juno mulai merasakan sesuatu energi yang berada di dalam kantor tersebut. "Nim, Juno," panggil Luiji, "Apakah kau merasakannya juga?" sambungnya bertanya. "Ya, tidak salah lagi, aku merasakan kekuatan Hashfer di dalam sana," jawab Nim. "Benar," sahut Juno, "Tapi, apakah mungkin kita bisa mengambilnya?" sambungnya bertanya. Tiba-tiba pintu kantor terbuka, dan tampak wanita tersebut berdiri di depan pintu. "Ayo masuk," ajak wanita tersebut. Kemudian Nim dan teman-temannya pun melangkah masuk. "Ikuti aku," ajak wanita itu lagi menuntun jalan menuju ke sebuah ruangan, dan Nim bersama teman-temannya pun mengikutinya. Ketika mereka menelusuri jalan di dalam kantor, Luiji memperhatikan sebuah ruangan yang di depannya terlihat beberapa petugas yang berdiri seakan menjaga ketat sebuah ruangan. "Aku rasa Hashfer disimpan di dalam sana," bisik Luiji kepada Nim dan Juno. "Benar, aku juga merasakan kekuatan Hashfer disana," sahut Naken. "Tidak salah lagi," ucap Nim yakin. Tok Tok Tok.... Wanita tersebut mengetuk pintu "Masuk!" teriak seorang laki-laki mempersilahkan terdengar samar dari dalam ruangan. Wanita tersebut pun membuka pintu, "Mereka lah yang tadi ku ceritakan padamu, Fredi," ucapnya setelah masuk bersama Nim dan teman-temannya. Komandan Fredi menatap tajam ke arah Nim, Luiji dan Juno, "Silahkan duduk," ucapnya tegas. Kemudian Nim, Luiji dan Juno pun duduk di kursi yang sudah disediakan. "Benarkah yang kalian katakan?" tanya Komandan Fredi tegas, "Monster raksasa? Dunia selain Bumi?" ucapnya remeh menyengir, "Aku masih belum yakin jika aku belum melihat buktinya dengan mata dan kepalaku sendiri." "Semuanya benar, Pak," jawab Nim dengan yakin. "Kalau begitu, bagaimana kalian bisa meyakinkan dan membuktikannya padaku?" tanya Komandan Fredi mengangkat alis sebelah kirinya. Luiji menghela nafas, "Aku akan membuktikannya padamu," ucapnya seketika berdiri. Nim dan Juno seketika menoleh ke arah Luiji yang sebelumnya duduk di antara mereka. "Lihatlah baik-baik," ucap Luiji pelan lalu dari tubuhnya seketika keluar aura biru menyelimuti tubuhnya kemudian aura biru tersebut membentuk wujud gurita. Komandan Fredi membelalakkan kedua matanya seakan tidak percaya dengan apa yang telah dilihatnya. "Kau masih belum percaya?" ucap Luiji bertanya setelah aura biru yang menyelimuti tubuhnya berwujud gurita perlahan menghilang kembali. Komandan Fredi menghela nafas panjang dan terdiam sejenak, "Kalian bertiga, ikuti aku," ucapnya kemudian beranjak dari duduknya. Nim dan Juno pun ikut beranjak berdiri kemudian bersama Luiji mengiringi langkah Komandan Fredi keluar ruangan lalu menuju ke sebuah ruangan yang di depannya terdapat beberapa petugas yang berjaga. "Siap Komandan!" ucap salah satu petugas seketika memberi hormat kepada Komandan Fredi. "Buka pintunya!" perintah Komanda Fredi. "Siap!" sahut salah satu petugas kemudian membuka pintu ruangan tersebut. "Ayo," ucap Komandan Fredi mengajak masuk. Nim, Luiji dan Juno pun mengikuti langkah Komandan Fredi masuk ke dalam ruangan yang dijaga ketat tersebut. Dari dalam ruangan tersebut, tampak beberapa orang yang berpakaian putih seperti seragam para ilmuan peneliti. "Komandan?" ucap salah satu wanita dengan pakaian putih layaknya seorang peneliti seketika menghampiri Komandan Fredi. Komandan Fredi menoleh ke arah peneliti tersebut, "Tunjukkan benda yang kalian teliti saat ini pada mereka," ucapnya memerintah. "Baik," sahut wanita peneliti kemudian bersama beberapa peneliti yang lain mendekat pada sebuah tabung kecil berwarna hitam pekat dengan tombol biru dan merah yang terletak di atas meja tepat di tengah ruangan, lalu menekan sebuah tombol berwarna merah. Setelah menekan tombol merah tersebut dengan perlahan warna hitam pada tabung tersebut memudar hingga hanya menjadi sebuah kaca transfaran yang di dalam tabung tersebut terdapat sebuah pecahan kristal berwarna putih. "Itu adalah pecahan Hashfer yang kami cari!" ucap Nim sembari menatap tabung yang di dalamnya ternyata terdapat sebuah pecahan Hashfer. "Pecahan Hashfer, apakah itu nama benda ini?" tanya peneliti tersebut heran, "Perkenalkan, namaku Wirel, aku adalah pemimpin penelitian ini," ucapnya memperkenalkan dir, "Tim kami sudah mengerahkan seluruh kemampuan untuk meneliti benda ini," lanjutnya memberitahu, "Dan yang kami temukan begitu mengejutkan," sambungnya kemudian mengambil sebuah alat yang terletak di samping tabung di atas meja,"Ini adalah alat pengukur energi," sambungnya lagi kemudian menyalakan alat tersebut lalu mendekatkannya pada tabung yang di dalamnya terdapat sebuah pecahan Hashfer. Sebuah monitor pada alat tersebut menampilkan simbol [ ∞ ]. "Simbol ini menunjukkan bahwa kristal ini memiliki energi yang tidak terbatas," ucap Wirel memberitahu, "Sungguh menakjubkan, benda sekecil ini memiliki kekuatan yang mampu menghancurkan seluruh dunia, bahkan alam semesta," sambungnya. "Maksudmu?" tanya Nim mengerutkan kedua keningnya. "Ya, dengan kristal ini maka negara kita tidak akan terkalahkan," sahut Wirel. "Hashfer tidak digunakan untuk itu," ucap Nim tegas. "Kalian tenang saja, tujuan penelitian kami tidak untuk itu," ucap Wirel. "Sebaiknya kalian serahkan saja pecahan Hashfer itu pada kami," ucap Luiji, "Karena kami tidak bisa menjamin keselamatan kalian, jika kalian menyimpan pecahan Hashfer itu,' sambungnya memperingatkan. "Karena Rieghart pasti akan kemari untuk merebut pecahan Hashfer itu," sambung Nim. "Apa maksud kalian, aku tidak mengerti dengan apa yang kalian katakan," ucap Wirel merasa bingung. "Aku akan menjelaskannya padamu," ucap Komandan Fredi. Wirel menatap ke arah Komandan Fredi, kemudian Komandan Fredi pun menceritakan semua yang telah diketahui secara rinci. "Baiklah, ini karena perintah Komandan," ucap Wirel. Wirel menghela nafas setelah mendengar cerita dari Komandan Fredi kemudian menekan tombol berwarna biru pada tabung yang menyimpan sebuah pecahan Hashfer di dalamnya. Setelah Wirel menekan tombol biru, seketika kaca pada tabung tersebut terbuka, dan tampak kristal putih yang ternyata pecahan Hashfer tersebut seketika melayang ke arah Nim. "Kami akan menyimpan dan menjaga pecahan Hashfer ini dengan baik," ucap Nim seketika meraih pecahan Hashfer yang melayang tepat di depannya. "Beruntung kita mendapatkannya sebelum Rieghart kemari," ucap Juno. "Kau saja yang menyimpannya, Nim," ucap Luiji. "Baik," sahut Nim kemudian mendekatkan dan melekatkan pecahan Hashfer ke d*danya. Seketika pecahan Hashfer tersebut mengeluarkan cahaya lalu meresap masuk ke dalam tubuh Nim. "Kami percayakan semuanya pada kalian," ucap Wirel menatap Nim. "Wirel," panggil Komandan Fredi. "Ya, Komandan?" sahut Wirel bertanya. "Di mana lagi kau tahu pecahan Hashfer ini disimpan?" tanya Komandan Fredi. "Apa!" sentak Nim, Luiji dan Juno terkejut. "Ada berapa pecahan Hashfer yang kalian temukan?" tanya Juno. "Kira-kira terdapat dua belas pecahan, dan tersebar hampir di seluruh kota di negara kita," jawab Wirel, "Karena untuk berjaga-jaga jika sewaktu-waktu kekuatan dari kristal yang kalian sebut pecahan Hashfer itu dibutuhkan." "Sebaiknya kalian harus segera mengambil dan mengumpulkan semua pecahan Hashfer itu," ucap Komandan Fredi. "Benar, sebelum Rieghart dan anak buahnya merebutnya lebih dahulu," sahut Luiji. "Lalu, bagaimana Komandan memberitahu pemerintah pusat dengan kejadian ini?" tanya Wirel kepada Komandan Fredi. "Ini akan sulit tapi jika tidak dilakukan, akan membuat ke dua negara semakin berselisih faham," jawab Komandan Fredi, "Siapa nama kalian?" tanyanya menatap ke arah dimana Nim, Luiji dan Juno berdiri. "Namaku Nim." "Aku Juno." "Luiji," ucap Luiji dengan tenang. "Baiklah Nim, Luiji, Juno!" ucap Komandan Fredi, "Aku akan membantu kalian mengambil beberapa pecahan Hashfer yang tersebar di beberapa kota di negara kita, tapi sebelum itu kalian harus membantuku untuk meyakinkan pemerintah pusat tentang keselisih-fahaman ke dua negara ini," sambungnya. "Baiklah, tentu saja kami akan membantu," ucap Nim penuh yakin, "Bukan hanya untuk negara, tapi seluruh negara di Bumi, bahkan seluruh dunia," sambungnya. "Sebaiknya kita harus secepatnya pergi ke kantor pusat," ucap Komandan Fredi tampak. "Baik," sahut Nim, Luiji dan Juno bersamaan. "Ikuti aku," ajak Komandan Fredi kemudian melangkah keluar ruangan. Nim, Luiji dan Juno pun seketika mengiringi Komandan Fredi. "Om Fredi mau kemana?" tanya seorang anak kecil bersama ibunya yang sebelumnya mengajak Nim dan teman-temannya. "Om mau pergi sebentar," sahut Komandan Fredi sembari mengusap kepala anak kecil tersebut. "Aku mau ikut..." ucap anak kecil tersebut memohon. "Jangan sayang, Om-nya kan lagi sibuk," ucap wanita yang memegang salah satu tangan anak kecil tersebut. "Yaah..." Anak kecil tersebut tampak kecewa. "Yona, aku pergi dulu," ucap Komandan Fredi berpamitan pada wanita tersebut kemudian bersama Nim, Luiji dan Juno melangkah melewati wanita tersebut keluar dari kantor. Komandan Fredi bersama Nim, Luiji dan Juno pun tiba tepat di depan sebuah mobil Zip, kemudian mereka masuk ke dalam mobil tersebut lalu segera pergi meninggalkan kantor dan menuju ke kantor pusat dikawal beberapa mobil di depan dan di belakang mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN